
"Mereka sedang senam, Pak."
"Senam? Di mana?" tanya Rizky kembali.
"Di tempat fitness, Mas. Ada di dekat sini." Nella menyahutinya, lidahnya terasa gatal ingin bicara dengan Rizky sedari tadi.
Rizky hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu mengambil satu lembar roti tawar dan mengolesi selai strawberry di atasnya.
Nella mengunyah roti sambil sesekali melirik pada Rizky, pria tampan itu terlihat begitu anteng dan hampir tak bersuara selama sarapan.
'Kira-kira, Mas Rizky sudah tahu belum, ya ... kalau Papanya mau menjodohkan dengan Mitha? Terus ... apa dia mau?' batin Nella.
"Apa lu mau pergi ke restoran?" tanya Rizky setelah selesai sarapan, dia menoleh pada Nella. Wanita cantik itu bahkan sudah selesai lebih dulu—tapi rasanya enggan untuk beranjak dari duduk.
"Iya, Mas."
"Mau gue antar?" tawar Rizky.
Nella mengangguk semangat.
*
*
*
Mereka menaiki mobil bersama, Nella sedari tadi mencuri-curi pandang pada Rizky yang tengah mengemudi. Ada rasa yang mengganjal dalam hati, dia ingin menanyakan soal Mitha—tapi rasanya tak enak.
"Buat semalam terima kasih ya, Nell. Maaf gue sampai lupa berterima kasih sama lu. Lu udah ngizinin gue untuk menyentuh lu lagi," ucap Rizky seraya tersenyum, menoleh sekilas padanya.
Pipi Nella langsung merah padam, merasa malu jika mengingat hal semalam. Nella terdiam dan memalingkan wajahnya.
Sekitar tiga puluh menit, mobil Rizky sudah berhenti di depan Restoran Nissa. Akan tetapi Nella tak langsung turun, dia memilih diam di tempat duduknya.
"Kok nggak turun? Kenapa?" tanya Rizky dengan alis mata yang bertaut.
"Aku ingin bertanya sesuatu, Mas," ucap Nella dengan pandangan ke arah lain.
"Tanya apa?"
__ADS_1
"Eemm ...." Hatinya ingin bicara, tetapi mulutnya terasa sulit, Nella merasa tak berhak bertanya-tanya tentang Rizky. Lantas dia menggeleng cepat. "Ah, nggak jadi. Ya sudah ... aku turun dulu."
Nella baru saja membuka pintu mobil, namun secara tiba-tiba lengannya di tarik hingga dadanya menempel pada dada Rizky. Pria tampan itu memeluk tubuhnya, dan ini adalah untuk pertama kalinya—Nella merasakan pelukan Rizky begitu hangat. Dia juga bisa mendengarkan debaran jantung milik suaminya.
"Nella ... mungkin hari ini adalah terakhir kita tinggal bersama ...." Rizky membuang nafasnya dengan kasar, dia mencium rambut Nella sekilas. "Besok kita akan bertemu di pengadilan dan satu hal yang perlu lu tahu ... gue nggak pernah menginginkan perceraian ini, gue mau kita berumah tangga selamanya. Tapi gue sekarang nggak akan memaksa, karena gue tahu ... cinta nggak bisa dipaksa dan gue juga tahu hanya ada Ihsan di dalam hati lu."
Tes!
Tetesan air itu jatuh di bahu Nella, wanita itu dapat merasakan dan mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut Rizky.
Ya, Rizky menangis. Dia merasa hatinya hancur berkeping-keping, mengingat besok akan memulai sidang pertama dan keputusan Nella menjadi akhir dari semuanya.
"Apa pun keputusan lu nanti. Gue akan ikhlas ... ikhlas untuk melepaskan lu untuk Ihsan, pria yang lu cintai." Rizky melepaskan pelukan itu dan menangkup kedua pipi mulus istrinya.
Nella menatap dalam bola mata Rizky yang berair, bahkan pipi pria itu sudah basah karena air mata.
Ibu jari Rizky perlahan meraba bibir Nella yang sudah tertempel lipstik berwarna pink, dia menelan salivanya dengan kasar.
"Mungkin gue akan kangen bibir ini, bibir di mana untuk pertama kalinya lu marah-marah karena gue kepergok berbuat mesum." Rizky tersenyum getir dengan bibir yang bergetar. "Gue mau jujur sama lu, kalau memang saat itu gue benar-benar melakukannya, Nell. Gue memang bukan pria baik-baik. Tapi ... selama menikah dengan lu, gue berusaha jadi suami yang baik."
Nella makin memperdalam tatapannya, ada sebuah ketulusan yang terlihat dari manik mata itu.
"Dan di hari setelah kita bercinta, gue suka sama lu. Gue ... gue mencintai lu."
Rizky mendekatkan kepalanya pada Nella dan langsung meraup bibirnya dengan lembut, memagutnya secara perlahan dan penuh cinta.
Nella terbelalak. Dia kaget bukan lantaran Rizky yang menciumnya tiba-tiba, tetapi karena pengakuan cinta yang Rizky berikan. Selama ini dia baru tahu—jika pria itu mencintainya. Bahkan rasa cinta Rizky mungkin sepadan dengan Ihsan.
'Jadi Mas Rizky mencintaiku?' batin Nella.
'Gue mau ciuman terakhir kita berkesan, gue sangat mencintai lu, Nell,' batin Rizky.
Nella memejamkan matanya dan membuka mulutnya sedikit, seolah mengizinkan Rizky untuk menciumnya lebih dalam.
Lidah Rizky masuk ke dalam rongga mulutnya, seakan menyapu hingga bertemu dengan lidah Nella. Ciuman itu semakin lama menjadi pergulatan lidah dan membuat hawa nafs* di dada Rizky langsung naik.
Perlahan Rizky melepaskan ciuman. Bukan dirinya sudah puas, tapi pria tampan itu tak mau jika terjadi hal yang lebih sebab senjata miliknya sudah menegang di dalam celana.
__ADS_1
Rizky tersenyum dan mengulas sisa salivanya di bibir Nella, kembali dia mengecup sekilas bibir itu.
Nella membuka matanya dan tersenyum tiada arti.
"Lu kerja hati-hati," ucap Rizky. Dia melepaskan tangannya dari pipi istrinya kemudian memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.
"Iya, Mas Rizky juga hati-hati di jalan." Setelah mengatakan hal itu, Nella turun dari mobil dan masuk ke restoran.
Rizky mengusap-usap wajahnya dan meraih sebotol air mineral, dia membuka tutup botol yang masih bersegel itu lalu menenggaknya sampai habis.
'Ya Allah ... kalau memang Nella bukan jodohku, tolong buat dia menjadi jodohku,' batin Rizky.
***
Tangannya mengetik keyboard, matanya menatap layar laptop. Tetapi pikirannya sedang berkelana jauh.
Ciuman tadi pagi begitu membekas pada bibir dan hatinya, apalagi dengan semua kalimat yang Rizky lontarkan, semua sudah mengantung di otak Nella.
Harusnya Nella sekarang merasa bahagia, sebab apa yang diinginkannya akan tercapai. Akan tetapi, mengapa tiba-tiba dia merasa dilema, merasa galau dengan semua keputusannya.
Nella melirik jam weker di atas meja kerjanya yang nunjuk pukul 11.00. Mendadak dia teringat dengan percakapan Rizky dan Mitha saat di telepon. Dia juga tak sepenuhnya tahu tentang apa saja yang dibicarakan mereka berdua. tetapi, Nella tentu tahu kalau Rizky akan menemui gadis itu dan bisa jadi mereka sudah bertemu sekarang.
"Seperti apa Mitha itu? Apa dia cantik?" Monolog Nella, dia mengambil ponselnya di atas meja lalu menghubungi Sofyan.
Rasa penasarannya tadi pagi mengikutinya sampai sekarang. Mungkin akan lebih baik Nella bisa melihat wajah gadis yang bernama Mitha itu demi menutupi rasa penasarannya.
"Halo Papa."
"Halo Sayang, tumben telepon ... ada apa?"
"Apa Papa kenal dengan orang yang bernama Aji?"
"Aji? Aji siapa?"
"Aku nggak tahu nama lengkapnya siapa, tapi sepertinya dia rekan bisnisnya Mas Rizky dan mempunyai restoran."
Bagi yang berkenan boleh kasih vote dan hadiahnya, memberi dukungan buat Author semangat nulis lho!!
Jangan lupa jaga kesehatan ❤️
__ADS_1
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...