Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
138. Ngapain menginap?


__ADS_3

'Duh, pakai acara keceplosan lagi,' batin Rizky.


Rizky segera menggelengkan kepala. "Gue nggak mau berak, hanya kencing. Tadi gue salah bicara, lu nggak perlu mual," terang Rizky dengan keringat yang mengalir membasahi dahinya.


"Ya sudah sana cepat numpang ke kamar mandi, nanti Mas Rizky ngompol seperti kemarin." Nella memalingkan wajahnya sembari mengibaskan tangannya, seolah mengusir Rizky untuk cepat-cepat pergi dari hadapannya.


Rizky langsung berlari tergesa-gesa untuk menaiki anak tangga dan setelah sampai di lantai atas, dia bertemu dengan Wulan yang baru saja keluar kamar.


"Eh, kok Pak Rizky ada di sini?" tanya Wulan dengan wajah binggung.


"Gue numpang ke kamar mandi, ya! Gue nggak tahan!" Akibat sudah tak tahan dan takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, Rizky langsung berlari meninggalkan Wulan sebelum mendapatkan jawaban. Dia pun masuk ke dalam kamar tamu yang berada di samping kamar Wulan.


'Pak Rizky aneh sekali, apa dia sedang kebelet?' batin Wulan seraya geleng-geleng kepala, lalu berjalan turun dari anak tangga.


"Mbak Nella, kok Mbak ada di sini?" Wulan merasa kaget bercampur binggung, tadi sudah binggung lantaran ketemu Rizky, sekarang binggung bertemu Nella di rumahnya.


"Ah iya, Wulan. Aku dan Mas Rizky sedang makan bakso Ayahmu," jawab Nella saat melihat Wulan berjalan menghampirinya.


"Oh, Mbak kok sampai repot-repot ke sini? Padahal bisa bilang saja ke aku kalau ingin pesan baksonya Ayah." Wulan mendudukkan bokongnya di sofa single.


"Nggak apa-apa, lagian ... aku ke sini mau melihat kedua anakmu juga. Ke mana mereka? Kok nggak kamu ajak?"


"Mereka lagi tidur, Mbak."


"Oh, belum bangun? Lama juga, ya. Aku sudah ada setengah jam di sini dengan Mas Rizky." Sembari menunggu Rizky kembali dari kamar mandi, Nella meneruskan makannya hanya saja dengan porsi sedikit supaya tidak cepat kenyang.


"Mereka memang kalau tidur lama, dan itu juga pengaruh semalam mereka nggak bisa tidur, Mbak. Jadi tadi baru saja aku kelonin," terang Wulan.


"Kok nggak bisa tidur, kenapa?"


"Biasa Mbak, namanya juga bayi. Sudah begitu Mas Rio juga mengajaknya terus bercanda semalaman."


"Berapa usianya sekarang. Eh, si kembar jenis kelaminnya apa? Aku nggak tahu."


"3 bulan, mereka laki-laki, Mbak."


"Apa lu makannya sudah selesai?" tanya Rizky yang baru saja datang menghampiri mereka berdua, terlihat wajahnya kini lebih fresh sebab tadi sempat mencuci muka.


"Belum, aku tunggu Mas Rizky. Ayok lanjutkan lagi," jawab Nella.


Rizky pun mendudukkan bokongnya, lalu melanjutkan makan. Kali ini dia siap menampung makanan sebab tadi separuhnya sudah dikeluarkan dengan selamat di kloset.


"Oh iya, aku belum sempat menawarimu bakso Wulan," ucap Nella seraya melahap satu baso ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Mbak. Ya sudah ... kalian lanjutkan makannya saja, aku mau pergi ke dapur." Wulan bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju dapur meninggalkan Nella dan Rizky.


"Mas ... aku nggak mau pulang sebelum melihat si kembar," ucap Nella setengah merengek pada Rizky. Dia takut suaminya itu mengajaknya cepat-cepat pulang.


"Memang lu nggak bisa melihatnya? Nggak dibolehkan sama Wulan?" tebak Rizky.


"Mereka sedang tidur, Mas."


"Memang kalau tidur kenapa? Kan lu hanya melihatnya bukan menganggu mereka tidur."


"Tapi aku nggak enak sama Wulan, aku takut dia nggak memperbolehkan aku."


"Masa nggak boleh, nanti gue yang bicara sama dia."


Setelah selesai makan bakso dan membayarnya, Rizky meminta pada Wulan untuk mengizinkan Nella melihat anak kembarnya. Tentunya Wulan juga tak merasa keberatan, sebab hanya melihat bukan ingin diganggu atau dibawa pergi.


"Mas juga ikut melihatnya," pinta Nella pada Rizky.


"Lu saja yang melihat, mereka 'kan ada di kamar. Gue nggak enak masuk ke kamarnya Rio," tolak Rizky dengan halus.


"Nggak apa-apa, Pak Rizky boleh ikut kok. Ayok kita ke kamar," ucap Wulan.


Mendengar persetujuan dari Wulan, tentu membuat hati Nella berbunga-bunga. Lantas dirinya mengandeng tangan Rizky, mengajaknya untuk berjalan menaiki anak tangga bersamanya dan masuk ke dalam kamar.


"Sudah seperti macan tutul saja mereka, Nell," ucap Rizky pelan sambil terkekeh ke telinga istrinya.


"Hush! Mereka lucu, Mas," bantah Nella sembari mengulum senyum, tangannya terulur hendak menyentuh pipi kanan salah satu di antara mereka, tetapi rasanya ragu. "Apa aku boleh menyentuh pipinya?" Nella menoleh pada Wulan dan langsung dianggukan olehnya.


Mendengar persetujuan itu, Nella segera menyentuh pipi mereka bergantian dan merasakan kulitnya yang begitu lembut.


"Namanya siapa, Lan?" tanya Nella.


"Raka Naufal Pratama dan Rafa Naufal Pratama, Mbak."


"Namanya bagus, siapa yang memberikan namanya?" tanyanya lagi dengan pandangan yang masih fokus menatap bayi tampan di depannya.


"Mas Rio dan Ayah."


Setelah selesai mengusap kedua pipi bayi tersebut, kini tangan Nella mengusap perutnya sendiri.


'Semoga kamu ada dua dan lucu seperti mereka,' batin Nella.


"Mbak Nella sedang hamil?" tanya Wulan.

__ADS_1


Nella tersenyum dan mengangguk semangat. "Iya."


"Berapa bulan, Mbak?" Wulan ikut menyentuh perut Nella sebentar.


"Mungkin sekarang sudah jalan 4 Minggu."


"Oh, masih kecil, ya. Semoga dia sehat di dalam sana."


"Amin," jawab Rizky dan Nella secara bersamaan.


"Apa dan Mas Rizky boleh menginap di sini?" tanya Nella tiba-tiba saat mereka telah berjalan keluar dari kamar itu.


"Ngapain menginap?" tanya Rizky heran.


"Aku masih mau melihat mereka, Mas. Aku mau lihat mereka saat sudah bangun," jawab Nella dengan suara merengek.


"Tapi nggak usah menginap juga, kita harus pulang. Gue juga harus periksa laporan di laptop gue, Nell."


"Bawa saja laptop Mas Rizky ke sini. Aku mau menginap semalam saja di sini," pintu Nella, lalu dia menoleh ke arah Wulan. "Bolehkan aku dan Mas Rizky menginap malam ini?"


Wulan mengangguk. "Boleh, Mbak. Tapi aku izin ke Mas Rio dulu, ya?"


"Ya sudah, telepon dia sekarang dan bilang padanya."


"Iya." Setelah itu Wulan masuk lagi ke dalam kamar untuk menelepon Rio, sebab ponselnya ada di kamar.


"Nella, kita nggak usah menginap deh, ya. Pulang saja. Kan lu sudah bertemu dengan si kembar tadi." Rizky mendengus kesal, dia merasa kesal lantaran sudah tak betah ingin cepat-cepat pulang.


"Semalam saja, Mas. Kita menginap." Nella langsung memeluk tubuh Rizky dan mencium dada bidangnya, berupaya untuk merayu.


"Tapi nggak enak sama Wulan dan Rio. Kita dari tadi sudah lama berada di sini, mungkin saja mereka risih."


"Mereka siapa, sih?" Nella mendengus kesal. "Rionya 'kan nggak ada. Wulan juga bilang boleh kok. Aku juga mengenal Wulan dan Rio, Mas. Mereka nggak mungkin risih sama kehadiran kita."


"Kata siapa? Siapa tahu saja iya."


"Nggak ah, pokoknya aku tetap mau menginap malam ini, kalau Mas Rizky nggak mau ... aku bisa menginap sendirian." Nella melepaskan pelukannya lalu memalingkan wajahnya sambil merenggut.


Rizky menghela nafasnya dengan berat, sembari mengusap dada menahan diri supaya tidak emosi dan bersikap sabar. Pria tampan itu tentu ingat ucapan dari Gita yang memintanya untuk menuruti semua ucapan Nella tanpa terkecuali. Tetapi tiba-tiba saja ide mesum Rizky terlintas dalam otaknya. Dia pun tersenyum menyeringai seraya berkata, "Iya, kita menginap. Tapi ada syaratnya."


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...

__ADS_1


...1156...


__ADS_2