Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
85. Tapi kenapa aku yang sedih sekarang?


__ADS_3

"Iya, jangan lama-lama ... habis ini kita pulang, ya? Gue kangen sama anak gue," ucapnya seraya tersenyum meledek.


Rizky berdecih. "Cih! Mentang-mentang punya anak, sampai di bawa-bawa."


"Lha, kan memang benar. Si Caca tahu nggak lu ... dia sudah bisa merangkak." Kembali Reymond meledek Rizky, dia merasa senang melihat wajah temannya yang sudah memerah karena kesal.


"Nanti kalau gue punya anak ... pas lahir dia langsung bisa jalan, Rey! Biar menyusul si Caca dan Bayu!" balas Rizky, awalnya ingin buang air kecil buru-buru, tapi sekarang malah terhambat lantaran celotehan Reymond.


"Iya, iya, gue do'ain biar Nella hamil supaya kalian nggak bisa cerai!" pekik Reymond saat melihat Rizky sudah berlalu pergi meninggalkannya.


Rizky berjalan menuju toilet, namun tiba-tiba seseorang yang baru saja keluar dari toilet wanita menabraknya tepat pada dadanya, Rizky juga sempat merasa dada kenyal wanita itu menempel pada tubuhnya.


Bug!


"Ah maaf-maaf, gue nggak sengaja," ucap Rizky.


Deg!


'Mas Rizky?' batin Nella, dia langsung menunduk.


Ya, wanita itu adalah Nella. Dari suara dan aroma minyak wangi Rizky tentu dia dapat mengenalnya. Namun sayangnya Rizky tidak mengenalinya, dia hanya mengatakan kata maaf lalu buru-buru masuk ke toilet pria tanpa melihat wanita yang dia tabrak barusan.


'Buset, sudah diujung banget,' batin Rizky seraya memegang resleting celana.


Nella berdiri dalam diam dan melihat tubuh Rizky yang sudah menghilang. Dadanya kembali terasa panas dan entah mengapa kedua matanya menjadi becek.


'Apa gara-gara Mas habis ketemu Mitha, jadi Mas nggak mengenali istri sendiri?' batin Nella.


Setelah beberapa menit terdiam, Nella langsung berlari meninggalkan restoran dan tak memerdulikan keadaan bajunya yang basah, dia buru-buru masuk ke mobilnya.


Dirinya tak menyangka jika air mata itu sudah meleleh membasahi kedua pipinya. Nella membuka kacamata hitam itu dan menarik secarik tissu untuk mengusap air mata.


Namun, bukannya air mata itu menghilang—kini ada air mata baru yang berjatuhan.


Ya, Nella menangis hingga kini terisak-isak. Dia juga binggung kenapa dirinya bisa sesedih ini hanya karena melihat Rizky bertemu Mitha.


"Kenapa aku sampai menangis seperti ini? Bukannya itu bagus kalau Mas Rizky bertemu wanita lain? Dengan begitu Mas Rizky gampang melepaskan aku, kan? Dia juga bilang sudah mengikhlaskan aku dengan Kak Ihsan, tapi kenapa aku yang sedih sekarang?" Nella mengoceh sendiri sambil mengusap kembali air matanya, lalu dia menyandarkan punggungnya dan menyangga kepala pada kursi mobil, Nella terdiam dan memejamkan mata.


Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi deringan ponsel. Matanya yang baru terpejam langsung terbuka dengan lebar, dia mengambil benda pipih itu di dalam tasnya.


Tidak ada nama di depan layar itu, tetapi Nella mengenal siapa yang meneleponnya.

__ADS_1


"Halo, Kak," ucapnya lirih.


"Siang Cantik, kok suara kamu seperti itu? Kamu habis menangis? Kenapa?" Ihsan yang mendengar dari nada suaranya saja langsung tahu, jika pacarnya itu tengah bersedih.


"Aku nggak apa-apa. Ada apa, Kak?"


"Aku ingin mengajakmu nonton film, aku sudah beli dua tiket nonton film Korea romantis. Kamu pasti mau, kan?"


"Maaf Kak, sepertinya aku nggak bisa." Nella mengusap kembali pipinya saat air mata itu kembali berlinang.


"Lho kenapa? Bukannya kamu suka pergi nonton denganku?"


"Aku memang suka, tapi sepertinya hari ini nggak bisa. Aku nggak enak badan."


Rasa sedih di hati Nella membuat dirinya tidak ada mood untuk pergi kemana pun, yang dia inginkan hanya berbaring di kasur dan memeluk bantal.


"Sakit? Mau aku antar periksa? Aku ke rumah Opa kalau begitu, ya?"


"Nggak usah, Kak. Aku hanya mau istirahat saja. Sudah dulu ya, Kak."


"Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik."


***


"Sudah selesai lu?" tanya Reymond saat melihat Rizky sudah kembali dari toilet. Rizky menjawabnya dengan anggukan kepala. "Ayok pulang sekarang ... gue sudah bayar."


"Lu bayar semua apa cuma makanan lu doang?" tanya Rizky.


"Semua lah, sejak kapan gue perhitungan sama lu?" Reymond mengerutkan kening.


Rizky tersenyum manis, memang keduanya benar-benar berteman baik dan tak pernah memperhitungkan soal apa pun. Kemudian mereka keluar dari restoran itu dan masuk ke dalam mobil Rizky.


Entah mengapa mendadak perasaannya tak tenang, pikiran Rizky tertuju pada Nella.


"Jangan melamun lu, lagi nyetir juga!" Reymond menepuk lengan Rizky saat mengetahui pandangan pria itu seakan kosong, dan itu membuat Rizky terkesiap.


"Ah iya, sorry." Rizky mengusap wajahnya dan langsung berkonsentrasi dalam mengemudi.


"Lu mikirin apa, sih? Jangan bilang Mitha."


Rizky menggeleng cepat. "Gue mikirin Nella, nggak tahu kenapa ... apa gue coba telepon dia saja, ya?" Rizky menoleh sekilas pada Reymond, lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana.

__ADS_1


"Terserah, tapi ini 'kan hari Minggu. Si Ihsan pasti menemuinya di restoran, atau mungkin dia sedang jalan-jalan berdua?"


Tebakan Reymond membuat Rizky mengurungkan niatnya untuk menghubungi Nella, mungkin akan lebih baik mulai hari ini dia harus bisa membiasakan hidup tanpa wanita itu.


"Lu bener juga," jawab Rizky lirih.


***


Malam hari di rumah Angga.


Seperti biasa, suami istri itu selalu makan bersama. Akan tetapi ada yang berbeda dengan makan malam mereka.


Jika mengenai Rizky, Angga tentu tak memikirkan pria itu. Mau ada ataupun tidak ada, baginya tidak penting. Namun, Nella juga tidak ada di sana, bahkan sejak pulang dari restoran dia tak keluar kamar sama sekali.


"Mama ... di mana Nella?" tanya Angga saat melihat istrinya tengah menaruh nasi di atas piring untuknya.


"Ada di kamar, Mama sudah mengajak dia untuk makan malam kok tadi. Mungkin sebentar lagi turun, Pa."


Setiap jam makan, Sindi selalu mengajak Nella untuk makan bersama, tidak pernah dia lewatkan satu waktu dimana dia tak mengajak cucu kesayangannya itu.


Namun, sampai sesi makan malam mereka telah usai, Nella tak kunjung keluar kamar. Mereka berdua tentu merasa cemas, takut jika dia kenapa-kenapa.


Tok ... tok ... tok.


Angga mengetuk pintu kamar cucunya dengan Sindi yang berdiri di samping.


"Nella, kamu kenapa? Kok dari tadi nggak keluar kamar?" tanya Angga.


Mereka terdiam sejenak, menunggu jawaban. Tetapi di dalam sana tidak menyahut. Kembali Angga mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Nella! Buka pintunya!" Kali ini bukan hanya sekedar mengetuk, handle pintu itu juga sudah dia turun naikkan. Tapi sayangnya pintu itu di kunci dari dalam.


"Mama, coba minta kunci serep sama Bibi untuk kamar Nella," titah Angga seraya menoleh sekilas pada Sindi yang mana langsung dianggukkan olehnya.


jangan lupa like dan komentar


Salam sehat ❤️


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2