Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
105. Kabar buruk


__ADS_3

Area dewasa 21+!!


Melihat Rizky dan Nella masih berciuman, lantas Gita menarik lengan Mitha dan Hersa. Membawa mereka sampai keluar dari rumah Rizky.


"Kalian pulang saja, semua urusannya sudah beres."


Setelah mengatakan hal itu, Gita menutup pintu dan berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri anak dan menantunya. Tetapi dua insan itu sudah tak ada di sana. "Di mana si Nella dan Rizky? Kok hilang?"


Mereka jelas tidak ada, sebab Rizky sudah membawa Nella masuk ke kamarnya untuk melakukan ronde kedua. Ralat, ronde ketiga.


"Mas ...," desah Nella yang tengah berada di bawah kungkungan Rizky. Rizky sudah mengguncang tubuhnya dengan keras.


"Gue suka suara seksi lu, teruslah mendessah," ucap Rizky sembari memegang kedua paha istrinya. "Ini nikmat."


"Mas ...." Nella memejamkan matanya saat tiba-tiba sengatan listrik kenikmatan itu menyerang pada inti tubuhnya, dia berhasil mencapai pelepasan dan melenguh dengan kuat. "Eeugh ...."


"Kita baru mulai lagi, kok cepat banget keluarnya?" tanya Rizky. Lantas dia membalik tubuh Nella untuk menungg*ng, kemudian menusuknya dari belakang.


"Aaww!" Nella meringis kesakitan, dia merasakan perih yang menjalar pada inti tubuhnya itu.


"Apanya yang sakit?" Rizky menghentikan permainannya sebentar dan membungkuk untuk mendekap tubuh istrinya dari belakang.


"Milikku, Mas ... perih," jawabnya sambil meringis.


"Tahan sebentar lagi, ya? Gue belum keluar. Apa lu mau ganti gaya?" tawar Rizky.


"Nggak usah, begini saja. Ya sudah ... lanjutkan saja, Mas." Nella pasrah. Sejujurnya dia memang sudah merasa perih dan tak bertenaga, tetapi untuk mengakhiri rasanya masih kurang jika Rizky belum berhasil menyirami rahimnya.


"Tahan, ya. Kasihan burung gue, nanti dia sakit kepala kalau nggak muntah di dalem," ucapnya dengan nada merayu.


"Iya." Nella menutup wajahnya dengan bantal sembari menahan rasa perih yang sudah bercampur enak, kedua tangannya meremmas bantal itu saat Rizky kembali melancarkan aksinya sampai ke garis finish.


"Aahh ... selesai juga akhirnya," desah Rizky sembari tersenyum puas. Dia telah berhasil menyemburkan larva dan membuat istrinya terkulai lemas tak berdaya. "Terima kasih untuk ronde keduanya, Nell. Ini sangat nikmat. Gue sangat sangat mencintai lu."


***


Keesokan harinya.


"Selamat pagi Rizky, Nella," sapa Guntur yang baru saja datang dan menghampiri mereka berdua di ruang makan, lalu dirinya duduk di samping menantunya.

__ADS_1


"Pagi juga, Pa," sapa Nella.


"Pagi, Pa. Papa tumben pagi-pagi ke sini? Mau berangkat ke kantor bareng denganku? Kita nggak ada meeting, kan?" Rizky tengah mengunyah nasi goreng buatan istrinya dengan lahap.


"Nggak." Guntur menggeleng pelan. "Papa mau mengajak Nella ke rumah, Mama meminta Papa untuk mengantarnya."


"Kenapa Mama nggak telepon aku? Nanti aku 'kan bisa antar Nella sebelum berangkat ke kantor, Pa. Papa nggak perlu capek-capek mengantarnya."


"Nggak apa-apa, Riz. Lagian ... Papa juga mau sekalian sarapan bareng dengan kalian." Guntur menatap mata Nella dan membuat wanita itu mengangguk pelan.


Sebelum mereka bertemu, Guntur sudah menghubungi menantunya jika hari ini dia akan mengajaknya untuk menemui Ihsan, tetapi Guntur juga meminta—supaya Nella tak cerita pada siapapun termasuk pada Rizky.


Biar tunggu beneran putus saja dulu, baru cerita pada semua orang.


Nella berdiri lalu mengambil piring yang berada di dekat Guntur, niatnya ingin mengambil nasi goreng untuknya. Namun, Guntur menolaknya dan segera mengambil piring itu dari tangannya.


"Nggak usah, Papa bisa sendiri. Kamu lanjutkan saja makannya yang kenyang," ucapnya seraya tersenyum.


Nella mengangguk dan duduk lagi pada kursinya.


"Oya Nell, kalau lu mau ke rumah Mama ... berarti lu nggak ke restoran dong."


"Kenapa kamu nggak berhenti saja?" usul Guntur ikut nimbrung. "Kamu sekarang sedang hamil, nanti capek kalau terus menerus kerja. Dan kamu juga nggak bakal kekurangan uang, meskipun nggak kerja, kan?" imbuhnya dengan suara datar.


"Itu memang benar, Pa. Tapi menjadi manager restoran adalah keinginanku dari dulu. Aku juga bukan hanya menganggapnya pekerjaan, tapi hobi. Aku suka kalau mencicipi makanan bahkan juga ikut memasak bersama chef di sana," terang Nella. Dia tak mau kalau sampai Guntur memintanya untuk berhenti kerja.


Sebetulnya Guntur tak melarangnya, dia juga tidak berhak. Dia hanya memberi saran untuk kebaikannya dimasa kehamilan, tetapi terkadang Nella sering menyalah artikan ucapan seseorang.


"Kalau lu masih mau kerja ya nggak apa-apa." Rizky sangat memaklumi, dia memang tipe suami yang begitu pengertian. "Tapi kalau lu merasa capek dan malas, jangan dipaksa. Istirahat di rumah." Rizky tersenyum sembari mengelus perut Nella.


Pemandangan itu terlihat begitu harmonis, hingga membuat hati Guntur menjadi hangat.


"Ya sudah, gue ...."


"Riz," sela Guntur.


"Ya." Rizky pun menoleh ke arah Guntur.


"Jangan biasakan terus memanggil Nella dengan sebutan seperti pada teman-temanmu, coba bedakan," tegur Guntur.

__ADS_1


"Bedakan? Maksudnya?" Rizky mengerutkan kening. Dia terlihat binggung dan tak paham.


"Jangan terus panggil lu gue, itu maksud Papa. Dia 'kan istrimu."


"Oh, iya iya. Aku kamu begitu ya, Pa."


Guntur mengangguk.


"Iya, nanti aku akan mencobanya. Ya sudah ... aku berangkat ke kantor dulu, Papa hati-hati saat mengantar Nella nanti, ya?"


"Iya, kamu tenang saja."


Rizky bangkit lalu berdiri, dia pun menghampiri Nella untuk mengecup keningnya. Setelah itu menghampiri Guntur untuk mencium punggung tangannya, lantas pamit pergi.


'Hari ini adalah hari dimana aku harus melepaskan Kak Ihsan, melepaskan semua rasa cintaku padanya selama satu tahun. Semoga keputusanku kali ini benar dan semoga aku bisa ikhlas untuk menjalani,' batin Nella bertegun dalam hati.


***


Sementara itu di tempat berbeda.


Ihsan sudah beberapa hari ini merasa tak ada lagi semangat hidup. Nafs* makannya berkurang dan tidurnya pun selalu tak nyenyak bahkan gelisah.


Itu disebabkan sudah beberapa hari Nella tak menjawab telepon darinya dan membalas pesan yang mungkin sudah puluhan yang dia kirim.


Ihsan sering mendatangi restoran tantenya Nella, tetapi pujaan hatinya itu selalu tak masuk kerja. Pernah dia ingin pergi ke rumah Angga, untuk sekedar bertamu. Tetapi gara-gara kehadiran Rizky di rumah itu, Ihsan jadi mengurungkan niatnya.


Dia yakin—Angga tidak akan menolak saat dirinya datang, hanya saja Ihsan tak mau mengulang kejadian disaat dia dan suaminya Nella bertemu. Sudah pasti mereka bukan hanya adu mulut, tetapi adu kekuatan. Dan rasanya itu tidaklah bagus. Tetap Ihsan lah yang bersalah, sebab bisa dikatakan dia menjadi orang ketiga di rumah tangga Rizky. Meskipun Rizky lah yang lebih dulu merebut Nella darinya, tentu dengan bantuan Sofyan yang saat itu berkuasa.


"Ihsan, kok kamu melamun terus dari tadi?" tegur Irwan seraya menepuk pundak pria bule itu, yang mana membuatnya terkesiap dan menoleh.


Pria berbadan kekar itu sedang mengganti oli mobil milik salah satu langganannya, tetapi Irwan perhatikan—keponakannya itu malah terdiam dengan pandangan kosong.


"Ah iya, maaf Om." Ihsan tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Ihsan, ada berita buruk tentang hubunganmu dengan Nella," ungkap Irwan dengan wajah serius. Seketika itu pun—Ihsan terbelalak dan kembali menoleh ke arahnya.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....

__ADS_1


...1093...


__ADS_2