
Setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil Rizky, lalu pria tampan itu mengemudi.
"Aku baluri minyak angin dulu, Mas." Nella membuka tutup botol minyak angin yang telah berhasil dia temukan di dalam tas, lalu Nella mendekat dan mengolesi leher Rizky secara perlahan.
"Terima kasih," ucap Rizky pelan tanpa menoleh.
"Sama-sama. Terima kasih juga Mas Rizky sudah memanjat untukku, dan maaf kalau gara-gara aku Mas sampai terjatuh."
"Nggak apa-apa. Perut lu sakit nggak? Apa tadi gue menimpanya?"
"Nggak kok aman, dia malah senang kalau berada di dekat Papanya." Nella mengelus perutnya sendiri. "Eh, kalau sudah lahir ... Mas Rizky mau dipanggil siapa sama dia? Ayah, Papa, Daddy, Papi atau apa?"
"Eemm ...."
"Ah maaf, Mas Rizky saja masih ragu anak ini anak siapa. Lupakan saja deh, Mas," ucap Nella sambil membenarkan posisi duduknya, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Mendadak dada Rizky berdenyut nyeri mendengar apa yang Nella katakan. Padahal memang dia sendiri yang awalnya ragu, tetapi entah mengapa ada rasa sedih di dalam hatinya.
***
Setelah mandi sore, Rizky yang sudah mandi dan memakai kolor pendek berwarna hitam serta kaos merah polos lengan pendek, berjalan turun dari anak tangga menuju dapur.
Di sana ada Nella yang sedang duduk bersama Bi Yeyen sembari memaksa wanita paruh baya itu untuk memakan buah mangga. Nella juga sudah mandi dan rambutnya terlihat basah, tetapi dia tidak memakai make up. Walau begitu Nella tetap terlihat cantik apalagi di mata Rizky.
Wanita itu memakai kaos labasan di atas lutut berwarna hitam putih.
"Bibi nggak suka buah asem Nona, buat Nona saja." Bi Yeyen menggeleng cepat saat Nella terus saja menyodorkan buah mangga pada bibirnya.
"Ini enak, masa asem." Nella mengerucut bibirnya, lalu akhirnya potongan buah itu dia colek pada sambel rujak dan memakannya sendiri. "Nggak seru, masa makan rujak sendirian."
"Mau gue temenin?" tawar Rizky seraya menarik kursi dapur, lalu duduk di samping istrinya.
Melihat sudah ada Rizky, Bi Yeyen lantas pergi meninggalkan mereka berdua.
"Memangnya Mas Rizky doyan mangga muda?" Nella mengambil potongan mangga itu yang berada di atas piring, lalu menyodorkan pada bibir suaminya.
Rizky menggeleng. "Gue nggak doyan, tapi gue mau temenin lu makan rujak."
"Temenin doang? Nggak seru." Nella merenggut. Lagi-lagi potongan buah itu dia makan sendiri.
"Wah sedang apa nih bumil Mama yang cantik?" tanya Gita yang baru saja datang menghampiri mereka sambil mendorong koper kecil di tangannya.
__ADS_1
Mendengar suara Gita, Rizky dan Nella menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Mama ...." Nella bangkit lalu mencium punggung tangan mertuanya. "Ayok kita makan rujak, Ma. Ini buahnya Mas Rizky yang memetik."
"Benarkah? Sepertinya enak." Gita langsung memakan satu potong buah yang baru saja Nella berikan. Terlihat wanita cantik itu merasa senang, setidaknya sikap Gita masih seperti dulu dan tidak berubah seperti Rizky dan Guntur.
"Bagaimana, Ma? Apa enak?" Nella melihat ekspresi wajah Gita yang tengah merem melek akibat asam di lidahnya.
"Asem banget, tapi sambelnya enak. Kamu buat sendiri ini sambelnya?" Padahal bilang asem, tetapi Gita malah mencobanya dan kali ini sambelnya agak banyak.
"Nggak, aku beli. Mama mau aku buatkan sambel memangnya? Aku bisa buatkan."
Gita menggeleng. "Nggak usah, ini juga sudah ada. Oya ... bagaimana kandunganmu? Apa baik-baik saja? Jangan terlalu banyak makan asem, nanti sakit perut."
"Dia baik-baik saja, Ma." Nella tersenyum sambil mengusap perutnya sendiri.
"Mama kok bawa koper dan sore-sore ke sini mau apa?" tanya Rizky penasaran.
"Mama mau menginap, Papa pergi ke luar kota soalnya."
"Mama tidur bareng saja denganku, supaya aku tidurnya nggak sendiri," ucap Nella.
"Aku tidur dengannya kok," bantah Rizky sambil menggeleng.
"Mas Rizky bohong, Ma. Dia katanya nggak mau tidur seranjang lagi denganku," sanggah Nella mengadu, seketika wajahnya berubah menjadi sendu.
"Sok-sokan kamu, Riz!" Gita menepuk kasar bahu anaknya. "Kemarin-kemarin kamu bukannya susah untuk tidur dengannya? Kenapa giliran sekarang malah menolaknya? Nggak tau diri sekali!" umpatnya dengan kesal.
"Jangan bilang itu karena kamu meragukan kandungannya Nella?!" tukas Gita sambil melotot. "Dia anakmu! Kamu harusnya percaya sama istri sendiri daripada orang lain. Nanti kamu yang akan menyesal!" tegasnya.
Merasa jengkel, lantas Gita menarik lengan Nella, membawanya masuk ke dalam kamar Rizky.
"Maafkan Rizky, Nell. Kamu jangan bersedih." Gita memeluk tubuh Nella saat mengetahui menantunya sudah menangis, lalu mengajaknya untuk duduk di atas kasur.
"Aku mengerti kok, Ma. Tapi ... sumpah aku hanya bercinta dengan Mas Rizky, aku nggak pernah ...."
"Sstt ...." Gita mendesis sambil mengelus-ngelus punggung Nella. "Nggak usah diteruskan, Mama juga percaya sama kamu."
"Terima kasih Mama sudah percaya padaku, aku sayang Mama."
"Mama juga sangat sayang padamu." Gita melepaskan pelukannya, lalu perlahan menyeka air mata pada kedua pipi Nella.
__ADS_1
"Aku binggung harus bagaimana sekarang, supaya Mas Rizky percaya padaku. Aku sendiri nggak punya bukti, Ma."
"Nggak usah memikirkan soal itu, nanti juga Rizky percaya sendiri. Tapi, apa sejak kemarin Rizky kasar padamu?" Gita menangkup kedua pipi Nella. Dia juga merasa penasaran dengan hubungan anak dan menantunya itu.
"Mas Rizky nggak kasar, dia tetap baik padaku. Cuma sikapnya nggak semanis dulu," keluh Nella.
"Biarkan saja, yang rugi nanti Rizky sendiri. Mama yakin dia nggak bakal tahan kalau nggak bercinta denganmu."
"Aku dan dia sudah bercinta kok, Ma," jawab Nella dengan kedua pipi yang bersemu merah. "Tapi Mas Rizky masih begitu."
Gita membulatkan matanya. "Benarkah? Kapan?"
"Tadi siang."
"Terus masih begitunya bagaimana maksudmu?"
"Ya begitu, Mas Rizky belum percaya."
"Sabar Sayang, yang penting sekarang kamu dan Ihsan sudah putus. Oya ... kamu mau makan apa? Biar Mama pesan, kita makan berdua di kamar dan jangan mengajak Rizky." Gita membuka ponselnya, lalu mengusap layar ke atas untuk melihat menu makanan yang bisa dipesan secara online.
"Aku mau makan malamnya di restoran saja, kita ke sana berdua."
"Oh, ya sudah .... ayok pergi sekarang. Apa kamu mau ganti baju?"
"Nggak perlu, aku pakai ini saja." Nella menunduk sembari melihat tubuhnya sendiri, pakaian yang dipakainya terlihat sederhana tetapi menarik pada tubuhnya. Rasanya dia juga malas untuk mengganti pakaian.
"Ya sudah ayok."
Mereka bangkit dari duduknya. Tetapi saat keduanya berjalan keluar kamar—Rizky yang sejak tadi berada di depan pintu langsung terperangah.
"Sedang apa kamu, Riz? Nguping?" tebak Gita.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1079...
Khusus hari ini dan besok, author up 3 kali, tetapi tetap—dijam yang berbeda, ya!
Jangan lupa beri dukungan untuk author, ya! biar semangat nulis. Vote dan hadiahnya silahkan diberikan jika berkenan 🤗
__ADS_1