Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
270. Menantu Bapak meninggal dunia


__ADS_3

Tok ... tok ... tok.


Terdengar suara ketukan pintu, suaranya sangat keras hingga membangunkan orang yang tengah tertidur pulas di dalam sana.


Sofyan mengerjapkan mata seraya mengusap-usapnya, lalu menoleh ke arah jam weker. Di sana menunjukkan pukul 4. "Siapa sih? Pagi-pagi menganggu orang tidur saja! Padahal lagi enak-enak tidur!"


Pria itu mendengus kesal, kemudian membuka selimut seraya turun dari kasur. Sebelum membuka pintu dia memunguti pakaiannya dulu, lalu memakainya.


Ceklek~


"Ah, Bibi. Ada apa sih?" Sofyan membuang napasnnya gusar saat melihat di depan pintu itu ada bibi pembantu.


"Pak Rizky, Pak. Pak Rizky!" ujar Bibi pembantu dengan deru napasnya yang tersengal-sengal. Wajahnya penuh keringat, dia seperti habis lari maraton.


"Rizky kenapa?"


"Pak Rizky pingsan."


"Apa? Pingsan?!" Yang memekik bukan Sofyan, melainkan Nella yang baru saja membuka pintu kamar. Mata wanita itu seketika melolot. "Mas Rizky pingsan di mana, Bi?" tanyanya panik.


"Diluar, Nona."


Nella langsung berlari menuruni anak tangga, juga disusul oleh Sofyan. Pria itu terlihat biasa saja, sebab masih berpikir kalau Rizky pasti hanya berpura-pura.


*


*


Setelah gerbang itu dibuka—Nella segera bersungkur di bawah seraya menaruh kepala suaminya di atas paha. Rizky masih berbaring di aspal dengan mata terpejam. Wajahnya tampak begitu merah seperti udang rebus, juga sangat pucat.


"Mas! Mas Rizky bangun, Mas!" Nella menangkup kedua pipi suaminya seraya menggoyangkannya. Kedua pipi pria itu terasa sangat panas bagaikan kompor.


"Rizky!" Sofyan berjongkok lalu menggoyangkan tubuh Rizky, tetapi pria itu terlihat diam saja.


"Papa, bawa Mas Rizky ke rumah sakit, Pa! Aku takut dia kenapa-kenapa." Nella menoleh pada Sofyan dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir di pipi, wanita itu tampak begitu sedih melihat keadaan suaminya.


Sebenarnya, sejak semalam dia juga tak bisa tidur karena menunggu Rizky yang tak kunjung pulang. Salahnya Nella hanya menunggu di dalam kamar, tidak sampai keluar rumah. Mungkin kalau keluar dia pasti akan melihat suaminya yang bertingkah gila semalaman, demi meluluhkan hati Sofyan.


Sekarang dia juga pasti bertanya-tanya mengapa suaminya itu pingsan diluar gerbang, sedangkan di belakang ada mobil.


Sofyan menyentuh kening Rizky, seketika matanya terbelalak saat merasakan hawa panasnya. Kali ini dia yakin jika Rizky benar-benar pingsan, bukan pura-pura.

__ADS_1


Lantas, cepat-cepat dia pun mengangkat tubuh menantunya. Nella membukakan pintu mobil hitam untuk Sofyan membaringkan tubuh Rizky ke kursi belakang. Kemudian Sofyan berlari masuk ke dalam kursi kemudi.


"Kamu jangan ikut, nanti menyusul saja bareng Jihan dan Mama Maya." Sofyan menegur Nella yang baru saja hendak masuk ke dalam kursi belakang. Lantas wanita itu pun tak jadi masuk dan langsung menutup pintu. "Iya, tapi Papa harus hubungi aku kalau ada sesuatu tentang Mas Rizky, ya? Nanti telepon atau chat di hapenya Mama Maya saja."


"Iya, Nell." Sofyan mengangguk, kemudian menyalakan mesin mobil.


"Hati-hati, Pa."


"Iya."


Mobil itu langsung melaju dengan kecepatan tinggi.


Di dalam perjalanan, perlahan Sofyan menyentuh dadanya yang terasa sakit. Dalam lubuk hatinya—ada rasa penyesalan, menyesal karena secara tidak langsung dia menjadi penyebab Rizky seperti itu.


Sangat jelas meskipun seberapa pun menjengkelkannya Rizky—Sofyan tetap menyayanginya. Bahkan menganggap Rizky seperti anaknya sendiri.


'Apa aku terlalu keras pada Rizky? Padahal aku hanya menghukumnya supaya dia sadar kalau tingkahnya kurang ajar. Kalau didiamkan dia pasti akan makin menjadi-jadi. Tapi kenapa justru dia malah seperti ini? Semoga dia baik-baik saja,' batin Sofyan.


Bruk!


Terdengar suara sesuatu yang jatuh saat Sofyan mengerem mobilnya bertepatan dengan lampu hijau. Lantas dia memutar kepalanya ke belakang, sebab asal suara itu dari belakang.


Sontak—matanya melotot kala melihat di kursi belakang itu tak ada siapa-siapa.


Sofyan mengangkat kembali tubuh Rizky lalu menaruhnya di kursi, supaya tak lagi jatuh dia pun memakaikan sabuk pengaman.


***


"Tolong menantu saya, Pak!" Sofyan berteriak di depan rumah sakit.


Entah meminta tolong pada siapa—tetapi tak lama dua orang perawat pria datang menghampirinya sambil mendorong brankar. Cepat-cepat Sofyan membuka pintu mobil kemudian mengangkat tubuh Rizky untuk dia baringkan di atas sana.


Tempat itu didorong cepat oleh kedua perawat, membawanya masuk ke dalam UGD. Sofyan juga berlari menyusulnya, kemudian saat sudah sampai dia langsung duduk di kursi tunggu.


Entah mengapa tiba-tiba saja perasaannya tak enak, seluruh tubuhnya mendadak bergetar. Dia benar-benar tak tenang dengan kondisi Rizky, takut jika pria itu kenapa-kenapa.


"Ya Allah, semoga Rizky nggak kenapa-kenapa. Aku takut sekali." Sofyan mengusap wajahnya, kemudian mengambil ponselnya di kantong celana dan segera menghubungi Gita. Orang tua Rizky wajib tahu.


Panggilan itu lama sekali diangkat, sepertinya Gita masih tidur. Sofyan beralih menghubungi Guntur, mungkin saja pria itu sudah bangun.


Saat ketiga kali panggilan itu baru diangkat.

__ADS_1


"Halo, ada apa Sofyan?" tanya Guntur dengan suara serak khas bangun tidur.


"Pak, Rizky dibawa ke rumah sakit Harapan. Dia pingsan."


"Apa? Pingsan?" Guntur memekik dengan kencang hingga telinga Sofyan pun berdengung, kemudian panggilan itu langsung dimatikan.


Ting~


Bunyi notifikasi chat masuk dari Maya. Sofyan langsung membukanya.


[Ayank ada di mana sekarang? Aku, Nella dan Jihan lagi naik mobil. Mau menyusul.]


[Rumah sakit harapan, Sayang.] Sofyan membalas.


Ponsel itu dia masukkan kembali ke dalam kantong celana. Kemudian Sofyan menatap pintu UGD yang terlihat belum ada tanda-tanda seseorang yang akan keluar.


Perlahan Sofyan menyandarkan punggungnya lalu mendongakkan wajahnya ke atas sambil memejamkan mata.


Ceklek~


Baru saja mata itu terpejam, kemudian langsung terbuka lebar lantaran mendengar suara pintu terbuka. Sofyan langsung berdiri setelah tahu ternyata pintu itu adalah pintu UGD. Ada seorang dokter pria berkaca mata yang tengah berdiri di depan.


"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Sofyan seraya menghampiri.


"Menantu Bapak yang laki-laki tadi?"


Sofyan mengangguk. "Iya, yang tadi. Namanya Rizky Gumelang. Dia yang didorong oleh kedua perawat pria dengan brankar."


Dokter itu terlihat tengah membuang napasnnya dengan kasar, lalu tiba-tiba dia pun mengelus pundak Sofyan.


Sofyan terlihat binggung, entah apa yang dilakukan dokter itu padanya. Tidak biasanya seorang dokter bersikap seperti itu.


"Kenapa, Dok?" tanya Sofyan dengan wajah heran.


"Bapak yang sabar ... saya mohon tabahkan hati Bapak." Dokter itu sekarang menepuk-nepuk pelan pundaknya, suaranya terdengar begitu lirih.


"Maksud Dokter apa?" Alis mata Sofyan bertaut, dia benar-benar tak paham maksudnya.


"Menantu Bapak meninggal dunia."


Degh!

__ADS_1


Mata Sofyan langsung melolot dan seperti hendak keluar, jantungnya berdebar kencang seakan ingin lompat. Ucapan Dokter itu seketika membuat hatinya teriris, tetapi dia belum sepenuhnya percaya.


"Meninggal?" Wajah Sofyan menegang, terlihat tubuhnya tiba-tiba saja bergetar hebat. "Dokter yang benar saja! Mana mungkin Rizky meninggal!" Sofyan segera mendorong dokter berkacamata itu yang berada di pintu. Cepat-cepat dia pun masuk ke dalam ruang UGD. Dia sangat tak percaya dengan apa yang dokter itu ucapkan, untuk lebih jelas ada baiknya memastikannya sendiri.


__ADS_2