
"Oh gitu. Eemm ... apa aku bisa minta tolong sama Mamah?"
"Bicara saja."
"Nanti Mamah tanya-tanya tentang apa kesukaan Nella, barang-barang atau makanan favoritnya, ya?"
"Kenapa kamu nggak tanya langsung saja? Kenapa harus Mamah?"
"Dia masih jutek padaku, Mah. Tapi kalau sama Mamah pasti nggak."
"Oke deh, nanti Mamah kasih tau kamu, ya?"
"Iya, Mah."
Sampainya di Restoran, Nella, Nissa dan Gita. Mereka turun dari mobil dan sama-sama masuk ke dalam.
"Mamah dengar dari papahmu, katanya kamu jadi Manager di sini, ya?" tanya Gita seraya merangkul bahu Nella.
"Iya, Mah." Nella mangganguk sambil tersenyum canggung.
"Apa kita bisa ngobrol di ruanganmu sambil makan siang?"
Kalau begini, kapan dia pulang? Mau ngobrol apa lagi sih?' batin Nella.
"Bisa, ayok ikut aku, Mah." Nella mengajak Gita untuk masuk ke ruangannya, ia juga meminta satu pelayan untuk ikut.
*
"Menunya banyak yang terlihat enak, Mamah jadi binggung memilihnya." Gita melihat-lihat buku menu sambil duduk di sofa, banyak sekali menu-menu yang terlihat begitu menggiurkan lidahnya. "Apa menu unggulan di sini, Nell?" tanyanya seraya menoleh kearah Nella yang tengah duduk di sampingnya.
"Di sini ada, Mah. Mamah tinggal pilih saja." Nella menunjuk menu yang tertera dibagian paling depan.
"Eemm ... Mamah mau ayam lada hitam deh, pake nasi dikit. Sama minumnya es jeruk."
Pelayan wanita itu mencatat menu milik Gita pada kertas.
"Sekalian buatkan aku jus alpukat," kata Nella menambahkan.
"Lho, kamu nggak makan?" tanya Gita.
"Nggak Mah, aku masih kenyang."
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya makanan dan minuman pesanan itu datang. Gita segera memakannya.
"Oya Nell. Apa makanan kesukaanmu?"
"Banyak sih, Mah. Tapi aku lebih suka makan makanan buatanku sendiri."
"Oh iya, Mamah juga tau dari papahmu kalau kamu pintar memasak. Sekali-sekali boleh dong, masak buat Mamah. Mamah juga ingin dimasakin sama menantu kesayangan Mamah ini." Gita mengelus pelan pucuk kepala Nella.
"Boleh, Mamah mau dimasakin apa?"
"Apa saja. Asal kamu yang buat, Mamah akan makan."
"Iya, Mah."
"Kalau barang-barang kesukaanmu apa? Tas, baju, sepatu? Apa gitu?" tanya Gita kembali.
Nella merasa heran sekaligus bosan. Sebab Gita sedari tadi terus menerus bertanya.
"Kalau barang-barang sih semuanya aku suka, Mah. Jadi nggak bisa aku pilih salah satu."
"Oh gitu, ya? Tapi kok, tas dari Mamah dan perhiasan dari Mamah nggak kamu pakai? Kenapa? Nggak suka, ya?" Gita memperhatikan Nella lebih dekat, berawal dari leher jenjangnya yang tanpa kalung, telinga yang tanpa anting, juga pergelangan tangan yang tanpa gelang. Memang Nella ini tidak begitu suka memakai perhiasan, bahkan merasa risih saat memakainya.
"Suka kok, hanya belum dipakai, tapi nanti aku pakai, Mah."
Nella terkesiap. "Ada kok, Mah." Ia lupa, kemarin belum sempat memakai lagi saat mencopotnya. Lantas, Nella membuka tas branded miliknya di atas meja, untuk mencari-cari cincin pernikahannya.
Akibat tergesa-gesa saat mencari, isi di dalam tasnya sampai berjatuhan di lantai dan tepatnya tiga lembar pil KB itu juga ikut terjatuh.
"Obat apa ini?" tanya Gita saat tangannya terulur ke kolong meja, hendak mengambil tiga lembar obat itu. Namun dengan cepat, Nella mengambilnya, memasukkan kembali obat itu dengan buru-buru ke dalam tas. Sebelum Gita mengetahuinya.
"Ini obat vitamin, Mah," jawabnya seraya menutup tas dan menyematkan cincin pernikahan di jari manis yang sudah berhasil ia temukan.
"Vitamin? Vitamin untuk apa?" tanya Gita dengan wajah penasaran. Untuk sekilas, ia melihat tiga lembar obat tersebut. Namun ia tak sadar jika itu adalah pil KB.
"Aku memang sering minum vitamin untuk tubuhku, Mah," jawabnya berbohong.
"Oh, bagus itu. Kamu memang pintar merawat diri," puji Gita.
Untungnya Mamah nggak sempat melihatnya, aku aman kalau begitu' batin Nella sambil menghela nafas dengan lega.
***
__ADS_1
Malam hari.
Sehabis pulang dari kantor pada jam 7 malam, Rizky langsung ke rumah mertuanya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu dan seketika langkahnya berhenti di ruang makan lantaran melihat Sofyan, Diana, Dirga dan tentunya Nella. Sedang duduk di sana bersama menu makan malam.
"Eh, Rizky," kata Diana gugup saat melihat kedatangan Rizky.
"Kamu kok pulang malam? Sibuk di kantor, ya?" tanya Sofyan.
"Ayok makan bersama, Riz!" ajak Dirga.
Tidak seperti yang lain, yang menyapa kedatangan Rizky, Nella justru terlihat begitu cuek sembari melahap makan malamnya. Padahal, ia adalah orang yang pertama melihat kedatangan Rizky. Sempat menoleh, namun hanya sekilas dan langsung berpaling.
"Iya, aku hari ini sibuk banget, Pah. Mangkanya pulang malam." Rizky menarik kursi yang berada didekat Nella. Bukannya langsung duduk, ia malah mendekati istrinya dan mengecup pipinya.
Cup~
Nella terbelalak, ia langsung mengusap kasar pipinya bekas kecupan Rizky. Akan tetapi mulutnya tak berani protes, lantaran malas jika nanti dimarahi Sofyan.
"Kamu cantik dan wangi," kata Rizky seraya tersenyum dan mendudukkan bokongnya pada kursi.
Bicara apa sih? Dia caper banget di depan Papah, buat aku nggak selera makan' batin Nella.
"Jelaslah, Riz. Nella memang istri yang sempurna. Dan pastinya hanya cocok denganmu," sahut Sofyan menimpali.
"Itu benar, Pah." Rizky melihat-lihat menu masakan di atas meja. Ada sup sapi, tumis buncis, capcay dan perkedel. "Sepertinya enak, siapa yang masak? Apa Nella?" Rizky menoleh sekilas pada Nella, ia melihat wajah istrinya sudah cemberut. Namun yang Rizky lihat justru begitu mengemaskan.
Gue suka wajah cemberut elu, Nell' batin Rizky.
"Bukan Nella, tapi Bibi. Kamu mau makan makanan yang Nella buatkan?" tanya Sofyan yang mana dianggukkan oleh Rizky dengan cepat.
"Aku sudah ngerasain nasi gorengnya, dan ternyata enak." Rizky menoleh pada Nella dan kembali mengecup pipi kirinya, Nella juga kembali mengusap bekas kecupan Rizky. "Kapan-kapan boleh dong lu masakin untuk gue lagi, gue mau makan masakan lu."
Nella memutar bola matanya malas. Tadi siang ibunya yang minta dimasakin, sekarang anaknya.
"Besok Nella masak untukmu Riz," balas Sofyan sambil tersenyum. "Ambilkan nasi sama lauk untuk Rizky, Nell. Layani suamimu!" titah Sofyan dengan tatapan tajam mengarah pada Nella yang berada di depannya.
"Dia bisa sendiri, ngapain musti aku," jawabnya ketus.
"Lho, kok malah bicara seperti itu? Rizky capek habis kerja, kau sebagai istri harusnya mengerti dong? Masa begitu saja musti Papah beritahu?" Sofyan menoleh pada Diana yang sedang melihat kearah Rizky. "Contoh Mamihmu, dia selalu melayani Papah dalam hal apapun, kau juga harusnya seperti itu!" tegurnya.
Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!
__ADS_1
Yuk follow IG Author: @rossy_dildara