
"Eh Nell, gue bisa melepaskannya sendiri, lu nggak usah bantu gue." Rizky mencegah tangan Nella saat tengah menurunkan resleting celananya.
"Nggak apa-apa, aku mau bantu Mas Rizky mandi."
"Jangan, nanti lu terpeleset, bahaya. Gue bisa sendiri, katanya lu mau masak juga, kan?"
Rizky lagi-lagi mencegah Nella saat wanita itu hendak membantunya melepaskan celana. Dia tahu niat istrinya itu ingin membantu dan tentunya karena merasa tak tega melihat keadaannya. Akan tetapi Rizky juga sadar jika istrinya itu tengah berbadan dua. Rizky tentu tak mau mengambil resiko jika dia terpeleset saat membantunya
"Ya sudah deh, aku masak dulu. Oya ... nanti setelah ikannya matang, Mas Rizky mau makan malamnya di mana? Apa di kamar saja, biar enak?"
"Lu mau makan sambil bercinta memangnya?"
"Ih bukan, maksudku supaya Mas Rizky nggak bolak balik. Aku melihat ... Mas jalannya juga sakit."
"Oh kirain." Rizky terkekeh. Otaknya yang mesum bahkan sudah berkelana. Membayangkan jika dia dan Nella sedang makan sambil bercinta. "Ya sudah, di kamar saja."
"Iya, Mas Rizky mandinya hati-hati. Perbannya juga jangan sampai terkena air, soalnya masih luka."
"Iya, Sayang."
Nella yang tengah berjalan beberapa langkah langsung terhenti dan menoleh pada Rizky dengan wajah yang memerah.
"Mas bilang apa tadi?" Rasanya Nella ingin mendengar kalimat itu sekali lagi.
"Sayang."
Nella tersenyum malu-malu, lantas buru-buru keluar dari kamar mandi dan menutup pintu.
"Kenapa wajah Nella sampai merah begitu? Apa dia senang gue panggil Sayang?" Rizky membayangkan wajah merona istrinya yang amat menggemaskan itu sambil senyum-senyum sendiri. Dan tiba-tiba dia mengingat ucapan Guntur, yang sempat mengatakan untuk merubah panggilan istrinya. "Aku kamu, kaku banget. Seperti ngomong sama orang tua. Tapi ... Nella terlalu manis dan cantik, nggak apa-apa deh, gue akan coba kalau nggak lupa."
***
Ceklek~
Rizky membuka pintu kamar mandi dengan memakai lilitan handuk di atas pinggang. Nella yang tengah duduk di sofa segera berdiri lalu menghampirinya, memapahnya supaya duduk di atas kasur.
"Padahal nggak usah, gue ... ah, maksudnya aku, aku bisa jalan sendiri Nell, lu ... kamu, kamu nggak perlu bantu." Rizky berbicara sampai belepotan, dia merasa kesusahan sebab belum terbiasa.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Mau aku bantu pakai celana dan baju? Aku sudah siapkan." Nella menunjuk celana boxer di atas kasur dan kaos putih polos, pakaian itu adalah pakaian yang biasa Rizky kenakan setiap malam.
"Perhatian banget sih lu, Nell. Buat gue berdebar saja." Rizky menarik lengan Nella hingga duduk di pangkuannya, setelah itu Rizky memeluknya dari belakang sambil menyangga dagunya di bahu kiri istrinya.
Suara jantung mereka beradu dan terdengar sampai telinga masing-masing, perlahan Rizky memegang tangan Nella.
"Gue cinta cinta, sangat cinta. Gue sangat mencintai lu. Gue benar-benar bahagia bisa dijodohkan dengan wanita seperti lu."
"Masa sih? Bukannya Mas Rizky juga dulu nggak suka dijodohkan?"
"Awalnya iya, gue juga ragu soalnya lu kelihatan benci banget sama gue."
"Ya sudah, kita makan dulu, yuk." Nella manggut-manggut. "Mas Rizky pakai baju cepat, nanti ikannya keburu dingin."
Nella mengangkat tubuhnya untuk berdiri, lalu dia berpindah posisi duduk di sofa. Rizky pun bergegas memakai celana boxer, setelah itu berjalan menghampirinya, dan duduk di sebelahnya.
"Lu nggak makan? Kok bawa nasinya hanya sepiring?" Rizky melihat hanya ada satu piring nasi tetapi dengan jumlah lumayan banyak, dan satu piring lagi berisi ikan bakar gurame berukuran sedang. Semua itu berada di atas meja.
"Aku mau makan sepiring berdua, apa Mas keberatan? Apa mungkin jijik?" tanya Nella.
"Nggaklah, malah gue juga mau banget. Ini romantis."
Rizky mengangguk, lantas dia pun mengambil daging ikan tersebut lalu menyuapi ke dalam mulutnya. Mereka makan tanpa sendok, sebab lebih enak makan ikan bakar dengan tangan langsung.
"Bagaimana, Mas?" Lagi-lagi kunyahan pertama Nella harus mendengar komentar dari Rizky, dia merasa senang jika makanannya diberi komentar.
"Enak, sangat enak," jawab Rizky. "Sebenarnya ini yang buat enak gara-gara ikannya gue yang nangkap, kan? Kalau ikannya Hersa yang nangkap ... pasti nggak bakal seenak ini," ucap Rizky dengan penuh percaya diri, sembari mengunyah.
"Tapi karena aku juga yang memasaknya, kalau Bibi yang masak ... pasti nggak seenak ini, kan?" Nella tentunya ingin disanjung juga. "Masakanku dengan masakan Bi Yeyen ... lebih enak masakan siapa, Mas?"
"Lu, lu yang paling enak," jawab Rizky langsung.
"Makanan favorit Mas Rizky apa sih? Aku mau memasak nanti."
"Makanan favorit gue?" Rizky terdiam seraya mendongak ke arah langit-langit kamar, tidak ada apa-apa di sana, tetapi Rizky hanya sedang memikirkan makanan favoritnya apa. Sepersekian detik kemudian dia menoleh ke arah Nella. "Sepertinya nggak ada, semua makanan gue suka, jadi gue nggak bisa pilih mana yang paling favorit."
"Oh, kalau makanan yang nggak suka?"
__ADS_1
"Uhuk-uhuk!" Tiba-tiba, Rizky merasakan tenggorokannya tersangkut tulang ikan, matanya langsung membulat sempurna. "Leher gue nyangkut." Rizky menyentuh lehernya sendiri sambil meringis kesakitan.
Nella terbelalak. "Nyangkut? Nyangkut di mana? Leher Mas Rizky masih ada kok." Sekarang Nella ikut menyentuh leher suaminya.
"Nyangkut di tulang, sakit, Nell," lirih Rizky sambil menangis.
Meskipun ucapan Rizky agak membingungkan, tetapi Nella paham maksudnya.
"Ayok minum dulu." Nella cepat-cepat menuangkan air pada gelas, lalu membantu Rizky menenggaknya. "Bagaimana? Apa masih sakit?"
Rizky menelan ludahnya, ingin memastikan. Tetapi masih terasa sakit dan nyeri. "Masih, sakit banget."
"Ah ini, makan nasi tapi jangan dikunyah ...." Nella menyuapi nasi ke dalam mulut Rizky, lalu setelah itu menyodorkan segelas air ke bibirnya. "Dorong pakai air seperti kita minum obat, Mas."
Rizky menurut saja untuk melakukan hal yang Nella perintahkan, dan ternyata benar—tulang ikan itu sudah tak tersangkut lagi. Mungkin sudah ikut masuk ke dalam perutnya bersama nasi dan air.
"Bagaimana sekarang?" tanya Nella dengan wajah cemas.
Rizky menelan ludahnya dan kali ini tidak terasa sakit. "Sudah nggak, lu hebat banget seperti Dokter," jawabnya sambil tersenyum.
"Itu 'kan biasa dilakukan kalau kita tersendak tulang ikan, dulu almarhumah mama sering melakukan hal seperti itu padaku, Mas."
"Oh, almarhumah mama lu berarti punya keahlian seperti Dokter. Hebat juga nurun ke anaknya."
Nella terkekeh. "Lebay amat, masa begitu saja dibilang keahlian Dokter."
Rizky mengangguk, tak terasa makan mereka sudah habis akibat terlalu banyak berbincang. "Mama Gita nggak pernah tuh melakukan hal seperti tadi, kalau gue tersangkut tulang ikan."
"Masa sih? Terus dibiarkan saja? Apa nggak sakit kalau kelamaan?"
"Sakitlah. Sudah begitu ... Mama malah ngomel dan bilang gue makannya nggak pakai mata. Kan aneh banget, kalau gue nggak pakai mata ... mana bisa lihat, iya, kan?" Rizky mendengus kesal saat mengingat momen masa kecilnya dulu, Nella yang mendengarnya hanya bisa terkekeh. "Terus gue disuruh minum banyak sampai menghabiskan setengah galon, Nell."
"Terus tulang ikannya ikut kebawa, nggak?" tanya Nella penasaran.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1089...
Crazy up kok yang like dan komen makin sedikit, apa nggak pada seneng Author up banyak, ya? 😢 giliran kemarin-kemarin minta up banyak, udah banyak kok sepi?? Jadi ga semangat 😔