
Rizky yang merasa ketakutan segera menggeleng dengan cepat. "Gue hanya bercanda Sayang, sumpah!"
"Bohong! Mas masih mau merasakannya lagi, kan? Mas benar-benar nggak tahu malu!" Nella melepaskan leher Rizky, tetapi tangannya meremmas kuat benjolan pada celana suaminya hingga Rizky memekik kesakitan.
"Ampun Sayang, gue bercanda!"
"Nella hentikan, kamu menyakiti Rizky!" tegur Sofyan. Sedari tadi dia hanya jadi penonton sambil menertawakan tingkah mereka berdua. Ibaratkan seekor anjing dan kucing, merasa selalu saja berantem.
Nella melepaskan senjata pamungkas Rizky yang sudah berdenyut-denyut itu, lantas dia pun mencebik bibirnya sambil memalingkan wajah.
Rizky mengelus-elus miliknya dari balik celana, merasa kasihan pada nasibnya.
"Lu sadis bener, Nell. Dia kesakitan di dalam sana. Nanti kalau nggak bangun lagi bagaimana?" tanya Rizky memelas sembari menatap wajah cemberut istrinya.
"Bodo amat!" ketus Nella. "Biar aku saja yang mencarikan Papa jodoh, jangan Mas Rizky. Aku nggak percaya."
"Sudah sih, kok kalian jadi berantem lagi? Papa juga belum mau menikah lagi kok," ujar Sofyan yang merelai perdebatan mereka.
***
Keesokan harinya.
Dokter pria berkacamata itu tengah memeriksa kondisi Sofyan, dan keadaannya kini sudah jauh lebih baik.
"Pak Sofyan sudah boleh pulang, tapi tetap jaga kondisi Bapak. Jangan banyak pikiran ya, Pak?" saran Dokter itu.
"Iya, Dok. Terima kasih." Sofyan tersenyum sembari mengangguk.
Setelah mengganti pakaian dan membereskan barang-barangnya, mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil. Rizky yang mengemudi.
"Papa, aku dan Nella mulai hari ini tinggal di rumah orang tuaku boleh, nggak?" tanya Rizky sambil menatap Sofyan dari kaca depan mobilnya.
"Boleh dong." Sofyan mengangguk.
"Apa kita nggak tinggal dengan Papa saja, Mas? Kasihan Papa sendirian di rumah," ucap Nella.
"Papa nggak sendirian kok, kamu antar Papa ke rumah Opa saja. Mulai sekarang Papa mau tinggal sama mereka."
"Maaf ya, Pa. Soalnya dari kemarin-kemarin Papa Guntur meminta aku dan Nella untuk tinggal seminggu di rumahnya," ucap Rizky tak enak hati.
"Nggak masalah, Riz. Mereka 'kan mertuanya Nella. Dan Nella juga belum pernah tinggal dengan orang tuamu."
Sofyan tak keberatan sama sekali, malah dia sendiri bahagia jika Guntur meminta Nella tinggal dengannya.
"Tapi lu nggak keberatan, kan, tinggal di rumah mertua?" tanya Rizky pada Nella.
"Keberatannya kenapa?" Nella tersenyum lalu menggeleng cepat. "Aku malah senang, Mas. Aku juga mau dekat dengan Papa Guntur ... seperti Mas Rizky dekat dengan Papa Sofyan," ucapnya dengan tulus.
Rizky mengelus sebentar puncak rambut istrinya. "Itu pasti, nanti lu akan dekat dengannya bahkan sampai buat gue cemburu."
__ADS_1
"Ah, kalau itu sih bohong, Mas. Aku sendiri nggak yakin." Nella tersenyum simpul sembari mengusap perutnya sendiri.
Nella bahkan lupa kapan terakhir dia bicara dengan Guntur, rasanya sudah lama.
Meskipun mereka sering bertemu—suara Guntur seperti mahal untuknya.
***
Mobil Rizky telah sampai di depan halaman rumah Guntur. Setelah mematikan mesin mobilnya, mereka berdua pun turun dari mobil lalu sama-sama berjalan masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka lebar.
"Wah kebetulan kalian sampainya pas banget, ayok makan bersama," ajak Gita. Dia tengah duduk di ruang makan bersama Guntur dan melihat Nella dan Rizky baru saja menghentikan langkah.
"Iya, Ma." Nella mengangguk, lantas Rizky menarik kursi untuk istrinya duduk kemudian menarik kursi yang berada di sebelahnya untuk dirinya sendiri.
"Wah, ini sepertinya enak." Mata Rizky berbinar saat melihat sepiring rendang berada di depan matanya.
Namun bukan hanya rendang yang ada di atas meja itu, tetapi ada sayur sop, capcay, ayam goreng, ikan gurame bakar dan perkedel kentang.
Gita sengaja meminta Bibi pembantu untuk memasak banyak, itu demi menyambut mereka berdua.
"Biar aku yang ambilkan, Mas." Nella mengambil piring yang dipegang oleh Rizky, dia ingin dirinya sendiri yang mengambilkan untuk pria itu.
Setelah mengambil satu centong nasi di atas piring, Nella mengambil satu potong daging rendang.
"Selain rendang, apa ada lagi, Mas?" tanya Nella.
"Sama-sama, Mas." Nella tersenyum.
"Kamu juga makan Nell, jangan malu-malu," ucap Gita yang mana dianggukan oleh menantunya.
"Iya, Ma." Nella juga menuangkan satu centong di atas piringnya, lalu mengambil capcay dan juga perkedel.
Mereka pun makan bersama.
"Gimana keadaan Papamu, Nell?" tanya Gita.
"Papa baik, Ma," jawab Nella sambil tersenyum.
"Besok kita ke mall yuk, jalan-jalan," ajak Gita.
"Aku dan Nella mau jalan-jalan besok, Ma," sahut Rizky.
Nella menoleh dengan mata yang berbinar. "Mas serius, kan? Nggak bohong?"
"Serius dong, lu memangnya nggak mau kita jalan-jalan?"
"Mau, malah maunya sekarang."
"Besok saja."
__ADS_1
"Tapi kalau sering ditunda ... nanti gagal lagi seperti kemarin-kemarin, Mas."
"Memangnya dari kapan kalian jalan-jalan gagal?" tanya Gita.
"Pas hari aku minum jamu itu, Ma," sahut Nella. "Harusnya aku dan Mas Rizky pergi jalan-jalan, tapi nggak jadi."
"Yasudah, sekarang saja, Riz. Habis kalian makan," saran Gita. "Memangnya mau jalan-jalan kemana, sih? Jauh?"
"Awalnya sih aku mau mengajak Mas Rizky ke Ancol, ragunan, kebun buah, kebun bunga, kota tua, nonton bioskop dan masih banyak lagi, Ma. Tapi sepertinya ... sekarang aku mau pergi nonton saja deh."
"Oh, banyak juga, ya." Gita manggut-manggut. "Yasudah, kalau sekarang hanya ingin menonton ... Mama dan Papa ikut deh, kita doble date, gimana?" Gita mengangkat dua jarinya hingga membentuk huruf v.
"Ih, Mama seperti anak muda saja. Ngapain nonton bioskop segala," bantah Guntur. Sepertinya dia tak mau.
"Nggak apa-apa lah mengenang masa lalu, Pa. Papa 'kan sering mengajak Mama pergi nonton dulu."
"Tapi nggak perlu ikut-ikutan, mungkin mereka mau pergi berdua saja," bantah Guntur lagi seraya menatap Nella sebentar.
"Kalau Mama dan Papa mau ikut, aku nggak keberatan kok, malah seru," sahut Nella sambil tersenyum manis, lantas menoleh pada Rizky. "Iya 'kan, Mas?"
"Iya, Sayang." Rizky mengangguk.
Dan pada akhirnya mereka berempat pergi nonton bareng, tetapi dengan catatan kalau Nella lah yang memilih jenis film yang akan mereka tonton.
Kini Rizky dan Guntur tengah duduk di kursi, menunggu Nella dan Gita yang tengah membeli tiket. Mereka berdua sudah membeli popcorn dan air minum dalam cup untuk dibawa ke dalam bioskop.
Suasana gedung bioskop itu cukup ramai, tetapi kebanyakan pasangan muda-mudi. Dan itu membuat Guntur malu jika hanya dirinya seorang yang paling tua di sana.
"Papa mau pulang saja deh, Riz." Guntur baru saja berdiri, tetapi dicegah oleh Rizky.
"Kenapa? Sebentar lagi Nella dan Mama akan datang, Pa."
"Tapi Papa malu, sepertinya hanya Papa yang tertua disini." Guntur menatap sekelilingnya. Banyak orang yang datang dan pergi.
"Memangnya kenapa? Ada masalah? Orang tua nonton film 'kan nggak haram, Pa."
"Nggak haram memang, cuma Papa malu saja."
"Sudah deh. Ngapain malu, Pa. Lagian ... ini 'kan momen supaya kita bisa pergi bersama. Katanya Papa rindu denganku juga, kan?"
"Iya, sih. Tapi Nella kira-kira memesan tiket film apa ya, Riz? Kok dia lama?" Mata Guntur masih mengelilingi ruangan itu, mencari-cari keberadaan menantu dan istrinya.
"Paling nggak jauh-jauh film romantis, Pa."
"Kalau misalkan horor bagaimana, Riz? Kamu 'kan tahu Papa takut sama film horor."
Ternyata hanya wajahnya saja yang seram, tetapi nyalinya untuk menonton film horor tidak ada.
Rizky menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin, Pa. Papa tenang saja ... aku juga 'kan takut sama film horor."
__ADS_1