Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
179. Pelet Rizky


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Sofyan langsung dibawa masuk ke ruang UGD.


"Kamu yang sabar, semuanya akan baik-baik saja," ucap Ihsan seraya mengelus-elus rambut Nella. Mereka berdua tengah duduk di kursi tunggu, terlihat Nella tampak gelisah dengan wajah cemas.


"Iya, semoga saja, Kak." Nella mengangguk, lalu menggeserkan bokongnya sedikit supaya tak terlalu dekat dengan Ihsan. Tangan Ihsan yang sejak tadi nyaman di atas kepalanya pun langsung terjatuh begitu saja. "Kakak pulang saja, terima kasih telah membantuku."


"Kamu nggak suka aku temani? Kok kamu jahat, sih?" Ihsan merasa kesal. Padahal saat ini hanya ada mereka berdua saja, tetapi lagi-lagi Nella seolah menghindarinya.


Ihsan juga menantikan momen seperti ini. sudah begitu lama, rasa rindunya juga begitu banyak.


"Aku hanya ingin sendiri, Kak," jawab Nella pelan.


"Ngapain ingin sendiri? Lebih baik aku temani. Oh ... apa mungkin kamu menunggu Rizky untuk datang ke sini, ya?" tebak Ihsan.


Nella menoleh padanya. Tadi saat diperjalanan ke rumah sakit—Rizky terus menelepon pada ponselnya Sofyan. Tetapi Nella sama sekali tak mengangkatnya, dia teringat dengan ucapan Diana yang mengatakan pernah tidur dengan Rizky.


Rasanya sangat kesal. Nella ingin memaki sebenarnya, serta mengintrogasi Rizky sekarang juga. Tetapi pikirannya sangat kalut dengan kondisi Sofyan. Dia takut jika ada hal buruk yang akan terjadi pada papanya.


"Oya ... apa kamu nggak merasa kalau Rizky seperti guna-guna kamu, Nell?" tanya Ihsan yang mana membuat Nella membulatkan matanya. Lantas dia pun menoleh pada Ihsan.


"Maksud Kakak Mas Rizky pelet aku?" Nella mengerutkan keningnya.


Ihsan mengangguk semangat. Dan beberapa detik kemudian Nella terkekeh.


"Ini zaman modern, Kak. Mana ada pelet-pelet segala," imbuh Nella sambil geleng-geleng kepala.


"Itu bisa saja, Cantik. Kamu 'kan awalnya benci sama Rizky tetapi coba kamu pikir ... kenapa kamu sekarang sangat tergila-gila padanya sampai rela meninggalkanku?"


Nella terdiam sesaat seraya menatap wajah serius Ihsan, lalu berucap, "Mungkin aku mencintainya karena bawaan bayi, Kak."


Ihsan menggeleng tak percaya. "Sepertinya nggak deh. Aku yakin Rizky pelet kamu. Soalnya ciri-ciri orang yang terkena pelet mirip dengan kondisimu saat ini." Ihsan mulai menghasut Nella, supaya wanita cantik itu kemakan omongannya.


"Masa sih?" Nella mengerutkan dahi dan terdiam sejenak. Nampaknya dia mulai memikirkan apa yang Ihsan katakan, mungkin saja memang benar dia kena pelet.


"Sekarang aku tanya, apa yang kamu suka pada Rizky?" tanya Ihsan.

__ADS_1


"Semuanya."


Ihsan berdecak kesal. "Yang paling kamu sukai, kan ada yang menjadi favorit. Contohnya kamu juga dulu suka dengan wajahku yang seperti orang bule."


"Oh, mungkin kepala botaknya, Kak." Nella mengangguk-angguk sambil tersenyum


"Memangnya kepala Rizky botak?"


Nella membulatkan matanya dan dengan cepat menutupi bibirnya. Dia malah keceplosan mengatakan kalau suaminya botak. Rizky pasti akan marah jika dia tahu.


'Maaf, Mas. Aku keceplosan,' batin Nella.


"Nella," panggil Ihsan yang mana membuat Nella terhenyak lalu menggeleng cepat.


"Nggak, Mas Rizky berambut. Mana ada botak," kilahnya.


"Terus, apa ada yang kamu favoritkan dari dia? Aku akan membantumu menghilangkan peletnya Rizky."


"Wajahnya mungkin, Kak. Mas Rizky makin terlihat tampan sekarang." Meskipun dadanya masih terasa sesak, tetapi Nella masih sempat-sempatnya tersenyum sambil membayangkan wajah Rizky dan seketika ada rasa rindu di hatinya.


"Tuh, kan. Kelihatan banget kamu tuh kena pelet dia, Cantik," tegur Ihsan saat melihat Nella senyum-senyum sendiri seperti orang gila dan itu membuatnya muak.


"Kamu kumur-kumur air garam, lalu sembur wajah Rizky sebanyak tiga kali," jawab Ihsan asal.


"Memangnya air garam bisa menghilangkan pelet, ya?"


Ihsan mengangguk cepat. "Iya, bisa. Mangkanya aku beritahu kamu. Kamu pernah dengar, kan. Kalau ada istilah kita harus sebar garam diluar rumah supaya mengusir mahluk halus? Pelet juga 'kan termasuk ilmu hitam dan garam adalah solusinya."


Sepertinya sebentar lagi Ihsan akan buka praktek dan menyaingi Mbah Yahya.


"Oh, terus aku melakukannya kapan? Sekarang?" Nella benar-benar sudah terhasut, ampuh juga ucapan Ihsan.


"Setiap hari, sampai peletnya hilang. Kamu lakukan itu pas bangun tidur di pagi hari."


Dalam hati Ihsan dia tertawa bahagia. Mungkin nanti Rizky akan marah-marah saat istrinya yang dia cintai melakukan hal gila seperti itu.

__ADS_1


'Pagi-pagi disembur, pasti enaklah, Riz,' batin Ihsan.


"Bau jigong dong, Kak. Apa aku harus sikat gigi dulu?" Nella masih berkonsultasi pada Mbah Ihsan.


Ihsan menggeleng cepat. "Jangan, bau jigong dan garam akan menjadi kombinasi yang bagus untuk menyingkirkan pelet, Nell."


"Oh, begitu ya, Kak." Nella manggut-manggut.


"Kalau bisa kamu lakukan itu sebelum Rizky bangun tidur. Itu akan lebih berkhasiat," imbuhnya lagi sambil tersenyum. "Tapi kamu juga nggak boleh mengatakan pada Rizky atau siapapun kalau aku yang memberitahumu tentang cara ini, itu syaratnya supaya peletnya cepat hilang. Kamu mau, kan?"


"Tapi nanti—”


"Ihsan! Sedang apa lu ada di sini?!"


Suara bariton tiba-tiba saja terdengar bersama derap langkah yang menghampiri mereka berdua. Jawaban Nella sampai terhenti.


Dia adalah Rizky yang datang bersama Guntur, lantas segera dia menarik lengan Nella hingga wanita itu berdiri dan berada didalam pelukannya.


'Mas Rizky? Kok dia bisa ada di sini? Tahu dari mana?' batin Nella.


"Lu mau gue penjara, ya?!" geram Rizky sambil melototi Ihsan.


Ihsan berdiri sembari menghela nafasnya gusar. "Harusnya kamu berterima kasih padaku, Riz. Karena aku sudah membantu istri dan mertuamu. Tapi kenapa kamu malah marah-marah?"


"Kak Ihsan benar. Dia hanya membantuku tadi. Kita nggak sengaja ketemu di hotel," ujar Nella ketus seraya melepaskan pelukan Rizky.


Rizky dan Guntur memperhatikan Ihsan dari ujung kaki ke ujung kepala. Pakaian yang dikenakan pria bule itu membuat keduanya binggung.


Seragam cleaning servise. Biasanya mereka hanya melihat Ihsan memakai seragam montir.


"Nggak sengajanya bagaimana? Memangnya Ihsan ngapain ada di hotel? Rasanya aneh." Rizky menatap tak percaya pada Nella.


Sebelum itu dia dan Guntur datang ke hotel menyusul Nella dan Sofyan. Namun saat tahu mereka sudah tak ada—dia pun bertanya pada seorang satpam dan kebetulan satpam itu mengatakan bahkan dua orang yang dicarinya tengah mengalami musibah.


Satpam juga menyarankan Rizky untuk mencari keberadaan mereka di rumah sakit yang letaknya tak jauh dari hotel itu. Firasat Rizky mengatakan mereka ada disini dan ternyata memang benar.

__ADS_1


Namun sayangnya dengan adanya keberadaan Ihsan, itu membuat dada Rizky bergemuruh.


"Memangnya kamu nggak mengerti dengan istilah nggak sengaja, ya? Itu 'kan berarti takdir. Lagian ... aku ada di hotel juga sedang bekerja. Bukan maksud ingin menganggu istrimu," terang Ihsan beralasan.


__ADS_2