Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
261. Bertukar sekertaris


__ADS_3

"Papa ke sini? Ada apa?" tanya Rizky.


"Papa ada perlu sama kamu, tapi ... ah Maya!" teriak Sofyan. Gatal sekali lidahnya ingin memanggil istrinya, supaya dia dan Hersa menghentikan obrolan.


Lantas Maya menoleh dengan senyuman manis saat menatap wajah Sofyan. Jantung pria itu juga terasa berdebar kencang.


"Eh, Ayank. Maaf ... aku nggak lihat Ayank dari tadi." Maya berjalan menghampiri Sofyan, dia baru sadar akan kehadiran suaminya.


"Wajar nggak lihat, dari tadi kamu 'kan fokus ngobrol dengan Hersa." Sofyan mengerucutkan bibirnya, lalu merengkuh pinggang istrinya.


"Tadi aku ngobrol masalah pekerjaan, Ayank."


"Reymond, Om ada perlu dulu dengan Rizky. Maaf, ya?" Sofyan melihat ke arah Reymond.


"Nggak masalah, Om. Dan selamat atas pernikahanmu Om dan Maya, ya. Semoga langgeng." Reymond tersenyum.


"Amin, terima kasih, Rey."


"Sama-sama, Om."


Sofyan tersenyum seraya mengelus rambut kepala Reymond, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Rizky bersama menantu dan istrinya.


Ceklek~


Sofyan dan Rizky duduk di sofa panjang, sedangkan Maya memilih duduk di sofa single.


"Sepertinya nggak perlu basa-basi lah ya, Riz. Papa sebenarnya ingin berencana bertukar sekertaris denganmu."


Ucapan Sofyan membuat kening Rizky dan Maya mengerenyit heran.


"Tukar sekertaris? Maksudnya bagaimana, Pa?"


"Kita 'kan bekerja di bidang yang sama. Ya ... meskipun semuanya pasti ada yang berbeda. Tapi ... Papa mau Mama Maya jadi sekertaris Papa mulai sekarang, Riz," jelasnya.


'Kok begitu? Aku jadi sekertarisnya Pak Sofyan?' batin Maya.


"Dih nggak mau!" tegas Rizky menggeleng cepat. "Aku butuh Mama Maya, Pa."


"Tapi nanti ditukar dengan sekertaris Papa. Dia juga sudah berpengalaman kok."


"Maksud Papa si Kumis Tebal itu?" Rizky menatap Sofyan dengan meringis geli, membayangkan kumis sekertarisnya.


"Namanya Hengki, Riz. Bukan si Kumis Tebal."


"Ah sama saja. Aku nggak mau ah, Pa. Geli."


"Nanti Papa suruh dia cukur kumis, deh."


Rizky melirik sinis ke arah Maya, wanita itu sejak tadi diam sambil menggenggam tangannya. "Mama Maya nggak betah kerja lagi di sini?" tanya Rizky kesal.

__ADS_1


Maya menggeleng. "Saya betah kok, Pak. Ah maksudnya Rizky." Maya cepat-cepat meralat sebab takut jika ditegur oleh Sofyan.


"Yang mau tukar Papa, Riz. Bukan Mama Maya," ujar Sofyan.


"Alasannya?"


"Ya karena Papa ingin Mama Maya jadi sekertaris Papa saja. Papa mau lihat dia kerja."


"Ah bilang saja Papa nggak mau jauh dengannya." Rizky memutar bola matanya dengan malas. "Kalau begitu Papa sering-sering saja ke kantorku. Tapi jangan menukar Mama Maya. Aku masih membutuhkannya, Pa. Aku nggak mau dia ditukar."


"Dih, masa nggak boleh? Kamu nggak sayang Papa berarti."


"Bukan nggak sayang. Tapi ini tentang pekerjaan. Dan urusan pribadi nggak boleh dibawa-bawa ke dalam pekerjaan, Pa." Rizky masih bersih keras.


Sofyan mendengus kesal. Dia kira, akan mudah membujuk menantunya untuk bertukar sekertaris. Ternyata tidak. Sofyan musti memikirkan cara untuk bisa meluluhkan hati Rizky.


Mendadak suasana di dalam ruangan itu menjadi hening, dan tiba-tiba terdengar suara deringan panggilan masuk dari ponsel Maya yang berada di kantong rok. Kedua pria itu ikut menoleh ke arah Maya, disaat wanita itu menatap layar ponselnya.


"Siapa yang telepon, May?" tanya Sofyan saat melihat benda pipih itu sudah menempel pada pipi kanan istrinya.


"Penjaga resepsionis, Ayank."


"Halo, selamat siang, Mbak," ujar seorang wanita dari sambungan telepon.


"Siang, ada apa ya, Mbak?" tanya Maya.


"Wanita siapa? Namanya?"


"Namanya Diana."


Maya membulatkan matanya, lalu menatap Sofyan yang tengah menatapnya dengan binggung.


"Kenapa, May?" tanya Sofyan. Maya menjawabnya hanya gelengan kepala.


'Apa Bu Diana menemui karena ingin ganti rugi? Tapi kenapa harus ke sini? Di sini 'kan ada Pak Sofyan. Nanti mereka bertemu bagaimana?' batin Maya.


Seketika ingatannya terlintas saat dimana Sofyan membeli tespek dan wanita itu memeluk suaminya dari belakang. Memang jelas Sofyan menolak, tetapi rasanya tidak bagus jika mereka berdua kembali dipertemukan.


"Bagaimana, Mbak? Dia menunggu Mbak sejak tadi."


"Nanti aku ke sana." Setelah itu Maya menutup sambungan teleponnya, kemudian menaruh benda pipih itu ke dalam kantong dan berdiri dari duduknya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Sofyan.


"Aku mau ke toilet sebentar, Ayank."


Sofyan ikut berdiri, dia malah mengikuti langkah kaki istrinya yang menuju pintu. Wanita itu lantas menoleh ke arah suaminya, mengurungkan untuk membuka pintu.


"Ayank mau ngapain? Nggak usah ikut."

__ADS_1


"Aku akan menunggumu di ruanganmu saja." Sofyan menoleh ke arah Rizky, wajah pria itu terlihat datar. "Papa boleh 'kan masuk ke ruangan Mama Maya, Riz?"


"Boleh."


"Ya sudah, Papa dan Mama Maya keluar dulu, ya?"


"Iya."


Sofyan merangkul pundak istrinya, kemudian sama-sama keluar dari ruangan Rizky.


Ceklek~


Maya membukakan pintu ruangannya, dan Sofyan langsung masuk sambil menatap sekeliling ruangan itu. Tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman. Ada sofa panjangnya juga disana.


Lantas pria itu pun langsung duduk di sana sambil menyilang kaki.


"Tunggu sebentar ya, Ayank."


"Kamu mau ke mana?"


Langkah Maya yang hendak meninggalkan ruangannya sendiri langsung terhenti, wanita itu kemudian menoleh.


"Kan aku sudah bilang mau ke toilet."


"Dibalik pintu itu ruangan apa, May?" Jari telunjuk Sofyan ke arah pintu yang mirip dengan pintu kamar mandi. "Bukannya itu seperti pintu kamar mandi, ya?"


"Oh iya." Maya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di ruangannya memang ada kamar mandi, tetapi alasannya keluar tentu karena ingin menemui Diana seorang diri. "Tapi airnya nggak keluar, Ayank. Jadi aku ke toilet umum di kantor ini saja."


"Masa sih nggak keluar? Kamu memangnya nggak panggil tukang servise?" Sofyan bangkit dari duduknya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sofyan memutar kran air wastafel dan tak lama air itu mengalir. "Ini ada airnya kok."


Sekarang Sofyan beralih menuju selang WC, dia menekan krannya dan kembali air itu keluar.


"Kamar mandinya ada airnya kok, May. Kamu bisa ...." Sofyan sudah berjalan keluar dari kamar mandi itu, lalu menatap pintu ruangan Maya yang terbuka lebar. Tetapi wanita itu tidak ada. "Lho, kemana Maya?"


*


*


*


Maya berjalan cepat saat pintu lift yang turun ke lantai bawah terbuka, cepat-cepat dia pun menuju lobby. Dia sengaja pergi begitu saja dari suaminya supaya bisa pergi menemui Diana.


Langkah Maya langsung terhenti tepat di depan lobby. Seorang wanita seksi memakai dress mini berwarna kuning terang yang sejak tadi duduk itu lantas berdiri. Ketika melihat kehadiran Maya.


"Ibu mencari saya? Ada apa?" tanya Maya. Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, melihat situasi. "Kita keluar saja dari sini, Bu."


"Tunggu! Mau ke mana?" Diana berlari kecil menyusul Maya yang keluar dari kantor Rizky, hingga menuju parkiran. Suasana parkiran itu cukup sepi, dan menurut Maya itu akan aman.


'Semoga Pak Sofyan nggak lihat Bu Diana dan aku,' batin Maya.

__ADS_1


__ADS_2