Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
40. Mereka sama-sama ngeselin


__ADS_3

Sampainya di rumah sakit, Nella langsung mendaftarkan dirinya ke dokter kandungan. Dan kini, Nella tengah diperiksa oleh dokter tersebut.


"Bagaimana rahim keponakan saya, Dok? Apa dia subur?" tanya Nissa saat melihat Dokter itu telah selesai memeriksa Nella, ia juga membantu Nella untuk bangun dari tempat tidur pasien.


"Subur, Bu. Semuanya bagus." Dokter itu tersenyum pada Nissa yang berdiri di sampingnya, lantas ia menoleh pada Nella. "Apa Nona Nella yakin ingin menunda kehamilan? Menikah langsung punya anak itu sangat bagus, Nona," saran Dokter.


"Saya dan suami belum siap, Dok. Mangkanya kami memutuskan untuk KB," jawab Nella berbohong.


"Baiklah, mari duduk dulu." Dokter wanita itu meminta Nella dan Nissa duduk di kursi depan mejanya. Ia juga duduk di kursi depan mereka. "Nona ingin suntik atau minum pil?"


"Pil saja, Dok."


"Baik, saya akan berikan resep pil KB yang bagus untuk Nona Nella." Dokter menuliskan merek pil KB pada selembar kertas. "Tapi saya sarankan jangan terlalu lama menunda kehamilan, tidak baik untuk rahim Nona."


"Baik, Dok." Nella mengangguk.


"Sehari minum sekali, di jam yang sama Nona."


"Tapi saya sekarang sedang datang bulan, apa boleh untuk meminumnya, Dok?"


Dokter itu mengangguk. "Boleh, tidak masalah."


Setelah Dokter itu memberikan resep obat padanya, ia dan Nissa menebusnya di apotek rumah sakit itu.


*


"Jangan lupa untuk meminumnya, Nell. Telat sehari saja, kamu bisa bunting," tegur Nissa saat duduk menunggu bersama Nella disebelahnya.


"Iya, Tante tenang aja."


"Kamu tinggal di mana sekarang? Apa ikut Rizky di rumahnya?"


"Aku nggak ta--" Nella mengantung ucapannya lantaran ponselnya berdering, segera ia mengambil ponselnya pada tas selempang miliknya, lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari sang papah.


"Halo, Pah."


"Papah belum bilang sama kamu, kalau mulai sekarang kamu dan Rizky tinggal di rumah Papah. Nanti kalian tidur di kamarmu dan mulai sekarang juga ... kamu harus bersikap jauh lebih baik dengan suamimu. Hargai dia, dan jangan coba-coba untuk melakukan hal gila dengan cara bercerai. Ingat ancaman Papah, kalau sampai kamu ketahuan berhubungan dengan si Miskin itu, Papah akan pastikan dia mati!"


"Iya, iya," jawab Nella malas seraya mematikan sambungan telepon. Ia membuang nafasnya dengan berat, merasa bosan dengan ancaman Sofyan padanya.

__ADS_1


*


"Nella!" panggil Gita ketika melihat menantunya hendak membuka pintu mobil Nissa yang berada di parkiran. Nella menoleh. Lantas, wanita paruh baya itu segera menghampirinya, memeluk tubuh Nella sekilas. "Menantu Mamah yang paling cantik, kok kamu ada di rumah sakit? Sakit apa?"


Mamah Gita? Kok aku bisa ketemu dengannya, aku malas sekali' batin Nella.


"Aku nggak sakit, aku hanya mengantar Tanteku." Nella menoleh sebentar pada Nissa, lalu kembali melihat kearah mertuanya.


"Oh, dia tantemu?" Gila mengulurkan tangannya pada Nissa. "Aku Gita, mertua Nella."


Nissa tersenyum tipis, lantas dirinya membalas uluran tangan itu. Mereka berjabat tangan sebentar. "Saya Nissa, Bu. Adiknya Kak Sofyan."


"Kamu sakit apa?"


"Hanya demam sedikit kok, Bu," jawab Nissa berbohong.


"Oh, cepat sembuh, ya?"


"Iya, Bu."


"Aku duluan kalau begitu ya, Mah." Nella sudah membuka pintu mobil Nissa, namun saat dirinya hendak masuk—Gita memegang lengannya.


"Tapi kasihan Tante pulang sendirian nanti, Mah. Aku nggak tega." Nella kembali mencari alasan, supaya dirinya tidak bersama Gita. Apa pun yang ada hubungannya dengan Rizky—Nella benar-benar malas.


"Oh, ya sudah. Mamah ikut kalau begitu." Belum sempat Nella memberikan jawaban, Gita justru sudah masuk duluan ke mobil itu. Duduk di depan, di samping orang yang menyetir.


Merasa tak enak jika kembali memberikan alasan, Nella akhirnya pasrah saja. Ia masuk ke mobil, duduk di sampingnya. Sedangkan Nissa, sang pemilik mobil duduk di belakang.


Ngapain Mamah pakai ikut, sih? Nggak anak nggak ibunya, mereka sama-sama ngeselin' gerutu Nella dalam hati sambil menyetir mobil.


"Oya Sayang, Mamah tadi sempat melihat kamu dan Tantemu masuk ke ruang dokter kandungan, sedang apa kalian?" tanya Gita tiba-tiba. Rupanya tadi ia tak sengaja melihat keduanya.


Pertanyaan Gita berhasil membuat Nella membeku di tempat, ia tak mungkin jujur kalau mempunyai niat KB. Nella yakin, Gita tak akan setuju. Ia masih ingat kalau sang mertua pernah bilang ingin cucu darinya. Lebih baik, masalah KB hanya dia dan tantenya saja yang tau.


"Nella, kok diem?" tanya Gita kembali, ia masih penasaran sebab belum mendapatkan jawaban.


"Setelah Tante periksa di dokter umum, aku sekalian periksa kandungan, Mah," jawab Nella tanpa menoleh, pandangannya memusatkan ke depan.


Gita langsung menarik senyum bahagia. Tanpa permisi lagi, Gita mengelus perut Nella yang mana membuat Nella terkesiap sembari membelalakan mata. "Wah, apa sebentar lagi akan hadir cucu Mamah?"

__ADS_1


"Tentunya belum, Mah. Aku hanya periksa rahim saja, kok," jawabnya sambil tersenyum canggung.


"Lalu kata Dokter apa?"


"Aku subur, alhamdulilah."


"Wah, berarti memang sebentar lagi Mamah akan punya cucu." Gita membuka tas jinjing yang berada di atas kedua pahanya. Ia mengambil ponsel, ingin segera menghubungi Rizky.


Si Rizky sudah berhasil membobol gawang kenapa nggak cerita padaku? Padahal aku ingin mendengar cerita malam pertamanya' batin Gita.


"Halo, Mah." Suara Rizky terdengar saat sambungan telepon itu diangkat.


"Rizky, kok kamu nggak cerita-cerita sama Mamah tentang malam pertamamu? Mamah 'kan penasaran." Jiwa kepo Gita kembali meronta, ia begitu antusias ingin mendengar cerita kesuksesan anak pertamanya itu.


"Mamah ini apaan sih? Kok tiba-tiba telepon bertanya seperti itu?"


"Ya terus tanya apa? Kamu 'kan sama Nella habis berbulan madu, apa lagi yang musti Mamah tanyakan selain masalah ranjang? Kamu bisa memuaskannya, kan? Kamu nggak lemah di ranjang 'kan, Riz?"


Pertanyaan Gita kembali membuat Nella menohok dan geleng-geleng kepala. Nissa juga melakukan hal yang sama.


Ternyata bukan hanya Rizky yang mesum, Mamahnya juga' batin Nella.


"Tentu, Mah. Nggak perlu diragukan lagi, Nella begitu puas denganku."


"Mamah bangga padamu, Riz. Kamu harus sering menyentuhnya, supaya Nella cepat hamil," saran Gita.


Itu nggak akan terjadi' batin Nella.


"Pasti, Mah. Kalau bisa ... aku akan menyentuhnya tiap hari," jawab Rizky


"Nanti Mamah akan belikan obat subur untuk kamu. Mamah sudah dengar dari Nella kalau dia habis ke dokter kandungan, mengecek rahimnya."


"Dokter kandungan?" Rizky mengulang kalimat itu, ia merasa binggung dengan ucapan sang mamah. Jelas sekali Nella meminta untuk bercerai, lalu untuk apa dia pergi ke dokter kandungan? Tanda tanya besar ada di otak Rizky sekarang. "Mamah ketemu Nella kapan?"


"Sekarang Mamah sedang bersamanya. Tadi saat Mamah menjenguk teman Mamah ke rumah sakit ... Mamah nggak sengaja pas pulang bertemu dengannya, Riz."


Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!


Yuk follow IG Author: @rossy_dildara

__ADS_1


__ADS_2