Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
262. Ganti rugi


__ADS_3

"Kamu pasti ingat saat kamu menabrakku, kan? Aku datang ke sini karena ingin minta ganti rugi padamu." Diana memberikan ponselnya yang sejak tadi berada dalam genggamannya terhadap Maya. Wanita segera menerima dan memperhatikan benda pipih tersebut. "Aku ingin kamu membelikan hape yang sama dengan hape itu."


"Tapi ini hanya anti goresnya saja yang pecah, Bu." Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata memang hanya anti goresnya saja yang pecah. Tidak dengan layarnya. "Kalau nggak nanti saya ganti anti goresnya saja bagaimana?"


"Mana ada anti gores? Itu layarnya yang kena, May!" tegas Diana.


"Anti gores, Bu." Maya memperlihatkan layar itu ke depan wajah Diana, tetapi wanita di depannya itu tetap bersikukuh ingin meminta Maya membelikan ponsel baru.


"Layarnya. Sudah sih belikan saja. Lagian kamu juga yang salah."


"Kemarin Bu Diana yang nabrak saya kok. Kenapa harus saya yang ganti rugi?" Maya enggan untuk membelikan ponsel baru, sebab ponsel itu terlihat begitu mahal. Uang di rekeningnya pasti tak akan cukup dan dia tak mau memakai rekening Sofyan untuk membelikannya. Lagian, baginya yang salah adalah Diana. "Bu Diananya saja yang nggak hati-hati," imbuhnya.


"Sudah salah malah balik nyalahin!" Diana marah-marah, bahkan menodongkan jari telunjuknya ke wajah Maya. "Cepat ganti! Kalau nggak aku akan laporkan kamu ke polisi!" ancamnya.


"Siapa yang mau di laporkan ke polisi?!" Terdengar suara bariton yang begitu menggema berasal dari Sofyan. Pria itu lantas menghampiri kedua wanita yang tampak terkejut melihat kehadirannya itu.


Maya membulatkan matanya. 'Dih, kenapa Pak Sofyan ke sini?'


Namun berbeda dengan Diana, wanita itu justru mengulum senyum. Kemudian menyentuh tangan Sofyan ketika pria itu berada di dekat Maya, sayangnya langsung ditepis kasar olehnya.


"Nggak usah pegang-pegang!" tegas Sofyan, pria itu langsung merangkul pundak Maya dan sedikit menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada tubuhnya. Diana yang melihat sikap Sofyan seperti itu lantas mengerutkan keningnya.


'Ada hubungan apa mereka? Apa pacaran? Nggak salah? Kok Papi pacaran dengan sekertarisnya Rizky? Memangnya nggak ada wanita lain apa?' batin Diana dengan tatapan sinis pada Maya.


"Ada apa, May? Kamu ada masalah dengannya?" Sofyan melirik sebentar kepada Diana, kemudian beralih menatap wajah istrinya.


"Sebenarnya—"


"Ada hubungan apa Papi dengan Maya?" Diana segera menyela ucapan Maya sebab sangat penasaran dengan mereka berdua.

__ADS_1


'Bu Diana memanggil Pak Sofyan dengan sebutan Papi? Mesra sekali. Tapi mereka 'kan sudah cerai,' batin Maya.


"Bicara, May." Sofyan tak memerdulikan pertanyaan dari mantan istrinya itu, baginya tidak penting.


"Ini, sebenarnya pas kita ke hotel itu Bu Diana nggak sengaja menabra aku, Ayank. Terus hapenya jatuh ...." Maya memperhatikan ponsel Diana yang masih dia pegang. "Tapi dia minta ganti rugi padaku, padahal Bu Diana yang menabrakku duluan," jelas Maya sambil menatap Sofyan.


'Apa aku nggak salah dengar? Maya memanggil 'Ayank' kepada Papi? Jangan bilang mereka pacaran,' batin Diana.


"Oh begitu, ya sudah ... ganti saja hapenya. Kirimkan uang dari black cardku," ujar Sofyan.


Diana kembali terkejut mendengar apa yang dikatakan pria itu. Dia makin penasaran dengan hubungan diantara keduanya. "Papi dan Maya ada hubungan apa?"


"Suami istri. Beritahu nomor rekeningmu. Biar Maya kirim uang untuk membeli hape."


"Apa? Suami istri? Apa Papi berbohong?" tanyanya tak percaya. Diana berjalan perlahan menuju Sofyan, kemudian meraih lengan pria itu. "Papi bukannya nggak bisa melupakan aku? Oh ... apa Papi hanya berbohong demi membuatku cemburu?" Alis mata Diana bertaut.


"Sejak kapan aku bilang aku nggak bisa melupakanmu?!" sentak Sofyan. Bola matanya terlihat merah, dia langsung melototi Diana.


"Memang itu 'kan kenyataannya. Papi masih mencintaiku."


Sofyan membuang napasnya kasar, dadanya terasa sangat sesak lantaran emosinya yang tiba-tiba saja naik ke ubun-ubun.


Lantas dengan segera dia pun mengambil ponsel yang berada dalam genggaman Maya, lalu memberikan secara paksa kepada Diana. Selanjutnya dia menarik lengan istrinya, lalu membawanya pergi dari hadapan Diana.


Daripada menjelaskan, Sofyan lebih memilih untuk pergi. Bicara dengan wanita itu hanya membuang-buang energinya saja.


"Papi mau bawa Maya ke mana? Urusanku belum selesai!" teriak Diana. Wanita itu seperti tak ada urat malu, dia malah berlari mengejar dua orang itu.


Namun sayangnya langkah kakinya tiba-tiba saja terhenti di seberang jalan raya, dia tak jadi mengejar dua orang yang kini masuk ke dalam cafe lantaran lengannya dicekal oleh seseorang.

__ADS_1


Diana menoleh ke arah lengannya, lalu mengangkat sedikit dagunya untuk menatap siapa orang tersebut. Sontak kedua matanya melebar sempurna ketika melihat siapa orang itu, dia—dia ternyata Rizky. Teman ranjangnya dulu yang sekarang menjadi musuh bebuyutannya.


"Aaww! Sakit, Riz!" pekik Diana. Lengannya terasa sakit saat mendapatkan cengkraman kuat oleh mantan menantunya.


"Dasar Jal*ng sial*n! Nggak tahu malu! Untuk apa lu gangguin Papa mertua gue? Dia sudah bahagia!" tegasnya berteriak.


Rizky sangat tak terima dunia akhirat jika ada siapa pun yang mengusik rumah tangganya dan kehidupan Sofyan. Apa lagi sekarang papa mertuanya itu sudah menikah dan Rizky ikut andil dalam pernikahannya.


"Siapa yang menganggu Papa mertuamu? Lepaskan aku, Riz. Ini sakit!" Diana berupaya melepaskan genggaman tangan Rizky, tetapi sia-sia saja. Yang ada pria itu makin membuatnya kesakitan dengan meremmasnya lebih kuat.


"Itu tadi apa? Memang lu pikir gue buta! Sekarang gue minta lu pergi dari sini. Kalau sampai gue lihat lu coba-coba temui Papa ... gue akan seret lu ke penjara!" ancamnya. Rizky melepaskan tangan Diana, kemudian menunjuk jalan raya seolah meminta wanita itu pergi dari hadapannya.


"Aku nggak berbohong, Riz. Aku ke sini juga nggak ada keniatan ingin bertemu Papa mertuamu. Tapi aku mau meminta ganti rugi sama Maya karena telah merusak hapeku." Diana memperhatikan ponselnya ke depan wajah pria tampan itu. Tetapi bukannya memperhatikan, Rizky justru merampasnya dan langsung dia banting ke jalan raya hingga benda pipih itu hancur berkeping-keping.


"Astaga, apa yang kamu lakukan, Riz?" Diana menjerit dengan wajah terkejut. Lantas menatap wajah Rizky penuh amarah. "Hapeku sudah rusak, kenapa kamu banting?"


"Ya karena sudah rusak jadi gue banting!"


"Kamu harus menggantinya, Riz! Aku nggak mau tahu."


"Iya, bawel amat." Rizky mendengus kesal, dia pun mengambil ponselnya di dalam saku jas. Kemudian mengetik layarnya untuk menghubungi Aji, dan benda pipih itu dia tempelkan di pipi kanan.


Baru saja panggilan itu terhubung, tetapi langsung diangkat oleh seberang sana.


"Halo, Riz."


"Pak Aji, tolong minta istrimu untuk berhenti menganggu Papa mertuaku! Dia sudah bahagia dengan istri barunya!" tegas Rizky.


"Dia bukan istriku lagi." Suara Aji terdengar pelan namun ketus.

__ADS_1


__ADS_2