
"Malunya kenapa? Aku pernah melihatnya, semalam aku sudah melihatnya."
"Iya, aku tahu. Tapi jangan sekarang." Maya menggeleng.
"Nanti saja kalau sampai rumah berarti, ya? Ya sudah nggak apa-apa." Ibu jari Sofyan mengusap bibir Maya, lalu mengecupnya lagi sekilas. "Maafin aku yang nggak sabaran."
***
Di Indonesia, tepatnya di kantor Rizky, pria itu mengajak asistennya makan bersama di sebuah cafe yang berada di depan kantor.
Nella memang mengirimkan makan siang, tetapi dia sengaja ingin makan di cafe sebab ada yang ingin dibicarakan pada Hersa. Yaitu tentang apa yang Sofyan sampaikan tadi pagi.
"Sa, apa lu dan Maya pacaran?" tanya Rizky tanpa basa-basi. Seketika ekpresi wajah asistennya itu langsung terlihat binggung, keningnya juga mengerut.
"Kok Bapak tiba-tiba tanya seperti itu?" tanya Hersa binggung.
"Tinggal jawab saja susah amat," ketus Rizky sambil menarik sebelah ujung bibirnya.
Hersa menggeleng. "Nggak, saya dan Maya nggak pacaran. Kita hanya rekan kerja, Pak. Dan karyawan Bapak," jelasnya.
"Tapi kalian terlihat sangat dekat, gue juga sering lihat lu dan Maya makan siang bareng, Sa."
Ya, itu sangat benar. Keduanya sering menghabiskan makan siangnya bersama saat Rizky tak mengajak Hersa makan.
"Iya, saya dan dia dekat. Tapi hanya sebatas teman kerja saja, Pak. Nggak lebih dari itu. Maya juga anaknya pintar, asik diajak ngobrol dan ...." Ucapan Hersa mengantung, kedua pipinya tiba-tiba saja merah.
"Dan apa?" tanya Rizky penasaran.
"Cantik. Maya anak yang cantik. Dia juga pintar memasak. Dia bahkan sering memberikan saya makan siang, Pak."
"Lu suka sama Maya?"
Hersa langsung terlihat salah tingkah, dia juga senyum-senyum sendiri. "Ya, saya suka padanya. Tapi saya sendiri takut untuk menyatakan cinta. Saya takut ditolak," jawab Hersa jujur.
__ADS_1
"Mulai sekarang lu nggak boleh suka lagi dengan Maya, apa lagi coba-coba menyatakan cinta padanya!" tegas Rizky dengan wajah serius.
"Lho, memang kenapa? Jangan bilang Bapak suka sama Maya?" Hersa menatap curiga pada Rizky.
"Bukan gue yang suka. Tapi Papa Sofyan, dan lu nggak boleh dekat-dekat lagi dengan Maya!"
Hersa membulatkan matanya dengan lebar, tampaknya dia terkejut. "Suka? Sejak kapan?"
"Kemarin-kemarin, gue sudah mengenalkan Maya sama Papa. Gue mau mereka menikah dan berjodoh."
"Memangnya Maya mau? Dan apa Bapak paksa dia?"
"Iya, Maya mau. Tapi gua juga nggak paksa dia."
'Kok aku baru tahu? Kenapa Pak Rizky baru cerita padaku?' batin Hersa.
"Pokoknya lu nggak boleh terlalu dekat dengan Maya, ya. Apa lagi saat dia sudah masuk kerja lagi," pinta Rizky.
"Eh, tapi Maya 'kan belum ketemu. Pihak polisi belum memberikan kabar, Pak."
"Sudah, Maya sama Papa ada di Singapura. Mungkin Maya juga akan mulai kerja lagi hari Senin."
'Singapura? Kok aku ketinggalan berita,' batin Hersa.
***
Sepasang pengantin baru itu akhirnya tiba di rumah Sofyan sekitar pukul 9 malam. Mereka sempat mengalami kemacetan karena jalan raya cukup ramai dan bertepatan dengan malam Minggu.
Sofyan terlihat bahagia sekali, hidupnya seakan sempurna saat dirinya mengajak Maya tinggal di rumahnya. Gadis itu juga sama sekali tidak keberatan, sebab memang seharusnya seorang istri ikut bersama suaminya.
Meskipun sebenarnya berat, tetapi Maya mencoba untuk menerima keadaan.
"Pak Sofyan sudah pulang. Eh ... Bapak datang dengan siapa? Apa istri baru Bapak?" Seorang ART di rumah Sofyan tampak terkejut sekaligus heran, saat melihat bosnya itu masuk ke dalam rumah bersama seorang gadis yang memakai gaun pengantin.
__ADS_1
"Iya, Bi. Dia istri baruku. Namanya Maya." Sofyan menoleh pada Maya yang sejak tadi diam saja, lalu merangkul bahunya sebentar.
"Selamat ya, Pak. Semoga pernikahan Bapak menjadi pernikahan yang samawa dan terakhir. Bibi ikut senang mendengarnya." Bibi pembantu itu terlihat ikut bahagia seperti apa yang dirasakan Sofyan. Dia tersenyum.
"Sama-sama, Bi. Tolong siapkan makan malam, aku dan Maya belum makan."
"Iya, Pak. Bibi akan siapkan menu yang spesial." Bibi itu langsung pergi ke arah dapur.
Sedangkan Sofyan langsung mengajak Maya menaiki anak tangga hingga menuju kamarnya, yakni kamar utama di rumah itu.
"Mulai sekarang ini adalah kamar kita berdua, May," ucap Sofyan seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Lantas berjalan masuk begitu pun dengan Maya.
Manik mata gadis itu mengelilingi isi kamar Sofyan, dia tampak takjub karena begitu mewah dan sangat bagus. Tetapi anehnya tembok kamar itu terlihat begitu cerah, warnanya kuning terang.
Sebenarnya awalnya bukan warna itu, yaitu warna merah bata. Tetapi Sofyan sengaja menggantinya supaya tak mengingat Diana. Karena dulu Diana yang menginginkan warna kamar itu berubah menjadi merah, dan sebelumnya adalah warna putih.
"Cerah sekali kamar Bapak. Eh, maksudku Ayank. Apa mata Ayank nggak sakit?" tanya Maya.
Panggilan itu terdengar begitu mesra sekaligus menggelitik di telinga Sofyan. Dia sampai terkekeh mendengarnya.
"Nggak, masa sakit. Ini 'kan menggambarkan kalau hari-hariku akan cerah, apa lagi sekarang sudah sama kamu, May." Sofyan menarik lengan Maya, lalu mengajaknya duduk bersebelahan di atas kasur. "Kamu mau mandi dulu apa makan dulu?" tawarnya.
"Aku mau mandi, tapi bajuku ada di apartemen. Nanti gantinya gimana, Ayank?"
"Masalah itu gampang. Aku punya beberapa stok baju baru yang kubeli untuk anakku. Tapi belum dipakai sama dia." Sofyan berdiri lalu membuka lemari kayu berwarna hitam miliknya, ada beberapa pakaian wanita di sana. "Kamu tinggal pilih saja, semuanya sudah dicuci dan sepertinya ukurannya pas juga dikamu." Sofyan langsung memperhatikan tubuh Maya yang masih melekat gaun pengantin.
"Tapi masa aku pakai baju anak Ayank? Apa nanti dia akan marah?" tanya Maya ragu-ragu.
"Nggaklah, masa marah. Itu 'kan baju belum diberikan sama dia. Atau kamu mau pakai kemejaku saja? Seperti saat di hotel?" tawar Sofyan. Dia bahkan sudah mengambil kemeja putih yang berada di gantungan di dalam lemarinya.
"Memang nggak apa-apa? Aku nggak enak."
"Nggak enaknya kenapa, sih? Pakai saja." Sofyan langsung memberikan kemejanya dia atas pangkuan istrinya. "Besok semua pakaianmu akan diambil dan aku juga akan membelikan beberapa pakaian untukmu. Kamu jangan khawatir."
__ADS_1
"Ya sudah deh, terima kasih. Kalau begitu aku mandi dulu." Maya berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi sambil membawa kemeja dari Sofyan, tetapi pria itu justru ikut masuk ke dalam. "Kok Ayank ikut masuk? Kan aku mau mandi?"
"Mandi bareng dong." Sofyan membuka jasnya, lalu melepaskan satu persatu kancing kemeja. Dilihat wajah Maya sudah sangat merah, dia menundukkan kepalanya dan menggeleng.