Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
277. Mas yang salah


__ADS_3

Mata Rizky seketika melolot kala melihat garis dua tertera di sana. Meskipun masih sangat samar, tetapi dia dapat jelas melihatnya.


"Garisnya berapa, Mas?" Nella langsung mengambil tespek itu dari tangan Rizky. Matanya ikut membulat kala melihat hasilnya yang positif, dia begitu terkejut dan tak percaya. "Aku hamil lagi, Mas? Kok bisa, sih?"


Nella menatap nanar Rizky, pria itu geleng-geleng kepala lalu menyentuh perut rata istrinya.


"Mas kemarin-kemarin dikeluarin diluar apa nggak, sih? Kok bisa jadi?" tanya Nella kesal.


"Iya, diluar kok. Kamu 'kan juga tahu."


"Terus ini apa?" Nella memamerkan benda itu ke depan wajah Rizky dengan penuh kekesalan. "Aku hamil, Mas! Kasihan Jihan ... dia masih bayi. Masa punya adik?"


Rizky langsung memeluk tubuh Nella, lalu menciumi rambutnya. Dia mencoba menenangkan kemarahan di dada istrinya. Dia mengerti, sangat mengerti alasan terkuat wanita itu marah. "Kamu jangan begitu, Nell. Anak adalah rezeki. Harusnya kita syukuri dan bahagia saat mendapatkannya. Banyak lho diluar sana yang kepengen punya anak tapi susah."


Sebuah kata-kata mutiara yang sempat dibaca Rizky lewat internet kini terlontar begitu manis di bibirnya. Dia pun mengusap punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang.


"Bukannya aku nggak bersyukur, aku juga bahagia. Tapi tadinya aku ingin Jihan besar dulu, Mas. Minimal tiga atau empat tahun." Nella menitihkan air mata, dia binggung harus senang atau sedih.


"Sekarang umur Jihan berapa?"


"Tiga bulan."


"Ya sudah Nell, mau bagaimana lagi? Ini 'kan sudah terjadi. Yang penting kamu, Jihan dan adiknya sehat." Rizky meraba perut Nella.


Nella melepaskan pelukan itu kemudian menyeka air matanya. "Tapi aku masih binggung deh, kan kata Mas kalau dikeluarin diluar nggak akan hamil? Kok bisa hamil?"


"Aku juga nggak tahu." Rizky menggeleng binggung.


Setelah itu mereka pun keluar, dan dokter itu menyarankan untuk Nella periksa lagi ke dokter kandungan supaya lebih akurat.


Saat periksa di dokter kandungan pun dia mengatakan Nella memang sedang hamil, usianya sudah memasuki tiga Minggu.


"Maaf, Dok. Mungkin pertanyaannya sedikit sensitif. Tapi aku sangat penasaran," ujar Nella malu-malu sembari menatap dokter wanita yang duduk di depan.


"Bicara saja Nona." Dokter itu tersenyum.


"Aku dan suami 'kan berhubungan badan, tapi dikeluarkan diluar pas pelepasan. Tapi kok kenapa bisa hamil ya, Dok?" Nella masih penasaran kalau belum menemukan jawaban itu.

__ADS_1


"Dikeluarkan diluar tapi nggak pakai pengaman?" Dokter itu memperjelas pertanyaan Nella.


Nella mengangguk. "Iya. Milik suamiku dikeluarkan diluar."


"Kalau Nona mengira dengan dikeluarkan diluar saat ej*kulasi itu nggak akan membuat hamil ... itu salah besar."


Nella langsung melototi Rizky yang berada disebelahnya, dia juga mencubit kecil perutnya dengan gemas hingga membuat Rizky merintih kesakitan.


"Aaww! Sakit, Nell. Sakit!" Rizky menarik lengan Nella dengan cepat supaya menghentikan rasa sakit di perutnya.


"Mas nggak denger tadi? Katanya meskipun dikeluarin diluar aku bisa hamil! Mas nyebelin banget! Mas bohongin aku!" geram Nella sambil menampar kasar paha kiri Rizky.


Rizky kembali meringis kesakitan lalu mengusap paha dan perutnya sendiri. Terasa panas sekali bekas tangan Nella tadi. "Aku nggak bermaksud bohong kok, tapi aku tahu itu juga kata orang, Nell."


"Orang siapa?"


"Reymond, dia yang memberitahuku." Rizky hanya mengasal, aslinya dia tahu itu semua karena mengarang saja. Asal bicara supaya Nella mau diajak bercinta. Dia sengaja berbohong supaya Nella tak marah lagi.


"Masnya kenapa percaya? Harusnya konsultasi dulu ke dokter. Itu baru benar!"


"Ya sudah sih, Nell. Kok marah-marah mulu." Rizky perlahan menyentuh tangan kanan Nella dengan wajah sedih. "Aku minta maaf, Nell. Tapi ini 'kan sudah terjadi."


"Bukan seperti itu, Dok. Tapi aku ingin menundanya dulu."


"Kalau ingin menunda lebih baik KB yang lain. Kalau harus dari suami ... minimal pakai kond*m. Memang banyak orang yang mengira kalau keluar diluar nggak akan membuat hamil. Tapi itu salah Nona. Kemungkinan kehamilan dapat diakibatkan karena saat sebelum ej*kulasi, sel sp*rma mungkin sudah keluar dalam v*gina meskipun sedikit," jelas Dokter itu panjang lebar.


"Mas ngerti nggak apa yang dikatakan Dokter?" tanya Nella sekali lagi pada Rizky, terlihat kening pria itu mengerut, dia seperti tak mengerti dengan apa yang Dokter itu sampaikan.


"Ngerti kok. Iya, aku yang salah disini, Nell," sesal Rizky dengan wajah bersalah. 'Padahal kalau bercinta sama-sama enak, tapi lagi-lagi gue yang kena,' batinnya.


Nella menghela napasnya kasar, lalu mengelus dada. Dia mencoba untuk menerima keadaan dan mengingat ucapan Rizky tadi, kalau anak adalah rezeki, tak baik menolak rezeki.


"Eemm, Dok. Apa wanita hamil masih boleh menyusui?" tanya Nella.


"Menyusui bayi atau bapaknya?" Dokter itu menatap Rizky sambil terkekeh. Entah mengapa wajah pria itu terlihat begitu kasihan, di mengerucutkan bibirnya.


"Bayi lah, Dok. Soalnya anakku masih kecil dan masih nyusu."

__ADS_1


"Berapa bulan anak Nona?"


"Tiga bulan."


"Oh pantas, ternyata anak kalian memang masih kecil sekali. Bapaknya nggak sabar sekali sepertinya." Dokternya itu terkekeh lagi. "Emm ... sebenarnya menyusui saat hamil masih diperbolehkan, tapi memang akan lebih baik disapih saja. Apa dia pernah Nona berikan susu formula?"


"Sudah, tapi dia nggak mau, Dok."


"Coba cari susu formula yang lain, Nona. Setiap merek terkadang rasanya berbeda di lidah bayi," saran dokter itu.


"Iya, Dok."


"Nona jaga kesehatan, jangan capek-capek. Apa lagi Nona hamil setelah melahirkan tiga bulan yang lalu, rasanya sangat rawan untuk kondisi diri Anda dan bayi. Sering makan buah dan sayur, ya. Nanti saya berikan vitamin." Dokter itu memberikan resep obat ke tangan Nella.


"Iya, Dok." Nella mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia dan Rizky berdiri dari kursi. "Kalau begitu kami permisi. Terima kasih."


"Sama-sama."


***


"Nella, untuk sementara waktu tolong rahasiakan kehamilan kamu dulu, ya? Apa lagi ke orang tuaku dan Papa Sofyan," pinta Rizky. Dia tengah merangkul pinggang istrinya, keduanya berjalan bersama di lobby rumah sakit.


"Memangnya kenapa? Katanya tadi Mas bilang hamil adalah rezeki. Kenapa pakai rahasia-rahasiaan?" Nella menatap Rizky dengan wajah kesal. Tadi dia sudah mencoba menghilangkan rasa jengkel di dada, tetapi sekarang permintaan suaminya membuatnya emosi lagi.


"Bukan begitu, Nell. Tapi hanya untuk sementara waktu saja. Aku takut dimarahi."


"Dimarahi siapa?"


"Ya sama mereka. Pasti mereka akan menyalahkan aku."


"Memang Mas yang salah kok."


"Jangan begitu lah, Nell. Cukup kamu saja tadi yang marah, jangan mereka. Nanti badanku sakit."


Rizky langsung membayangkan ketika ditoyor kepalanya oleh Sofyan, dipelintir telinganya oleh Gita. Tetapi tidak dengan Guntur, sebab dia belum pernah main tangan.


Hanya saja cukup dari tatapan mata yang begitu tajam—itu sudah seperti membunuhnya untuk sesaat.

__ADS_1



__ADS_2