
Sejujurnya, Guntur juga mau anak dan menantunya itu ikut tinggal di rumahnya. Tetapi dia merasa gengsi untuk memintanya. Terlebih hubungannya dengan Nella kurang bagus.
Rizky mengangguk. "Iya, tapi hanya 3 hari kok. Papa mau aku dan Nella menginap di rumah Papa?"
Rizky sepertinya paham akan maksud perkataan dari papanya.
"Tapi Papa nggak yakin kalau Nellanya mau."
"Nella pasti mau, Pa." Rizky tersenyum memandangi wajah cemberut Guntur. "Nanti setelah Papa Sofyan pulang ke Jakarta ... aku dan Nella menginap di rumah Papa deh."
"Berapa hari?"
"Seminggu. Tapi ada syaratnya ya, Pa."
"Apa?"
"Papa harus percaya sama Nella, jangan meragukannya lagi."
"Papa akan percaya kalau sudah terbukti, Riz."
"Terbukti?" Rizky mengerutkan keningnya. "Terbukti apa?"
"Setelah Nella melahirkan nanti, Papa akan melakukan tes DNA."
"Oh, oke. Nggak masalah." Rizky mengangguk, lalu mengajaknya duduk kembali.
"Terus sekarang bagaimana?" Guntur mengerutkan keningnya. "Apa besok kita interogasi mereka berdua saja?" sarannya.
"Tapi mereka pasti nggak bakal ngaku, Pa. Siapa sih maling yang mau ngaku? Penjara bisa penuh."
"Terus, sekarang bagaimana?"
Rizky menoleh lagi ke arah Hersa. "Aku mau sewa sopir yang seperti bodyguard saja. Seperti si Irwan, Sa. Biar dia bisa menjaga Nella saat gue kerja, bisa saja nanti Nella akan dicelakai lagi sebelum pelakunya ketemu."
"Saya saja kalau begitu, Pak. Saya yang akan menjaga Nona Nella." Hersa mengajukan dirinya sendiri.
"Enak saja, lu 'kan asisten gue." Rizky menggeleng cepat sambil melotot. "Lu nggak boleh deket-deket sama Nella, gue nggak percaya sama lu!"
"Saya 'kan hanya mengajukan diri sendiri. Siapa tahu Bapak berminat." Hersa nyengir kuda. "Kalau nggak mau, nanti saya akan mencarinya, Pak."
"Iyalah nggak mau gue. Tapi si Aldi saja deh, anak buahnya Reymond. Dia 'kan gue sudah kenal. Jadi enak kalau apa-apa juga."
"Oke, siap." Hersa mengangguk.
***
Di tempat berbeda.
__ADS_1
Setelah pergi keluar mencari angin segar di malam hari, akhirnya Ihsan pulang ke bengkel sembari membawa kantong plastik yang berisi makanan.
"Wah, Bang Ihsan bawa apa, nih?" tanya salah satu junior Ihsan yang berjalan menghampirinya.
"Mie ayam, ini bagikan sama yang lain. Sisakan dua untukku dan Om Irwan," ucap Ihsan seraya memberikan apa yang dia bawa. Pemuda itu mengangguk dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih, Bang."
Memang ini bukan hal pertama Ihsan selalu membagikan makanan, tetapi tetap saja dia dan teman-temannya merasa senang diberikan makan gratis oleh seniornya.
"Sama-sama."
Ihsan tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menghampiri Irwan yang tengah duduk di sofa bersama seorang perempuan yang hanya terlihat dari belakang, dia berambut pirang.
"Ah, itu Ihsan," ucap Irwan seraya mengedikkan dagunya, saat melihat keponakannya tengah berdiri di dekatnya.
Wanita berambut pirang itu lantas menoleh pada Ihsan dan pandangan mereka langsung bertemu.
"Kamu siapa?" tanya Ihsan. Wajah wanita itu tentunya asing, mereka baru saja bertemu hari ini.
"Aku Mitha." Wanita itu pun bangkit dan berdiri, lalu mengulurkan tangannya.
"Ihsan." Ihsan membalas uluran tangannya sebentar.
"Dia dari tadi menunggumu, San. Kalian mengobrol saja dulu." Irwan berdiri, kemudian berjalan menuju para mobil yang tengah diservise.
"Maaf, apa Nona pernah servise mobil disini? Apa ada kerusakan?"
Ihsan mengira, mungkin Mitha adalah salah satu pelanggannya yang mungkin dia lupa. Tetapi nyatanya bukan, Mitha bahkan baru pertama kali ke sini.
"Nggak." Mitha menggeleng cepat. "Aku kesini juga bukan mau servise mobil."
"Lalu?" Ihsan mengerutkan keningnya.
"Apa kita bisa mengobrol di tempat yang tidak terlalu ramai?" Mitha menoleh ke kanan dan kiri. Meskipun sudah malam, tetapi bengkel itu tetap saja ramai.
"Memangnya ada perlu apa denganku? Aku nggak kenal dengan Nona."
"Nanti aku beritahu. Bisa nggak ikut denganku di cafe sebelah? Aku ingin bicara." Mitha berdiri lagi seraya mengempit tasnya.
"Bisa, tapi aku nggak bisa lama-lama," jawab Ihsan. Dia mengingat kalau masih ada mobil yang perlu diservise.
"Nggak masalah," jawab Mitha.
Ihsan ikut berdiri lalu mengikuti langkah kaki Mitha menuju sebuah cafe mini di samping bengkel. Suasana di sana tidak terlalu ramai dan sepertinya jauh lebih baik ketimbang di bengkel tadi.
Mereka pun duduk berhadapan. Sebelum memulai percakapan, Mitha memesan jus jeruk. Tetapi Ihsan tidak, sebab tak merasa haus.
__ADS_1
"Apa kamu mantan pacarnya Mbak Nella?" tanya Mitha.
"Nella Pujianti?" Ihsan berbalik tanya. Nama Nella bukan hanya satu, bisa saja wanita itu salah menebak.
"Iya, anaknya Om Sofyan."
"Iya, kamu siapa? Temannya?" tebak Ihsan.
Mitha menggeleng samar. "Bukan, aku hanya mengenalnya. Aku disini mau mengajakmu kerjasama," ujarnya.
"Kerjasama?" Ihsan mengerutkan keningnya. "Nona punya bengkel juga?"
Lagi-lagi yang ada didalam otak Ihsan hanya masalah bengkel.
"Bukan, sebelumnya aku ingin bercerita ... kalau aku adalah mantan pacarnya Mas Rizky, kita sempat berpacaran dan bahkan saat Mas Rizky dan Mbak Nella berencana untuk bercerai ... kita mau menikah," jelas Mitha mengarang cerita.
"Oh, terus?"
"Aku ingin menikah dengan Mas Rizky. Aku ingin kita kerjasama untuk memisahkan mereka berdua. Kamu juga masih mencintai Mbak Nella, kan?" tebak Mitha.
"Iya, tapi kenapa kamu dulu putus dengan Rizky? Harusnya kamu menikah lebih awal dengannya ... sebelum dia merebut kekasihku."
"Itu karena Om Sofyan yang memaksa, dia memaksa Om Guntur untuk menjalin perjodohan. Jadi Mas Rizky terpaksa putus denganku." Dengan entengnya Mitha berucap, perupanya untuk meyakinkan Ihsan.
"Memangnya Rizky masih mencintaimu?"
"Dia bilang masih, aku juga masih sering bertemu dengannya.”
Ihsan membulatkan matanya, menohok dengan ucapan Mitha. Tetapi didetik selanjutnya dia pun menggeleng, merasa tak yakin sebab tahu kalau Rizky sudah tergila-gila dengan kekasihnya. "Itu nggak mungkin. Kalau memang dia masih suka denganmu ... kenapa dia susah sekali melepaskan kekasihku?"
"Aku juga nggak tahu, tapi dia sendiri bilang seperti itu." Mitha menggeleng samar. "Apa pun itu, tapi intinya kita ini senasib, kan? Bagaimana kita kerjasama saja supaya memisahkan mereka. Nanti kamu bisa bersama Mbak Nella, dan aku bersama Mas Rizky," terang Mitha.
Ihsan termangu di tempat duduknya, memikirkan sejenak dengan apa yang Mitha ucapan.
Tawaran kerja sama itu memang menguntungkan baginya. Tetapi masalahnya dia sudah menyiapkan sebuah rencana balas dendamnya dengan matang-matang.
Sepertinya Ihsan tak butuh campur tangan orang lain, dia yakin—kalau dia mampu sendiri.
"Maaf, aku nggak bisa," jawab Ihsan setelah beberapa menit kemudian.
"Kenapa?"
Ihsan menggeleng. "Aku nggak berminat, kalau kamu mau memisahkan mereka, pisahkan saja sendiri. Kalau perlu rayu Rizky."
"Tapi kenapa kamu nggak mau kita kerjasama? Bukankah ini sangat bagus ... supaya tujuan kita tercapai?"
Mitha sudah capek-capek mencari informasi tentang Ihsan, dan setelah bertemu—rasanya kecewa jika pria bule itu tak menerima tawarannya.
__ADS_1
"Papaku orang kaya, nanti kalau butuh dana untuk rencana kita ... semuanya aku urus," imbuh Mitha lagi.