
Keesokan harinya.
Sofyan, Maya, Aldi, Yuni dan Darus yang tengah duduk di kursi roda tengah berada di depan rumah besar bercat warna putih.
Darus sudah diperbolehkan untuk pulang dan mereka langsung pulang ke rumah baru.
Rumah itu adalah rumah yang Aldi cari kemarin atas permintaan Sofyan, tetapi uangnya dari Maya, seharga 250 juta.
"Wah, rumahnya bagus sekali, May." Yuni menatap takjub sekeliling ruangan rumah yang cukup luas itu, mereka semua lantas masuk ke dalam. Kecuali Aldi yang lebih memilih diluar.
"Apa Tante suka?" tanya Maya.
Yuni mengangguk semangat, kemudian langkahnya terhenti di ruang keluarga. Mereka semua duduk di atas sofa. "Iya, Tante suka. Apa semua barang-barang di kontrakan sudah dibawa ke sini?"
"Sudah, Tan." Yang menyahut Sofyan. "Tapi semuanya ada di gudang. Karena semua barang-barang di sini sudah lengkap, dibelikan yang baru."
"Itu bagus, memang barang-barang di kontrakan sudah nggak layak pakai."
"Kamu ini bicara apa, sih?" Darus menoleh ke arah Yuni dengan tatapan tajam. Wajahnya terlihat kesal mendengar apa yang disampaikan istrinya. "Semua barang kita di kontrakan masih layak pakai, Yun. Jangan bicara seperti itu."
Yuni hanya memutar bola matanya dengan malas. Dia tak menanggapi ucapan suaminya.
"Berapa biaya yang kamu keluarkan untuk semua ini, May?" Darus mengulurkan lengannya ke atas puncak rambut Maya, lalu mengelusnya perlahan-lahan. "Terima kasih, May. Maafkan Om dan Tante karena telah merepotkanmu."
"Sama-sama, Om. Om dan Tante nggak merepotkanku, kok. Masalah biaya nggak perlu dipikirkan." Maya tersenyum manis.
"Eemm ... berhubung Om sudah pulang dari rumah sakit, aku dan Maya pamit pulang ke Jakarta, ya?" pinta Sofyan. Dia merasa sudah tak betah, ingin cepat-cepat pulang dan berduaan dengan istrinya.
"Kalian menginap saja untuk semalam," ujar Darus.
"Maaf, Om. Nggak bisa. Besok aku harus masuk ke kantor, Maya juga. Iya, kan?" Sofyan mengecup pipi kiri Maya lalu mengenggam tangannya.
"Maya 'kan sedang hamil, Pak. Sebaiknya dia risen saja, takutnya capek. Bapak juga jangan lupa untuk memberi Maya uang nafkah," ujar Yuni, mulutnya sangat gatal sekali sejak tadi pagi. Ingin menegur suaminya Maya.
Sofyan mengangguk. "Iya, Maya akan berhenti kerja. Paling dia pas masuk nanti langsung bicara dengan bosnya. Dan tentang uang nafkah ... itu pasti. Aku suaminya, pasti akan memberikan uang nafkah untuk Maya."
"Itu bagus, jadi suami memang nggak boleh pelit. Apalagi Maya 'kan masih muda dan cantik ...." Yuni mengelus lengan kiri Maya dengan lembut. "Harusnya Bapak bersyukur Maya menerima Bapak apa adanya."
"Aku memang sangat bersyukur kok, Tan," sahut Sofyan sambil tersenyum.
__ADS_1
*
*
*
"Aku pulang dulu ya, Om. Om cepat sembuh. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku." Maya mencium punggung tangan Yuni dan Darus bergantian, begitu pun dengan Sofyan. Tetapi terlihat sekali Darus seperti tak menyukai tangannya dicium oleh pria itu, sampai dia mengusap bekasnya.
Berbeda dengan Yuni, wanita itu justru mengendus punggung tangannya. Dan seketika tercium aroma wangi, yang entah itu bekas Maya atau Sofyan.
Namun yang dia yakini adalah bekas Sofyan. 'Ternyata wangi juga meskipun tua,' batinnya.
"Kamu hati-hati ya, May. Kamu juga kalau ada apa-apa hubungi Om." Darus mengangkat kedua tangannya ke arah kepala gadis itu. Maya lantas membungkukkan badan, kemudian keningnya langsung dikecup oleh Darus.
Sofyan yang melihat adegan itu lantas menyentuh dada, terasa panas dan berdenyut di dalam sana. 'Kenapa pakai cium-cium segala? Maya 'kan istriku.'
Setelah selesai berpamitan, mereka berdua menaiki mobil dan yang menyetir adalah Aldi. Tetapi laju kendaraan itu tak berlangsung lama, mobil itu lantas dibelokkan oleh Aldi untuk masuk ke dalam sebuah gerbang hotel berbintang lima.
"Lho Ayank, kok berhenti di hotel? Mau ngapain?" tanya Maya seraya menoleh ke arah kaca mobil.
"Makan siang, May. Ini 'kan sudah siang." Sofyan membuka pintu mobilnya, lalu turun. Setelah itu dia pun membuka pintu untuk Maya turun.
"Tapi aku belum lapar, Ayank. Dan kenapa kopernya juga dibawa?" Maya berjalan di samping Sofyan, pria itu tengah merangkul pinggangnya dan ada Aldi juga sedang mendorong koper.
Sofyan mendekatkan bibirnya ke telinga kiri istrinya, seraya berbisik, "Sekalian menginap, kita harus kelonan."
Sontak Maya membulatkan matanya, lantas menelan saliva dengan kelat. "Kenapa nggak nanti saja saat di rumah, Ayank?"
"Nggak ah, lama."
Sofyan belum menyerah meskipun sudah gagal dua kali, dia akan mencobanya lagi.
Langkah mereka berhenti di depan resepsionis, di sana ada dua wanita yang memakai sanggul dan memakai setelan jas.
"Selamat pagi menjelang siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu wanita bersanggul itu.
"Pagi, saya ingin pesan kamar hotel untuk semalam, apa ada yang kosong?"
"Sebentar ya, Pak." Wanita bersanggul itu lantas melihat layar komputernya. "Ada satu yang kosong, tapi sedang dibersihkan. Apa Bapak bersedia menunggu? Mungkin setengah jam."
__ADS_1
"Boleh, saya tunggu sekalian makan siang dulu."
"Iya, Pak. Kopernya biar nanti sekalian kami yang antar."
Sofyan menoleh pada Maya, gadis itu sejak tadi menatap sekeliling. Hotel itu terlihat sangat ramai, banyak sekali pasangan yang keluar dan masuk dari lift.
Kemudian dirinya mengajak Maya untuk duduk mencari tempat. Kebetulan lantai dasar di hotel itu adalah restoran.
"Pak, saya permisi kalau begitu, ya?" pamit Aldi setelah menaruh koper Sofyan di dekat resepsionis. Sepertinya kehadirannya saat ini sudah tak dibutuhkan.
"Iya." Sofyan mengangguk.
"Ayank, aku mau pipis dulu sebentar, ya?" Maya hendak duduk saat kursinya ditarik oleh Sofyan, tetapi tak jadi lantaran dia ingin buang air kecil.
"Ayok aku antar," tawarnya.
"Nggak usah." Maya menggeleng. "Ayank tunggu di sini saja, lagian tadi aku lihat toilet ada disebelah sana." Maya menunjuk ke arah yang dimaksud, ada tulisan toilet wanita dan pria yang berada di ujung ruangan itu.
"Ya sudah, hati-hati tapi, ya? Nanti terpleset." Sofyan duduk di kursi yang tadinya untuk Maya.
"Iya, Ayank." Maya mengangguk. Kemudian berjalan menuju toilet.
Saat sampai, baru saja dia hendak masuk ke dalam. Tetapi langkahnya langsung terhenti kala melihat seorang wanita seksi keluar dari sana. Dia keluar sangat buru-buru sambil memasukkan beberapa barang di dalam tas jinjingnya, dan tak sengaja menabrakkan tubuhnya terhadap Maya hingga ponsel yang berada dalam genggamannya terjatuh.
Prang!
"Duh, jalannya lihat-lihat dong. Jadi hapeku jatuh, kan." Dia yang nabrak tapi dia sendiri yang marah-marah. Maya pun segera membungkuk untuk mengambil benda pipih itu, lalu mengulurkan tangannya.
"Maaf, tapi Mbak yang menabrakku tadi."
"Kok jadi nyalahin aku. Orang kamu ... astaga, layar hapeku sampai pecah begini." Wanita itu membulatkan matanya saat melihat layar ponselnya pecah, lantas dia pun menatap tajam ke arah Maya dengan penuh kekesalan. "Aku mau ganti rugi, ganti hapeku. Ini hape mahal tahu."
"Bu Diana ...." Maya baru sadar saat melihat wajah wanita seksi di depannya yang ternyata adalah Diana.
"Kamu kenal aku? Kamu siapa?" Tampaknya Diana terlihat tak mengenal Maya. Keningnya mengerenyit heran.
"Aku Maya, sekertarisnya Pak Rizky. Sebentar ya, Bu. Aku mau pipis dulu, kebelet."
"Eh, tunggu dulu!" Diana berteriak seraya mencoba meraih jas yang Maya kenakan, tetapi tak berhasil lantaran gadis itu sudah buru-buru masuk ke dalam toilet. Maya sejak tadi menahan kencing.
__ADS_1