
Dengan ragu-ragu Nella membuka mulutnya, ia mengunyah secara perlahan nasi goreng itu.
Tiba-tiba saja benak Nella teringat Ihsan, terakhir melihat keadaannya Ihsan tak sadarkan diri. Ingin rasanya ia menghubungi Ihsan, namun sayangnya ia tidak memegang ponsel. Ponselnya tertinggal di rumah.
Apa Kak Ihsan baik-baik saja? Papah tidak akan mencelakainya, kan? Ah semoga saja tidak, aku sangat mencintainya.
Seusai sarapan, tak lama Dokter yang Rizky hubungi datang untuk mengecek keadaan Nella. Ia menempelkan stetoskop pada dada gadis cantik itu.
"Bagaimana, Dok? Apa menantuku baik-baik saja?" tanya Gita cemas.
"Dia baik-baik saja, hanya flu dan demam," jelas Dokter. "Nanti saya akan berikan resep obat, biar Nella meminumnya. Perbanyak minum air putih dan istirahat," tambahnya lagi.
Nella hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Terima kasih, Dokter," ucap Gita.
"Sama-sama. Semoga cepat sembuh Nella, kalau begitu saya permisi." Setelah mencatat dan memberikan resep obat pada Gita, Dokter itu pamit pergi dari kamar mereka.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sofyan yang datang berpapasan sekali dengan Dokter yang baru saja keluar, ia berkata dengan lemah lembut seraya menempelkan punggung tangannya pada kening Nella. "Badanmu panas sekali."
"Iya, dia demam Sofyan," jawab Gita.
Nella tidak menjawab pertanyaan Sofyan, ia hanya diam saja.
"Kok bisa demam?" Sofyan menoleh ke arah Rizky yang baru saja keluar dari kamar mandi, pria tampan itu terlihat sehabis mandi, ia juga berpakaian rapih. Setelan jas berwarna abu-abu. "Kok Nella bisa demam, Riz?"
"Aku juga nggak tau, Pah. Tadi pagi aku melihat dia ada di kamar--"
"Aku baik-baik saja," sambar Nella.
"Di kamar apa?" Sofyan kembali bertanya tentang ucapan Rizky yang tiba-tiba disela oleh Nella.
"Ya di kamar inilah, memang di kamar mana lagi?" cetus Nella.
Apa mungkin Nella dari semalam tidur di kamar mandi karena takut gue sentuh? Tapi masa iya sih sampai segitunya' batin Rizky.
"Nanti juga sembuh Sofyan, aku sudah menghubungi asistennya Rizky untuk membelikan obat dan meminta pelayan membawa es batu, untuk mengompres keningnya," terang Gita seraya mengelus puncak kepala Nella dengan penuh kasih sayang.
"Aku pergi dulu, ya?" pamit Rizky.
__ADS_1
"Mau kemana? Kau 'kan ambil cuti?" pertanyaan Gita menghentikan langkah Rizky yang baru saja membuka pintu.
"Kau jangan kemana-mana, temani Nell di sini. Kasihan, Riz!" perintah Sofyan dengan nada menekan.
"Aku mau ke kantor polisi, Pah. Mau absen."
Kantor polisi? Itu 'kan searah dengan bengkelnya Om Irwan' batin Nella.
"Absen? Absen apa?" tanya Sofyan.
"Yang waktu itu Nella melaporkanku, aku nggak jadi masuk ke penjara. Tapi syaratnya harus absen tiap hari. Hanya sebentar kok, nanti aku balik lagi."
"Oh yasudah, hati-hati di jalan," ucap Sofyan.
"Apa aku boleh ikut Pak Rizky?" tanya Nella dengan nada sedikit keras, menghentikan langkah Rizky kembali dan membuatnya langsung menoleh.
Apa gue nggak salah dengar? Dia mau ikut gue? Bukannya dia takut dan seperti jijik sama gue?' batin Rizky.
"Kamu jangan ikut, istirahat saja di sini. Kan kamu lagi tidak enak badan," sanggah Sofyan.
"Kamu mau apa, Sayang? Nanti bilang sama Rizky saja, nanti dia akan belikan untukmu." Mungkin menurut Gita, Nella mau ikut karena sedang menginginkan makanan di luar, padahal Nella bukan menginginkan hal itu.
Mereka bertiga fokus menatap Nella, seakan ingin mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Kau akan seminggu di sini, pulangnya nanti. Kau juga bisa sekalian bulan madu," kata Sofyan kembali mengatur.
"Kok gitu sih, Pah. Aku nggak mau!" bantah Nella.
Sofyan tidak menghiraukan bantahan dari Nella, ia tidak suka sekali mendengar kata penolakan seperti itu. Lantas dirinya membungkuk dan mencium kening gadis itu. Kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Nella.
"Papah hari ini mau pulang sama Mamih, kau dan Rizky di sini saja. Kau jangan berani membantah sama Papah, turuti saja kalau tidak mau nyawa Ihsan melayang," bisiknya mengancam.
"Bukannya aku hanya disuruh menikah? Kok Papah--"
Sofyan langsung menutup mulut Nella dengan salah satu tangannya.
"Ya, tapi kau juga jangan main-main dalam pernikahan ini, Sayang. Papah tekankan sekali lagi sama kamu, lupakan Ihsan dan cintai Rizky!"
"Aku nggak mau!" tegas Nella langsung menggeleng.
__ADS_1
Sofyan kembali mengecup kening Nella, setelah itu ia mengajak Rizky keluar dari kamar. Meninggalkan Nella yang sudah memendam rasa kesal di dadanya.
"Rizky, bisa kita ngobrol sebentar?" Sofyan menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Hotelnya.
"Ada apa, Pah?" tanya Rizky.
"Bagaimana semalam? Kau sudah melakukan malam pertama dengan Nella?" tanyanya penasaran.
Tadi Gita, sekarang Sofyan. Kenapa mereka terus saja menanyakan malam pertama pada Rizky. Padahal, malam pertamanya saja gagal.
"Belum."
"Kok belum? Kenapa? Apa Nella menolakmu?"
"Eemm ...." Rizky mulai binggung, kalau ia jujur pasti Sofyan akan marah pada Nella. Dalam lubuk hati Rizky memang menginginkan, namun disisi lain ia merasa tak tega pada Nella. Ia juga melihat, setiap kali Sofyan mengobrol dengan Nella, raut wajah istrinya berubah menjadi menahan amarah namun tak bisa di ungkapkan. Ya, memang Rizky sudah memperhatikan sikap Nella, bahkan saat pertama kali ia datang melamarnya. Di situ terlihat jelas kalau Sofyan sangat memaksa. Namun posisi Rizky tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia juga didesak oleh Gita.
"Bukan kok, Pah. Akunya saja yang belum berani menyentuhnya, aku masih grogi." Rizky tersenyum kaku dan mengusap-usap tengkuknya.
"Hahahaha ...." Mendengar pengakuan seperti itu, Sofyan justru terkekeh. Ia tak menyangka jika seorang Rizky mempunyai sisi gerogi pada wanita. "Kalau sama wanita lain kau tidak pernah grogi tuh, kok sama Nella bisa seperti itu?"
"Nella 'kan berbeda, Pah. Dia istriku."
"Eemm ... apa jangan-jangan kau sudah suka dengan Nella? Benar begitu?" tebak Sofyan seraya tersenyum menggoda.
Rizky hanya tersenyum tipis, ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya cinta.
Bagaimana bisa, ia secepat itu jatuh cinta dengan wanita yang jelas-jelas tidak menyukainya bahkan membenci?
"Yasudah deh, Papah mau pulang dulu. Nanti Mamah dan Papahmu juga pulang. Papah titip Nella padamu." Sofyan mengelus sebentar pundak Rizky. "Meskipun sikap Nella kurang baik padamu, Papah harap kau bisa mengerti. Dia memang anaknya seperti itu."
"Iya, Pah. Papah tenang saja," jawab Rizky santai.
***
Didalam mobil menuju arah ke kantor polisi, Rizky tak sengaja melihat seorang pria terkapar disisi jalan raya, ada motor ninja berwarna hijau di sebelahnya. Tapi motor itu terparkir dengan rapih.
Merasa penasaran, lantas Rizky menepikan mobilnya dan segera turun untuk menghampiri pria itu. Jalanan belum terlalu ramai, bahkan tidak ada pejalan kaki yang lewat.
Rizky berjongkok dan menggoyangkan lengan pria kekar itu, dan ternyata pria itu adalah Ihsan, ia memakai kaos hitam dan celana jeans panjang berwarna biru denim.
__ADS_1
"Hei, Bro! Bangun! Apa lu baik-baik saja?"
Jangan lupa like 💕