
"Kamu dan Maya bukannya baru mau sarapan, kan? Sarapan saja dulu. Oh ya, selamat atas pernikahanmu. Semoga langgeng dan Maya menjadi wanita yang terakhir." Guntur menepuk pundak besannya seraya tersenyum.
"Amin, terima kasih, Pak." Sofyan tersenyum lalu melihat ke arah jendela mobil, tepat di mana Rizky berada. "Cepat sembuh, Riz. Kalau butuh apa-apa hubungi Papa."
"Iya. Tapi Papa masih punya hutang cerita padaku lho."
"Cerita apa?"
"Malam pertama dengan Maya. Eh, Mama Maya. Papa harus cerita tentang semalam."
"Dih dasar, masa orang malam pertama kamu mau tahu. Kepo banget, nggak sopan sama orang tua!" omel Guntur sambil melototi anaknya.
"Papa Sofyan saja kepo dulu, masa aku nggak boleh. Sudah ayok antar aku ke rumah sakit. Sakit sekali, Pa." Rizky meringis sambil menyentuh pinggangnya sendiri.
"Iya, iya." Guntur bergegas masuk ke dalam mobilnya, lalu menyalakan mesin.
Sofyan terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Dia baru saja hendak masuk ke dalam rumah. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat Maya, Nella, Jihan dan Gita keluar rumah.
"Aku mau ke rumah sakit sekalian pulang ya, Pa," pamit Nella seraya mencium punggung tangan Sofyan.
"Mau Papa antar?"
"Nggak usah, aku pergi sama Mama Gita dan Pak Ali juga jemput."
"Ya sudah hati-hati. Nanti main lagi, ya? Papa belum main dengan Jihan lho." Sofyan mengecup pipi cucunya dengan lembut. "Jangan lupa diKB nanti, ya?"
"Iya." Nella mengangguk. "Kalau Mama Maya nggak perlu diKB. Aku nggak keberatan kok kalau punya adik," ujar Nella sambil terkekeh, Gita juga ikut tertawa.
"Kamu ini bicara apa? Papa sudah tua, masa punya anak lagi."
__ADS_1
"Nggak apa Sofyan," sahut Gita. "Kamu masih pantes kok punya anak bayi, Maya juga masih muda. Dia pasti ingin punya anak darimu. Iya, kan, May?" Gita menatap Maya yang sejak tadi diam saja.
Gadis itu hanya tersenyum saja, tetapi wajahnya tampak merona. Sofyan sendiri tak paham dengan maksud ekpresi wajah istrinya.
'Kalau Maya mau sih aku nggak keberatan. Sepuluh juga aku masih sanggup. Tapi masalahnya bikin anaknya kapan? Maya sepertinya belum siap, padahal burungku sudah gatal,' batin Sofyan.
Dia mengingat akan semalam. Habis makan dan mengobrol gadis itu sudah tidur duluan. Sofyan ingin meminta jatah pun tak enak. Terlebih semalam gadis itu sepertinya kecapekan.
Setelah kepergian Gita dan Nella, Sofyan mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. Dia duduk di ruang makan, tetapi lagi-lagi dirinya menarik pinggang istrinya hingga duduk di pangkuannya.
"Eh!" Maya terkejut, jantungnya langsung berdebar.
"Duduk di sini saja. Aku juga mau disuapi." Sofyan tersenyum, lalu memeluk perut Maya seraya mengecup tengkuknya. 'Sekalian digoda saja deh, biar nafs* terus langsung tancap gas.' Sebuah ide mesum seketika muncul di dalam otak Sofyan. Kedua tangannya perlahan meraba dada.
"Tapi aku berat nggak, Ayank? Nanti paha Ayank sakit."
"Nggak berat kok, kamu 'kan langsing. Malah aku suka kamu duduk di pangkuanku begini. Rasanya enak." Sofyan meraba kedua paha Maya, dia merasakan miliknya tertindih oleh bokong gadis itu. Tetapi justru dia suka dan menikmatinya.
"Apa segini cukup?" Maya menuangkan satu centong nasi goreng di atas piring.
"Cukup, siapa yang masak? Apa kamu, May?"
Maya mengangguk. "Iya, aku yang masak." Maya menyendokkan satu sendok nasi goreng itu seraya memutar pinggangnya ke arah Sofyan. Dia menyodorkan sendok itu pada bibir suaminya.
"Sebelum sarapan aku ingin cium dulu, May." Sofyan menangkup kedua pipi Maya lalu mendekatkan wajahnya dan meraup bibir merah muda istrinya dengan lembut.
Cup~
Sendok itu akhirnya diletakkan kembali di atas piring sebelum nasi gorengnya tumpah. Sofyan perlahan melepaskan dua kancing jas istrinya sambil terus melummat bibirnya.
__ADS_1
Tidak sampai disitu, kini tangan nakal suaminya sudah menyusup ke dalam kaos polos Maya, menariknya sampai ke atas dada dan perlahan meremmas buah dadanya yang masih berbungkus bra.
Lummatan yang awalnya lembut itu sekarang berubah menjadi kasar, lidah Sofyan juga ikut bermain dan menyapu setiap sudut rongga mulut istrinya. Maya terlihat begitu pasrah saja, dia tak menolak sama sekali.
"Aahh!" Suara dessahan itu tiba-tiba saja lolos saat Sofyan makin kasar meremmas dua buah dada itu dan seketika aktivitas mereka terhenti.
"Aku menginginkannya, May." Sofyan menyeka saliva pada bibir bawah istrinya, lalu mengecup singkat bibir itu. "Apa kita bisa melakukannya sekarang juga? Aku nggak tahan." Sofyan mengangkat bokong istrinya untuk dia dudukkan di atas meja.
"Tapi ini masih pagi, Yank. Kita belum sarapan. Ayank dan aku juga mesti kerja."
"Lebih baik kita nggak usah kerja dulu, aku nggak tahan banget, May. Masalah sarapan kita bisa langsung sarapan cepat." Sofyan sudah menyendokkan nasi ke dalam mulutnya sendiri, lalu mengunyahnya. Dan setelah itu dia pun menyuapi Maya. Gadis itu menurut saja, dia ikut makan.
"Tapi ... apa nanti akan terasa sakit? Apa sangat perih?" Bulu kuduk Maya seketika berdiri.
Diumurnya yang sudah menginjak 25 tahun, dia sama sekali tak mengerti masalah seperti itu. Maya masih terlalu polos. Pengalamannya berpacaran hanya sebatas cium dan peluk saja, selebihnya tidak ada lagi. Dadanya saja hanya Sofyan orang yang pertama kali melakukan hal seperti itu.
"Awalnya mungkin sakit, tapi lama-lama nggak akan sakit. Malah enak, Sayang." Sofyan menenggak air minum pada gelas sampai tandas. Setelah keduanya sarapan dengan singkat, Sofyan mengajak Maya masuk lagi ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu.
Maya duduk ditepi kasur sambil menelan saliva ketika melihat suaminya tengah melepaskan satu persatu pakaiannya sendiri, jantungnya langsung berdebar kencang dan tubuhnya seketika bergetar. Cepat-cepat dia menurunkan pandangan, tak berani menatap suaminya.
'Ini masih pagi, kan? Masa iya kita melakukan pagi-pagi seperti ini? Harusnya aku sekarang ada di kantor Pak Rizky, dan aku sebenarnya belum siap. Tapi bagaimana? Aku nggak bisa menolaknya, nanti Pak Sofyan pasti marah,' batin Maya.
"Aku mau mandi dulu sebentar ya, May. Kamu tunggu aku." Setelah tubuhnya polos sempurna, Sofyan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Padahal tadi pagi dia sudah mandi, tetapi rasanya dia ingin mandi lagi supaya tambah segar.
"Mandinya jangan lama-lama, kasihan si Cantik Maya nanti menungguku," gumam Sofyan, dia berdiri di atas kucuran shower. Air yang terasa dingin itu langsung menyegarkan seluruh tubuh kekarnya.
Maya meremmas kedua tangannya sendiri yang terasa basah karena keringat. Bunyi gemericik air di dalam sana membuat jantungnya makin berdebar, juga dengan rasa gugup yang berkepanjangan dan malah membuat perutnya melilit tak karuan.
"Duh, sakit banget perutku. Seperti mau berak." Maya meremmas perutnya sendiri sambil manatap pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. "Lebih baik aku berak dulu deh, mumpung Pak Sofyan belum selesai mandi."
__ADS_1
Maya berdiri, lalu berlari keluar dari kamar Sofyan.