
Lagi enak-enaknya makan, secara tiba-tiba datang seorang pria plontos menghampirinya sambil menenteng paper bag pada tangan kiri.
Pria tersebut tentu mengenal Rizky meskipun tak tahu namanya. Dia adalah Indra, orang yang sempat membuat Rizky terbakar api cemburu.
"Bapak kok ada di sini dan numpang makan?" tanya Indra seraya menghentikan langkahnya tepat di dekat Rizky, yang tengah mengunyah nasi dan lauk di dalam mulutnya. Cepat-cepat Rizky menelannya untuk masuk ke dalam tenggorokan sebab dia mau menjawab pertanyaan pria plontos itu.
"Siapa yang numpang makan? Gue tamu di sini,” jawab Rizky sewot lalu menuangkan air pada gelas dan menenggaknya sampai habis. "Lu ngapain ada di sini, Botak? Oh ... jangan bilang lu dari tadi mengikuti gue sama Nella, ya? Mau cari mati lu sama gue, ha?" bentak Rizky seraya bangkit dan melipat kedua lengan kemeja pendeknya sampai di atas bahu.
Indra menggeleng cepat, sepertinya dia harus segera menjelaskan pada Rizky sebab terlihat pria tampan itu masih mencurigainya. "Saya di sini karena disuruh bos saya, dan kemarin saya nggak ada maksud untuk pegang-pegang tangan—"
"Oh, jadi lu punya bos," sela Rizky dengan tatapan curiga. "Siapa bos elu yang menyuruh untuk mengganggu istri orang? Lu pikir ... mentang-mentang otot lu besar, gue takut dengan lu? Nggak sama sekali!" berang Rizky dengan emosi.
Lantas dirinya mendorong tubuh Indra sekuat tenaga. Upayanya ingin membuat pria plontos itu tersungkur di lantai. Namun sayangnya Indra hanya mundur satu langkah ke belakang. Rupanya—otot dan kekekaran tubuhnya benar-benar nyata, sepertinya dia bukan lawan yang sebanding untuk Rizky.
Tapi memang Indra di sini hanya sopirnya Rio dan bukan lawannya Rizky, dia hanya sedang cemburu sampai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Siapa bos lu? Katakan sama gue kalau lu nggak mau gue tonjok!" Dengan pemberaninya Rizky sudah mengangkat kepalan tangannya di depan wajah Indra yang terlihat kebingungan sejak tadi.
"Dia—"
"Mas Rizky!" Terdengar suara wanita yang memekik lalu berjalan menghampiri mereka berdua, ucapan Indra tadi sampai disela. "Kok Mas ada di sini dengan Pak Indra?"
"Lu tahu namanya juga?" Rizky menatap kesal pada Nella, lalu menarik tubuhnya yang semula berdiri di samping Indra untuk bisa berada di dekatnya. Lantas mendekapnya dari belakang. "Apa dia adalah mantan kekasih lu sama seperti Ihsan?"
"Mas ini bicara apa, sih?" Nella melepaskan dekapan Rizky yang begitu erat dan membuat sesak. "Dia ini Pak Indra, sopirnya Rio."
"Oh, jadi Rio yang menyuruh lu untuk menganggu rumah tangga gue? Kurang ajar sekali bocah itu!" geram Rizky dengan emosi yang memuncak.
"Dih, Mas salah paham," ucap Nella seraya memegang lengan Rizky saat pria itu tengah menempelkan benda pipih ke telinga kanan. Sepertinya dia hendak menghubungi Rio dan akan memarahinya. "Pak Indra kemarin itu ingin mengambilkan buah mangga untukku, Mas," jelas Nella.
__ADS_1
"Mengambil buah mangga tapi pegang-pegang tangan lu, apa itu bukan kesempatan didalam kesempitan? Harusnya lu sadar dong," gerutu Rizky dengan gemas. "Lu nggak boleh dipegang-pegang oleh pria lain selain gue, katanya lu milik gue!"
"Iya, aku milik Mas Rizky ... tapi memang itu semua salah paham. Kemarin itu aku ...."
Nella kembali menceritakan kejadian kemarin supaya Rizky tak salah paham lagi padanya dan terus menyalahkan Indra.
Namun Indra lebih memilih meninggalkan mereka berdua menuju dapurnya untuk menemui Wahyu. Lama-lama dia merasa jengah dengan sikap Rizky yang berpikir tentang hal yang tidak-tidak padanya.
Rizky yang mendengar penjelasan Nella hanya manggut-manggut saja. Kemudian pandangan Nella yang semula ke arah Rizky, kini jatuh pada sebuah piring yang berisi sisa nasi yang tinggal sedikit, berada di atas meja dan tepat di depan Rizky. Dan dia juga sempat melihat bibir Rizky yang berminyak.
"Mas Rizky habis makan, ya?" tanya Nella dengan nada menebak, dia menatap penuh kecurigaan pada suaminya.
Rizky pun langsung menggeleng cepat sembari mengulas bibirnya. Dia sadar kalau tatapan Nella sedari tadi ke arah bibir.
"Nggak, gue belum makan."
"Terus itu piring bekas siapa?" Nella menunjuk benda yang dimaksud. "Dan kenapa Mas Rizky ada di ruang makan? Bukannya tadi di ruang tamu?"
Pada akhirnya Indra lagi yang menjadi sasarannya, kasihan sekali dia.
"Oh, tapi rasanya aneh. Masa Pak Indra makan di meja makan? Ya nggak masalah sih ... tapi aneh saja."
Benar, memang aneh dan tak masuk akal. Tidak mungkin seorang sopir makan di ruang makan yang biasa di duduki bosnya.
"Memang dia aneh, kepalanya juga botak, kan? Padahal bukan bayi."
Rizky lagi yang berbicara asal jeplak. Indra benar-benar tak ada harga diri di matanya.
Lantas Rizky menarik lengan Nella, membawa wanita cantik itu menuju ruang tamu lagi.
__ADS_1
Rupanya di atas meja itu sudah ada mangkuk besar dengan bakso yang tak kalah besar dan bakso kecilnya yang banyak. Sepertinya itu adalah dua porsi yang dijadikan satu. Ada kecap dan saos. Juga ada sepiring penuh nasi putih dan dua gelas es jeruk.
"Siapa yang menyiapkan ini?" tanya Rizky seraya duduk di sofa berbarengan dengan Nella.
"Bibi yang bekerja di sini, Mas. Oya ... kuah baksonya aku yang kasih takaran bumbu. Ayok coba, pasti enak." Nella memberikan sendok untuk Rizky, lalu dia pun perlahan menyeruput sedikit kuah bakso yang masih terasa panas di lidahnya. "Bagaimana, Mas?"
"Enak, luar biasa. Kuahnya saja sudah enak dan buat gue kenyang, apalagi baksonya nanti."
Sejujurnya memang Rizky sudah kenyang, tapi karena tak mau membuat Nella curiga dan sedih sebab permintaan ingin makan semangkuk berdua, akhirnya Rizky makan dua kali walau sebenarnya agak dipaksa.
'Harusnya gue tadi makanannya sedikit saja, baru satu biji bakso sudah begah begini,' batin Rizky seraya menyentuh perutnya dengan mulut yang mengunyah.
"Baksonya enak kan, Mas?" tanya Nella. Dia menatap aneh Rizky. Sebab wajahnya terlihat seperti tertekan.
"Enak, lu benar banget ... baksonya Pak Wahyu memang juara. Gue sampai terbang ke udara sangking enaknya," jawab Rizky yang dilebih-lebihkan.
Nella hanya terkekeh lalu melanjutkan makannya. Dia benar-benar terlihat lahap makan bakso dengan nasi dan tentu semangkuk dan sepiring berdua dengan Rizky.
Satu baso kecil dan nasi putih sudah selamat ditelan oleh Rizky, tetapi bakso yang kedua—Rizky tak bisa langsung mengunyahnya dengan cepat, lantaran perutnya tiba-tiba saja melilit.
Namun Rizky seakan tahu kalau kali ini dia hendak ingin melakukan apa.
"Nella, gue kencing dulu sebentar, ya! Mules." Rizky bangkit lalu berdiri sambil memegang perutnya.
"Mau kencing kok mules? Mas mau berak, ya?" tebak Nella sambil menatap ilfil padanya. "Dih jorok banget, kan lagi makan. Aku jadi mual." Nella pun langsung menutup mulut dan hidungnya, padahal Rizky belum membuang gas meskipun saat ini dia tengah menahannya.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1100...