
"Kalau aku jujur ... memangnya nggak apa-apa? Aku takut dengan kondisi Papa," ujar Rizky ragu.
Pria tampan itu bisa jujur meski sebenarnya malu, dia juga tentu tak tega membohongi Sofyan dengan kondisi seperti ini.
Namun dia juga ingat apa kata dokter tadi, tidak boleh membahas masalah yang membuat kondisi Sofyan makin lemah. Jantungnya yang akan jadi taruhannya.
"Papa nggak apa-apa kok, Papa kuat," jawab Sofyan lemah dengan nafas yang tersengal.
"Kuat apanya? Aku sendiri ragu. Sebentar ... aku pakai baju dulu. Sementara Papa tenangkan pikiran dulu, ya?" Rizky berdiri lalu menepuk pelan betis Sofyan.
Setelah memakai setelan kaos panjang berwarna abu-abu, Rizky pun kembali duduk di di dekat Sofyan sembari menyelimutinya dengan selimut yang sempat dia pakai tadi.
"Ambilkan Papa air minum, Riz." Sofyan menoleh pada nakas.
Rizky mengangguk, lantas dia pun menuangkan air minum pada gelas lalu membantu Sofyan untuk minum.
"Coba ceritakan saja, Papa baik-baik saja kok," ujar Sofyan. Dia masih penasaran jika semua itu belum diketahuinya.
"Tapi kalau aku jujur ... Papa nggak akan benci padaku, kan? Aku takut kalau Papa nanti berubah." Rizky masih ragu sepertinya.
Sofyan menggeleng pelan. "Itu nggak akan terjadi, katakan saja."
Rizky membuang nafasnya dengan berat, lalu mengangguk. "Ya, aku memang pernah tidur dengan Diana ...."
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Nella yang tengah tertidur seketika terbangun dan ikut mendengar apa yang Rizky katakan.
"Tapi aku nggak asal tidur, Pa. Aku membayar dia," tambah Rizky.
Sofyan menarik nafasnya pelan-pelan lalu menghembuskannya. Rasa sesak menyelimuti dadanya. "Apa Diana adalah wanita sewaan kamu juga?"
Rizky mengangguk lagi. "Iya, sebelum aku dengan Anna. Papa pasti tahu Anna dari Nella, kan?"
"Iya. Lalu berapa lama kamu tidur dengan Diana? Dan apa alasanmu sudah tak memakai dia lagi?"
"Nggak lama, Pa." Rizky terdiam sembari mengingat-ngingat. Didetik selanjutnya dia pun berucap, "Mungkin ada lima bulan."
Nella membulatkan matanya. 'Lima bulan Mas Rizky bilang nggak lama? Lalu yang lama itu berapa? Lima tahun?' gerutu Nella dalam hati sembari mengepalkan kedua tangannya. 'Dasar mesum! Burungnya diobral sana-sini. Asal masuk saja yang penting enak begitu, ya? Aku hanya dapat sisanya doang berarti?'
__ADS_1
Saat Diana yang mengatakannya, Nella tampak biasa saja. Tetapi entah mengapa saat mendengar langsung dari mulut suaminya—rasanya dia benar-benar sangat emosi dan tak terima dunia akhirat.
"Lalu alasanmu berhenti menyewa dia? Eemm ... kamu itu setiap punya wanita sewaan dijangka waktu atau tergantung kemauan? Apa sering bergonta-ganti?" Sofyan yang masih dilanda penasaran kembali mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.
Sofyan sendiri memang pernah melakukan hal yang sama seperti Rizky, tetapi sistem menyewa jasa pemuas ranjang tentu berbeda-beda.
"Apa nggak terdengar menjijikkan kita membahas masalah ini, Pa?" Rizky tampak gelisah, dia juga menoleh pada Nella yang tengah meringkuk. Hanya punggungnya saja yang dapat Rizky lihat. Tetapi entah mengapa dia tiba-tiba merasakan hawa panas yang menjalar pada seluruh tubuhnya. "Aku takut Nella juga dengar dan membuat dia jijik padaku, Pa."
"Kata kamu Nella tidur?"
"Iya, sih tapi—”
"Coba cek dulu. Kalau dia bangun, kita nggak jadi meneruskannya," sela Sofyan pelan.
Rizky mengangguk, dia pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Nella. Terlihat wanita cantik itu masih memejamkan mata. tetapi dia hanya pura-pura tidur dan kelopak matanya juga bergerak-gerak.
Rizky berjongkok kemudian memperhatikan wajah Nella. "Apa lu tidur beneran, Sayang?" tanya Rizky pelan.
Nella bergeming, dia tak mungkin juga menjawabnya, kan? Bisa-bisa Rizky tahu kalau dia hanya pura-pura tidur.
"Riz," panggil Sofyan pelan.
"Sepertinya Nella pura-pura tidur, Pa."
"Kata siapa? Masa ada orang yang pura-pura tidur? Sudah ceritakan lagi. Papa sangat penasaran."
"Besok saja deh, Pa. Lagian ... ini 'kan sudah malam, malah sudah pagi." Rizky menengadah seraya menunjuk jam dingin yang berada tepat di atas pintu. Jam itu menunjukkan ke angka 2.
"Nanti Papa malah kepikiran dan nggak bisa tidur. Ayok ceritakan saja," pinta Sofyan sedikit memaksa.
Rizky menghela nafasnya berat. "Yasudah deh, tadi sampai mana?"
"Tentang menyewa wanita, kamu dijangka waktu atau nggak?"
"Dijangka waktu. Tapi sebelum itu ... aku coba dulu, Pa. Kalau pas pertama main aku merasa cocok, aku menyewa dia dengan jangka panjang," jawab Rizky.
Seketika perut Nella bergejolak, terasa mual mendengar jawaban Rizky. Tetapi dia mencoba menahannya dan menutupi mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Oh, terus alasanmu berhenti menyewa Diana itu apa?"
"Pertama karena aku bosan. Sudah begitu, saat selama lima bulan aku menyewanya ... Diana diam-diam bermain juga dengan pria lain. Itu yang membuatku makin nggak suka sama dia. Papa pikir saja ... aku sudah booking dia selama lima bulan, tapi saat aku ingin bersamanya ... dia malah berada di kamar bar dengan pria lain. Mana kakek-kakek lagi," gerutu Rizky sambil mencebik bibirnya, dia merasa sangat kesal jika mengingat tentang tingkah laku Diana yang tidak profesional dalam bekerja.
Sofyan membuatkan matanya merasa tercengang dengan ucapan menantunya. "Kakek-kakek? Serius kamu, Riz? Ada seusia Opa Angga?"
Rizky menggeleng. "Opa Angga sih masih mending, meskipun sudah tua tapi badannya berisi dan tampan. Tapi orang itu wajahnya juga jelek, Pa. Hitam ditambah peot lagi," cibir Rizky, seketika bulu kuduknya merinding dan dia pun meringis geli.
"Tubuhnya juga kurus berarti?" tanya Sofyan.
"Iya, namanya juga peot, pasti kurus," jawab Rizky. "Apa Papa tahu ... burungnya juga sama peotnya, mana kecil dan letoy banget lagi," tambah Rizky lagi.
Ghibah orang memang sangat enak, apalagi orang yang sudah tua. Tapi dosa juga.
Mata Sofyan dan Nella melebar sempurna.
"Kok kamu bisa tahu, sih?" tanya Sofyan. Agak aneh memang, kenapa Rizky bisa tahu sedetail itu?
"Tahulah, aku melihatnya langsung saat mereka bercinta dan aku langsung muntah-muntah, Pa. Sangking mualnya."
Oek ... oek
Baru saja dibilang muntah, tiba-tiba ada yang muntah dan itu adalah Nella.
Rizky terhenyak, lantas menoleh pada Nella. Baru saja dia hendak menghampiri wanita itu, tetapi Nella sudah berlari masuk ke kamar mandi, menuntaskan rasa mual di perutnya.
Melihat ada bekas muntahan Nella di lantai dekat kasurnya yang di bawah, Rizky pun segera keluar dari kamar kemudian mencari seorang cleaning servise untuk membersihkannya.
Setelah Rizky kembali dengan seorang cleaning servise pria, dia pun mengetuk pintu kamar mandi yang masih ada Nella di dalamnya.
Tok ... tok ... tok.
"Nella Sayang, apa lu baik-baik saja?" tanya Rizky.
Pria tampan itu memutar handle pintu yang kebetulan tak dikunci, segera dia masuk dan menghampiri istrinya yang tengah membasuh mulutnya pada kran wastafel.
"Lu kenapa? Sakit? Mau gue panggilkan Dokter?" tanya Rizky dengan penuh perhatian, dia juga menempelkan punggung tangannya pada dahi wanita itu.
__ADS_1
Nella menggeleng cepat, lantas berlalu pergi begitu saja dari kamar mandi dengan wajah cemberut.