
"Tapi milikku masih perih, Ayank. Aahh!" Maya membulatkan matanya saat miliknya sudah tertusuk penuh oleh si Jombo. Dia tak mampu berkata-kata lagi ketika suaminya itu memainkan pinggulnya maju mundur.
"Perih-perih enak, kan? Nggak apa-apa. Ini wajar, Sayang." Sofyan mendekatkan wajahnya ke leher Maya, lantas mengigit kecil.
Dua ronde pun dimulai...
***
Keesokan harinya.
Sofyan yang baru saja selesai mandi dan memakai setelan jas rapih lantas membuka pintu kamar hotel. Dia sempat mendengar suara bel berbunyi.
Ceklek~
"Selamat pagi, Pak," sapa seorang pelayan pria yang memakai seragam. Dia datang sambil membawa meja troli yang berisi menu sarapan. Sofyan sempat menghubunginya dan memintanya untuk mengantar sarapan ke kamar hotel.
"Pagi. Biar aku saja yang bawa, terima kasih."
"Sama-sama, Pak." Pelayan itu mengangguk dan tersenyum, setelah itu pergi dari sana.
Sofyan masuk ke dalam sembari mendorong meja troli menuju sofa, kemudian dia menata dua piring sandwich, segelas susu putih dan secangkir kopi.
Saat sudah selesai, Sofyan tak langsung duduk dan menyantap sarapan. Dia memilih menghampiri istrinya yang masih tertidur pulas dengan balutan selimut, seraya membawa salep yang dia ambil di atas meja troli. Dia juga menyuruh pelayan pria tadi untuk membelikan salep pereda nyeri.
Perlahan Sofyan naik ke atas ranjang, lalu menyingkap selimut yang berada di tubuh bagian bawah Maya. Sofyan membuka tutup salep yang berbentuk pasta gigi itu, kemudian menekannya hingga keluar dan dia taruh diujung jari telunjuk.
Setelah itu dia pun membuka kedua paha Maya dengan lebar, lalu mengolesi milik Maya yang terlihat lecet dan merah itu.
Namun saat sudah diolesi pada permukaan kulit, jari tengah Sofyan justru menekan dan memasukkannya ke dalam sana. Miliknya juga seketika menegang di dalam celana.
"A—ayank ...," ujar Maya pelan dengan suara parau. Dia menggeliat karena baru saja bangun akibat sentuhan tangan Sofyan. Melihat istrinya bangun gara-gara ulahnya, Sofyan pun cepat-cepat mencabut jarinya.
"Eh, kamu sudah bangun. Selamat pagi, May."
"Pagi juga, Ayank. Tadi Ayank habis ngapain?" Maya meraih selimut, lalu menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Aku hanya mengolesi salep, Sayang." Sofyan memperhatikan apa yang dia pegang, lalu mendekatkan wajahnya seraya mengecup singkat bibir istrinya. "Ayok mandi dan sarapan."
Maya mencium aroma wangi. Dari rambutnya yang basah, wajah dan tubuh pria itu. Sofyan terlihat sangat tampan dan wangi, dia memakai setelan jas berwarna abu muda.
__ADS_1
"Kenapa? Kok bengong?" Sofyan tersenyum saat melihat istrinya itu melamun sambil memandangi wajahnya. "Kamu lihatin apa? Apa aku terlihat sangat tua, May?"
Maya menggeleng. "Nggak. Memangnya aku pernah, ya .... bilang Ayank tua? Perasaan nggak deh."
"Tapi aku memang sudah tua, May. Selisih kita sangat jauh. Tapi kamu tenang saja ... aku akan tampil sekeren mungkin biar nggak kelihatan tua," ujarnya sambil terkekeh. Sofyan lantas mengendong tubuh istrinya, lalu membawanya menuju kamar mandi.
"Ayank, kenapa aku digendong? Aku bisa jalan."
"Kamu pasti nggak bisa jalan, kan milikmu sakit." Sofyan membaringkan Maya ke dalam bathtub pelan-pelan sambil melepaskan selimut, kemudian dia mengisi air hangat di dalamnya.
Setelah itu, Sofyan justru melepaskan seluruh pakaiannya, padahal dia terlihat seperti sudah mandi.
"Ayank mau ngapain?" Maya membulatkan matanya saat melihat suaminya masuk ke dalam bathtub dengan tubuh yang sudah polos sempurna.
"Mandi bareng, May." Sofyan melebarkan kedua paha istrinya, lalu membelai inti tubuh Maya dengan senyuman menyeringai. "Kelonan lagi, yuk!" ajaknya.
"Ah tapi ... pasti milikmu masih sakit dan perih, ya?" Jari tengah Sofyan langsung menusuk milik Maya, hingga gadis yang kini menjadi wanita itu merasakan ketegangan pada seluruh tubuhnya.
"Iya, aku ... Aahhh!" desah Maya.
Pria itu makin mempercepat gerakan jarinya sembari mendekatkan wajahnya ke leher Maya, dia menjilatinya dan meraup kasar dibarengi gigitan kecil.
"Iya, Sayang." Sofyan mendekatkan miliknya pada inti tubuh Maya, pelan-pelan dia memasukkannya sembari meraup lembut bibir istrinya.
"Aahh!" Sofyan menggoyangkan pinggulnya dengan cepat.
Mereka bukan hanya bercinta di dalam bathtub saja, tetapi di atas kasur hingga di sofa. Entah sudah berapa gaya mereka lakukan, tetapi sekarang Maya sudah berada di dalam pangkuan Sofyan. Pria itu menarik turunkan bokong istrinya, dengan terus mengajaknya ciuman.
"Sekarang gantian dong kamu yang goyang, May." Sofyan menghentikan aktivitasnya, lalu meremas kedua gunung kembar istrinya. Tubuh polos Maya sudah banyak sekali bercak merah akibat ulahnya, memberikan jejak kepemilikan.
"Caranya bagaimana? Aku nggak bisa."
"Begini." Sofyan mencengkeram kedua bokong istrinya, lalu menggoyangkan maju mundur. "Aahh ... seperti itu, May. Gampang, kan?"
Maya mengangguk, lalu mencoba menggerakkan bokongnya dengan dibantu Sofyan.
"Ayank ... ini enak," desah Maya. Sudah diajak melayang dia sampai keceplosan, Maya mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"Iya, kataku juga enak. Ayok lebih cepat, Sayang!"
__ADS_1
Maya mengangguk, lantas melakukannya agak cepat. Miliknya terasa sangat sesak terpenuhi senjata Sofyan yang berukuran jumbo, juga rasa perih karena lecet yang masih ada sejak semalam. Tetapi rasa enaknya mengalahkan semuanya.
*
*
"Enak." Sofyan mengayunkan pinggulnya pelan-pelan, dan tak lama suara dessahan itu lolos ke bibirnya. "Aahh ... enak, May. Milikmu sempit." Sekarang mereka berada di atas kasur.
Maya tersenyum, sensasi kenikmatan itu membuat tubuhnya meremang tak karuan. Dia juga ikut menikmati.
Sofyan mencabut miliknya, lalu mengangkat tubuh wanita itu dan membalikkannya. Bokong wanita itu dia tarik sedikit kemudian Sofyan menusuknya dari belakang.
"Aahhh!" desah Maya dengan kedua mata yang membulat. Lantas tubuhnya bergetar akibat pompaan yang Sofyan berikan. "Ayank, kenapa seperti ini?" Maya mencengkeram seprei. Milik Sofyan yang berurat itu sangat terasa dan memenuhi seluruh miliknya. Sesak.
"Tapi enak, kan?" Sofyan memeluk tubuh Maya dari belakang dengan kedua tangan yang meremmat puncak dadanya. Dia makin mempercepat gerakan pinggulnya. "Aahh ... ayok sebut namaku, May. Ini sangat enak."
"Aaahh ... Ayank Sofyan."
"Maya ...."
Selimut serta seprei itu terlepas dari kasur, malah sekarang sudah berjatuhan. Bantal juga sama, semuanya jatuh berserakan di lantai.
Di atas kasur itu hanya ada dua orang yang tanpa busana, tengah membuat keringat alami dan merasakan surga dunia.
*
*
"Ayank, mau ke mana?" Maya terkejut saat tubuhnya digendong oleh suaminya. Mereka masih dalam penyatuan dan Sofyan membawanya ke atas meja rias seraya mendudukkannya.
"Kelonan, Sayang. Ngapain lagi, sih?" Sofyan berdiri, kedua kaki istrinya itu dia buka lebar-lebar. Lantas dia pun memompanya sekuat tenaga.
"Aahh, Ayank!"
"Iya, kenapa?"
"Ini .... aahhh ... enak, Ayank. Aku ... aku ...." Maya sudah tak tahan, miliknya langsung berkedut dan ribuan kupu-kupu seolah hinggap di dalam perutnya.
"Aahhhh!" desah mereka bersama, keduanya berhasil mencapai nirwana.
__ADS_1
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, apalagi dihabiskan dengan bercinta dan saling bertukar peluh. Ruangan ber-AC itu seperti menjadi saksi, bagaimana nikmatnya percintaan mereka.