
Ihsan membulatkan matanya. Jujur, dia tak tahu niat Angga datang karena masalah kemarin, sebab yang dia tahu—Angga pasti akan memihak padanya.
"Aku nggak mengaku-ngaku, itu adalah anakku," ucap Ihsan yang lagi-lagi berbohong.
Angga geleng-geleng kepala. "Opa nggak percaya! Kamu dan Nella nggak mungkin melakukan hal seperti itu sebelum menikah. Kamu jangan coba-coba membohongi Opa!" Sekarang suara Angga agak meninggi, sebab dia mau Ihsan langsung jujur dan menurut padanya.
Ihsan terdiam, dia benar-benar binggung saat ini. Sebenarnya niatnya mengaku-ngaku supaya Nella bisa kembali padanya. Tetapi sayangnya wanita itu malah makin menjauh, nomornya pun sudah tak bisa dihubungi.
"Opa, bukannya Opa saat itu mendukung aku dan Nella bersatu? Kok sekarang berubah?" tanya Ihsan dengan wajah sedih. "Kalau hanya karena Nella hamil ... aku nggak masalah. Aku bisa bertanggung jawab atas kehamilannya."
Angga decak kesal, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran pria bule itu. "Tanggung jawab bagaimana maksudmu? Nella itu punya suami, kecuali dia janda atau korban pemerkosaan ... baru kamu bilang mau tanggung jawab, kamu jangan gila, San!" tekannya dengan emosi.
"Tapi aku sangat mencintainya, Opa. Aku nggak rela Nella bersama Rizky dan mengandung anaknya," ucap Ihsan. Tak lama bola matanya berair, dia merasa sedih akibat nasib percintaannya begitu tragis.
"Opa tahu, Opa mengerti." Angga mengusap bahu kiri Ihsan sebentar lalu turun pada lengannya. "Kalau saja Nella lebih dulu bilang sama Opa kalau dia punya pacar, sebelum kamu datang melamarnya ... Opa akan menikahkan kalian langsung."
Ihsan terdiam dan menunduk, perlahan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.
"Nasi sudah menjadi bubur, San. Nella sudah menikah, dan Opa dengar dia juga memilih Rizky daripada kamu. Sekarang kamu ikhlaskan dia. Opa tahu itu sangat berat ... tetapi memang hanya itu yang terbaik."
Angga masih berusaha membujuk sembari menenangkan hati Ihsan yang masih kalut. Sejujurnya dia merasa kasihan, namun kali ini dia tidak bisa apa-apa.
"Kalau Nella senang dan bahagia, apa kamu ikut senang dan bahagia?" tanyanya lagi. Ihsan hanya mengangguk samar sambil menyeka air matanya.
'Aku ingin dia senang dan bahagia bersamaku, Opa. Bukan bersama Rizky, dia nggak pantas bersama Nellaku,' batin Ihsan terenyuh.
"Sekarang kamu ikut Opa, ya!" Angga menaikkan dagu Ihsan supaya bisa saling memandang. "Wanita hamil sangat butuh perhatian suami. Nella sudah cukup kekurangan kasih sayang semenjak Mamanya meninggal, Sofyan juga tidak terlalu memperhatikannya. Hanya Rizky yang sekarang dia butuhkan. Opa akui ... Rizky memang pria yang baik, hanya saja otaknya harus rajin dibersihkan, biar nggak kotor." Angga ingin memuji Rizky sebenarnya, tapi ada saja kekurangan pria itu yang harus disebutkan.
Ihsan menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak mau menemui Rizky dan berkata jujur padanya!" tegas Ihsan.
Ternyata, ucapan Angga yang sudah panjang lebar tak membuat hatinya melunak, Ihsan tetap memegang teguh pendiriannya.
"Kenapa? Kalau kamu begini tandanya kamu nggak sayang sama Nella!" berang Angga emosi. Kedua tangannya sudah mengepal ingin menonjok salah satu pipi Ihsan, tetapi dia masih berusaha menahannya.
"Bukan aku nggak sayang, itu semuanya tergantung Rizky. Dia nggak mau melepaskan Nellaku, tetapi kenapa dia nggak mempercayainya? Harusnya Opa sadar kalau Rizky nggak pantas dengan Nella, karena dia meragukannya dan lebih percaya padaku!" tukas Ihsan.
Angga terdiam, tetapi apa yang dikatakan Ihsan ada benarnya. Rizky di sini hanya salah paham dan lebih mempercayai Ihsan ketimbang Nella.
"Tapi kalau kamu nggak bicara dengan Rizky, bagaimana bisa dia percaya?" tanya Angga.
"Balik lagi pada dirinya. Dia 'kan yang membuat anaknya, pasti dia bisa merasakan naluri sebagai seorang ayah. Biarkan saja Rizky seperti itu ... biar Nella sadar kalau dia bukan pria yang tepat untuk dipilih!" Dada Ihsan tiba-tiba saja bergemuruh, mengingat semua hal atas penolakan Nella padanya. Sungguh, dia benar-benar sakit hati dan tak terima jika pujaan hatinya lebih memilih Rizky daripada dirinya sendiri.
__ADS_1
*
*
"Bagaimana, Pa?" tanya Sofyan saat melihat Angga masuk ke dalam mobil dengan wajah emosi.
"Gagal, si Ihsan nggak mau ketemu Rizky," jawabnya malas.
"Kok gitu? Papa bujuk dia nggak tadi?"
"Iyalah, kamu pikir Papa ke sana tadi ngapain, ha?" berang Angga sewot. "Papa sudah bicara panjang lebar sama dia, tapi ujung-ujungnya dia nggak mau ketemu Rizky!"
"Menyebalkan memang! Si Ihsan egois!" seru Sofyan seraya menonjol stir mobil, lalu menancapkan gasnya. "Bisa-bisanya dia mengaku-ngaku ayah dari cucuku! Kurang ajar sekali!" geram Sofyan.
"Tapi tadi dia jujur sama Papa, kalau Nella hamil anaknya Rizky."
Sofyan membulatkan matanya, lalu menoleh pada Angga. "Serius, Pa?"
"Iya, ditekan-tekan akhirnya dia jujur juga."
"Terus Papa rekam percakapan Ihsan nggak tadi?" tanya Sofyan dengan penuh antusias.
Angga menggeleng. "Nggak."
"Dih, kamu tadi nggak bilang sama Papa."
"Ya harusnya Papa punya inisiatif, Papa ini bodoh sekali."
"Apa kau bilang?" Angga langsung menoyor kepala Sofyan dengan kuat sambil melotot. Dia merasa tak terima dikatakan 'bodoh' oleh anaknya sendiri. "Kau yang bodoh! Sangat bodoh! Sudah dibantu nggak ada terima kasih!" umpatnya kesal.
"Iya, iya, maaf."
'Bantu apa? Papa nggak bantuin aku, kan tadi gagal,' batin Sofyan.
"Tadi Ihsan sempat bilang kalau itu semua balik lagi ke Rizky, harusnya dia lebih percaya sama Nella daripada dirinya. Bagaimana menurutmu?" Meskipun masih emosi, tetapi niat Angga membantu Nella sebenarnya begitu sungguh-sungguh.
"Sebenarnya itu memang benar, Pa. Harusnya Rizky lebih percaya sama Nella." Sofyan mengiyakan.
"Terus bagaimana? Apa Nella harus berpisah saja dengan Rizky? Ihsan juga mau tanggung jawab meskipun itu bukan anaknya."
Sofyan menggeleng cepat. "Enak saja, aku nggak mau! Aku nggak bakal rela Ihsan menjadi pengganti Rizky. Papa juga harus tahu, kalau Nella sekarang sudah memilih Rizky, bukan Ihsan."
__ADS_1
"Ya sudah, berarti tergantung Rizky saja."
'Apa aku pakai cara kasar saja? Supaya Ihsan jujur? Tapi dia orangnya susah diancam,' batin Sofyan.
***
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Gita saat melihat Nella tengah meringis kesakitan sembari memegang pinggangnya.
Mereka baru saja masuk ke mobil hendak pulang setelah berkeliling mall hingga sore untuk membeli perlengkapan bayi.
"Pinggangku kram, Ma." Setelah memegang pinggang, kini beralih memegangi lutut. "Lututku juga sakit, Ma ...." Wajah Nella terlihat begitu manja.
"Mau ke Dokter? Kita periksa dulu, ya?" tawar Gita.
Nella menggeleng cepat. "Nggak, aku mau cepat-cepat pulang dan berbaring saja. Mungkin ini karena terlalu lama aku berdiri."
"Oh ya sudah. Mama baluri minyak angin dulu." Gita membuka tas jinjingnya, lalu mengambil botol tersebut dan membuka tutup botolnya.
Setelah dituangkan ke tangan, Gita langsung membaluri minyak angin itu pada kedua lutut Nella.
"Kalau pinggang bagaimana? Kamu 'kan pakai dress." Gita hendak membaluri pinggang Nella, tetapi dia binggung cara memasukkan tangannya sampai ke pinggang menantunya.
"Nanti di rumah saja deh, Ma. Nanti aku olesi sendiri." Nella tersenyum dan menyandarkan punggungnya di penyangga kursi, lantas memejamkan matanya. "Aku mau merem sebentar, Ma. Nanti bangunin aku kalau sudah sampai, ya?"
"Iya, Sayang." Setelah menaruh botol minyak angin itu ke dalam tas, Gita segera mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Rizky.
...________________________...
đź’¬
To: Si Mesum
16.02 PM
Rizky, Mama dan Nella sedang mengarah ke jalan pulang rumahmu. Pokoknya Mama nggak mau tahu ... kamu harus sampai lebih dulu daripada mobil Mama. Kalau sampai telat, Mama akan membawamu ke Dokter untuk disunat dua kali!
...________________________...
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1174...