Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
209. Lomba memasak


__ADS_3

Rizky menggeleng cepat. "Nggak ah, kamu 'kan nggak bisa masak."


"Dih, Kakak meremehkanku. Aku bisa masak lho, pas di Korea aku juga masak sendiri." Aslinya tidak, Risma hanya berbohong karena ingin ikut saja.


"Yasudah kamu ikut saja dengan Risma, Riz. Seru kayaknya." Gita kembali memberikan saran.


Rizky terdiam beberapa saat, dan tiba-tiba ada sebuah ide cemerlang menyerang isi otaknya. "Ah, aku punya ide." Salah satu jari telunjuknya ditarik ke atas. Semua orang yang berada di ruang makan itu langsung melihat ke arahnya.


"Ide apa?" Gita yang lebih dulu bertanya. "Apa kamu tahu caranya supaya memenangkan lomba?"


"Kalau soal itu pasti caranya masakan kita harus enak, Ma. Tapi aku ada ide. Hari Minggu aku juga ikut lomba deh."


Risma langsung bersorak sembari bertepuk tangan, dia sangat senang ingin ikut karena tergiur dengan hadiah, sama seperti Gita dan Guntur. Berbeda dengan Nella yang ingin ikut dikarenakan untuk seru-seruan saja.


"Iya, Kak. Ayok ikut! Lumayan kalau dapet mobil. Nanti mobilnya untukku, ya?"


"Iya, tentu saja." Rizky mengangguk semangat.


*


*


Ceklek~


Rizky membuka pintu kamarnya dengan salah satu tangan memegang segelas susu coklat. Dilihat Nella tengah duduk selonjoran di atas kasur sembari bermain ponsel. Segera dia pun berjalan menghampirinya.


"Minum susu dulu, Sayang." Rizky mendudukkan bokongnya di atas kasur di dekat Nella, lalu mengarahkan gelas itu ke bibir istrinya. Wanita cantik itu tak menjawab, tetapi dia langsung meminum susunya.


"Ini Mas yang buat?" tanya Nella. Rizky menaruh gelas kosong itu ke atas nakas.


"Bukan, Bibi yang buat."


"Mas punya ide apa untuk besok?" Nella penasaran dengan ucapan Rizky tadi


"Ada deh." Rizky mengangkat tubuh istrinya untuk duduk di dalam pangkuannya. Kemudian mengelus perutnya secara perlahan.


"Ah geli, Mas." Nella terkekeh dan ikut menyentuh perutnya.

__ADS_1


"Kok geli? Aku 'kan hanya mengelusnya? Memang berasa banget, ya?"


"Bukan karena dielus. Tapi dia seperti bergerak-gerak di dalam, Mas."


"Masa sih? Coba, aku ingin merasakannya." Rizky menyusupkan kedua tangannya ke dalam dress tidur yang Nella kenakan, lalu menempelkan kedua telapak tangannya. Namun tak ada apa-apa yang dirasakannya. "Mana, Nell? Kok nggak berasa?"


"Mungkin dia malu, Mas." Nella tersenyum.


"Sepertinya harus ditengok nih, biar dia nggak malu-malu." Rizky tersenyum menyeringai, kemudian perlahan-lahan merebahkan tubuh istrinya di atas kasur, dan setelah itu melepaskan seluruh benang pada tubuhnya. "Kamu mau di atas apa di bawah?" tawar Rizky.


"Di bawah, Mas."


"Oke." Rizky mengangguk, kemudian dia pun melucuti seluruh benang pada tubuh istrinya hingga kini keduanya sama-sama polos.


Pelan-pelan Rizky naik ke atas tubuh istrinya, lalu membungkuk untuk mendaratnya ciuman pada bibir. Tak berselang lama sesi bercinta mereka di mulai. Bermula dari gerakan pelan hingga menjadi cepat. Saling memadu cinta di atas kasur dengan penuh kenikmatan.


Peluh yang bercucuran pada tubuh keduanya seperti menjadi saksi, bagaimana indahnya semua aktivitas yang mereka lakukan saat ini.


***


Disebuah halaman restoran mewah yang sangat luas, terdapat tenda biru besar dengan beberapa pantry.


Pertama ada Steven dan Nella, mereka memakai apron putih. Kedua ada Rizky dan Risma, mereka memakai apron hitam. Ketiga ada Guntur dan Gita, mereka memakai apron merah. Keempat ada Reymond dan Indah, mereka memakai apron biru. Kelima adalah Rio dan Wulan, mereka memakai apron abu-abu.


Dan keenam hingga sepuluh adalah orang-orang yang tak Rizky kenal. Mereka memakai apron dengan warna yang berbeda, sehingga bisa mengetahui lawan mereka dan tim mereka itu siapa.


Mereka bersepuluh adalah orang-orang yang dipilih oleh pemilik restoran untuk mengikuti ajang lomba. Lomba itu digelar dalam rangka launchingnya restoran mewah yang baru buka pada hari ini.


Tepat di depan peserta ada tiga orang yang tengah duduk. Mereka nantinya yang akan menjadi juri untuk mencicipi hasil masakan semua peserta.


Salah satu mereka adalah host, seorang wanita berambut pendek mengenai koas pink pendek dan celana jeans panjang berwarna hitam. Satunya seorang pria dan dia chef restoran, memakai chef jaket berwarna putih.


Terakhir adalah seorang pria yang memakai setelan jas rapih berwarna hitam, dia pemilik restoran dan juga teman kuliah Reymond dan Rizky. Itu juga alasan mengapa mereka berdua memutuskan untuk ikut.


Disekeliling mereka ada beberapa orang penonton. Mereka duduk di kursi yang tersedia tanpa tenda, jaraknya agak jauh dengan para peserta. Suasana di sana tak terlalu panas, sebab acara itu dimulai pada pukul 8 pagi.


"Selamat pagi semuanya," sapa host wanita yang baru saja berdiri. Dia memakai mic supaya suaranya terdengar oleh semua orang. "Baik, kalian pasti sudah tahu jika yang memenangkan lomba akan mendapatkan 10 vocer makan gratis." Host itu mengambil selembar vocer di atas meja lalu memperlihatkan pada semua orang.

__ADS_1


"Dan ada sebuah mobil mewah, ini dia mobilnya."


Tak lama ada sebuah mobil hitam datang, lalu berhenti tepat ditenda tempat para juri duduk. Dan keluarlah dua orang satpam berseragam hitam dari mobil itu.


Dua puluh peserta itu langsung bersorak dan Rismalah yang paling kencang bertepuk tangan. Dia sangat menginginkan mobil itu untuk menjadi miliknya.


"Kakak! Kita harus menang! Aku mau mobil itu milikku!" Risma menyeru sambil menggoyang-goyangkan lengan Rizky. Terlihat pria tampan itu sejak tadi menoleh ke pantry sebelahnya, tepat Nella berada dan sama-sama memandanginya sambil tersenyum.


Gita juga tak kalah antusias seperti anak perempuannya. Padahal untuk menang rasanya sangat tipis. Seperti apa yang Guntur katakan, mana ada orang lomba hanya untuk memasak air?


"Kita harus menang ya, Pa!" seru Gita memberikan semangat pada suaminya yang tengah menatap mobil hitam itu dengan lapar. Dia mampu membeli mobil jenis apa pun. Tetapi kalau dari hasil lomba dan itu gratis, pasti akan sangat menyenangkan.


"Pasti, Ma. Kita pasti menang!" Dengan pedenya dia menjawab sembari merangkul bahu istrinya.


'Aku ingin Mas Rizky yang menjadi pasanganku.'


Yang lain sibuk dengan hadiah, Nella justru sibuk dengan pikirannya yang menginginkan mengikuti acara tersebut dengan suaminya.


"Nama tim kalian masing-masing ada di depan meja pantry. Kalian bisa mengeceknya," ujar host tersebut memberitahu.


Rizky langsung melihat papan nama di depan meja, matanya seketika membulat lantaran terkejut saat tahu nama timnya adalah buaya.


"Nggak ada nama yang bagusan dikit apa? Kenapa buaya, sih?" gumam Rizky pelan. Lalu menoleh ke pantry Guntur dan Gita yang berada di sebelahnya. Dilihat dua orang itu tengah menggerutu.


"Kok monyet, Pa?" ujar Gita kesal.


"Iya, kenapa harus nama binatang ya, Ma? Harusnya yang lain kek," balas Guntur tak kalah berekspresi kesal.


Rizky terkekeh mendengar ocehan mereka. Ternyata ada yang jauh lebih aneh, selain nama buaya.


"Tim kita namanya apa, Sayang?" tanya Reymond pada Indah yang baru saja melihat papan nama.


"Kucing, Mas. Lucu, ya?"


"Iya, itu lucu." Reymond yang berada di belakang Rizky langsung memanggil temannya itu, hanya ingin sekedar meledek. "Riz, lihat papan nama gue!"


Rizky berbalik badan dan menatapnya. "Lu dapet nama apa?"

__ADS_1


"Kucing, lucu 'kan?" Dengan bangga Reymond memamerkan papan nama yang Indah pegang, karena dia juga tahu jika nama tim temannya adalah buaya. "Tapi itu cocok juga untuk lu, Riz. Lu 'kan buaya darat!" Dia terkekeh geli, kembali meledek temannya yang kini tengah memutar bola matanya dengan malas.


__ADS_2