
Setelah hampir tiga puluh menit berdebat dengan Maya, akhirnya Rizky bisa cekikikan sendiri di dalam ruangannya. Seperti puas habis menang lotre.
Lantas, dengan hati yang berbunga segera Rizky mengambil ponselnya di atas meja kerja, lalu menghubungi seseorang sambil duduk di kursi putar.
"Halo, Pa. Aku sudah mendapatkan jodoh untuk Papa!" Rizky bicara dengan penuh percaya diri sekali, dia pikir rencananya akan berjalan sukses.
"Eh serius?" Sofyan dari seberang sana tampak heran tetapi tak dipungkiri dia juga senang. "Secepat itu 'kah, Riz? Perasaan baru sejam Papa tadi telepon kamu, deh."
"Iya serius. Jadi Papa mau nggak nih? Ceweknya kinyis-kinyis lho," ujar Rizky menggoda dibarengi kekehan.
"Mau lah kalau bener kinyis-kinyis. Tapi masalahnya siapa? Beritahu Papa namanya."
"Jawabannya biar Papa tahu sendiri. Nanti malam aku sudah mengajaknya untuk kencan bersama Papa. Papa bisa apa nggak?"
"Bisa-bisa, Papa setiap malam 'kan ada di rumah. Tapi di mana kencannya nanti? Eh, kok jantung Papa sudah berdebar saja ya, Riz." Sofyan terkekeh.
"Nanti aku yang pesan restorannya. Jamnya juga aku yang tentukan. Papa dandan yang rapih dan tampan, ya?"
"Iya, tapi masalahnya memangnya dia mau sama Papa? Kamu beritahu dia juga kalau Papa sudah berumur dan duda dua kali, kan? Nanti dia ilfil lagi, Riz. Pas ketemu sama Papa." Tadi dia senang, sekarang malah ragu dan kepercayaan dirinya seolah hilang. Mengingat akan dirinya yang banyak kekurangan.
Rizky langsung terdiam, dia binggung harus menjawab apa karena sesungguhnya dia tak mau membuat kecewa. "Dia nggak mungkin ilfil. Papa 'kan tampan, siapa sih cewek yang nggak mau sama duda keren kayak Papa. Papa tenang saja ... semuanya akan berjalan lancar."
"Ah ya sudah deh, Papa percaya padamu. Sekarang Papa mau mandi susu dulu biar kulit Papa lembut. Kan mau salaman sama dia nanti malam."
"Iya, mandi susu, dicampur madu dan bila perlu kembang tujuh rupa, Pa," ujar Rizky sambil tertawa. "Eh tapi Papa jangan ajak dia bercinta, ya? Apalagi sampai memperk*sanya kalau dia nggak mau," tegur Rizky. Dia tak mau jika anak orang kenapa-kenapa akibat ulahnya juga.
"Dih, kamu pikir Papa gila, ya? Nggak mungkinlah Papa begitu, Riz." Sofyan mendengus kesal. Sembarang saja Rizky kalau bicara.
"Iya, aku hanya mengingatkan. Siapa tahu Papa hilaf gara-gara sudah lama nggak goyang," ejeknya sambil tertawa.
__ADS_1
"Dih parah kamu. Papa memang sudah lama, tapi Papa bermain solo, Riz."
"Masa?"
"Iyalah. Kan kamu juga tahu sendiri Papa sekarang bagaimana. Papa sudah menjalani pola hidup sehat."
Ya, sebenarnya ada hikmahnya juga saat Sofyan dikhianati Diana sampai masuk rumah sakit gara-gara serangan jantung.
Pasca mengalami hal tersebut Sofyan sudah tak pernah minum minuman beralkohol, karena memang dokter melarang keras. Dia juga sudah tak pergi ke club malam untuk sekedar menuntaskan hasratnya membayar seorang wanita. Sebab dulu dia seperti itu, saat habis ditinggal oleh istrinya yang pertama.
Sofyan tak mau jika dia harus bertemu dengan wanita yang seperti Diana lagi. Covernya saja yang bagus, tetapi dalamnya sangat rusak. Sofyan tak menyangka bisa sampai sebodoh itu mencintai Diana begitu dalam. Padahal wanita itu sama sekali tak pernah tulus mencintainya.
Memang semua wanita tak sama, begitu pun dengan para wanita pekerja malam. Hanya saja Sofyan merasa trauma.
"Iya, iya, aku juga percaya kok sama Papa. Ya sudah, aku mau meeting dulu, ya? Jangan lupa pesanku."
"Iya, terima kasih ya, Riz."
"Ah nggak apa-apa. Ya sudah kalau begitu."
***
Malam hari tepat jam 7 malam. Seorang gadis cantik berjalan perlahan dengan penuh keraguan masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Dia memakai gaun berwarna merah menyala selutut, dan ngepres di badannya.
Dia tampak sangat cantik dan anggun. Pakaian itu juga cukup sopan sebab daerah dadanya tak terlihat, benar-benar membuat gadis itu merasa nyaman.
'Ternyata pilihan Pak Rizky nggak salah, kukira dia akan mengirimkanku baju kurang bahan untuk pergi ke sini,' batinnya dalam hati.
Gadis itu adalah Maya. Maya sekertaris Rizky. Dia datang karena menuruti ajakan bosnya untuk berkencan. Tetapi masalahnya dia sendiri tak diberitahu akan berkencan dengan siapa, sama halnya seperti Sofyan tadi.
__ADS_1
"Selamat malam, apa Nona yang bernama Maya? Sekertarisnya Pak Rizky?" sapa seorang pelayan wanita yang baru saja menghampirinya. Dia sempat melihat sejak tadi Maya hanya berdiri mamatung sambil menatap keliling. Restoran itu sangat sepi, bahkan sepertinya hanya dialah satu-satunya pengunjung yang ada di sana.
"Iya, saya Maya." Maya mengangguk dan tersenyum.
"Mari ikut saya, Nona. Mejanya ada di sana." Wanita itu berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Maya, dan entah mengapa jantungnya kini berdebar dengan kencang. Dia merasa gugup tak karuan. "Silahkan duduk, Nona. Pasangan Anda akan segera datang."
Pelayang itu menarik kursi untuk gadis itu duduk. Maya hanya mengangguk dan langsung mendaratkan bokongnya.
Di atas meja sudah ada dua piring yang berisi beef steak, kentang goreng dan sayuran. Tetapi dilihat dari potongan dagingnya—itu seperti daging ayam, dan ada dua gelas minuman juga, jus mangga.
"Maaf, Bu. Tapi kok ini sepi sekali, ya? Ke mana para mengunjung yang lain?" Maya bertanya pada pelayan itu sebelum dia pergi meninggalkannya.
"Restoran ini memang sudah dibooking malam ini oleh Pak Rizky, Nona. Kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa tinggal pencet bel saja." Pelayan itu menunjuk sebuah bel yang menempel pada meja kaca. Lantas dia pun membungkuk sopan dan berlalu pergi meninggalkan Maya seorang diri.
Maya menelan salivanya dengan kelat, kembali dia merasakan debaran di jantungnya.
'Pak Rizky sampai segitunya banget sih? Sepertinya orang yang akan berkencan denganku adalah orang penting. Tapi siapa, ya?'
Maya terdiam sambil menggenggam kedua telapak tangannya di atas meja. Sembari menunggu pria itu datang, dia mengingat akan kejadian tadi siang.
...(Flashback On)...
"Apa lu punya pacar?" tanya Rizky penasaran.
"Pacar? Maksudnya bagaimana? Katanya tadi Bapak nggak mau cari selingkuhan?" Maya mengerutkan keningnya binggung.
"Iya, gue memang nggak cari selingkuhan. Tapi gue cuma mau tahu lu punya pacar atau nggak, kalau memang lu masih jomblo ... gue mau mengenal seseorang sama lu."
"Pak Rizky selain jadi CEO sekarang jadi Mak Comblang?"
__ADS_1
Rizky berdecak kesal. Dia mau makan rendang di dalam kotak makanan sampai tidak jadi lantaran mendengar ucapan Maya yang seakan berputar-putar. "Lu ini, May. Tinggal jawab saja apa susahnya, sih?"