
"Mas Rizky!"
Tepat di lobby kantor dan baru saja Rizky datang, ada seorang wanita yang baru saja bangkit dari sofa single memanggil sembari menghampirinya. Wanita itu adalah Mitha.
"Mas Rizky dari kemarin susah sekali dihubungi dan semalam juga nggak datang, padahal aku dan Papi menunggu," ucapnya dengan suara manja.
Rizky mengerutkan kening, rasanya dia tidak ada waktu untuk menjawab ucapan dari wanita itu, sebab waktunya begitu kepepet sekarang.
Melihat pintu lift yang baru saja terbuka, pria tampan itu segera berlari dan masuk. Tetapi Mitha juga mengejarnya hingga ikut masuk ke dalam.
"Lu ada perlu apa sama gue? Gue sibuk banget," ujar Rizky seraya mengambil ponselnya di dalam saku jas lalu mengetik-ngetik.
"Oh, maaf aku menganggu Mas Rizky. Tapi aku datang karena ada hal yang mau aku obrolkan. Apa Mas Rizky ada waktu setelah urusan Mas Rizky selesai?" tanya Mitha sambil tersenyum.
"Nggak tahu, gue juga nggak ingat jadwal hari ini. Lu pulang saja deh," jawabnya dengan nada mengusir.
"Jam makan siang saja bagaimana, Mas? Sekalian kita makan siang bareng," tawar Mitha.
"Terserah deh." Rizky tidak menghiraukan ucapannya, dia berlalu pergi saat pintu lift itu berhasil terbuka dan gegas masuk ke ruang rapat yang berada di samping ruangannya.
Mitha hanya bisa menghela nafasnya gusar, ada rasa kesal di dadanya karena dicueki. Tetapi dia masih bisa memaklumi kondisi Rizky saat ini.
Matanya melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 11. Mungkin sebentar lagi adalah makan siang dan dia hanya perlu menunggu Rizky selesai dengan kesibukannya.
Mitha memutuskan untuk turun lagi ke lantai dasar. Tetapi saat dirinya sudah sampai dan pintu lift terbuka, diluar pintu ada Guntur yang tengah berdiri seperti nunggu untuk naik. Wanita itu segera keluar lalu menghampirinya.
"Om Guntur, kebetulan ada Om. Ada yang mau aku tanyakan."
'Dia pasti akan bertanya masalah sidangnya Rizky dan Nella, aku akan meluruskannya dulu,' batin Guntur.
"Kau saja yang ikut meeting, nanti aku akan menyusulmu," perintah Guntur pada asistennya yang berada di sampingnya tanpa menoleh. Pria berkumis itu mengangguk lalu masuk ke dalam lift.
"Kita bicara di Cafe depan saja, ya?" tawar Guntur.
"Iya, Om." Mitha mengangguk, kemudian keduanya berjalan meninggalkan kantor itu dan mengunjungi cafe yang berada tepat di seberang jalan.
Mereka duduk berhadapan dan langsung memesan minuman, dua gelas jus mangga.
__ADS_1
"Om, Om pasti tahu aku datang untuk apa. Coba ceritakan masalah kemarin. Apa semuanya sukses?" tanya Mitha.
Guntur menggeleng. "Nggak, Mit."
Sebenarnya Guntur sendiri masih tak yakin dan tak percaya dengan kejadian kemarin saat Rizky mengatakan Nella hamil. Dia memang tahu alasan menantunya hamil, tetapi tetap saja diluar dugaan. Harusnya Rizky dan Nella sudah bercerai, dan dirinya sudah melangkah maju untuk menjodohkannya dengan wanita yang sekarang duduk di depannya.
"Kok nggak, maksudnya bagaimana? Mas Rizky dan Mbak Nella nggak jadi bercerai?" tanya Mitha dengan kening yang berkerut.
"Iya, mereka nggak jadi bercerai. Ternyata Nella hamil."
Deg!
Mitha membulatkan matanya. "Kok bisa sih, Om? Bukannya Om pernah cerita sama Papi kalau dia nggak mau mengandung anak Mas Rizky sampai melakukan kb?"
"Kata Dokter kbnya kadaluarsa, jadi dia hamil."
"Om yakin itu anak Mas Rizky? Kalau dia hamil anak pacarnya bagaimana?"
Mitha jelas sudah tahu semua rumah tangga Rizky, sebab Guntur sendiri yang menceritakan pada papinya.
"Terus nasibku sekarang bagaimana? Katanya aku akan menikah dengan Mas Rizky? Apa semuanya gagal?" Ekspresi wajah Mitha bercampur aduk antara sedih dan kecewa. Sejujurnya dia paling benci dengan sebuah kegagalan, dan kali ini dia tak mau itu terjadi lagi.
"Belum, keputusan ada di tangan Nella. Besok Om akan ajak dia menemui pacarnya untuk mengatakan kata putus. Itu pasti sangat berat baginya ... jadi Om ingin lihat bagaimana keseriusannya memperbaiki hubungannya dengan Rizky," terang Guntur.
"Oh, jadi kalau Mbak Nella nggak berhasil putus dengan pacarnya ... aku tetap dijodohkan dengan Mas Rizky?"
"Tentu saja."
*
Setelah mengobrol dengan Guntur, Mitha sekalian menunggu Rizky di cafe. Dia juga tahu, jika pria tampan itu sering makan siang di tempat itu.
Tapi melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 dan belum ada tanda-tanda Rizky datang, Mitha mulai gelisah. Dia memutuskan untuk kembali menemui Rizky di kantor.
Tepat di depan gerbang, dia tak sengaja mendengar seorang kurir yang tengah bergumam sembari menatap ponselnya, namun gumannya dapat didengar oleh telinganya dan itu membuatnya penasaran sebab nama Rizky lah yang disebutkan.
"Apa ini benar kantornya Pak Rizky Gumelang? Mungkin iya." Pria berjaket hijau itu turun dari motor, dia hendak ingin bertanya pada seorang satpam menjaga gerbang yang tengah mengobrol dengan teman sesama satpamnya—tetapi tiba-tiba Mitha menghampirinya.
__ADS_1
"Maaf, saya nggak sengaja dengar ... Bapak menyebutkan nama Rizky Gumelang. Bapak ini mau apa, ya?" Mitha tambah penasaran saat menyadari jika pria itu adalah kurir delivery, dan salah satu tangannya menenteng kantong merah.
"Oh ini Nona, saya ingin mengantar makanan untuk Pak Rizky Gumelang."
"Dari siapa? Kebetulan aku mengenalnya."
"Dari Nella, istrinya."
'Cih! Apa ini? Setelah tahu dia hamil ... Mbak Nella sok baik sekali sama Mas Rizky, apa dia takut kalau suaminya aku rebut?' batin Mitha seraya tersenyum miring.
(Flashback On)
Setelah kepergian suaminya ke kantor, Nella begitu sibuk berkutat di dapur. Dia membuka kulkas dan mencari-cari bahan untuk memasak.
"Nella, kamu sedang apa Sayang? Harusnya istirahat ... kok malah sibuk di dapur?" tanya Gita seraya menghampiri menantunya.
"Aku mau masak rendang, kebetulan ada daging sapi di kulkas, Ma." Ekspresi wajahnya begitu bahagia setelah mendapatkan satu kantong daging sapi yang dia temukan di dalam fleezer. Memang niatnya ingin masak rendang dan semua bumbu pelengkapnya juga sudah ada.
"Nggak usah masak rendang." Gita menggerakkan tangannya. "Tadi Bibi sudah masak itu dan baru saja matang, kita tinggal makan saja di meja makan."
"Aku ingin buat untuk Mas Rizky, Ma." Nella mengambil baskom lalu mengisi air kran untuk merendam daging beku tersebut.
"Rizky? Kan orangnya lagi ada di kantor. Kalau untuk makan malam ... kamu bisa buatnya nanti sore saja, sekarang kamu istirahat. Baru juga sembuh." Gita menyingkirkan tangan Nella yang hendak mencuci cabai merah di bawah kucuran kran air.
"Untuk makan siang, aku sudah sembuh dan mau masak untuknya. Aku bosan kalau tiduran terus, Ma." Nella kembali mencuci cabai merah dan beberapa bahan lainnya.
Gita menggembung senyum, hatinya terasa bahagia mendengar apa yang dikatakan menantunya.
'Apa karena bawaan bayi, Nella jadi begitu peduli sama Rizky? Syukurlah ... memang anak itu pembawa berkah,' batin Gita.
"Eemm ... tapi nanti kalau sudah matang, yang kirim kuris saja, ya? Kamu jangan ke kantor Rizky," ujar Gita.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
...1074...
__ADS_1