
Tidak ada tanda-tanda pria itu bangun, lantas Rizky mengecek denyut nadinya pada lengan kirinya. Setelah dicek, ternyata masih berdenyut.
Rizky menarik lengan Ihsan, menaruhnya pada bahu Rizky. Namun baru saja ia mencoba untuk memapahnya, tiba-tiba Ihsan bangun dan memegang lengan Rizky.
"Aaww!" Ihsan memekik sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri.
Rizky menurunkan kembali tubuh Ihsan ke bawah supaya pria itu kembali duduk di rumput. Ia membuka pintu mobil dan memberikan sebotol air mineral yang masih bersegel.
"Minum dulu."
"Terima kasih, Pak." Ihsan segera membuka dan menenggaknya sampai tandas.
"Lu kenapa sebenarnya? Kok bisa tiduran di jalan begini?" Rizky mengamati seluruh tubuh Ihsan, tidak ada yang lecet sama sekali. Ia juga melihat motor hijau itu begitu mulus tidak ada goresan. "Ini motor lu?" tanyanya kembali, seraya menunjuk motor.
"Iya, Pak. Itu motor saya." Ihsan terdiam sejenak untuk mengingat-ngingat kejadian kemarin.
Kemarin pagi ia ada janji bertemu Nella di Restoran. Ihsan menaiki motor, namun sayangnya saat melewati setengah dari perjalanan menuju Restoran, ia di hadang oleh ketiga pria kekar yang baru saja turun dari mobil.
Ketiga pria kekar itu adalah orang suruhan Sofyan, mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya saja secara mendadak salah satu dari mereka membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diteteskan obat bius, hingga membuat dirinya jatuh pingsan.
Tapi Ihsan tidak tau kalau tubuhnya sudah dibawa untuk memancing Nella supaya mau menikah dengan Rizky. Sekarang setelah Nella berhasil menikah, Ihsan dibuang begitu saja dipinggir jalan.
"Kok bengong? Apa yang lu pikirkan?" tanya Rizky menepis semua lamunan pada benak Ihsan.
"Aku mencoba mengingat-ngingat, Pak. Tapi aku hanya ingat kemarin saat aku pergi mau bertemu pacarku, ada yang menghadang dan menghentikan motorku ditengah jalan."
"Salah satu mereka membiusku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi," tambahnya lagi.
"Tapi lu ada yang sakit, nggak? Atau ada benda yang hilang gitu?" tanya Rizky kembali.
Ihsan menyentuh kantong belakang celananya, ada dompet dan ponselnya. Isi di dalam dompetnya juga masih utuh, memang mereka tidak berniat merampok.
"Nggak, semua aman."
"Apa lu mau lapor ke polisi? Kebetulan gue juga mau ke sana," tawar Rizky.
"Boleh, deh. Pak."
"Yasudah, ikut sama gue. Tapi ... gimana motor lu?"
"Masalah motor saya bisa minta tolong junior saya di bengkel, Pak."
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Ayok naik!" ajak Rizky.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil sama-sama, Rizky yang mengemudi.
"Lu punya bengkel?" tanya Rizky basa basi, memulai obrolan sebelum mereka sampai ke kantor polisi.
"Saya hanya kerja, Pak. Bengkelnya milik Om saya." Ihsan menoleh sebentar pada Rizky dan tersenyum.
"Bengkel apa? Mobil atau motor?"
"Mobil, saya kerja jadi montir."
"Wah, bagus. Nanti kapan-kapan gue ke bengkel lu deh kalau mau servis mobil." Rizky begitu antusias menanggapi apa yang Ihsan katakan. "Berapa nomor lu? Apa gue boleh minta?" tanya Rizky seraya mengambil ponselnya di atas dasbor, lalu memberikan pada Ihsan.
"Boleh, Pak." Ihsan segera mencatat nomornya, sekalian juga menyimpannya. "Saya simpan pakai nama saya Ihsan ya, Pak."
"Oke."
Sampainya di depan kantor polisi, Rizky langsung turun dari mobil namun Ihsan tak langsung ikut turun karena tiba-tiba ponselnya berdering.
"Bapak duluan saja, nanti saya nyusul," ucap Ihsan seraya merogoh ponselnya pada kantong celana.
Sepeninggal Rizky masuk ke dalam kantor polisi, Ihsan melihat layar ponselnya, tertera nomor baru. Tanpa pikir panjang ia segera mengangkatnya.
"Halo Kakak, ini aku Nella. Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Nella dari seberang sana. Suaranya terdengar pelan sekali, tapi masih terdengar begitu jelas.
"Cantik, aku baik-baik saja. Kamu pakai nomor siapa?"
"Benar Kakak baik-baik saja? Kemarin Kakak bertemu dengan siapa? Apa Kakak bertemu orang jahat?" suara Nella seperti khawatir. Jelas sekali ia tak mau melihat keadaan pacarnya kenapa-kenapa.
"Aku baik-baik saja, maaf Cantik aku kemarin tidak datang ke Restoran. Aku dijalan dihadang orang."
"Dihadang? Mereka semua anak buah Papah, Kak."
Ihsan terbelalak. "Apa? Kau serius?"
"Iya, aku juga mau kasih tau kabar buruk sama Kakak." Suara Nella makin terasa berat dan sedikit merintih.
"Kabar buruk apa? Kamu baik-baik saja, kan? Apa kamu sakit?"
"Aku tidak baik-baik saja, Kak. Aku ... aku dipaksa Papah menikah, dan itu semua sudah terjadi kemarin."
__ADS_1
Deg!
Ihsan langsung memegangi dadanya yang terasa nyeri bak tertusuk benda tajam. Bola matanya sudah berair dan menggenangi kantung matanya. Perlahan Ihsan memejamkan mata hingga membuat air mata itu turun membasahi pipi.
Sakit, sangat sangat sakit! Perempuan yang ia cintai sudah menikah dengan pria lain. Memang itu bukan keinginan Nella, tapi nyatanya sama saja terasa sakit. Ihsan makin terenyuh saat mendengar suara tangis Nella di seberang sana.
"Kak, maafkan aku. Aku tidak ada maksud untuk menyakiti Kakak, aku sungguh-sungguh terpaksa," lirihnya dengan sendu.
"Iya, aku mengerti Cantik." Suara Ihsan ikut menjadi pelan.
"Tapi Kakak tenang saja, aku akan minta cerai sama Rizky."
"Memangnya bisa?"
"Nanti aku akan bilang padanya, aku yakin dia juga tidak menginginkan pernikahan ini, Kak."
"Tapi bagaimana dengan Papahmu? Apa dia akan mengizinkan juga?"
"Nanti aku akan minta Rizky yang bilang sama Papah. Semoga saja berhasil, Kak."
"Tapi Cantik, sampai kapanpun Papahmu tidak akan menerimaku. Aku binggung harus berbuat apa." Ihsan mulai gusar, ia sebetulnya bisa saja membawa Nella kabur dan mengajaknya kawin lari. Tapi keputusan itu bukanlah mencerminkan seorang pria gantle. Ia juga tak mau ambil resiko untuk ke depannya. Sofyan pasti marah besar dan akan melakukan berbagai macam cara untuk memisahkan mereka.
"Jadi, Kakak mau menyerah? Kakak tidak mau memperjuangkan hubungan kita?"
"Tentu mau, tapi kuncinya di sini aku harus jadi pria yang seperti Rizky. Punya banyak uang, Nell." Ihsan mulai berfikir sejenak dan mencari ide untuk permasalahannya yang sangat berat. "Apa kamu bisa menungguku?"
"Menunggu? Menunggu apa?"
"Tunggu aku sukses, Nell. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk bisa jadi menantu idaman Papahmu. Setelah sukses, aku akan mengambil kamu dari tangan Rizky."
"Sekarang saja, Kakak ajak aku pergi. Kita pergi dari Jakarta dan membina rumah tangga."
"Jangan Nell, tidak harus seperti itu."
"Lalu apa? Aku tidak tahan hidup seperti ini, Kak. Aku tidak mau hidup dengan orang yang tidak aku cintai, aku hanya ingin hidup dengan Kakak." Nella kembali terisak tangis.
"Iya, aku juga sama. Hatiku juga sakit, tapi aku akan buktikan pada Papahmu nanti, buktikan kalau aku bisa jadi apa yang Papahmu mau. Apa kau percaya padaku, Cantik?"
"Aku ingin percaya, Kak. Tapi ...."
"Jangan seperti itu, percaya padaku. Aku akan mengambil kamu dari tangan Rizky. Tapi kamu harus berjanji dulu padaku, apa kamu mau?"
__ADS_1
Jangan lupa like 💕