Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
207. Mas Rizky tampan


__ADS_3

Dilihat dari luar, undangan itu persis seperti undangan yang diberikan oleh Steven padanya. Dan ternyata benar, saat dibuka itu adalah undangan yang sama.


"Aku dapat undangan ajang lomba memasak, Nell. Undangan itu sudah dua hari yang lalu. Tapi Maya baru memberikannya padaku karena lupa," tutur Rizky. "Rencana aku mengajakmu untuk ikut. Aku memang nggak bisa masak, tapi kamu 'kan pintar." Rizky mengecup pipi kiri istrinya.


Mata Nella seketika berbinar, tetapi tak berlangsung lama karena dia ingat kalau sudah diajak lebih dulu oleh Steven.


'Kenapa Mas nggak mengajakku lebih dulu? Aku mau ikut lomba dengan Mas Rizky saja.' Nella membatin.


"Kok diam saja?" Kening Rizky mengerenyit heran, dilihat wajah Nella sendu. Seperti tak menyukai ajakannya. Dia juga sejak tadi diam belum memberikan jawaban. "Kamu nggak suka, Nell? Bukannya kamu suka memasak, kan?"


"Aku suka kok." Nella menyahut cepat seraya mengangguk. "Tapi tadi aku sudah diajak lebih dulu sama Om Steven. Harusnya Mas lebih dulu mengajakku," keluhnya sedih.


"Oh ...." Rizky mendesah pelan, ada rasa kecewa dalam hati lantaran kalah cepat. "Jadi Om Steven juga diundang, ya? Reymond diundang juga, Nell. Dan dia mau ikut bersama Indah. Sepertinya seru kalau kita ikut bersama."


"Iya, Mas." Nella mengangguk, kemudian memeluk tubuh suaminya dengan penuh cinta. "Tapi aku nggak enak kalau menolak Om Steven."


"Yasudah nggak apa," ucapnya pasrah.


"Acaranya kapan sih, Mas?"


"Hari Minggu."


"Hari Minggu katanya Mas mau pergi sama Papa, kan? Nge-gym?"


"Iya, tapi aku sudah bilang padanya kalau nggak jadi ikut. Mungkin aku hanya memberitahu tempatnya saja."


"Ikut saja temani Papa, Mas. Kan lombanya juga nggak ikut. Oh, apa Mas ikut saja dengan Risma?"


Rizky terdiam sesaat, rasanya aneh mendengar Nella mengizinkannya ikut bersama Risma. Padahal tadi pagi saja dia seperti tak diizinkan pergi.


"Nggak deh, mungkin nanti aku ikut menonton saja. Memberikan support untuk istriku."


"Yasudah, sekarang kita makan siang yok, Mas. Aku lapar." Nella melepaskan pelukannya, lalu mengusap perut.


"Ayok." Rizky merangkul bahu istrinya, lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Mau makan siangnya di mana, Mas?" tanya Nella. Dia bergelayut manja di lengan suaminya.


"Aku dan Reymond ada janji makan siang bareng di restoran Tante Nissa. Kita makan siang di sana, ya?"


"Kok di sana? Aku nggak mau, Mas." Nella menggelengkan kepala. Dia sangat malas jika harus bertemu dengan mantan kekasihnya lagi.

__ADS_1


"Kenapa? Aku lagi kepengen banget makan makanan di restoran Tante. Sudah lama sekali, Nell."


"Cari tempat lain saja, Mas. Aku nggak mau."


"Reymond dan Indah sudah menunggu, nggak enak rasanya kalau membatalkan. Memangnya kenapa, sih, kamu nggak mau?" Rizky menoleh pada Nella. "Bukannya kamu seneng kalau ke restoran Tante? Pasti bisa bertemu dengannya, kan?"


'Bukan aku nggak seneng, tapi aku nggak mau nanti Mas emosi saat bertemu Kak Ihsan yang menyebalkan. Aku ingin hidup tanpa orang itu, Mas.' Nella membatin dalam hati.


"Nell, nggak apa-apa, kan?" Rizky menoel pipi kiri istrinya. Dilihat wanita cantik itu sejak tadi diam.


"Yasudah deh, nggak apa-apa. Asal sama Mas aku mau." Nella akhirnya pasrah, binggung juga untuk memberi alasan.


"Nah gitu dong. Kalau nurut 'kan kamu jadi tambah cantik."


"Memangnya kemarin-kemarin aku kurang cantik, ya?" Nella menatap lekat wajah Rizky.


"Cantik banget kok. Nggak ada tanding."


"Mas jangan selingkuh, ya?"


"Nggak bakal. Aku 'kan setia orangnya."


Beberapa menit berlalu. Setelah sampai di depan restoran, mereka berdua turun dari mobil.


Rizky menoleh pada istrinya yang tengah mengandeng lengannya. "Kamu memangnya habis ke sini, Nell?"


"Iya, Mas." Nella mengangguk.


"Terus kenapa tadi nggak mau aku ajak ke sini?" Alis mata Rizky bertaut.


"Karena aku tadi sudah ke sini, Mas. Niatku pas tadi ke sini mau bertemu Tante Nissa. Tapi dia nggak ada dan aku akhirnya pulang." Nella menjelaskan panjang lebar, takut jika Rizky salah paham.


"Oh, yasudah. Ayok kita masuk." Rizky tersenyum, lalu mereka berdua berjalan masuk saat pintu itu dibukakan oleh satpam.


'Semoga Mas Rizky nggak bertemu Kak Ihsan.'


Rizky mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan itu. Suasananya sangat ramai dan banyak sekali meja yang penuh. Tentunya dia tengah mencari temannya.


"Rizky!" Seseorang dari kejauhan memekik dengan tangan yang terangkat dan agak melambai. Dia adalah Reymond.


Rizky tersenyum, lalu segera mengajak Nella ke meja yang berada diujung. Tepat dimana Reymond dan Indah duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Sorry gue lama, Rey," ucap Rizky seraya menarik kursi untuk istrinya duduk. Nella langsung duduk dan menyapa Indah yang berada di depan.


"Nggak apa-apa, gue dan Indah baru dateng kok," sahut Reymond.


Rizky kemudian duduk di samping Nella.


"Selamat siang. Eh, Mbak Nella." Seorang pelayan pria menghampiri mereka. Dia adalah Ivan. "Mau pesan apa? Silahkan."


Mereka berempat langsung melihat buku menu.


"Aku mau pesan ikan bakar sambel ijo, dan minumannya es jeruk," ucap Rizky, kemudian menoleh pada Nella. "Kamu apa, Nell?"


"Samain."


"Dada apa paha, Pak?" tanya Ivan.


"Paha. Kamu apa?" Rizky kembali bertanya pada Nella.


"Sama, paha juga."


Ivan segera mencatat pesanan itu, lalu beralih pada Reymond dan Indah. Terlihat mereka berdua seperti kebingungan ingin memesan apa.


"Lu apa, Rey?" tanya Rizky. "Cepat pesan, kasihan pelayannya kesemutan kakinya," ujar Rizky setelah beberapa menit lamanya melihat dua orang itu diam saja.


"Samain saja, deh. Gimana Sayang?" Reymond meminta persetujuan pada istrinya. Dan Indah mengangguk.


"Saya akan segera kembali." Ivan membungkuk sopan, kemudian berjalan meninggalkan mereka berempat.


"Eh, Riz. Sejak kapan rambut lu gimbal begitu? Kok gue baru lihat?" Reymond menatap rambut Rizky yang sedikit berantakan. Sepertinya dia baru sadar jika rambut temannya panjang.


"Ini bukan gimbal kali," kilah Rizky sembari menyugar rambutnya ke belakang. "Tapi gondrong, Rey."


"Memangnya beda? Bukannya sama saja?"


"Bedalah, gimbal itu rambutnya lebat dan seperti nggak dirawat. Kalau gue 'kan dirawat." Rizky mengusap-usap rambutnya. Jujur, dia merasa tambah tampan sekarang dengan rambut gondrongnya. Apalagi Nella selalu memujinya.


"Tapi rambut lu juga acak-acakan. Sama saja nggak dirawat, kan?"


"Ini acak-acakan ketiup angin. Namanya juga rambut, Rey. Acak-acakan itu wajar."


"Kenapa nggak dipotong saja, sih? Kayak gembel tahu, Riz." Reymond terkekeh. Celetukannya sontak membuat Nella membulatkan matanya.

__ADS_1


"Enak saja kalau bicara. Mas Rizky tampan, Pak!" Nella menyahut dengan nada marah.


__ADS_2