
"Nanti saja ya, Sayang. Hari ini Opa dan Nella mau pergi," jawab Angga sambil tersenyum pada Indah.
"Oh, begitu ya. Padahal aku sudah senang mau pergi dengan Nella," ucap Indah dengan sendu. Wajahnya terlihat sedih saat tidak jadi pergi bersama Nella. "Jarang-jarang kita pergi bersama. Ya sudah, aku pamit kalau begitu."
"Besok saja ya, Ndah. Kita perginya," ucap Nella yang merasa tak enak.
Indah terdiam sebentar, seperti tengah memikirkan sesuatu. Setelahnya, ia menggembungkan senyum. "Oke deh, besok aku ke sini atau gimana?"
"Aku yang ke rumah kamu, jemput kamu terus kita pergi ke Mall."
Indah mengangguk. "Iya, ya sudah. Kamu dan Opa hati-hati. Aku permisi."
"Kamu bareng saja dengan kita, nanti Opa sekalian antar," tawar Angga saat Indah baru saja selesai mencium punggung tangannya. "Eh, apa kamu datang dengan sopir?"
"Aku tadi diantar Mas Reymond, Opa. Sekalian dia ke kantor."
"Ya sudah bareng saja kalau begitu."
Lantas mereka bertiga menaiki mobil, Angga menyetir dan disebelahnya Nella. Sedangkan Indah, wanita itu duduk di kursi belakang. Namun, ada dua orang berbadan kekar mengendarai motor gede tepat di belakang mobil mereka.
Sepertinya, bukan hanya Ihsan saja yang dijaga, Angga juga menyuruh dua orang lagi untuk menjaga Nella, supaya Rizky dan Sofyan tidak menganggu mereka.
"Opa, yang di belakang itu siapa?" tanya Indah heran.
"Itu hanya bodyguard, supaya menjaga Nella, Sayang," jawab Angga dengan lembut.
"Menjaga? Memangnya Nella berada dalam bahaya?"
"Nggak, cuma nggak ada salahnya kita menyewa orang. Suamimu juga begitu, kan?"
"Iya sih." Indah mengangguk. "Oya Nell, kamu udah isi belum?"
"Isi apa?" Nella menoleh ke belakang, tepat pada temannya. Ia tak mengerti maksud dari perkataan Indah.
"Maksudku hamil."
"Oh, belum. Oya ... bagaimana kabar Bayu dan Caca?" Nella langsung mengalihkan pembicaraan, ia mengerti jika nanti Indah akan bawa-bawa nama Rizky. Yang ia tau juga, temannya itu begitu mendukung dirinya tetap dengan Rizky.
"Mereka baik, bagaimana hubunganmu dengan Pak Rizky apa kalian baik-baik saja?"
"Mereka akan—"
__ADS_1
"Kita baik, kok." Nella memotong ucapan Angga dengan cepat seraya menyentuh lengannya.
Kenapa Nella nggak jujur saja sama Indah kalau dia dan Rizky akan bercerai? Bukannya dia sering curhat?' batin Angga. Ia merasa heran dengan sikap Nella yang seolah tak mengizinkannya untuk menceritakan yang sebenarnya pada temannya itu.
"Syukurlah kalau begitu, aku ingin Bayu dan Caca punya teman. Semoga kamu cepat hamil."
Itu nggak akan terjadi Indah, aku dan Rizky akan bercerai' batin Nella.
Setelah mengantarkan Indah sampai gerbang rumahnya, Angga melajukan kembali mobilnya dan selang tiga puluh menit, mereka sampai di kantor pengadilan.
***
Sementara itu di tempat yang berbeda. Rizky yang tengah duduk di kursi putar ruangan kerjanya memandangi laptop sambil melamun, yang ia lihat pada layar itu justru bukan pekerjaannya, melainkan foto Nella.
Foto candid Nella saat di hari pernikahannya, sang mamah yang memfotonya tanpa sepengetahuan Nella.
Rizky baru sadar, jika ia dan Nella menikah bahkan tanpa foto pengantin, tapi cincin pada jari manisnya masih melingkar. Cincin yang saat itu Nella sematkan dengan rasa tak ikhlas.
Ia senyum-senyum sendiri saat mengingat momen itu, namun hatinya terasa kosong sekarang. Rizky merasa benar-benar galau dari semalam hingga hari ini tak melihat Nella secara langsung.
'Gue kangen lu, Nell.' Rizky meraba layar laptop sambil tersenyum tipis. 'Kangen bercinta, kangen lihat lu cemberut, kangen lihat lu bangun tidur dan kangen saat lu bilang gue pria mesum.'
Rizky hanya membatin dalam hati.
"Ah, lu ngagetin gue aja!" ketus Rizky seraya mengusap dadanya, jantungnya langsung berdebar lantaran kaget. "Lu juga dateng nggak ketok pintu, nggak sopan banget, sih?" makinya kesal.
"Tadi saya sudah ketuk pintu beberapa kali, Pak. Tapi nggak ada sahutan dari dalam. Ya sudah ... saya masuk saja."
Ya, memang benar apa yang dikatakan Hersa. Akibat Rizky melamun tadi, ia sampai tak mendengar suara ketukan pintu dan seseorang yang datang.
"Terus lu mau apa? Nganggu aja!"
"Ini ada berkas yang harus Bapak tanda tangani." Hersa memberikan apa yang sejak tadi ia bawa. Lantas Rizky mengambil bolpoin dan menandatangani berkas tersebut.
"Bapak lagi mabuk cinta, ya?" goda Hersa saat tak sengaja melihat foto Nella pada layar laptop Rizky.
"Mabuk cinta, mabuk cinta, aku sedang patah hati tau!" gerutu Rizky.
"Patah hati kenapa? Seperti diputus cinta saja." Bukannya simpati, Hersa justru terkekeh melihat wajah sang bos yang sejak pagi ditekuk terus. "Bapak juga nggak biasanya murung begini, biasanya ceria."
"Ya itu, gue 'kan bilang sedang patah hati. Nella dari semalam tinggal di rumah Opanya, Sa. Dan Opanya mendukung perceraian kita," ungkapnya dengan sendu.
__ADS_1
"Terus Bapak semalam tidur di mana?"
"Di rumah gue sendiri, gue nggak diizinin tinggal bareng sama Nella. Opanya nyebelin." Rizky mengerucutkan bibirnya.
"Bapak cinta sama Nona Nella? Bukannya niat Bapak menikah hanya menuruti omongan Bu Gita?"
Hersa ingat, dulu Rizky pernah cerita tentang perjodohannya dan Rizky memang tidak ada niat untuk berumah tangga panjang dengan Nella. Sebab ia tau, baik dirinya dan Nella. Mereka sama-sama tak suka dengan perjodohan ini.
Namun, entah mengapa. Sehari sehabis ia melakukan malam pertama dengan Nella, rasanya Rizky enggan melepaskan Nella begitu saja. Bahkan ia ingin Nella menyukainya dan melupakan Ihsan. Apa mungkin ini tandanya Rizky sudah mencintai Nella? Atau hanya sebatas rasa nafs* karena hobinya yang suka bercinta? Sebab ia baru pertama kali merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang gadis dan rasa itu membuat Rizky makin ketagihan.
"Nggak tau Sa. Tapi intinya gue nggak mau bercerai dengannya. Gue mau Nella jadi istri gue selamanya, gue nggak rela melepaskan dia untuk pacarnya."
"Coba Bapak berubah, jadi seperti pacarnya Nona Nella. Supaya Nona Nella suka sama Bapak dan melupakan pacarnya," usul Hersa.
"Berubah bagaimana? Gue harus operasi plastik lalu jadi montir supaya Nella mau sama gue? Lu aneh!" dengus Rizky.
"Bukan itu, maksud saya sifatnya, Pak."
"Ya gue nggak tau sifat dia bagaimana, memang apa kelebihan Ihsan? Masih juga sempurna gue di mana-mana, Papah Sofyan aja suka sama gue."
Hersa membuang nafasnya dengan kasar. "Sekarang saya tanya, sikap Bapak yang bagaimana yang Nona Nella nggak suka?"
"Semua sikap gue dia nggak suka, gue nggak pernah terlihat baik di matanya," keluh Rizky.
"Termasuk mesum juga, kan?" tebak Hersa yang mana dianggukkan oleh Rizky.
"Itu nomor satu."
"Kalau ketemu dengan Nona Nella, Bapak jangan pernah mengajak bercinta dan mengatakan hal yang aneh-aneh, sekali-kali jual mahal."
"Ck!" Rizky berdecak. "Gue jual murah aja dia nggak mau, apa lagi jual mahal? Dan gue juga nggak yakin bakal ketemu Nella, dia seperti diawasi Opanya."
***
Sore hari
Gita menurunkan kaca mobil saat mobilnya sudah berada di depan gerbang rumah Angga. Rizky sudah memberitahu semua hal yang ia alami, dan Gita memutuskan untuk datang demi membantu rumah tangga sang anak.
"Hei buka gerbangnya!" pekik Gita pada satpam dari dalam gerbang.
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
__ADS_1
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...