
Rizky hanya tersenyum, perlahan dia mengambil tupperware di dalam kantong tersebut, lalu membuka tutupnya dan ternyata berisi opor ayam yang masih hangat dan terlihat enak. Aromanya sampai tercium pada hidung kedua pria itu.
"Sudah cantik jago masak, Nona Nella idaman banget," ucap Hersa memuji.
"Iya, Nella sempurna. Tapi gue nggak pantas dengannya, Sa," ucap Rizky murung.
"Nggak pantas apa sih, Pak? Bapak ini suaminya, pasti pantas. Tapi kok ... tumben Nona Nella nggak telepon? Biasanya 'kan telepon Bapak kalau minta pendapat makanan."
Mendengar ucapan asistennya, Rizky langsung tersenyum. Dia perlahan mengambil ponselnya di dalam saku jas, tetapi bukan untuk menelepon Nella, melainkan Bibi pembantu di rumahnya.
"Halo, Bi," ucap Rizky saat panggilan teleponnya diangkat oleh seberang sana. Dia juga mendengar suara kendaraan, sepertinya Bibi sedang ada di dekat jalan raya. "Bibi ada di mana? Apa Bibi tahu Nella sedang apa?"
"Halo, iya Pak. Bibi sedang pergi mengantar Nona Nella."
"Kok Bibi malah berhenti, bukannya jalan." Tiba-tiba Rizky mendengar suara Nella, dan itu membuat jantungnya berdebar. Suara wanita cantik itu agak samar tetapi seperti tengah menggerutu.
"Bibi dan Nella sedang apa dan di mana?" tanya Rizky penasaran.
"Bibi sedang di jalan, Pak. Kami ...."
Tut ... tut ... tut. Panggilan itu langsung terputus begitu saja, padahal Bibi belum selesai bicara. Rizky kembali menghubunginya, tetapi sekarang nomornya tidak aktif.
"Sedang apa mereka?" Rizky mengerutkan keningnya, tetapi mendadak hatinya merasa cemas.
"Kenapa, Pak?" tanya Hersa saat melihat wajah bosnya itu tampak kebingungan sembari menatap layar ponselnya.
"Ini, gue tadi tanya Bi Yeyen ... Tapi teleponnya malah terputus, padahal gue belum selesai bicara."
"Kenapa nggak telepon Nona Nella saja?" Hersa tadi mendengar Rizky menanyakan istrinya, tetapi dia juga heran mengapa Rizky lebih memilih menelepon pembantunya ketimbang Nella.
"Iya, gue telepon dia." Rizky mengetik ponselnya untuk menghubungi Nella, satu panggilan itu tidak terangkat. Dia menelepon kedua kali dan sampai tiga kali—tidak ada jawaban. "Nggak diangkat-angkat lagi, gue juga merasa cemas, Sa. Bagaimana ini?"
"Bapak pulang saja, kebetulan meeting kita juga sudah selesai dan nggak ada lagi hari ini," usul Hersa.
"Iya, lu benar. Gue pulang deh kalau gitu." Rizky bangkit dari duduknya, lalu berlalu pergi meninggalkan Hersa dan opor ayam kiriman Nella.
"Wah, ketinggalan. Apa ini rezeki buatku?" Mata Hersa seketika berbinar, perlahan dia mengambil tupperware yang sudah dibuka dan ada sendok di atasnya.
Baru saja dia hendak menyendokkannya menuju mulut yang sudah mengangga, tiba-tiba Rizky balik lagi dan merampasnya dari tangan Hersa.
__ADS_1
"Enak saja lu main makan, mau jadi Mitha? Nella masak buat gue," omel Rizky. Dia segera menutup tupperware itu dengan tutupnya lalu memasukkannya ke dalam kantong merah. Setelah itu Rizky pergi keluar lagi sambil membawanya.
***
Sebelumnya.....
Setelah selesai masak dan menaruh masakannya ke dalam tupperware serta kantong merah, Nella menemui kurir untuk mengirimkannya.
"Pak, tolong antarkan kiriman ini ke tangan pria yang bernama Rizky Gumelang, kalau nggak satpam di kantornya, tapi pastikan sampai ke tangannya, ya," titah Nella. Rasanya dia masih trauma, takut jika ada Mitha jahil untuk mengambil makanan kirimannya itu.
"Baik, Nona. Ya sudah ... saya permisi." Kurir tersebut lantas menghidupkan motornya dan mengendarainya pergi dari hadapan Nella.
Saat wanita cantik itu hendak masuk lagi ke gerbang, langkahnya terhenti melihat seorang pedagang rujak buah lewat sembari mendorong gerobaknya.
Tiba-tiba lidahnya tergiur, tetapi bukan pada buah yang berada di akuarium. Melainkan sambel rujak yang berada di dalam toples.
"Pak, aku mau rujak mangga muda dong," ucap Nella yang mana membuat pedagang itu memberhentikan gerobaknya.
"Mangganya kebetulan habis, Nona. Apa mau buah yang lain?" tawar pria yang sekitar seumuran dengan Angga, tetapi wajahnya jauh lebih tua.
Nella melihat isi di dalam akuarium itu. Ada buah nanas, jambu air, pepaya dan bengkuang. Buah itu terlihat segar sebab dikelilingi pecahan batu es, tetapi hanya mangga yang dia inginkan saat ini.
"Nona mau makan sambelnya doang?" tanya pedagang itu.
"Nggak, nanti aku cari buah mangganya sendiri. Tapi sambel Bapak kelihatan enak ... aku mau beli 10 ribu boleh, nggak?"
"Kalau sambel biar Bapak kasih saja, sebentar Bapak bungkuskan dulu." Pria itu langsung mengambil plastik putih kecil lalu menuangkan empat sendok sambel itu. "Mau kasih garam?"
Nella mengangguk. "Iya, sedikit saja."
Setelah selesai, pria itu memberikannya pada Nella dan Nella pun memberikan satu lembar uang 50 ribu padanya, tetapi belum sempat diterima.
"Nggak usah, itu hanya sambel. Sambelnya juga masih banyak," tolaknya.
"Nggak apa-apa, ambil saja. Aku 'kan niatnya mau beli, bukan minta." Nella memberikan lagi uang tersebut dan sedikit memaksa sampai akhirnya pedangan itu menerima lalu memberikan kembaliannya.
"Terima kasih, Nona."
"Sama-sama."
__ADS_1
Lantas pedagang itu kembali mendorong gerobaknya dan meninggalkan Nella.
"Nona Nella habis beli apa?" tanya Bibi pembantu yang baru saja turun dari mobil taksi. Kedua tangannya menenteng plastik putih yang berisi sayuran.
"Sambel rujak, Bi. Bibi habis dari mana?"
"Supermarket, Nona. Bibi beli sayur dan daging, takut Nona mau masak nanti sore untuk Pak Rizky."
Mengingat nama pria itu, seketika membuat jantung Nella berdebar. Dia juga merasa rindu, tetapi rasanya malas jika diingatan kejadian tentang kemarin malam dan tadi pagi. Sudah digoda tapi tidak goyah. Nella merasa sangat payah.
"Bibi mau temenin aku, nggak?"
"Temenin ke mana?"
"Kita cari mangga muda."
"Oh, sebentar Bibi masukkan belanjaan Bibi dulu, ya."
"Tapi bawa payung juga sekalian, eh sama kacamataku dan tas."
"Iya, Nona."
Selang beberapa menit Bibi masuk ke dalam rumah, kini dia balik lagi sambil membawa apa yang Nella minta. Wanita cantik itu langsung memasukkan plastik kresek yang berisi sambel rujak ke dalam tasnya dan menyangga tali tas tersebut di atas bahu, lalu dia memakai kacamata hitam.
"Payungnya dibuka sekarang, Bi. Panas." Nella menyipitkan matanya, sebab silau karena terik matahari. Dia juga baru sadar jika sedari tadi berdiri kepanasan.
Bi Yeyen mengangguk lalu membuka payung tersebut dan memayungi Nella.
"Nona sudah pesan taksi atau mau Bibi berhentikan taksi yang lewat?"
"Siapa yang mau naik mobil? Aku mau jalan kaki saja mencari mangga." Nella langsung berjalan dan Bibi pun mengikuti langkahnya dari samping.
"Tapi disekitaran sini nggak ada yang jual buah mangga, Nona. Paling ada di pasar dan supermarket."
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1031...
__ADS_1