Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
297. Ikhlaskan Nella untuk Rizky


__ADS_3

"Om Darus," ujar Sofyan melototkan matanya.


Ya, dia adalah Darus. Pria itu sengaja pergi ke dapur karena ingin mengambil air minum, dilihat dia juga memegang teko plastik berukuran sedang.


Cepat-cepat Sofyan menutupi paha putih Maya dengan dress, lalu menarik celananya sendiri di bagian belakang yang sempat diturunkan sedikit. Tetapi mereka belum sempat melepaskan penyatuan, tetapi untungnya tak terlihat oleh Darus sebab keduanya begitu menempel.


"Ini, Om. Aku tadi sedang cuci piring." Maya tersenyum canggung, lalu menyeka keringat yang baru saja mengalir pada dahinya. Dia menunjuk satu piring di dalam wastafel yang masih tersisa belum dibilas oleh air.


"Kamu harusnya nggak usah cuci piring, biar besok saja ada Tante."


"Nggak apa-apa, lagian sudah terlanjur, sebentar lagi juga selesai kok." Maya baru saja hendak menurunkan kakinya, tetapi dicegah oleh Sofyan.


'Jangan turun, May. Nanti kalau terlepas burungku bisa dilihat Om Darus, kan malu,' batin Sofyan sambil menggelengkan kepalanya ke arah Maya, matanya berkedip-kedip seolah memberikan isyarat.


Darus memencet kran despenser, lalu air itu mengisi teko plastik di tangannya.


"Tadi Om nggak sengaja dengan orang yang jerit-jerit. Kamu dengar juga nggak, May?" Darus menatap Maya yang berwajah merona, gadis itu seperti tengah menahan sesuatu.


"Nggak Om, aku nggak dengar apa-apa." Maya menggeleng cepat.


"Ya sudah Om ke kamar dulu, ya? Kamu tidur, May. Ini sudah malam. Jangan terlalu lama duduk di meja juga, pamali."


"Iya, Om."


Darus tersenyum, lantas berlalu pergi meninggalkan mereka. Dia sama sekali tak menyapa Sofyan, begitu pun sebaliknya.


Setelah melihat Darus sudah benar-benar pergi, Sofyan cepat-cepat mengendong Maya. Dia berjalan pergi dari dapur menuju kamarnya.


"Ayank ... harusnya dilepas dulu, ini ... Aahhh!" Maya mendessah saat lagi-lagi Sofyan menyempatkan untuk menekan maju mundur miliknya di dalam sana.


Setelah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dengan rapat, pria tua itu segera membaringkan tubuh istrinya. Kemudian melucuti seluruh benang pada tubuh keduanya.


Dan saatnya tiba, pergumulan panas itu kembali terjadi.

__ADS_1


Sofyan merasa jiwa mudanya kembali saat bisa menikah dan memiliki Maya seutuhnya. Dan tak pernah ada kata bosan setiap kali mereka bercinta, malah yang ada mereka terus kecanduan.


***


8 bulan kemudian.


Sebuah mobil hitam baru saja terparkir pada parkiran rumah sakit, tetapi orang yang berada di dalam itu tak kunjung keluar saat melihat sepasang suami-istri keluar dari rumah sakit. Sang suaminya itu merangkul bahu istrinya, dan tangan yang satunya mengelus perut istrinya yang terlihat buncit.


"Kok nggak turun, San? Ini 'kan sudah sampai?" tanya Irwan. Dia ada di kursi kemudi dan menatap keponakannya yang berada di samping dengan wajah bengong tetapi terlihat sendu. Kedua bola matanya berkaca-kaca.


"Nella sama Rizky, Om," ujar Ihsan pelan, suaranya terdengar seperti orang yang tengah menahan rasa sakit.


Irwan langsung menatap ke arah depan, tepat kedua orang itu berada dan kini keduanya masuk ke dalam mobil. Kebetulan mobil itu terparkir di samping mobilnya.


Irwan langsung memeluk tubuh Ihsan saat tahu kedua sudut mata pria itu sudah menggenang air mata yang hendak jatuh, perlahan dia pun mengusap-usap punggungnya.


"Apa sampai sekarang kamu belum bisa melupakan Nella?" tanya Irwan dan tak lama terdengar rintihan tangis dari bibir Ihsan.


Sebelumnya, Ihsan bertekad untuk melakukan balas dendam, tetapi setiap apa pun yang ingin dia rencanakan tak pernah jadi. Itu dikarenakan Irwan selalu mengawasi dan menegurnya.


Sebagai keponakan yang baik, Ihsan tak ingin melawan dan ingin menuruti semua ucapan Irwan meskipun itu sangat terpaksa. Dan saat mendengar Nella melahirkan, dia sudah mencoba untuk melupakannya. Ihsan juga sudah berhenti kerja di restoran Nissa, itu semua dilakukannya demi tak mengingat Nella.


Tetapi sekarang nyatanya apa? Luka Dan cinta itu masih ada saat melihat wajah Nella.


"Apa aku boleh jujur?" Ihsan melepaskan pelukannya, lalu menyeka air matanya sendiri.


"Boleh, jangan tutupi semuanya." Irwan tersenyum hangat, lalu mengusap bahu kiri sang keponakan.


"Aku sudah berusaha melupakan Nella, Om. Tapi nyatanya aku nggak bisa. Apa yang harus aku lakukan?" keluhnya dengan frustasi.


"Kalau kamu nggak bisa melupakannya, jangan lupakan dia, San."


Ihsan terbelalak, dia merasa kaget bercampur bingung dengan apa yang dikatakan Omnya itu. Sebab selama ini dia yang selalu mendukungnya untuk melupakan Nella.

__ADS_1


"Maksudnya aku masih punya harapan untuk merebut Nella? Tapi sepertinya dia sedang hamil lagi, Om," ujarnya sedih.


"Bukan merebutnya, tapi kamu harus mengikhlaskan Nella untuk Rizky. Apa kamu lupa kalau Om pernah bilang kalau Nella bukan jodohmu, San?"


"Mengiklaskan?" Ihsan terdiam beberapa saat dengan tatapan kosong, lalu menggeleng cepat. "Apa aku bisa? Sepertinya nggak, Om."


"Kamu pasti bisa. Relakan dia untuk Rizky. Karena kalau bukan jodoh itu susah. Allah sudah menyiapkan jodohmu, San. Tapi bukan Nella orangnya," jelas Irwan lembut. Tak ada kata lelah di hatinya untuk selalu menceramahi Ihsan yang tengah rapuh dan membutuhkan sandaran itu.


"Terus jodohku siapa?"


"Ada, tapi masih dirahasiakan. Cuma Allah yang tahu. Tapi ... pasti perempuan itu akan jauh lebih baik daripada Nella."


"Masa sih, Om? Tapi menurutku hanya Nella perempuan yang paling sempurna di dunia ini."


Irwan terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Semua manusia nggak ada yang sempurna, begitu pun dengan Nella. Hanya saja kamu nggak pernah lihat sisi ketidak sempurnaan dia."


Ihsan terdiam sambil membuang napasnnya kasar.


"Bagaimana kalau besok kamu pergi ke Bandung, San," saran Irwan.


"Pergi ke Bandung mau ngapain, Om?"


"Kamu tinggal di sana. Nanti Om juga urus perpindahan kuliahmu. Mungkin sementara waktu kamu harus pergi dari Jakarta, supaya sedikit mengobati lukamu dan mengikhlaskan Nella," usul Irwan lembut. "Om yakin ... lama-lama pasti kamu bisa melupakannya, apa lagi jika sudah cinta dengan perempuan lain."


"Tapi kuliahku sudah mau 4 semester, Om. Apa nggak sayang kalau aku pindah?"


"Lebih sayang lagi kalau kamu belum bisa mengikhlaskan Nella, San. Om nggak mau kamu terus menerus menangisi Nella setiap malam."


"Om tahu aku sering nangis?" Kening Ihsan mengerenyit dan wajahnya tampak merah karena malu.


"Iya, Om sering dengar. Nggak pantes tahu, San. Badan gede, wajah bule tapi menangisi istri orang. Perempuan banyak diluar sana, kamunya saja yang menutup diri. Banyak padahal yang suka padamu, apa lagi Nona-nona langganan bengkel." Irwan terkekeh sembari menyenggol lengan Ihsan. Dia mengingatkan saat dimana ada beberapa perempuan yang mengservise mobilnya tetapi hanya mau Ihsan yang mengservise. Entah apa alasannya, tetapi yang jelas mereka tertarik pada Ihsan, hanya saja pria itu seperti berpura-pura tidak tahu.


Ihsan geleng-geleng kepala. "Aku nggak suka perempuan yang ganjen, Om. Aku lebih suka perempuan yang jual mahal seperti Nella saat awal bertemu dulu." Ihsan tersenyum malu-malu, dan seketika terlintas saat di mana dia dan Nella awal bertemu.

__ADS_1


__ADS_2