
"Memangnya Opa bisa sampai melakukan itu, Pa?" Bulu kuduk Rizky seketika merinding, tapi dia bersyukur jika alasan Sofyan mengajaknya kabur demi menyelamatkan dirinya. Rasa sayang Sofyan padanya tidak perlu diragukan lagi.
"Bisa, Papa sering ditonjok dulu gara-gara Nella."
"Gara-gara Nella? Kenapa?" Rizky mengerutkan kening. Sepertinya memang sejak dulu, hubungan antara anak dan ayah itu tidak pernah akur.
"Dia itu tukang ngadu, masalah apa sering ngadu. Entah sama Opa atau sama Tantenya. Mangkanya Papa nggak pernah cerita apa-apa sama dia, dari mulai Papa menikah lagi dan menjodohkan kalian."
"Oh, terus nasibku bagaimana sekarang, Pa? Aku jadi takut pulang ke rumah Opa."
"Pulangnya malam saja, sekitar jam 12. Opa pasti sudah tidur. Oya ... bagaimana kemarin malam? Apa kamu berhasil menyentuh Nella? Berapa ronde kalian bercinta?"
Wajah Rizky langsung merah padam, dia merasa malu bercampur senang. "Kita ceritanya sambil makan saja ya, Pa. Aku lapar." Rizky menyentuh perutnya yang tiba-tiba saja berbunyi.
*
*
*
Sofyan menyetujui permintaan Rizky, mereka makan siang tepat di cafe di seberang kantor Rizky. Mereka memesan menu makan siang sembari berbincang-bincang.
"Bagaimana?" tanya Sofyan saat melihat Rizky sudah melahap ayam dalam mulutnya. Kembali wajah pria itu memerah, jantungnya berdebar-debar.
"Aku juga lupa melakukannya berapa kali, Pa. Tapi intinya sampai pagi."
Sofyan langsung menggembung senyum. "Bagus itu, berarti kamu puas. Tapi saat melakukannya ... Nella nggak menolakmu, kan?"
Rizky menggeleng cepat. "Ya Papa kasih dia obat, dia pasti nurut." Lagi-lagi Rizky tersenyum dan membayangkan sesi percintaan mereka.
"Kalau tahu gitu, dari dulu saja Papa sering kasih dia obat."
Rizky kembali menggeleng. "Jangan, Pa. Obat seperti itu nggak baik untuk kesehatan. Papa juga nggak boleh kasih Nella obat lagi, kasihan dia."
"Iya, tapi sekarang kamu suka, kan?"
Rizky mengangguk semangat, tapi seketika langsung sirna begitu saja. Mengingat waktu persidangan mereka yang tinggal sehari lagi.
"Tapi aku nggak yakin hanya gara-gara semalam Nella bisa mencintaiku, Pa. Bagaimana kalau dia tetap ingin bercerai?" tanya Rizky frustasi.
"Nanti kamu saat persidangan tolak saja, biar prosesnya lama."
"Nggak bisa, kan Papa tahu sendiri saat di rumah sakit ... Opa Angga mengajukan syarat supaya aku setuju," keluh Rizky. "Apa aku ikhlaskan Nella saja, Pa?"
Sofyan menggeleng cepat. "Jangan dong, nanti masalah itu Papa pikirkan dengan Mamamu."
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar deringan ponsel, asal suaranya dari saku jas Sofyan. Lantas pria itu mengambil ponsel tersebut dan ternyata ponselnya Rizky yang dia bawa dari Gita.
"Ini Papamu telepon," ucapnya seraya memberikan benda pipih itu ke tangan Rizky, dia sempat melihat nama panggilan bertuliskan 'Papa'
Rizky mengambilnya dan langsung mengusap layar seraya berkata, "Halo, Pa."
"Kamu ke mana saja? Sejak kemarin semalam di pesta tiba-tiba menghilang, terus dari pagi Papa ke kantormu nggak ada dan Papa telepon berulang kali ... baru sekarang nomormu aktif," gerutu Guntur kesal, hanya dia seorang yang tidak tahu apa-apa.
"Maaf, Pa. Semalam dress Nella ketumpahan jus dan dia mengajakku buru-buru pulang." Sebenarnya Rizky tidak mau berbohong, tapi jika semuanya dijelaskan—itu akan rumit dan panjang. "Papa ada apa mencariku?"
"Ini, Papa mau mangajakmu makan malam bersama," ucap Guntur.
"Oh, ya sudah nanti pulang kerja aku langsung ke rumah Papa."
"Makan malamnya bukan di rumah Papa, tapi di restoran. Kamu kenal Pak Aji, kan? Rekan bisnis barumu?"
"Pak Aji Wijaya?" tanya Rizky.
"Iya, dia punya restoran dan ada menu baru di sana."
"Wah bagus itu, aku mau mengajak Nella ya, Pa?"
"Nggak usah ajak dia, Papa juga nggak mengajak Mama. Kita hanya berdua ke sana."
"Lho, kenapa?"
"Papa kok bicara seperti itu, Papa 'kan jarang menemuiku. Ya sudah ... nanti malam kita makan bersama."
"Iya, nanti Papa jemput kamu."
"Iya." Rizky menutup sambungan telepon dan menaruhnya di dalam saku jas.
"Ada apa, Riz? Kok bawa-bawa nama Nella?" tanya Sofyan penasaran.
"Papa mengajakku makan malam bersama, tapi hanya berdua dengannya."
"Oh, Papa nggak diajak?"
Rizky hanya tersenyum dan mengangguk samar.
***
Sementara itu di rumah Angga.
Dada Angga masih bergemuruh, dia merasa kesal dan marah dengan tindakan Sofyan.
__ADS_1
"Kamu juga, Opa 'kan semalam sudah bilang, jangan pergi dengan Rizky ... tapi kamu terus saja memaksa!" hardik Angga.
Ya, semalam Angga bahkan bersikeras melarang Nella pergi. Tapi wanita itu tetap ingin pergi lantaran sudah mengiyakan ajakan dari Gita dan Rizky. Dia lebih tepatnya tidak enak pada mertuanya.
"Papa sudah, ngapain jadi marahin Nella? Yang penting dia baik-baik saja dan nggak lecet," ujar Sindi seraya mengelus puncak rambut cucunya yang sedari tadi diam dan menunduk.
"Nggak ada yang lecet tapi lehernya merah-merah gitu," ketus Angga seraya bersedekap.
"Semuanya sudah berlalu, lagi pula Nella dan Rizky masih suami istri. Mereka nggak berdosa melakukannya, dan Papa juga tahu kalau Nella di KB. Dia juga nggak akan hamil." Sindi seolah mengerti mengapa Angga bisa semarah ini.
Angga langsung merasa lega mendengar apa yang dikatakan istrinya, dia hampir lupa jika memang Nella di KB.
"Ya sudah, Mama ajak Nella masuk ke kamar. Suruh istirahat, mungkin dia capek."
Sindi mengangguk, dia mengandeng tangan cucunya untuk naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.
"Aku mau tidur Oma," ucap Nella saat mereka sudah duduk di atas kasur.
Sindi mengambil sesuatu pada kantong celana, lalu memberikan benda pipih padanya. "Ini ponselmu, tadi Papamu yang memberikannya."
"Terima kasih, Oma."
"Sama-sama. Ya sudah ... Oma tinggal dulu." Sindi mencium kening Nella. Dia bangkit lalu berjalan keluar dari kamar Nella.
Melihat sang nenek sudah menghilang, Nella lantas menghubungi Nissa.
"Halo, Tante. Maaf hari ini aku nggak bisa ke restoran," ucapnya saat panggilan itu diangkat dari seberang sana.
"Iya nggak apa-apa. Tapi kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nissa. Suara Nella terdengar bergetar.
"Aku nggak baik Tante, ini gawat."
"Gawat? Apanya yang gawat?" pekik Nissa merasa terkejut.
"Kemarin malam aku sama Rizky berhubungan badan dan masalahnya ... aku lupa minum pil KB, aku takut hamil," ucap Nella dengan suara lirih.
"Kok bisa lupa? Tante 'kan pernah mengingatkanmu."
"Iya, tapi sudah terlanjur. Bagaimana ini? Apa aku harus minum sekarang obatnya?"
"Kamu biasa minum kapan?"
"Malam, sekitar jam 7."
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
__ADS_1
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...