Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
67. Buat gue gila


__ADS_3

"Ah nggak deh." Rizky kembali menggeleng, dia merasa bosan dengan kata rencana, ide dan saran. Benar-benar membuatnya jenuh. "Aku nggak mau melakukan hal apapun, Papa dan Mama juga berhenti melakukan hal konyol. Nanti Nella malah membenciku."


"Ya sudah kalau kamu nggak mau, Papa nggak maksa." Sofyan mengelus punggung tangan Rizky sebentar.


'Sepertinya, rencana ini nggak usah aku beritahu Rizky. Biar aku dan Mamanya saja yang tahu,' batin Sofyan.


***


Malam hari di rumah Angga.


Rizky melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tangan kirinya menenteng plastik putih yang berisi satu kotak pizza. Dia menyempatkan membeli itu sebelum pulang sebab mengingat Nella.


Dia ingin memberikan sesuatu padanya sebagai tanda terima kasih karena sudah merawatnya saat sakit.


Langkah pria tampan itu terhenti tepat di ruang makan. Seperti biasa, Angga, Sindi dan Nella berkumpul di sana. Mereka baru saja hendak makan malam.


"Selamat malam, Opa, Oma, Nella," sapa Rizky sambil tersenyum.


Angga tak menjawabnya, bahkan menoleh saja tidak. Akan tetapi Nella dan Sindi menjawab dan tersenyum padanya.


"Malam," jawab Nella.


"Malam, Riz. Kamu baru pulang, ya? Ayok makan bersama," ajak Sindi.


"Iya, Oma." Rizky mengangguk, dia segera menarik kursi di sebelah Nella dan menaruh plastik putih yang sejak tadi dia bawa di atas meja, dekat Nella. "Gue beliin pizza buat lu, apa lu suka pizza?"


Nella menoleh, belum sempat dia menjawab. Tiba-tiba Angga berkata, "Nella nggak pernah ngemil kalau malam."


"Oh begitu, maaf aku nggak tau." Rizky menarik kembali plastik itu, tapi dicegah oleh Nella.


"Nggak apa-apa, nanti aku memakannya, Mas."


"Jangan, nanti kamu gendut. Bukannya kamu sedang diet?" Angga bangun dan mengambil alih plastik itu. Lalu menaruhnya di atas meja di dekat lengannya.


"Tapi makan satu potong nggak bikin gendut Opa," bantah Nella. Entah mengapa, dia tiba-tiba merasa tak enak menolak pemberian dari Rizky.

__ADS_1


"Kata siapa? Bukannya kamu jauh lebih mengerti tentang makanan? Pizza ini buat Bibi saja nanti," ujar Angga seraya memulai makan.


Nella menatap wajah Rizky dari samping, terlihat jelas rona kesedihan terbit di wajahnya. Tetapi ada senyuman yang Rizky ukir untuk menutupi kesedihannya.


'Padahal gue belinya pakai cinta, tapi yang makan malah Bibi. Kasihan banget sih, gue,' keluh Rizky dalam hati.


'Kenapa tiba-tiba aku merasa Mas Rizky seperti berubah? Dia seperti bukan Mas Rizky yang dulu,' batin Nella.


Bukan hanya dari mimik wajahnya saja, tapi sikap Rizky seolah terlihat berbeda. Itu sedikit membuat Nella penasaran, apalagi mengingat tentang kemarin malam dia meminta maaf.


Mereka makan bersama dengan keheningan, hampir tak ada yang bicara sampai sesi makan malam itu telah selesai.


"Opa, Oma, Nella, aku ke kamar dulu mau istirahat, ya?" Rizky pamit seraya berdiri. Mereka hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Rizky berjalan menaiki anak tangga dan melihat Bibi pembantu baru keluar dari kamarnya. Nella juga ikut berjalan di belakang Rizky, tapi pria tampan itu tidak mengetahuinya.


"Bibi, tolong buatkan aku susu panas sejam lagi. Nanti antarkan ke kamarku, ya?" pinta Rizky saat langkah kakinya terhenti, Nella juga ikut menghentikan langkahnya di belakang tubuh suaminya.


"Baik, Pak." Bibi pembantu mengangguk.


"Tunggu sebentar." Ucapan Rizky membuat Bibi pembantu yang baru saja melangkah langsung terhenti. "Apa Bibi bisa memijat?"


"Bukan, bahu." Rizky menyentuh bahunya yang terasa kaku.


"Kalau bahu, mungkin Nona Nella saja yang melakukannya, Pak," ucap Bibi pembantu. Dia merasa tak enak pada Nella dan rasanya juga tak pantas kalau dia yang memijat bahu Rizky.


Mata Bibi pembantu mengarah pada Nella yang berada di belakang tubuh Rizky. Lantas, Rizky memutar kepalanya dan melihat pada Nella. Wanita cantik itu hanya terdiam, dia merasa ragu untuk bersuara.


"Ah kalau begitu nggak jadi, aku nggak jadi dipijat." Rizky langsung berucap dan mengurungkan niatnya. Ekspresi wajah Nella terlihat tak meyakinkan jika dirinya mau memijat bahu seorang Rizky. Rizky juga tak mau kalau Nella menganggapnya pria tidak tahu diri. Sudah cukup dia berbaik hati kemarin malam, Rizky tak usah meminta lebih padanya. Kemudian dia kembali menoleh ke arah Bibi pembantu. "Aku minta salep pereda nyeri saja, Bibi punya nggak?"


"Bibi punya, Pak. Nanti Bibi antar sekalian membawa susu untuk Bapak."


"Terima kasih, Bi."


"Sama-sama." Bibi pembantu mengangguk samar. Lantas dirinya berlalu pergi turun dari anak tangga.

__ADS_1


Nella berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Rizky yang masih berdiri di depan pintu kamarnya sendiri.


"Mas Rizky masih sakit?"


Deg!


Sepertinya jantung Rizky sangat sensitif, hanya sebuah pertanyaan saja sudah membuatnya berdebar kencang, pipinya langsung merona.


'Apa ini tandanya Nella perhatian sama gue?' batin Rizky seraya tersenyum malu-malu.


"Mas ...," panggil Nella yang mana membuat Rizky terkesiap. Dia sejak tadi sibuk merasakan debaran jantungnya sendiri.


"Ah, iya."


"Masih demam?" Nella tiba-tiba mendekat dan menyentuh dahi Rizky. Sentuhan tangan itu membuat mata Rizky terbelalak, dengan refleks dia terperajat. "Lho kenapa? Tapi nggak panas?" Nella mengerutkan kening, dia merasa heran dengan tingkah Rizky yang seolah berlebihan saat berada di dekatnya.


Rizky mundur satu langkah supaya tidak terlalu dekat dengan Nella, dia menyentuh dadanya. Jantungnya tadi hampir saja mau loncat, benar-benar sudah tak bisa dikendalikan. Ditambah lagi di dalam celananya sudah menegang. Terlintas sedikit, memori akan indahnya percintaan mereka pada waktu lalu.


'Konyol, baru disentuh dahi saja gue udah nafs*. Lu benar-benar gila sih, Riz.'


Rizky menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadarkan otaknya yang kembali mesum.


"Gue nggak sakit, Nell. Gue mau istirahat dulu kalau begitu." Rizky bergegas masuk ke kamarnya, meninggalkan Nella yang masih kebinggungan.


'Sikap Mas Rizky benar-benar aneh, apa itu pengaruh dia demam semalam? Tapi kelihatannya sudah baik-baik saja sekarang. Eh, tapi dia bilang mau dipijat? Apa tubuhnya berarti masih sakit? Ah, kenapa aku malah mikirin dia.'


Nella menepis semua lamunan yang menurutnya tidak penting, dia berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Rizky tengah berendam di dalam bathtub yang baru saja dia isi air hangat. Rizky berendam sambil membawa ponselnya, dia memutar video yang direkam saat dia bercinta dengan Nella. Tentunya hal itu dilakukan supaya mempermudah Rizky bermain solo.


Mungkin sudah tiga kali dengan hari ini, dia bermain solo lantaran tak kuat dengan gairahnya sendiri.


Padahal dulu sebelum menikah, dia jarang dan hampir tak pernah melakukannya sendiri. Namun semenjak menikah dengan Nella, dia merasa tak punya keinginan untuk bercinta dengan wanita lain. Momen pertama kali bercinta dengannya seolah merubah kehidupan Rizky.


"Lu benar-benar buat gue gila, Nell."

__ADS_1



...Yang belum singgah di karya pertamaku, yuk mampir ke sana sambil nunggu di sini up 🤗. Di sana sudah tamat gays!...


__ADS_2