Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
33. Milik Kakak seorang


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai disebuah kios sederhana yang bertuliskan nama 'Bakso Wahyu' pada gerobaknya. Di samping kios tersebut ada rumah dan itu adalah rumah penjual baksonya.


Mereka sering sekali makan di situ, bahkan mungkin sudah jadi langganannya Ihsan.


"Pak Wahyu, aku pesan dua bakso campur. Makan di sini, ya?" ucap Ihsan pada pedagang bakso tersebut lantas mengajak Nella duduk di bangku kiosnya.


"Minumnya apa?" tanya orang yang bernama Wahyu seraya membawa dua mangkuk bakso pesanan mereka.


Ihsan menoleh pada Nella. "Kamu minumnya apa, Cantik?"


"Aku samakan sama Kakak aja."


"Oh, oke." Ihsan kembali melihat kearah Wahyu. "Es jeruk, Pak. Buatkan dua." Ihsan mengangkat dua jarinya hingga terbentuk huruf v.


"Baik tunggu sebentar." Pedagang bakso itu mengangguk dan tak lama dua gelas es jeruk tersaji di atas meja.


Suasana di dalam kios itu cukup ramai, bukan hanya Nella dan Ihsan saja yang makan di sana. Tapi ada beberapa orang yang lain, namun hanya Nella wanita sendirian.


Ihsan duduk sampai begitu dekat pada Nella, ia merasa risih, sebab sedari tadi banyak sekali pria yang memandangi kekasihnya. Rasanya tak ikhlas melihat sesuatu yang ia punya dilihat banyak orang. Namun dirinya sadar, kalau Nella memang benar-benar cantik, jadi tak salah jika mata para lelaki tak mampu berkedip saat melihatnya.


"Kak, Kakak kenapa? Kok makannya nggak fokus gitu?" tanya Nella. Ia melihat Ihsan sedari tadi menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan para pengunjung.


"Ah, nggak kok. Hanya saja aku risih melihat mata para lelaki yang memandangimu," jawabnya sambil menyuap satu bakso ke dalam mulut.


"Kakak cemburu?" Nella menyentuh punggung tangan Ihsan sambil tersenyum malu-malu. "Kakak tenang saja, aku hanya milik Kakak seorang."


Milikku? Apa benar Nella milikku?


Seketika terbesit dalam benak Ihsan akan status Nella, terlebih lagi saat pandangan matanya terjatuh pada cincin berlian di jari manis sang kekasih.


Ihsan memegang tangan Nella yang berada di punggung tangannya. "Apa ini cincin pernikahan kamu? Cantik sekali."


Nella segera menarik lengannya dan menarik cincin tersebut pada jari manisnya, kemudian menaruhnya di dalam tas. Ia tak mau hanya lantaran cincin, bisa merusak makan siang yang indah bersama Ihsan.


"Lho, kok disimpan? Kenapa?"


"Nggak apa-apa kok, Kak." Nella menggeleng cepat dan tersenyum.


"Pakai saja, nggak masalah. Aku mengerti kok."

__ADS_1


"Nanti kalau sudah pulang aku pakai lagi."


Ihsan mengangguk. "Apa itu cincin sepasang?"


"Iya, Kak."


"Berarti Rizky juga pakai itu, ya?"


Nella langsung terdiam, tak menjawab pertanyaan Ihsan sampai mereka telah selesai makan bakso.


"Apa mau nambah?" tanya Ihsan saat melihat Nella yang tengah memegangi perutnya.


"Nggak Kak, aku kenyang."


"Ya sudah, ayok kita pulang." Ihsan merangkul bahu Nella, mengajaknya untuk bangun dari duduknya.


"Jadi berapa, Pak?" tanya Ihsan pada Wahyu.


"40 ribu."


Ihsan segera mengambil dompet pada kantong celananya, sama halnya dengan Nella yang mengambil dompet pada tas selempang miliknya.


"Jangan, pakai uangku. Masa kamu yang bayar." Ihsan memberikan uang lima puluh ribu pada Wahyu dan menarik tangan Nella.


Memang setiap mereka pergi jalan-jalan dan makan bersama, Nella selalu ingin dirinya ikut membantu membayarkan. Merasa tak enak dan seakan mengerti kondisi ekonomi Ihsan. Namun, Ihsan selalu menolaknya.


Ia memang tau Nella anak orang kaya, tapi Ihsan mendekatinya murni lantaran cinta, bukan karena ada maunya. Ihsan juga selalu mengingat harga dirinya yang sebagai pria sejati. Baginya, pria sejati itu tak akan mungkin membiarkan kekasihnya untuk membayarkan makan atau apapun itu. Namun justru kebalikannya, harusnya Ihsan lah yang memberikan apapun semampunya.


Setelah menerima kembalian, Ihsan memberikan satu lembar brosur pada pedagang bakso tersebut.


"Pak Wahyu, boleh saya minta tolong."


"Tolong apa?"


"Apa Bapak bisa menempelkan brosur itu di depan kaca gerobak Bapak? Siapa tau pelanggan Bapak ada yang mau mampir ke bengkel mobil Om saya," pinta Ihsan seraya menunjuk kertas yang sudah berada di tangan Wahyu.


"Oh tentu, tidak masalah. Nanti saya tempel di depan." Wahyu mengangguk dan tersenyum pada Ihsan.


"Terima kasih ya, Pak."

__ADS_1


"Sama-sama."


Ihsan dan Nella berlalu pergi dari kios tersebut, dan kini mereka kembali menaiki motor.


"Kamu mau aku antar kemana? Hotel, rumahmu atau rumah Rizky?" tanya Ihsan seraya menyetir.


"Aku nggak mau pulang, Kak." Nella sendiri binggung, pilihan yang Ihsan sebutkan sama sekali tidak ia inginkan.


"Kenapa? Ini sudah sore. Papahmu dan Rizky pasti mencarimu, Cantik."


"Biarkan saja, Kak. Aku nggak peduli, aku masih kangen sama Kakak. Kita jalan-jalan dulu sebentar lagi." Nella mengalungkan tangannya pada perut Ihsan, lantas menciumi punggung pria yang tengah berada di depannya, hingga mampu tercium aroma tubuhnya.


"Jangan diciumi begitu, ini sudah sore dan aku pasti bau keringat, Nella." Ihsan merasa tak percaya diri, merasa takut jika Nella benar-benar mencium bau keringatnya.


"Aku nggak peduli, bau keringat Kakak itu harum, aku suka." Bukannya berhenti untuk mencium, Nella justru makin menjadi-jadi menciumi punggung Ihsan, hingga membuat Ihsan geleng-geleng kepala dan terkekeh melihat tingkahnya. "Kakak nggak mandi sekali pun aku sanggup untuk mencium tubuh Kakak."


"Ah, mana mungkin? Pasti itu bau sekali." Ihsan merasa tak percaya, jelas sekali Nella sering menggombal.


"Benar, aku serius. Nanti kalau kita sudah menikah ... aku akan membuktikannya."


"Nanti kalau aku bangun tidur kamu langsung mencium tubuhku begitu?"


"Iya, dong. Tapi Kakak juga harus mencium tubuhku biar impas."


"Oke, deh."


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, apalagi dihabiskan bersama orang yang ia cintai. Pada akhirnya Ihsan membawa Nella pulang sebelum adzan magrib berkumandang, ia mengantarkan Nella ke rumah Nenek dan Kakeknya, namun agak berjarak beberapa meter, sebab itu atas permintaan Nella sendiri.


"Kakak hati-hati dijalan, aku mencintai Kakak." Nella mencium pipi kiri Ihsan, lalu pria bule itu langsung membalasnya dengan mencium bibir Nella singkat.


"Aku juga cinta sama kamu." Ihsan mengelus rambut Nella dengan penuh kasih sayang. "Jaga diri baik-baik dan jaga kesehatan."


"Kakak juga." Nella tersenyum dan melambaikan tangannya seiring motor Ihsan melaju meninggalkannya.


Setelah itu ia berlari menuju rumah kakek dan neneknya, masuk ke gerbang dan masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka dengan lebar.


Mendadak langkah kakinya terhenti dan kedua matanya membulat saat melihat beberapa orang berada di ruang tamu, mereka adalah Rizky, Sofyan, Angga kakek Nella dan Sindi neneknya.


Pandangan mata mereka semua langsung tertuju kearahnya, apalagi dengan Sofyan. Pria paruh baya itu sudah melotot dengan bibir yang bergetar seperti hendak menggerutu.

__ADS_1


Like itu gratis, silahkan tinggalkan 🙏


__ADS_2