
Setelah memarkirkan mobilnya di Restoran, Rizky turun dan melangkah menuju pintu masuk. Namun mendadak ada yang menghadang tepat di depan pintu kaca Restoran, dua orang itu adalah satpam.
"Bapak bukannya dipenjara? Kok malah berkeliaran?" bukan hanya bertanya, kedua satpam itu sudah memegangi kedua lengan Rizky.
Rizky tentunya mengenali mereka juga. "Lepas! Gue udah bebas!" titahnya memberontak.
"Bebas? Yang benar saja bebas? Baru saja kemarin Bapak dipenjara." Wajah keduanya tampak tak percaya.
"Kalian nggak percaya? Gue akan telepon polisinya, dan apa kalian tau ... gue ini suami, Nella!" tekan Rizky emosi.
"Bapak ini sudah gila, ya? Tidak mungkin Nona Nella menikah dengan pria bej*t seperti Bapak!" tegasnya.
Rizky terbelalak. "Apa lu bilang? Gue bej*t? Kurang ajar!" kedua tangan Rizky sudah mulai mengepal, segera ia hentakkan kedua lengannya hingga terlepas dari cengkraman dua satpam.
"Apa-apaan kamu, Riz! Berhenti!" teriak seorang wanita yang berada di belakang Rizky, ia menghentikan aksi Rizky yang baru saja ingin menonjok salah satu satpam itu lantaran tak terima dengan ucapannya.
Rizky langsung berbalik badan, menghadap wanita yang tadi berteriak. Ternyata ia adalah Nissa.
"Bu Nissa," ucap Rizky.
Nissa menatap Rizky dengan sinis. Memang sejak dulu ia tak pernah suka pada Rizky sebab kehidupannya yang menurut Nissa sangat buruk, apalagi ia diberitahu Nella___ jika Rizky sudah berbuat mesum di toilet Restorannya dan ditambah lagi kenyataan kalau Rizky sudah menikah dengan Nella. Lengkap sudah rasa tidak sukanya, bahkan tatapan sinisnya terlihat seperti jijik menatap pria di depannya.
Kenapa Bu Nissa menatap gue seperti itu? Kok tatapan matanya mirip seperti Nella' batin Rizky.
"Mau apa ke sini? Mulai sekarang kamu tidak boleh datang ke Restoranku!" ketus Nissa.
"Lho, memang kenapa, Bu?"
"Kenapa-kenapa, memang kamu pikir aku tidak tau kasusmu itu?"
Kasus? Oh ... apa mungkin masalah itu, dia ini tantenya Nella 'kan? Gue harus minta maaf padanya' batin Rizky.
"Masalah waktu itu aku minta maaf, Bu. Dan semuanya sudah selesai kok."
"Terus mau apa ke sini? Cari Restoran yang lain saja kalau mau makan."
"Tunggu, Bu," cegah Rizky. Ia menghentikan Nissa yang baru saja hendak masuk, berdiri di depan pintu kaca. "Aku ingin cari Nella, apa dia ada di sini?"
"Tidak." Nissa menarik lengan Rizky supaya menjauh dari pintu, segera ia masuk dan berlalu meninggalkan Rizky di luar.
"Apa Nella nggak ke sini?" tanya Rizky seraya menoleh pada kedua satpam, namun kedua satpam itu diam saja dan sepertinya tidak ada sedikitpun niat untuk menjawab pertanyaan Rizky. "Kalian ini satpam nggak punya sopan santun! Orang nanya baik-baik nggak dijawab! Kurang ajar!" Rizky menggerutu sambil berjalan menuju parkiran, kemudian masuk ke mobil.
Rizky kembali menghubungi Sofyan dan tak lama diangkat.
__ADS_1
"Bagaimana, Riz?"
"Papah, aku sudah ke Restoran, tapi kata Bu Nissa, Nella nggak ke sini."
"Masa sih, Riz? Papah tadi sudah mencoba menelepon Nella, tapi nomornya nggak aktif. Papah juga telepon Opa dan Omanya, tapi mereka bilang Nella tidak ada di rumahnya. Coba kau ke kantor Omnya, Steven."
"Kantornya di mana? Aku nggak tau."
"Nanti Papah kirim alamatnya."
Setelah sambungan telepon itu terputus, Sofyan langsung mengirimkan alamat melalui pesan.
Tiga puluh menit kemudian, Rizky sampai di depan gedung pencakar langit. Terlihat asing sekali gedung itu, mungkin lantaran Rizky pertama kali datang. Ia juga tak mengenal Steven dan seperti apa orangnya.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam penjaga depan pintu saat Rizky menghampirinya.
"Apa kalian kenal Nella?" tanya Rizky.
"Nona Nella keponakannya Pak Steven bukan, Pak?"
"Iya."
"Kenal, memang kenapa, Pak?"
"Setau saya nggak, Pak."
"Oh ya sudah. Terima kasih, Pak."
Rizky kembali lagi masuk ke mobil, pencarian pada dua tempat tidak membuahkan hasil. Kembali ia menghubungi Sofyan.
"Halo, Pah. Nella nggak ke kantor Omnya," ucap Rizky.
"Kemana dia kira-kira? Banyak tingkah sekali si Nella ini, buat aku pusing saja!" Sofyan menggerutu sambil memijat pelipis matanya. "Kamu pulang saja deh, nanti Papah suruh orang untuk mencari Nella."
"Aku 'kan suaminya, Pah. Biarkan aku saja yang mencari Nella."
"Kau memang nggak capek?"
"Nggak, aku capek kenapa memangnya? Aku 'kan cuti kerja dan nggak ngapa-ngapain sekarang."
"Ya sudah, sekarang coba kamu ke bengkel Car Maulana, mungkin Nella di sana. Papah akan kirim alamatnya." Sofyan sempat mencari informasi tentang bengkelnya Ihsan, dan itu alasannya kemarin saat Nella menikah ... Ihsan dihadang dijalan, sebab anak buah Sofyan telah mengikutinya.
"Kok ke bengkel? Mau ngapain Nella ke bengkel, Pah?"
__ADS_1
"Mantannya kerja di bengkel, kau temui juga orangnya, namanya Ihsan."
"Oke, Pah."
Panggilan itu ditutup kembali dan kini Rizky melajukan mobilnya menuju bengkel yang sudah diberitahu alamatnya lewat pesan.
*
"Maaf permisi, apa lu kenal Ihsan?" tanya Rizky pada salah satu montir yang tengah mengganti ban mobil.
Pemuda itu menoleh ke arah Rizky. "Bang Ihsan? Iya ... saya kenal dia. Ada perlu apa ya, Pak?"
"Sebenarnya gue bukan cari Ihsannya, tapi cari istri gue namanya Nella. Apa dia ke sini?"
Pemuda itu terbelalak. "Apa? Istri?"
"Iya, apa lu tau Nella juga?" Rizky memperhatikan wajah syok pemuda itu, ia adalah salah satu junior Ihsan yang sempat menyemangati Ihsan yang akan melamar Nella. Namun ia sendiri tidak tau jika lamaran Ihsan ditolak dan Nella sudah menikah dengan pria lain.
"Saya tau, Mbak Nella yang cantik itu, kan? Tapi dia calon istrinya Bang Ihsan. Mungkin Bapak salah orang kali."
Rizky langsung memperlihatkan layar ponselnya ke arah pemuda itu yang berisi foto Nella dan dirinya saat menikah.
"Inikan orangnya?" tebak Rizky.
Pemuda itu mengangguk. "Iya, itu Mbak Nella. Tapi kok ... kenapa menikahnya dengan Bapak? Dia 'kan calon istrinya Bang Ihsan."
"Ah nggak penting, yang gue mau tanya ... Nellanya ada di sini atau nggak?" lama-lama Rizky mulai kesal mendengar nama istrinya yang disebut-sebut sebagai calon istri orang lain.
"Dia nggak ada di sini, Pak."
"Ck!" Rizky berdecak kesal. "Dari tadi kenapa lu nggak bilang, sih? Beg* banget!" gerutu Rizky. "Terus yang namanya Ihsan mana? Gue mau ketemu orangnya!" Rizky berkacak pinggang dan mengangkat dagunya sedikit.
"Bang Ihsan pergi naik motor, Pak."
"Kemana?"
"Saya tidak tau."
Jawaban yang tidak memuaskan itu membuat Rizky kembali masuk ke mobil. Ia menghubungi Sofyan lagi untuk keempat kalinya.
"Papah, Nella nggak ada di bengkel dan orang yang namanya Ihsan juga nggak ada, bagaimana ini?"
"Sekarang kamu pulang saja deh, Riz. Papah akan suruh orang saja biar cepat menemukan Nella." Suara Sofyan terdengar seperti memendam kemarahan.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕