Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
134. Membalas semua ini


__ADS_3

"Ihsan, sudahlah. Lebih baik kamu ikhlaskan Nella saja. Wanita bukan hanya dia di dunia."


"Memang iya, banyak. Tapi hanya dia yang aku cintai, Om."


"Tapi Nellanya sendiri sudah tak lagi mencintaimu, jadi untuk apa kamu terus berjuang? Buang-buang waktu dan menyakiti diri sendiri saja." Irwan mendengus kesal. "Lupakan Nella, kamu masih muda dan juga tampan. Kamu bisa dapat wanita yang lebih seperti dirinya, tapi cari jangan anak orang kaya. Kita ini orang susah ... harus tahu diri. Supaya nggak sakit hati."


Ihsan menggeleng cepat. "Nggak! Aku nggak mau, Om. Aku hanya ingin hidup bersama Nella!"


Irwan menoleh pada Ihsan dengan tatapan tajam lalu memberhentikan mobilnya. "Terus sekarang kamu maunya bagaimana? Kamu mau dipenjara hanya karena masalah ini? Apa yang kamu dapat nanti?" Irwan terdiam sejenak kemudian kembali berkata, "Nggak ada yang kamu dapatkan! Nella nggak dapat dan ujung-ujungnya kamu menangis dipenjara! Apa kamu mau seperti itu, ha?"


Suara Irwan terdengar begitu nyaring dan penuh penekanan. Tetapi pria bule itu hanya bergeming sembari menatapnya.


Irwan menghela nafasnya dengan gusar, lalu mengusap-usap dadanya yang bergemuruh. Sekesal dan semarah apa pun Irwan padanya, dia sama sekali tak pernah berbuat kasar pada Ihsan. Dia benar-benar menyayanginya.


"Bukan Om mau mengatur hidupmu, cuma ini adalah jalan yang terbaik dan Om mengatakan hal itu karena sayang padamu. Mungkin memang kamu dan Nella nggak berjodoh, San. Jadi ... lepaskan saja dia, biarkan dia bersama Rizky." Irwan perlahan mendekat pada Ihsan lalu memeluk tubuhnya. Hanya dalam hitungan detik suara isakan tangis Ihsan terdengar, tetesan airnya mengalir membasahi bahu Irwan.


Sedih, jelaslah sangat sedih. Tetapi ada rasa tak terima yang menyelimuti hati Ihsan saat ini.


'Kalau aku nggak bisa bersamamu, orang lain juga nggak boleh bersamamu. Tapi pertama-tama ... aku akan membalas semua ini pada Om Sofyan. Karena dia adalah orang pertama yang membuat hubungan kita hancur. Semuanya harus bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini, yaitu sakit hati,' batin Ihsan.


***


"Halo, Bi? Apa Nella ada di rumah?" tanya Rizky saat menelepon sambil mengemudi. Dia tadi mencari keberadaan Nella di halaman kantor polisi, tetapi wanita cantik itu tak terlihat dimana-mana.


"Ada, Pak. Tadi baru saja datang dan masuk ke kamar."


"Oh ya sudah."


Rizky mematikan sambungan teleponnya, lalu selang tiga puluh menit, akhirnya dia sampai pada kediamannya sendiri.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rizky segera masuk ke dalam rumah lalu berjalan menaiki anak tangga.


Tepat di depan pintu kamarnya sendiri, dia mengetuk pintu, sebab tadi dia mencoba menurunkan handle pintu tetapi dikunci dari dalam.


Tok ... tok ... tok.


"Nella, buka pintunya!"

__ADS_1


"Nella! Gue mau masuk!"


Berulang kali pintu itu diketuk tetapi tak ada sahutan apalagi tanda-tanda akan dibuka. Firasat Rizky mengatakan kalau Nella marah padanya, sebab dia juga seperti dejavu.


Kemarin-kemarin perkara rendang, Nella mengunci pintu kamarnya sampai Rizky berhasil membukanya dengan kunci serep. Tetapi kali ini, kunci serepnya ada di dalam kamar itu.


"Pak Rizky, di luar ada tamu yang mau menemui Nona Nella," ucap Bi Yeyen saat menghampiri Rizky yang tengah berkacak pinggang dengan wajah prustasi.


"Siapa?" Rizky menoleh.


"Kalau nggak salah namanya Mitha, dia juga orang yang sama saat kemarin datang bersama Pak Hersa."


Rizky mengerutkan keningnya. "Mitha mau apa dia ...." Ucapan Rizky menggantung tatkala telinganya mendengar suara pintu terbuka dan asalnya dari pintu kamarnya.


Ceklek~


Nella lah yang membukanya, wajah wanita itu tampak memerah seperti habis menangis, tetapi secara tiba-tiba dia langsung memeluk tubuh Rizky dan membuatnya terkesiap.


"Apa Mas Rizky mau minta maaf padaku?" tanya Nella.


Rasanya terdengar aneh, harusnya Rizkylah yang langsung mengatakan kata maaf. Tetapi disini Nella seperti tengah menanyakan padanya, apakah Rizky mau minta maaf—atau tidak.


"Kok pakai ah, sih? Nggak ikhlas? Mas 'kan tadi salah." Nella merenggut sambil membenamkan wajahnya pada jas yang Rizky kenakan tepat pada area dada.


"Iya, iya, gue salah. Gue minta maaf. Gue juga nggak ada maksud untuk membahas masalah itu, cuma tadi sedikit menjelaskan sama Irwan saja," terang Rizky.


"Mas mau aku maafin, nggak?" tanya Nella lagi, tetapi kali ini suaranya terdengar manja.


"Mau dong."


Nella melepaskan pelukannya. "Cium pipiku dulu." Jari telunjuknya menempel pada pipi kirinya.


"Hanya cium? Itu sih gampang." Rizky langsung mendekat dan membungkuk sedikit lalu mengecup singkat pipi kiri istrinya.


Cup~


"Sebelahnya." Nella memalingkan wajahnya supaya bibir Rizky begitu dekat pada pipi kanannya. Dan tanpa berlama-lama, Rizky mengecup lagi dengan singkat.

__ADS_1


Cup~


"Sekarang bibir." Nella menempelkan jari telunjuknya tepat pada bibir ranumnya, tetapi baru saja Rizky hendak mengecup, Bi Yeyen langsung membuka suara sebab sedari tadi dia lagi-lagi menjadi penonton memon kemesraan mereka.


"Maaf menganggu, itu bagaimana tentang Nona Mitha yang berada di luar, Pak?" tanya Bi Yeyen takut-takut.


Akhirnya Rizky tak jadi meneruskan, dia lantas berdiri tegak dan menoleh pada Bi Yeyen.


"Suruh dia—"


"Aku akan menemuinya, Bi," sela Nella cepat.


"Nggak usah, Nell." Rizky merengkuh pinggang Nella saat wanita itu hendak beranjak pergi darinya. Rasanya tidak baik, jika dua wanita itu bercengkrama. Bisa-bisa akan ada masalah baru.


"Bibi, suruh Mitha pulang saja. Aku dan Nella harus menghabiskan waktu bersama," ucap Rizky pada Bi Yeyen. Kemudian, secara tiba-tiba, Rizky mengangkat tubuh Nella dan langsung membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Menghabiskan waktu? Waktu apa, Mas?" tanya Nella dengan kening yang berkerut.


"Bercintalah, apa lagi?" Rizky merebahkan tubuh Nella secara perlahan di atas kasur kemudian dia melepaskan sepatunya dan melucuti seluruh pakaiannya.


"Tapi aku belum makan siang, Mas." Nella menyentuh perutnya sendiri yang terasa keroncongan, tadi pagi dia hanya sarapan sebungkus roti.


"Apa lagi gue. Gue bahkan belum makan apa-apa dari pagi."


"Lebih baik kita makan dulu saja biar bertenaga, kaki Mas Rizky juga perbannya belum diganti. Nanti aku bantu ganti perbannya."


Jempol kaki Rizky terlihat agak besar akibat lilitan kain kasa, namun sepertinya Rizky sudah tak lagi merasakan sakit, sebab dia berjalan sudah seperti biasanya.


"Gue masih kuat dan bertenaga, dan gue maunya kita bercinta dulu. Baru habis ini kita melakukan aktivitas yang lain." Setelah melemparkan seluruh pakaiannya di lantai, Rizky lantas naik ke atas kasur dan segera melucuti pakaiannya istrinya.


"Apa kita mau mandi dulu, Mas?" tanya Nella saat melihat tangan suaminya itu begitu cepat membuatnya polos sempurna.


"Nggak usah deh, mandinya setelah selesai saja."


Rizky membuka kedua paha Nella dengan lebar. Dia membelai sebentar hutan yang tidak terlalu lebat itu dengan jari jemari dan sesekali memasukkan jari tengahnya ke dalam sana. Setelah itu, perlahan Rizky membungkuk dan melahapnya dengan rakus hingga membuat Nella membulatkan matanya.


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1075...


__ADS_2