
"Sebelnya kenapa?" Rizky terkekeh sembari mengelus rambut istrinya. "Orang mau kencing kok dilarang."
"Bukan dilarang, tapi seperti kebiasaan gitu. Aku saja nggak pernah kencing kalau kita pergi bersama."
Hanya lantaran kencing saja Nella merasa kesal. Dia seakan tak mau jika Rizky pergi walau hanya sebentar.
"Ya terus mau lu apa? Gue tahan kencing? Nanti bisa-bisa ngompol seperti kemarin." Rizky menyentuh perut bagian bawahnya, menahan rasa ingin kencing.
"Nggaklah malu, yasudah sana. Tapi jangan lama-lama. Aku nggak mau duduk sendiri." Nella bersedekap dengan wajah yang masih cemberut.
"Iya, iya. Nggak sampai lima menit gue balik lagi, Oke?" Rizky membungkuk, lalu mengecup pipi Nella. Setelah itu dia berlari mencari toilet.
Tak lama datang seorang pelayan wanita menghampirinya sembari menyodorkan buku menu. "Selamat sore, Nona. Mau pesan apa?"
"Aku mau bubur ayam, Mbak. Jangan pakai daun bawang dan kacang, ya?" ucap Nella pada pelayan itu, sembari membuka buku menu.
Pelayan itu pun mencatat pesanan Nella. "Minumannya?"
"Minumnya teh manis hangat dua gelas. Dan itu buburnya ... aku pesan dua porsi, tapi dijadikan satu. Bisa 'kan, Mbak?" Nella mengangkat kepalanya, melihat ke arah pelayan.
"Bisa, Nona." Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum. "Ada lagi?"
"Itu saja dulu." Nella memberikan buku menu itu kembali pada sang pelayan.
"Oke, tunggu sebentar, ya ...." Pelayan tersebut membungkuk sedikit, kemudian berlalu pergi meninggalkannya.
Nella melirikkan matanya ke sana ke mari, mencari-cari Rizky yang tak kunjung kembali dari toilet.
Namun seketika matanya membulat, saat pandangannya jatuh ke tempat kasir. Lebih tepatnya pada punggung pria kekar yang memakai jaket kulit berwarna hitam.
"Kak Ihsan," gumam Nella.
Lagi-lagi dia bertemu mantan pacarnya, dunia terasa sangat sempit sekali. Selalu saja dia dipertemukan oleh Ihsan, sehabis putus.
Namun yang membuat terkejut, di sebelah Ihsan ada seorang wanita yang tentu Nella juga kenal.
"Tante Nissa?"
Ya, Nissa. Ihsan tengah membayar uang pada kasir, setelah seorang pelayan memberikan satu kantong plastik besar berwarna putih yang berisi bubur.
Ihsan dan Nissa memang dekat, Nella tahu akan hal itu. Tetapi rasanya aneh saja, jika keduanya pergi bersama.
Melihat dua orang itu berbalik badan dan hendak berjalan, Nella segera membungkuk ke bawah meja. Berpura-pura untuk mengambil sesuatu sampai mereka berdua berhasil lewat tanpa menoleh ke arahnya.
Nella pun berdiri dan berbalik badan, melihat ke arah pintu kaca. Ingin memastikan sekali lagi, kalau mereka benar-benar datang bersama atau hanya kebetulan.
Dan ternyata mereka datang bersama bahkan satu mobil. Ihsan membukakan pintu mobil yang Nella yakini adalah mobil Nissa, lalu setelah itu Ihsan berlari untuk membuka pintu mobil untuk dirinya masuk.
__ADS_1
'Kemarin Mami, sekarang Tante Nissa. Kok Kak Ihsan bisa pergi bersama mereka? Kenapa?' batin Nella.
"Nella Sayang ... maaf, ya. Gue lama," ucap Rizky yang baru saja datang menghampirinya.
Melihat Nella dari belakang yang sejak tadi diam seperti melamun, Rizky pun segera menepuk pelan pundaknya.
"Nella."
"Ah!" Nella terhenyak lalu menoleh, segera dia mengusap dadanya yang tiba-tiba saja berdebar kencang.
"Lu kenapa melamun?" tanya Rizky seraya mengusap pelan pipi kiri Nella.
Wanita cantik itu menggeleng cepat. "Nggak apa-apa kok, Mas baru selesai? Lama sekali." Nella mengerucutkan bibirnya, lalu memeluk Rizky dan mereka pun duduk bersama.
"Iya, tadi ngantre," jawab Rizky. "Lu tadi lihat apa diluar?" tanya Rizky penasaran.
"Tadi aku seperti melihat Tante Nissa, Mas."
"Oh, Tante ke sini? Mana?"
Nella mengedikkan bahunya. "Aku nggak tahu, aku hanya melihatnya selewat saja."
'Lho, makanannya sudah datang ternyata,' batin Nella.
Akibat Nella sempat melamun melihat ke arah luar, jadi dia baru sadar jika di atas meja sudah tersaji rapih pesanan yang sempat dia pesan tadi.
Di sebelah mangkuk bubur ada beberapa tusuk sate yang terdiri dari, telor puyuh, ati ayam, usus dan baso.
Ada sambel dan kecap, juga kerupuk emping di mangkuk yang terpisah.
"Ini dua porsi aku dijadikan satu, Mas. Aku yang memesannya," jawab Nella seraya mengambil sate ati ayam, lalu menariknya dengan sekali gigitan.
"Oh, makan semangkuk berdua lagi, ya?" Rizky mengambil sendok. Baru saja dia hendak mengaduk bubur, tetapi lengannya dicegah oleh Nella.
"Nggak usah diaduk, Mas."
"Masa nggak usah? Nanti nggak tercampur bumbunya dong?"
"Bumbunya dicampur pas masak bubur, Mas. Lagian ... dimana-mana makan bubur nggak ada yang diaduk."
"Kata siapa?" Rizky mengerutkan keningnya heran. "Gue kalau makan bubur diaduk kok."
"Yasudah, mulai sekarang jangan. Ayok Mas makan dulu, tapi aku mau disuapi."
"Oke, oke." Rizky menyendok bubur itu lalu melahapnya ke mulut sendiri, lalu suapan kedua diberikan pada Nella. "Enak ya, Nell. Ayamnya berasa dan banyak."
"Iya, Mas. Nanti kapan-kapan aku buat bubur deh ... buat sarapan kita, ya?" tawar Nella seraya mengunyah.
__ADS_1
"Iya, tapi kalau capek nggak usah dipaksa, ya?" Rizky kembali menyodorkan satu sendok itu ke bibir Nella, lalu wanita cantik itu langsung melahapnya.
"Masa buat sarapan saja capek, nggak kok. Oya, Mas ... besok jadi 'kan kita jalan-jalan ke Bandung?"
"Jalan-jalan ke Bandung? Memang kapan gue ngajak?" tanya Rizky. Dia pun meraih segelas teh manis hangat lalu meminumnya.
"Pas di kantor Papa. Mas 'kan bilang iya tadi?"
"Gue bilang iya karena menyahut saja dengan omongan elu, Nell."
"Dih, padahal aku bilang itu juga serius. Aku ingin kita jalan-jalan, Mas. Besok juga hari Minggu, kan?" rengek Nella.
"Lu 'kan habis sakit, masa jalan-jalan. Nanti capek." Rizky mengelus sebentar pipi kiri istri.
"Aku sudah sembuh kok."
"Tapi jangan jauh-jauh deh, di Jakarta 'kan tempat wisata banyak. Biar nggak capek dijalan," saran Nella.
Nella terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Iya, deh. Tapi pagi-pagi berangkatnya, ya?"
"Iya." Rizky mengangguk, lalu menyuapi Nella pada suapan terakhir.
Tak terasa makan mereka telah usai. Setelah membayar, keduanya sama-sama masuk ke dalam mobil.
"Mas kita ke toko baju dulu, ya?" pinta Nella seraya menoleh ke arah Rizky yang tengah mengemudi.
"Mau apa? Ini sudah sore dan sebentar lagi magrib, Nell," tanya Rizky tanpa menoleh.
"Aku mau beli baju untuk kita berdua, besok 'kan kita mau jalan-jalan."
"Bukannya baju baru lu masih banyak, ya? Besok saja belinya sekalian jalan-jalan," usul Rizky.
"Dih, orang buat dipakainya besok." Nella merenggut.
"Beli lewat online saja. Gue harus periksa laporan di laptop gue soalnya."
"Yasudah deh." Nella mengerucutkan bibirnya lalu mengambil ponselnya di dalam tas. "Pulangnya ke rumah Papa, Mas. Kita menginap tiga hari, nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, gue tinggal dimana saja asalkan sama lu ... gue bersedia," ujar Rizky seraya menarik tangan Nella, lalu mencium punggung tangannya.
"Kalau dikolong jembatan, Mas bersedia juga?" tanya Nella sembari melihat-lihat beberapa gambar baju couple dilayar ponselnya.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1091...
__ADS_1