Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
94. Mau dielus


__ADS_3

"Mas Rizky, apa nanti malam kita bisa bertemu?" tanya seorang wanita dari seberang sana.


"Lu siapa?" tanya Rizky, dia tentu tak mengenal jika wanita itu adalah Mitha, sebab nomornya tidak disimpan.


"Aku Mitha, masa Mas Rizky lupa? Oh ... nomorku belum disimpan, ya? Simpan dong, Mas," ucapnya dengan nada merayu.


"Iya, maaf gue lupa. Terus mau apa lu telepon?"


"Aku ingin mengajak Mas Rizky makan malam di restoran Papi, Papi mengundang Mas Rizky."


"Maaf ... gue nggak bisa, Mit."


Nella membulatkan matanya mendengar kata 'Mit' hanya nama sepotong tapi dia seakan tahu jika wanita itu adalah Mitha


'Mit? Amit-amit! Jadi benar itu Mitha?! Nggak ada kerjaan banget itu orang,' gerutu Nella dalam hati. Dia melihat wajah Rizky sambil cemberut, mendadak dadanya terasa begitu sesak dan panas.


"Kenapa? Aku tahu Mas Rizky sedang sedih. Tapi jangan terlalu terhanyut, Mas. Wanita di dunia ini bukan hanya Mbak Nella seorang," ujar Mitha. Dia seperti seorang paranormal yang sedang menebak apa isi didalam hati pria tampan itu. Padahal semuanya salah besar.


"Sok tahu lu, gue nggak sedih. Gue malah ...."


"Aaww! Sakit!"


Teriakan Nella membuat Rizky terperajat dan segera mematikan sambungan telepon, dia ikut menyentuh perut Nella yang sudah ada tangan Nella di atasnya.


"Lu kenapa? Apa yang sakit? Sebentar gue panggil ...." Rizky bangkit dari duduknya, dia hendak melangkah tetapi tangan Nella menarik lengannya.


"Mas Rizky nggak usah pergi!" ujarnya dengan nada tinggi.


Rizky menoleh dan menatap wajah Nella yang sama-sama menatapnya tetapi begitu serius. "Kenapa? Katanya perut lu sakit?"


"Hanya kram, tapi aku mau perutku dielus-elus sama Mas Rizky," jawabnya dengan kedua pipi yang merah merona.


Entah mengapa ucapan Nella terdengar begitu menggelitik di telinganya, hingga membuat dia terkekeh.


"Masa sih? Oh ... mau dielus-elus. Sini gue elus." Rizky mendudukkan bokongnya di atas ranjang, salah satu tangannya sudah mulai menerobos baju pasien Nella. Tetapi Nella memegangi lengannya.


"Nggak usah masuk ke dalam, Mas. Dari luar saja mengelusnya," ucapnya sambil meringis. Sebetulnya dia tidak benar-benar sakit, Nella melakukan hal itu supaya Rizky memutuskan sambungan teleponnya dengan Mitha.


"Nggak bakal berasa kalau dari luar, mending langsung ketemu kulit." Rizky menyingkirkan tangan Nella pada lengannya, lalu telapak tangannya itu perlahan meraba perut. "Nah, begini baru berasa, kan?"

__ADS_1


Nella mengangguk samar.


Bukan Rizky namanya kalau tidak berotak mesum, kini tangannya sudah naik ke atas dan menyentuh salah satu bukit kembar yang masih tertutup kain.


Nella terbelalak ketika merasakan sentuhan tangan itu, Rizky bukan hanya meraba saja dibagian situ, tetapi memerasnya.


"Mas ... apa yang Mas Rizky lakukan? Ini sudah cukup." Nella memegangi lengan Rizky dengan kedua tangannya, lalu mencoba menariknya.


Bukannya tangan Rizky berhasil keluar dari baju, malah salah satu tangan pria tampan itu ikut masuk dan menarik cup bra ke atas hingga bukit kembarnya sudah berhasil dia genggaman.


"Mas ... ini nggak boleh, ini di rumah sakit, ah!" Nella masih berusaha menarik lengan Rizky meskipun lama kelamaan dia sudah mulai terbuai. Tetapi upaya tidak berhasil, Rizky malah tersenyum dan memainkan bukit kembar itu sesuka hatinya. "Mas ... jangan lakukan ini, hentikan! Ini di rumah sakit!"


Tidak dipungkiri, ada rasa nikmat tersendiri yang Nella rasakan. Tetapi momennya begitu tidak tepat dan posisinya sekarang berada di rumah sakit.


"Memang kenapa kalau di rumah sakit? Gue 'kan cuma pegang ini doang, memang ada yang salah?" tanya Rizky sambil tersenyum. Dia perlahan membungkuk dan mendaratkan bibirnya pada bibir Nella yang sudah menganga.


Cup~


Pria tampan itu memagut bibir atas dan bawah istrinya dengan kedua tangannya yang masih sibuk memilin puncak dada istrinya. Sesekali Nella mendesah disesi ciuman mereka dan lama-lama—miliknya di bawah sana terasa lembab.


Nafs* di dadanya juga kian memuncak ketika bibir Rizky kini turun ke lehernya, dia mengecupnya dan ********** begitu kasar.


Rizky melepaskan lummatan di leher Nella dan membenarkan lagi posisi duduknya sembari menarik tangannya dari baju wanita itu.


"Maaf, gue nggak inget lu sakit," ucapnya seraya mengusap puncak kepala Nella, wajah wanita itu begitu merah. Rizky dapat mengetahui jika istrinya juga sama-sama menginginkannya. "Nanti kalau lu udah sembuh ... gue bakal bikin lu puas."


'Kenapa harus tunggu sembuh? Aku pengennya sekarang,' batin Nella seraya menelan salivanya dengan kasar. Keringat yang baru saja mengalir pada dahi suaminya seolah menguji imannya, sebab begitu menggoda dan makin membuat Rizky terlihat tampan. 'Kenapa Mas Rizky tambah tampan saja? Apa ada yang dipakai pada wajahnya?'


Rizky menuangkan air minum pada gelas lalu menenggaknya sampai habis.


"Mas ... aku ingin pulang sekarang," ucap Nella pelan.


"Memangnya sudah boleh? Katanya ...."


Ceklek~


Suara pintu terbuka membuat Rizky mengantung ucapannya, dan tak lama ada beberapa orang yang masuk.Ternyata mereka adalah Sofyan, Diana, Dirga dan Sindi.


Dirga membawa dua koper dan menaruhnya di samping sofa, sedangkan Diana membawa paper bag lalu menaruhnya di atas nakas.

__ADS_1


"Selamat anak Mami yang cantik, Mami nggak nyangka ... kamu sebentar lagi akan menjadi ibu," ucap Diana seraya mendekati Nella dan mencium rambut anak sambungnya.


Nella mengangguk dan tersenyum. Namun tiba-tiba dia merasa mual mencium aroma tubuh Diana, aroma itu begitu menyengat pada indera penciumannya. Gegas wanita itu menutup hidungnya.


"Mami ... menjauhlah, aku nggak suka minyak wangi Mami." Nella mengibaskan tangannya ke arah Diana.


"Lho memang kenapa? Minyak wangi ini sangat harum." Diana mencubit dreesnya, lalu mendekatkan pada hidungnya sendiri. Dia begitu menyukai aroma minyak wanginya sendiri.


"Mas ... bawa aku ke kamar mandi," pinta Nella dengan suara yang tertahan akibat tertutup tangan kirinya. Tangan kanannya memegang lengan Rizky.


Rizky yang melihatnya pun segera berdiri dan mengangkat tubuh istrinya, dia mengambil kantong infusan yang menyambung pada punggung tangan wanita itu lalu menaruhnya di atas perut Nella. Gegas dirinya berlari membawanya masuk ke kamar mandi.


Namun sayangnya, belum sampai wastafel—Nella sudah keburu muntah dan itu tepat pada dadanya.


Ooeekk ... ooeekk.


"Mas ... maaf ... maafkan aku, aku nggak sengaja, aku mu .... ooeekk." Kembali Nella muntah, tetapi kali ini sudah di dalam wastafel.


"Nggak apa-apa, Nell. Gue bisa mandi dan ganti baju nanti." Rizky menunduk ke arah dadanya, terasa hangat dan dia sama sekali tak merasa jijik. Muntahan itu juga mengenai baju Nella akibat tubuh mereka yang begitu dekat.


Nella menarik kran air lalu membasuh mulutnya, tetapi lagi-lagi perutnya bergejolak dan muntah untuk ketiga kalinya.


Ooeekk ... Ooeekk.


Mereka sudah hampir lima belas menit di dalam kamar mandi, sembari menunggu Nella yang sudah tak lagi mual.


"Apa masih mual?" tanya Rizky sambil melihat Nella yang tengah terdiam dengan tangan yang menyentuh perutnya sendiri.


"Aku mau mandi, aku mual sama bau muntahanku sendiri." Nella mendongak ke arah wajah suaminya.


Rizky mengangguk, dia pun menurunkan tubuh Nella ke dalam bathtub lalu membukakan baju pasiennya dengan hati-hati hingga terlepas.


"Sebentar, ya. Gue panggil Suster untuk membantu lu mandi."


Melihat Rizky yang akan pergi, Nella segera memegang tangannya. "Aku ingin Mas Rizky yang membantuku," pintanya lirih.


...Jangan lupa like dan komentar...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....

__ADS_1


__ADS_2