Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
300. Semuanya bahagia (END)


__ADS_3

"Hus! Kamu jangan ngomong kayak gitu! Pamali, May!" Sofyan langsung menutup bibir Maya, lalu mengecupi keningnya. "Semuanya akan baik-baik saja, aku nggak mau kehilanganmu. Kamu harus yakin itu."


Sofyan melepaskan pelukannya, lalu menyalakan mesin mobil.


"Bagaimana kalau sekarang kita pergi cari angin, kamu mau ke mana?" tawar Sofyan, mungkin dengan mengajaknya jalan-jalan Maya tidak akan berpikir hal-hal yang negatif seperti itu.


Maya menggeleng dan menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi.


"Aku mau pulang saja, Ayank. Aku mau berbaring."


"Ya sudah, ayok kita berbaring."


***


Di rumah sakit.


"Oe ... Oe ... Oe."


Setelah hampir beberapa kali Nella mengejen, akhirnya keluarlah bayi mungil di dalam rahimnya. Tangisnya begitu nyaring hingga menggema di dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah!" ujar Dokter sambil menghela napasnya dengan lega.


"Anak saya laki-laki atau perempuan, Dok?" tanya Rizky. Penampilan pria itu terlihat amburadul, wajahnya penuh dengan cakaran dan rambut panjangnya sudah sebagian rontok akibat Nella. Istrinya itu melahirkan secara normal untuk kedua kali, tetapi jauh lebih ganas dibanding saat melahirkan Jihan.


"Bayi kalian laki-laki, Pak. Tampan seperti Anda." Dokter itu memberikan bayi mungil itu pada suster yang berada di sampingnya. Dan wanita berseragam itu segera membawanya untuk memandikannya.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih." Rizky melakukan bersujud syukur di lantai, lalu setelah itu memeluk Nella dan menciumi seluruh wajahnya yang bercucuran keringat. "Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar wanita hebat, sudah memberikanku anak perempuan dan laki-laki. Mereka semua sempurna sepertimu."


Rizky melummat sebentar bibir Nella, wanita itu terlihat begitu capek dan letih. Dia hanya tersenyum dengan anggukan kecil sebagai jawaban atas perkataan suaminya.


***


Di rumah Sofyan.


Setelah sampai, seperti apa yang dikatakan Maya tadi. Wanita itu langsung berbaring. Tetapi Sofyan memilih untuk mandi, sebab dia merasa gerah dan tubuhnya juga lengket.


"Sekarang perutmu ada mulesnya, nggak?" tanya Sofyan seusai mandi, dia yang hanya memakai handuk putih pada pinggangnya kini berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti, lalu setelah itu menghampiri Maya.


"Nggak, perutku baik-baik saja, Ayank."


Maya memperhatikan Sofyan yang baru saja membuka handuk, lalu mengeringkan tubuh kekarnya. Kejantanan suaminya itu entah mengapa begitu menggoda, rasanya ada sesuatu yang dia inginkan.


"Ayank ...," panggil Maya dengan suara agak mendesah, bibir bawahnya dia gigit.


"Iya, kenapa?" tanya Sofyan lembut.


"Semenjak aku hamil 9 bulan ... kita nggak pernah kelonan lho, memangnya Ayank nggak kepengen?"


"Perasaan seminggu yang lalu kita habis kelonan deh."


Ya, Sofyan ingat. Baru Minggu kemarin mereka bercinta. Dan memang saat usia kandungan itu makin besar, Sofyan menjaga jarak percintaan mereka sebab tak mau ambil resiko.


"Ya itu lama. Memangnya Ayank nggak kepengen gitu?" Maya terlihat malu-malu, dia pun membuka kedua pahanya lebar-lebar dan menyingkap rok dressnya. "Apa semenjak aku hamil ... aku nggak seksi lagi, ya?"


"Kamu ini bicara apa?" Sofyan terkekeh melihat tingkah Maya, jelas sekali dia tahu jika istrinya itu tengah menggodanya. "Kamu seksi mau bagaimana pun juga."


"Ah, Ayank pasti bohong." Maya memalingkan wajahnya yang sudah merona, bibirnya mengerucut. Ingin langsung meminta secara terang-terangan rasanya malu.


Sofyan yang sudah memakai celana langsung dia lepaskan kembali, lalu merangkak naik ke atas tempat tidur.


Melihat itu semua, tentunya Maya sangat bahagia. Wanita yang sudah kecanduan bercinta itu langsung menyambut Sofyan dengan senang hati.


Kini dua bibir itu sudah saling memagut, saling menghisap dan bermain-main lidah. Tangan Sofyan tentu tak akan tinggal diam, dengan gerakan cepat dia langsung melucuti seluruh pakaian Maya. Tak tersisa satu pun dan kini keduanya sudah polos sempurna.


"Mau di atas atau di bawah, May?" tawar Sofyan.

__ADS_1


"Di bawah, aku mau merasakan guncangan Ayank," jawab Maya dengan kedua pipi yang merona.


"Oke deh. Kalau aku terlalu dalam dan membuatmu sakit, kamu bilang saja, ya?"


"Iya." Maya mengangguk pasrah. Pelan-pelan Sofyan bergerak dan menancapkan miliknya hingga tertanam sempurna di dalam sana.


Namun, terlihat Maya langsung merintih dan menyentuh perutnya. Dia merasakan rasa mules dan kram kemudian ingin mengejen.


"Eeeuughhhh!"


"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Sofyan.


"Ayank ... sepertinya aku ... Eeeuughhhh!" Maya kembali mengeluarkan lenguhannya. Pandangan Sofyan langsung jatuh pada inti tubuh istrinya. Dan sontak—dia pun membelalakkan matanya saat tahu dipermukaan miliknya sudah banyak sekali darah.


"Astaghfirullah! Apa jangan-jangan kamu ingin melahirkan, May?" Sofyan yang begitu panik langsung mencabut miliknya yang masih mengeras itu, mereka bahkan belum mulai untuk bercinta. Hanya baru masuk saja.


Cepat-cepat Sofyan memunguti pakaiannya yang berada di lantai lalu memakainya.


"Ayank! Cepat! Seperti ada yang mau keluar!" Mata Maya terbuka lebar, wajahnya pucat dan kembali dia ingin mengejen.


"Iya, Sayang. Kita ke rumah sakit." Setelah memakai pakaian untuk dirinya sendiri, Sofyan langsung memakaikan dress di tubuh istrinya. Hanya dress saja tidak dengan dalaman, sebab ini sangat darurat.


*


*


"Padahal tanggung belum goyang, May. Tapi anak kita sudah mau berojol saja," ujar Sofyan saat berlari di lobby rumah sakit menuju ruang bersalin.


"Kok Bapak balik lagi? Kan istri Anda—”


"Sekarang istri saya mau melahirkan, Dok. Cepat bantu dia." Sofyan membaringkan tubuh Maya ke ranjang persalinan dan Dokter itu langsung menyiapkan semuanya.


"Oke, ini sangat mudah Nona. Tarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan," ujar Dokter itu memberitahu.


Maya langsung mengikuti instruksi yang dokter itu katakan, rasa takut yang awalnya menghantuinya tadi entah hilang kemana. Yang pasti sekarang, Maya hanya ingin mengejen untuk mengeluarkan anaknya.


"Eeeuughhhh ...!" Sekuat tenaga Maya mendorongnya, matanya sampai mendelik ke atas. Sofyan masih sibuk meraup bibir Maya, mungkin baginya itu akan sangat berguna untuk kelancaran proses persalinan dan mengurangi rasa sakit.


Namun sontak—kedua kalinya Maya mengejen, refleks dia pun mengigit bibir Sofyan hingga membuat pria itu berkelonjotan karena sangking sakitnya.


"Aaww!" Ciuman itu akhirnya terlepas, Sofyan mengentuh bibirnya yang sudah berdarah akibat gigi Maya.


"Eeeuughhhh ... Ayank ... ini sakit sekali," rintih Maya.


"Iya, Sayang. Ayok berusaha lagi. Aku yakin kamu bisa." Sofyan mengelus kening istrinya dan tersenyum sambil menahan perih di bibir.


Dan setelah beberapa detik Maya kembali mengejen—terdengar suara pecah tangis bayi. Suaranya begitu kencang dan menandakan dia sudah lahir di dunia.


"Oe ... oe ... oe."


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih." Sofyan langsung memeluk tubuh Maya, lalu menciumi rambutnya. "Terima kasih telah menjadi istriku, May. Terima kasih telah menjadi ibu dari anakku. Aku pria yang sangat beruntung bisa memilikimu. I love you."


"I love you too, Ayank," jawab Maya dengan deru napas yang tersenggal.


***


"Rizky, apa kamu sudah memberi nama untuk cucu Papa yang tampan ini?" tanya Sofyan saat mengelus pipi gembul bayi yang berada dalam gendongan Rizky. Mereka berdua ada di sofa, tengah duduk bersama.


Saat ini, Maya dan Nella berada di ruang perawatan yang dikhususkan untuk dua orang. Sebab itu juga atas permintaan Sofyan.


"Papa sendiri sudah beri nama adikku siapa?" Kini giliran Rizky yang mengelus bayi yang ada pada gendongan Sofyan. Bayi itu terlihat tampan mirip Sofyan.


Di dalam ruangan itu juga Ada Sindi, Angga, Gita dan Guntur. Tetapi keempat orang itu tengah membantu para menantunya makan malam.


"Belum, Papa sih awalnya mau kasih dia nama Jordan, Jordan Prasetyo. Bagaimana menurut kamu dan Nella?" Sofyan ingatan, jika keinginannya untuk kembali memiliki keturunan adalah dari Nella awalnya. Dan dia sendiri ingin meminta pendapat pada anak dan menantunya.

__ADS_1


"Bagus, Pa. Tapi lebih bagus lagi tambahkan Putra. Jadi Jordan Putra Prasetyo," sahut Nella.


"Oke, namanya Jordan Putra Prasetyo." Sofyan tersenyum lalu menciumi kedua pipi anak bayinya.


"Apa Papa boleh kasih nama untuk cucu laki-laki Papa, Nell?" tanya Guntur, dia berada di samping Gita yang tengah duduk menyuapi Nella bubur. Jihan berada dalam gendongannya.


Nella mengangguk. "Boleh, Pa. Papa mau kasih dia nama apa?"


"Johan Aditya Gumelang."


"Wah, bagus. Duo JJ. Seperti anak kembar saja," ujar Gita dengan mata berbinar. "Mama setuju, bagaimana dengan kamu dan Rizky?"


"Aku setuju," jawab Nella lalu menoleh pada Rizky.


"Aku juga setuju, namanya bagus." Rizky tersenyum lebar dan mengangguk. "Nama Johan juga mirip seperti Kakaknya, Jihan. Bagus sekali, Pa." Rizky langsung menciumi anak tampannya. Kemudian beralih mencium adik bayinya.


Sofyan juga melakukan hal yang sama, cucu dan anak bayinya itu dicium.


"Ah, Papa duduk di sini. Aku mau cium Jihan juga." Rizky menatap Guntur, pria paruh baya itu langsung menghampirinya dan duduk bertiga di sofa. Dan setelah itu Rizky menciumi Jihan. "Kakak Jihan, ini Dede Johan. Kamu harus sayang dia, ya?" pinta Rizky seraya mengelus rambutnya.


Jihan langsung mengangguk seolah mengerti, dia tersenyum dan menoel-noel pipi kiri adiknya.


Semuanya sudah lengkap, semuanya bahagia.


Sofyan~


Dia tak menyangka jika niat awalnya untuk meminta Rizky mencarikan jodoh itu dapat terpenuhi. Keinginannya untuk menikah dengan seorang perempuan berstatus gadis bisa terlaksana.


Semuanya itu tak akan terjadi jika tidak ada campur tangan Rizky. Menantu idamannya. Biar pun orang lain memandang jelek dan merendahkan pria itu—tetapi tetap, rasa kasih sayang di hati Sofyan benar-benar tulus pada Rizky. Setara dengan anak kandung.


Maya~


Tak pernah terbesit dalam angan-angan jika dia bisa menikah dengan mertua dari sang bos. Bahkan jarak usai mereka terbilang jauh yakni 20 tahun.


Tetapi, entah mengapa takdir selalu memberikan dia jalan dan membuatnya berpikir kalau Sofyan adalah jodohnya.


Pria bertanggung jawab dan tentunya sangat baik di mata Maya. Awalnya memang tak cinta, tetapi Sofyan yang sudah berpengalaman mampu melelehkan hatinya.


Rizky~


Dihidupnya, Dia sama sekali tak mengenal arti cinta. Tetapi pada akhirnya Rizky dapat mengenal rasa itu dari dalam hati Nella. Awalnya Rizky hanya mementingkan naffsu semata, bahkan saat melakukan malam pertama saja yang dia harapkan adalah bisa merasakan bercinta dengan perawan sebab dia sendiri belum pernah merasakannya.


Dan, saat dia merasakan—justru itu menjadi candu, candu dan pada akhirnya mendalam hingga membuat rasa cinta itu tumbuh.


Nella~


Niat ingin menikah dengan pacarnya tetapi justru takdir berkehendak lain. Papanya yang memilih dan memintanya secara paksa untuk menikah dengan Rizky.


Awalnya benci akan masa lalu dan kejadian saat pertama kali bertemu, tetapi rasa benci itu akhirnya terkikis akibat kegigihan Rizky untuk berhasil menaklukkan hatinya. Rizky berhasil membuat Nella terjerat, Terjerat Cinta CEO Nakal seorang Rizky Gumelang.


...TAMAT...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alhamdulillah.... Setelah melewati jatuh bangun, akhirnya Author berhasil menamatkan novel ini, novel kedua di Noveltoon.


Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk pembaca setia dari awal, sampai akhir 😊 Yang selalu like, komen, vote dan kirim hadiah. Maaf nggak bisa sebutin satu-satu 🙏


Tanpa kalian mungkin semangat menulisku sudah hilang entah kemana.


Jika berkenan dan ingin bertemu dengan author lagi, silahkan mampir ke sebelah. Ke novel baru Author yang berjudul "Menjerat Hati Perjaka Tua"



Author tunggu kehadiran kalian yang belum mampir.

__ADS_1


Sayang kalian banyak-banyak 😘❤️


__ADS_2