Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
24. Lu bercinta sama gue


__ADS_3

"Apa? Bercerai?" mimik wajah Rizky terlihat seperti terkejut dan tidak percaya.


"Iya, kita bercerai saja, Pak." Nella mengulang kalimatnya demi menegaskan apa yang ia maksud.


"Lu gila apa, Nell? Kita baru saja nikah kemarin. Masa sudah bercerai?"


"Terus apa masalahnya? Kita menikah saja dari unsur paksaan."


"Iya, memang gue juga dipaksa. Tapi gue nggak bisa bercerai sama lu. Apalagi baru kemarin menikah." Rizky geleng-geleng kepala, nampaknya ia tak setuju dengan saran istrinya.


"Kenapa Bapak nggak mau? Ini 'kan bagus buat hubungan kita."


"Bagus apanya?" Rizky mengerenyitkan dahi. "Yang ada gue kena semprot orang tua gue dan Papah lu."


"Bapak tinggal bilang saja pada mereka, kalau Bapak dan aku nggak cocok. Aku juga tau Bapak sudah punya pacar, nanti Bapak bisa menikah dengannya setelah kita bercerai!" tegasnya.


Rizky menyunggingkan senyum dan bersedekap. "Nggak semudah itu, Nell. Dan apa yang lu bilang barusan? Pacar? Kata siapa gue punya pacar?"


"Ck!" Nella berdecak. "Bapak ini pura-pura lupa ingatan. Padahal sendirinya bercinta di toilet." Nella mencebik bibirnya, ia kembali mengingatkan kejadian yang menurutnya menjijikan itu.


"Oh itu, dia Anna. Tapi dia bukan pacar gue. Kami hanya berteman."


Berteman? Berteman bisa sampai bercinta begitu. Oh ... apa wanita itu jal*ng? Ah benar, kata Tante Nissa juga Rizky sering menyewa wanita. Benar-benar menjijikkan' batin Nella.


Rizky memandangi wajah Nella yang juga memandang padanya. Sorot mata Nella begitu sinis dan bibirnya meringis geli.


"Apa yang lu pikirkan?" tanya Rizky curiga.


"Nggak ada, aku hanya memikirkan cara supaya kita bisa bercerai." Nella memalingkan wajahnya, menatap jendela. "Apa Bapak bisa kasih solusi untuk pernikahan ini?"


"Lu mau gue kasih solusi?"


"Ya."

__ADS_1


"Solusi gue ... ya jalanin aja dulu, Nell. Kalau kita berjodoh ya nggak mungkin bercerai. Tapi kalau memang nggak jodoh, ya pasti bercerai. Gitu aja, sih. Simple, kan?"


Nella kembali menoleh pada Rizky, pria itu terlihat begitu santai menyikapi masalah yang membuat kepalanya ingin pecah. "Kenapa Bapak bisa sesantai ini? Apa Bapak sama sekali tidak merasa terbebani?"


"Ya memang beban. Gue juga ngerasain. Tapi mau bagaimana lagi? Gue nggak bisa apa-apa."


"Bapak coba dululah. Bilang sama Papahku, bilang apa kek supaya kita bisa bercerai," celoteh Nella kesal.


"Enak aja nyuruh-nyuruh, lu aja sana bilang sendiri. Memang lu pikir cari alasan itu gampang? Susah, Nell." Rizky jadi ikut kesal. Lantas dirinya bangun dan berpindah posisi duduknya di sofa, namun matanya masih melihat Nella yang duduk dengan wajah gusar.


"Apa alasan lu ingin banget bercerai sama gue? Kenapa lu nggak nerima pernikahan ini saja? Kita jalani sama-sama."


"Nggak perlu aku kasih tau harusnya Bapak sudah tau, kan?" cetus Nella.


"Karena lu nggak suka sama gue? Lu jijik sama gue?" tebak Rizky yang langsung diangguki oleh Nella.


"Itu salah satunya, tapi yang lebih penting adalah ... aku punya pacar, Pak! Bahkan sebelum Bapak melamarku, dia lebih dulu melamarku!"


"Terus kenapa lu nggak nikah dengannya? Kenapa justru Papah lu yang meminta Papah gue untuk menjalin perjodohan?"


"Tidak merestui?" Rizky duduk menyandar pada punggung sofa. "Alasannya?" jiwa kepo Rizky kembali muncul.


"Karena dia bukan orang kaya, dia hanya pria sederhana. Tapi ... aku sangat mencintainya," lirih Nella dengan manik mata yang berkaca-kaca, ia jadi mengingat semua kenangan yang telah mereka lalui bersama.


Kok Papah Sofyan nggak pernah cerita sama gue kalau Nella punya pacar? Jadi ini alasannya dia ngotot ingin aku menikah dengan putrinya.


Rizky menatap nanar wajah Nella, kini gadis itu sedang menyeka air matanya yang baru saja mengalir. Hati kecil Rizky muncul rasa iba untuk menolong, ia mulai memikirkan sebuah ide untuk membantunya.


"Oke lah. Gue akan bicara sama Papah lu nanti, gue juga akan cari ide. Tapi, ada syaratnya."


"Syarat? Apa syaratnya?" Nella mengukir senyuman pada sudut bibirnya, ia merasa ada titik terang dari bantuan Rizky.


"Lu bercinta sama gue."

__ADS_1


Deg!


Senyuman itu langsung pudar seketika, wajah cerianya berubah menjadi masam.


"Dasar Mesum! Aku nggak mau!" tegasnya sambil melotot.


"Hahahaha ...." Rizky bergelak tawa melihat ekspresi wajah Nella. Tentunya syarat dari Rizky terasa sangat berat, ia memang sengaja memancing untuk bisa menyentuh istrinya. "Kenapa nggak mau? Lu bukannya istri gue? Kewajiban istri adalah melayani suami."


"Memang benar, tapi 'kan aku bilang kita mau bercerai, ngapain juga kita bercinta?"


"Ngapain-ngapain, ya enaklah Nell! Lu ini gimana, sih?" Rizky terkekeh dan geleng-geleng kepala. "Rugi dong gue, masa nikah terus cerai ... gue sama sekali nggak nyentuh lu? Gue juga mau kali ngerasin nikmatnya bercinta sama lu, Nell."


Ucapan dari Rizky sontak membuat Nella terbelalak, bulu kuduknya merinding, ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya sampai leher. Ia merasa takut, takut sekali disentuh oleh pria di depannya.


"Hahahaha ...." Rizky masih bisa-bisanya tertawa terbahak-bahak, melihat wajah ketakutan istrinya. Ia makin penasaran, bagaimana rasanya bercinta dengan Nella. Bahkan kini miliknya sudah menegang dibalik celana. "Lu lebay banget, sih? Lu takut?"


Nella terdiam dan membeku di tempat duduknya. Memang jelas ia takut, tapi alasan yang terkuat adalah ia tak rela jika kesuciannya direnggut oleh pria yang tidak ia cintai, termasuk Rizky tentunya.


"Nggak usah takut, Nella. Gue orangnya nggak kasar kok, gue bisa main pelan-pelan." Rizky berdiri, jari jemarinya dengan lihai melepaskan kancing. Langkah kakinya perlahan mendekati gadis yang kini memojokkan tubuhnya di ujung kasur.


"Bapak mau apa? Aku nggak mau bercinta dengan Bapak! Aku nggak mau!" teriak Nella, ia makin mempererat selimut pada tubuhnya.


Rizky sudah berhasil melepaskan kemejanya, kemeja itu ia biarkan terkapar di lantai. Dada bidang Rizky terekspos dengan jelas. Walau tubuhnya tidak terlalu kekar, tapi ada empat potong roti sobek pada perutnya. Kaki Rizky merangkak naik ke atas kasur mendekati Nella.


"Katanya mau dibantuin? Lagian ... syarat ini nggak bakal bikin lu rugi. Lu 'kan istri gue." Dengan cepat, Rizky memeluk tubuh Nella yang berbungkus selimut tebal, ia sudah mendekatkan bibirnya pada telinga istrinya. "Mau ya, Nell? Gue pengen banget dari kemarin," bisik Rizky dengan nada memohon.


Tubuh Nella makin bergetar hebat saat merasakan bibir Rizky yang sudah menciumi rambut kepalanya. Riwayatnya seperti akan tamat saat ini juga.


Oh tidak, bagaimana ini? Aku tidak mau disentuh sama Rizky. Ini bukan sebuah syarat, Rizky benar-benar Mesum!


Rizky mencengkeram selimut yang menutupi tubuh Nella, ia mencoba menarik selimut itu tapi ada tangan Nella yang ikut menahannya.


"Pak, aku nggak mau! Jangan kasih aku syarat seperti ini!" tegas Nella, ia masih berusaha mempertahankan selimut guna melindungi diri.

__ADS_1


"Lepasin nggak? Lu mau gue main kasar atau lembut?" tekan Rizky dengan emosi. Hasratnya sudah menggebu-gebu. Jika kemarin malam ia masih bisa menahannya, tapi kali ini ia rasa tidak bisa, Rizky harus menuntaskan sekarang juga.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2