Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
95. Mas Rizky harus bersamaku


__ADS_3

Deg!


Permintaan Nella sontak membuat jantung Rizky berdebar kencang dengan kedua pipi yang merah padam.


'Manis banget sih lu, Nell.'


"Suster saja, ya? Nanti gue panggilkan sebentar ...." Rizky mencoba melepaskan tangan Nella pada lututnya, tetapi wanita itu malah memeluknya dan begitu erat.


"Mas nggak mau membantuku?" tanya Nella, namun kali ini suaranya terdengar begitu manja.


"Gue mau, malah mau banget. Tapi nantinya gue nggak bakal sekedar bantu lu mandi ... ada yang lain, lu pasti mengerti maksud gue." Rizky mengusap rambut Nella dan melihat wajah cantik itu tengah mendongak ke arahnya.


"Aku mengerti, tapi nggak apa-apa. Aku bersedia."


Mata Rizky seketika berbinar, tubuhnya beringsut hingga berjongkok lalu mengecup pipi kiri wanita itu.


"Benar? Nanti lu lemas bagaimana?"


"Aku ...." Nella mengantung ucapannya dengan wajah yang sudah memerah, dia sungguh merasa malu dengan apa yang dikatakannya barusan.


'Sial! Memalukan sekali! Apa yang aku katakan barusan?' batin Nella. Dia pun menurunkan pandangan, tak berani menatap mata Rizky.


Rizky terkekeh melihat tingkah lucu istrinya, kembali dia mengelus puncak kepalanya. "Sabar ya ... nanti saja kalau lu sudah sembuh, gue nggak mau buat lu tambah sakit."


Wajah Nella langsung berubah menjadi cemberut, hatinya terasa sakit mendengar Rizky yang seolah menolaknya dengan cara halus. Tetapi memang apa yang dikatakan Rizky ada benarnya, hanya saja Nella menyalah artikan.


'Siapa yang sakit? Aku sudah sembuh,' batin Nella.


Pria tampan itu melepaskan pelukan Nella, lalu dirinya melepas jas dan kemeja. Nella yang melihatnya pun langsung bahagia—dia mengira kalau Rizky bersedia membantunya. Namun pria tampan itu hanya melepaskan kemeja putihnya, lalu memakai kembali jasnya sebab hanya kemeja yang terkena muntahan istrinya.


"Sebentar ya ... gue panggil Suster dulu."


"Tapi Mas Rizky nggak akan ke mana-mana selama aku mandi, kan?" tanya Nella disaat Rizky berjalan beberapa langkah dan membuatnya menoleh ke arahnya. "Apa Mas Rizky mau menemui Mitha?"


Rizky mengerutkan kening. Sedari pagi, Nella hampir terus mengatakan nama itu dengan ekspresi tak suka dan itu membuat Rizky kembali binggung.


'Kenapa Nella seperti nggak suka sama Mitha? Kan gue sama dia juga nggak ada apa-apa,' batin Rizky.


"Mas ... kok diem?" Sorotan mata Nella menatap pria yang tengah berdiri mematung itu dengan penuh kecurigaan. "Apa yang Mas pikirkan?"


Rizky menggeleng cepat. "Nggak ada, gue panggil Suster dulu. Gue akan tunggu lu di pintu kamar mandi." Setelah mengatakan hal itu, Rizky keluar dari pintu kamar mandi.


Nella menyandarkan punggungnya pada tembok sembari menunggu Suster datang. Mendadak pikirannya kembali tak tenang memikirkan Rizky dan Mitha.

__ADS_1


'Kira-kira ... yang tadi mereka bahas di telepon itu apa, ya? Apa nanti malam Mas Rizky akan menemuinya?' Nella menggeleng cepat. 'Nggak boleh! Mas Rizky harus bersamaku, nggak boleh sama Mitha!'


*


Setelah memanggil Suster untuk membantu Nella mandi, Rizky berdiri stand bye di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat sembari mendengar suara gemericik air.


"Riz, apa kamu sudah makan malam?" tanya Sofyan seraya menghampiri menantunya.


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, sampai sudah menunjukkan pukul 7 malam.


"Belum, Pa."


"Makan malam bareng, yuk? Papa, Mami sama Dirga ... kita ke restoran di depan sini. Biar Nella sama Oma, soalnya Oma sudah makan."


Rizky menggeleng cepat. "Aku makannya bareng sama Nella saja, Pa. Setelah dia selesai mandi. Aku juga belum mandi," ujarnya sambil nyengir.


"Oh, ya sudah ... Papa pergi dulu. Nanti sampaikan sama Nella kalau dia tanya, ya?"


"Iya," jawab Rizky mengangguk.


Setelah kepergian Sofyan, Diana dan Dirga dari kamar inap itu, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Ceklek~


"Iya, Sus. Terima kasih."


"Sama-sama."


Rizky membuka pintu kamar mandi itu dengan lebar, lalu berjalan menghampiri Nella yang tengah duduk di kloset yang tertutup. Wanita cantik itu sedari tadi terus menatapnya.


"Sudah?" tanya Rizky sambil mengecup sekilas bibirnya.


Nella mengangguk sambil tersenyum malu-malu, dia merasa jantungnya kini berdebar kencang.


Segera pria itu mengendong istrinya dan membawanya kembali ke atas kasur dengan pelan-pelan membaringkannya.


"Mas ... aku lapar," ucap Nella sembari mengelus perutnya.


"Tadi Suster datang sekalian membawa makan malam untukmu," ucap Sindi. Dia yang sedari tadi duduk di sofa langsung berdiri lalu menghampiri cucunya sembari mendorong meja troli. "Oma suapi, ya?"


"Aku nggak mau makan bubur, Oma. Bosen," tolak Nella seraya menggelengkan kepala.


"Ini 'kan bukan bubur, tapi nasi dan sayur." Sindi ngambil sepiring nasi di atas meja troli tersebut, Nella bahkan belum melihatnya tetapi malah mengira itu bubur. "Sayurnya sup ayam, ini Oma yang pesan sengaja supaya kamu nggak bosan."

__ADS_1


Nella memperlihatkan makanan itu, sepertinya menu makan malam itu baru saja matang sebab masih banyak keluar uap. Tetapi sayangnya lidahnya tidak merasa tergiur sama sekali.


"Aku nggak mau makan itu, Oma. Sepertinya nggak enak." Nella menggeleng pelan.


"Lu mau apa? Nanti gue beliin," tawar Rizky.


"Aku mau sate kambing, Mas."


"Ya sudah ... nanti gue beli, tapi gue mandi dulu sebentar, ya?"


"Nggak!" tolak Nella seraya menggeleng cepat, dia seakan tak mau jika suaminya itu pergi meninggalkannya walau hanya sebentar. "Biar Papa saja yang membelikannya, di mana Papa?"


"Papa sedang makan di restoran sama Mami dan Dirga. Gue aja yang beli, gue juga pengen. Nanti beli dua porsi."


Belum mendapatkan jawaban yang berupa bantahan dari Nella, Rizky sudah keburu masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti.


"Oma, coba telepon Papa. Bilang aku meminta sate kambing dua porsi," titahnya pada Sindi ketika wanita tua itu tengah menarik kursi kecil lalu duduk di dekatnya.


"Bukannya tadi Rizky bilang dia saja yang mau beli?" Sindi mengerutkan kening.


Nella menggeleng cepat. "Nggak, Mas Rizky nggak boleh pergi, Oma. Bahaya."


"Bahayanya kenapa?"


"Nanti dia bisa bertemu Mitha."


"Mitha? Siapa Mitha?"


"Wanita gatal, dia selalu menghubungi Mas Rizky, aku benci padanya," jawab Nella sembari meremas ujung bajunya sendiri.


"Kamu cemburu?" tanya Sindi dengan wajah heran. Rasanya ada yang aneh pada sikap cucunya yang tidak seperti bisanya. Sindi tentunya tahu bagaimana perlakuan Nella terhadap Rizky selama ini, dia bahkan merasa tak peduli pada suaminya sendiri.


"Cemburu? Siapa yang cemburu? Nggak, kok," kilahnya sambil menggeleng cepat.


Sindi memperhatikan wajah Nella yang seketika memerah seperti malu-malu, itu membuatnya makin curiga.


"Nell ... Oma mau bicara sesuatu deh sama kamu." Sindi mengenggam tangan Nella dan membuat wanita itu menatapnya.


"Bicara apa, Oma?"


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....

__ADS_1


...1033...


__ADS_2