Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
280. Kok dia pingsan?


__ADS_3

Tok ... tok ... tok.


Sofyan yang tengah berdiri di depan ruangan Maya mengetuk pintu, dia terlihat begitu rapih dan wangi juga tampan, seperti habis mandi. Salah satu tangannya menenteng kantong merah berisi makanan dan minuman yang memang sengaja dia beli untuk dia dan Maya. Sofyan berencana ingin mengajak istrinya yang cantik itu makan siang bersama di dalam sana.


"May! Kamu sedang apa?" Lantaran tak ada sahutan dari dalam, Sofyan pun berinisiatif untuk langsung masuk ke dalam. Dia membuka pintu dan melebarkannya.


Keningnya seketika mengerut dan ada senyuman tipis yang terbit di bibirnya saat melihat Maya tengah membungkuk dengan kepala yang menempel di meja kerjanya.


"Duh, May. Apa sangking capeknya kamu sampai ketiduran gitu, ya? Padahal belum makan siang lho." Sofyan masuk ke dalam, kemudian mengunci pintu. Setelah itu dia pun meletakkan apa yang dia bawa di atas meja di dekat sofa kemudian menghampiri Maya.


Pelan-pelan Sofyan mengendongnya, lalu membaringkannya di sofa. Wajah Maya yang tertutup rambut Sofyan bereskan. Baru saja bibirnya mendekat ke bibir Maya, namun seketika mata Sofyan langsung membulat kala melihat wajah wanita itu terlihat begitu pucat.


Sofyan pun langsung menangkup kedua pipi, tidak panas atau pun dingin, hangat seperti biasa, seperti orang sehat-sehat saja. Namun mengapa wajahnya begitu pucat?


Lantas, dia pun menepuk-nepuk kedua pipi itu dengan lembut, berupaya membangunkan sebab entah mengapa perasaannya mendadak tak enak.


"May! Bangun, May!" kata Sofyan dengan agak keras. Mata wanita itu masih terpejam, sekarang Sofyan beralih pada kedua lengannya. Dia menguncangnya pelan. "May bangun."


Wanita itu tetap tak kunjung sadar, Sofyan langsung mengecup bibirnya sekilas, lalu mengendongnya dan membawanya keluar dari ruangan itu hingga keluar dari kantor Rizky.


"Apa kamu pingsan, May?" Sudah begitu masih dipertanyakan, sangat jelas kalau Maya memang pingsan akibat rasa sakit tadi.


*


Kini Sofyan sudah menyetir mobil, berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Maya tengah duduk pingsan di sampingnya, dia sudah dipakaikan sabuk pengaman oleh Sofyan supaya tak jatuh.


Sofyan mengusap kasar wajahnya, jantungnya terasa berdebar kencang. Baru kemarin dia membawa orang pingsan ke rumah sakit, sekarang itu terjadi lagi.


"Maya kenapa sebenarnya? Kok dia pingsan? Apa tadi ada orang yang menjahatinya?"


Setelah menempuh waktu 30 menit, akhirnya mobil itu sampai di depan rumah sakit. Sofyan langsung saja mengendong tubuh Maya tanpa meminta bantuan para perawat. Lalu membawanya ke dalam ruang UGD.


Rumah sakit yang sama dan dokter yang sama seperti kemarin, yang salah mengatakan jika Rizky meninggal.


"Nona ini kenapa, Pak?" tanya dokter berkacamata itu, dia menghampiri Sofyan yang tengah membaringkan Maya di ranjang.

__ADS_1


"Dia pingsan, tapi saya nggak mau Dokter yang menanganinya. Dokter yang lain saja ada nggak?" tanya Sofyan dengan wajah khawatir, dia tak mau Dokter itu akan berkata yang tidak-tidak seperti kemarin. Tentu itu semua membuat semua syok dan sungguh merepotkan.


"Memang kenapa, Pak?" Dokter itu terlihat begitu polos, seolah tak mengerti apa yang dimaksud Sofyan.


"Nanti Dokter salah mengira lagi seperti kemarin." Sofyan berlari keluar membuka pintu dan bertepatan sekali dengan seorang Dokter wanita yang baru saja lewat. Tanpa permisi dia pun segera menarik kasar lengannya hingga membuat wanita itu masuk ke dalam.


"Bapak kenapa tarik-tarik saya?" Wajah Dokter itu terlihat merah, dia melototi Sofyan dengan penuh kemarahan. Memang perlakuan Sofyan sangat tak sopan, tetapi dia melakukan hal itu karena khawatir dengan kondisi istrinya.


"Maaf, Dok. Tapi tolong Maya, istri saya." Sofyan mengedikkan kepalanya ke arah Maya. "Dia pingsan."


"Kan ada Dokter ini." Dokter wanita itu menatap dokter berkacamata, wajahnya tampak binggung. "Lagian saya ini dokter kandungan, bukan dokter umum."


"Apa pun itu nggak masalah. Yang penting sama-sama Dokter, cepat tolong dia!" pinta Sofyan memaksa. Dia pun gegas berlari keluar dari sana, lalu duduk di kursi tunggu.


Baru saja duduk, terlihat pintu UGD itu dibuka oleh dokter yang berkacamata. Dia menghampiri Sofyan yang masih duduk sambil memandanginya.


"Kenapa, Dok?" tanya Sofyan.


"Ini tas wanita tadi, ponselnya tadi bunyi, Pak." Dokter itu memberikan tas jinjing berwarna hitam ke tangan Sofyan.


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, Pak."


Cepat-cepat Sofyan membuka dan mengambil benda pipih di dalamnya. Kebetulan pas sekali bertepatan dengan sebuah panggilan masuk. Tertera nama 'Tante Yuni' pada layar. Dan setelah diamati dengan seksama—ternyata memang benar, itu tas milik Maya, sebab ponsel itu juga miliknya.


Layar ponsel itu Sofyan usap, lalu menempelkannya ke telinga kanan.


"Maya! Kamu ke mana saja, sih?! Kenapa lama sekali?!" Suara nyaring yang terlontar dari bibir wanita pada sambungan telepon itu mampu membuat telinga Sofyan seketika berdengung, padahal dia sudah menjauh benda pipih itu—tadi.


"Tante, ini aku Sofyan. Kenapa Tante marah-marah sama Maya?" tanya Sofyan kesal.


"Eh, Sofyan ...." Mendadak suara bariton itu berubah menjadi pelan dan begitu lembut. "Maaf, Tante kira Maya. Ini katanya Maya bilang mau jemput Tante, Tante tungguin dia dari tadi."


"Nungguin? Memangnya mau apa?"

__ADS_1


"Katanya dia mau jemput Tante di terminal Tanjung Priok. Tante menunggu dari tadi, sampai kehausan dan kepanasan."


"Tante ada di Jakarta? Mau ngapain?" tanya Sofyan penasaran.


"Tante mau main ke rumahmu, Tante juga kangen ingin bertemu dengan Maya. Boleh, kan?"


"Oh, tentu boleh. Nanti biar sopirku yang jemput, aku akan berikan nomor Tante sama dia. Nanti Tante kasih tahu posisinya ada di mana saja, ya?"


"Kenapa nggak kamu saja yang jemput? Kamu 'kan suaminya Maya. Masa jemput Tante ipar sendiri nggak mau."


"Bukan nggak mau, tapi saat ini aku sedang nunggu Maya di UGD."


"UGD?!" Yuni memekik lagi, dan dengan cepat Sofyan menjauhkan ponsel itu pada telinganya. "Apa Maya keguguran? Atau jangan-jangan kamu kdrt, ya!" tebaknya asal dengan suara kencang.


"Tante ini bicara apa, sih? Nggak lah. Maya tadi hanya pingsan, mungkin kecapekan saja kali."


"Memangnya dia masih kerja? Kok kamu tega sih, membiarkan istri hamil kerja? Memangnya kamu sendiri nggak mampu kalau kerja sendiri? Katanya kamu 'kan orang kaya."


Sofyan berdecak kesal dengan napas yang terbuang kasar, sejak kapan juga dia mengatakan kalau dia pria kaya di depan Yuni atau Darus? Seingat Sofyan itu tidak pernah.


"Aku mampu biayai Maya, bahkan sampai kami punya anak 10 sekali pun. Tante ini jadi atau nggak mau dijemput? Sudah dulu teleponnya." Lama-lama Sofyan jengah bicara dengan wanita itu, untungnya dia masih mencoba sabar dan menghargai jika dia adalah tantenya Maya.


"Ya jadi lah, cepat jemput. Tante capek nunggu."


Sofyan langsung mematikan sambungan telepon itu, kemudian mengirimkan nomor kontak wanita bawel itu ke ponselnya. Selanjutnya mengirimkannya lagi ke Aldi dan sekalian mengirim chat untuk menjemput wanita itu di terminal.


'Belum main saja sudah menyebalkan, apa lagi sudah main?' Sofyan menyandar punggungnya pada penyangga kursi, lalu memijat pelipis matanya.


Hampir 20 menit Sofyan menunggu di sana, dan sampai akhirnya pintu UGD itu dibuka oleh seseorang dari dalam.


Ceklek~


Sofyan menoleh, dia pun lantas bangkit dan menghampiri dokter wanita berambut pendek yang tengah berdiri di depan pintu.


"Maya kenapa, Dok? Dia sakit apa?" tanya Sofyan penasaran.

__ADS_1


"Dia ....


__ADS_2