
Rizky menggeleng cepat. "Nggak, yang ada gue beser. Seharian kencing mulu."
Nella hanya bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala. Setelah itu, Nella membereskan piring kotor dan membawanya keluar dari kamar, sedangkan Rizky masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
*
*
*
"Mau bercinta lagi, nggak?" tawar Rizky seraya mengecup singkat bibir Nella yang berada tepat di depan wajahnya. Kini mereka sudah sama-sama berbaring di atas kasur dengan balutan selimut dan saling berpelukan.
Nella menggeleng samar. "Nggak Mas, besok lagi saja. Aku mau langsung tidur, kan tadi sore kita sudah bercinta," tolaknya dengan lembut.
"Oke deh, selamat malam, Sayang." Rizky mendekatkan bibirnya pada kening istrinya, lalu mengecupnya singkat.
"Malam juga, Mas."
***
Keesokan harinya.
Suara deringan ponsel yang begitu nyaring seolah menjadi alarm untuk membangunkan Rizky yang tengah tertidur lelap dari semalam.
Pria tampan itu mengerjap-ngerjabkan kedua matanya sembari mengulurkan lengannya ke arah nakas untuk meraih ponsel.
"Siapa yang pagi-pagi telepon," gumamnya sambil menatap layar ponsel. Ternyata ponsel tersebut bukan miliknya, melainkan milik Nella dan tertera nomor baru pada layarnya.
Rizky menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan istrinya tetapi tak terlihat di mana-mana. Sejenak dia terdiam dan tiba-tiba telinganya terdengar suara gemericik air, mungkin istrinya yang cantik itu sedang mandi.
Lantaran penasaran, tanpa pikir panjang Rizky pun mengangkat telepon itu dan menempelkan pada telinganya.
"Halo selamat pagi, Cantik."
Deg!
Jantung Rizky langsung berdetak begitu cepat, dia tentu kenal suara dan ucapan itu milik siapa.
'Ihsan, mau ngapain dia menghubungi Nella?' batin Rizky.
"Cantik, kenapa kamu diam saja? Bagaimana kabarmu? Kenapa kamu nggak pernah jawab telepon dan pesanku? Nomormu juga nggak aktif dari kemarin-kemarin," tanya Ihsan, suaranya terdengar tengah menahan rasa sedih di dada.
'Jadi Nella sudah nggak pernah menghubunginya?' batin Rizky yang masih bergeming.
"Cantik, kenapa kamu diam saja? Jawab aku! Aku nggak mau hubungan kita berakhir!" tegas Ihsan.
"Lu mau apa lagi, sih?!" Rizky akhirnya membuka suara dengan nada membentak. "Lu benar-benar nggak tahu diri banget, ya! Memang wanita hanya Nella di dunia, sampai lu terus mengganggu wanita yang sudah bersuami?!"
__ADS_1
"Rizky?! Harusnya aku yang bilang seperti itu! Kau yang merebut Nellaku, aku mau kau dan dia bercerai dan kembalikan dia padaku!" pekik Ihsan dengan suara keras.
"Apa lu bilang? Merebut? Sejak kapan gue merebut Nella dari lu? Gue dan dia memang ditakdirkan untuk bersama!" tegas Rizky.
"Nggak! Nella hanya boleh bersamaku, kau juga bodoh ... sudah tahu Nella hamil anakku, untuk apa kau pertahankan? Harusnya kalian bercerai saja!"
"Hei, jaga bicara lu! Nella hamil anak gue, bukan anak lu! Gue yang menghamilinya dan membuatnya mendessah setiap hari, bagaimana bisa lu mengaku-ngaku?!" Lama-lama Rizky merasa geram, rahangnya mengeras dan dadanya bergemuruh.
"Aku nggak mengaku-ngaku, itu semua benar. Saat dia lahir nanti ... kau pasti akan sakit hati jika darah yang mengalir pada anak itu bukan darahmu!"
"Berengs*k lu, kurang ajar!"
Prang!
Rizky membanting benda pipih itu ke bawah lantai hingga pecah dan hancur. Perlahan dia menyentuh dadanya yang terasa berdenyut nyeri serta deru nafasnya yang sengal-sengal.
Masih juga pagi, tetapi emosi di dadanya sudah naik dan baginya—kali ini dia tak boleh diam saja.
"Gue akan kasih dia perhitungan!" berang Rizky seraya bangkit dan berdiri.
Lantas, dia membuka lemari untuk mengambil setelan jas berwarna merah maroon. Dia mengganti pakaiannya lalu berjalan keluar dari kamarnya sembari membawa ponsel dan kunci mobil.
Pria tampan itu bahkan belum mandi. Wajah bantal serta rambutnya terlihat begitu berantakan sama sekali tak menghalangi langkahnya untuk menemui Ihsan.
Jangan lupakan jempol kakinya yang masih diperban, tetapi Rizky sudah membungkusnya dengan sepatu kerja.
Ceklek~
Nella membuka pintu kamar mandi dengan lilitan handuk di atas dada. Seketika matanya membulat tatkala melihat ponselnya hancur berkeping-keping di lantai.
"Lho, kok ponselku pecah begini?" Nella segera berlari lalu berjongkok untuk memungut benda pipih miliknya. Setelah itu dia melihat ke arah kasur yang sudah tak ada Rizky di sana.
"Mas Rizky ke mana?" tanyanya pada diri sendiri.
Nella buru-buru mengambil pakaian di lemari lalu memakai dress berwarna pink selutut, kemudian dia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
Firasatnya mengatakan jika kepergian Rizky adalah alasan ponselnya hancur.
"Bibi, di mana Mas Rizky?" tanya Nella pada Bi Yeyen, yang baru saja masuk ke dalam rumah sembari menenteng plastik putih berisi buah-buahan.
"Bibi kurang tahu Nona, Bibi baru pulang dari pasar," jawabnya.
"Oh, ya sudah." Nella berjalan keluar dari rumah Rizky, lalu menghampiri satpam yang tengah duduk sambil menyeruput secangkir kopi. Nella juga sempat melihat mobil Rizky sudah tak ada di halaman rumah, otomatis Rizky pergi.
"Pak, apa Bapak melihat Mas Rizky?"
Mendengar pertanyaan Nella, satpam tersebut langsung menaruh cangkir kopi di atas meja lalu berdiri dari duduknya di kursi.
__ADS_1
"Tadi Pak Rizky pergi naik mobil Nona."
"Ke mana ya, Pak?"
"Saya kurang tahu." Satpam itu menggeleng pelan.
"Apa Bapak bisa telepon Mas Rizky untuk tanya padanya?"
"Bisa, sebentar ... saya telepon Pak Rizky dulu." Satpam itu berjalan masuk ke dalam pos untuk mengambil ponselnya lantaran sempat dicharger. Setelah itu, dia kembali menemui Nella sambil menghubungi Rizky.
Satu panggilan tidak dijawab, dua panggilan juga tidak dan ketiga kalinya akhirnya dijawab.
"Halo, pagi Pak Rizky. Saya—"
"Tolong beritahu Nella untuk datang ke kantor polisi," sela Rizky cepat. Suaranya terdengar berat menahan amarah.
"Apa? Kantor polisi, Pak?"
"Iya, tapi lu juga ikut bersamanya. Kalian naik taksi saja, nanti gue kirim alamatnya."
"Baik, Pak." Satpam itu mengangguk.
"Ada apa, Pak? Kenapa bawa-bawa kantor polisi?" tanya Nella dengan kening yang berkerut, saat melihat satpam tersebut menutup sambungan telepon dan menaruh benda pipih itu ke dalam kantong celananya.
"Kata Pak Rizky, Nona dan saya harus pergi ke kantor polisi."
Nella terbelalak. "Kantor polisi? Memangnya mau apa? Mas Rizky baik-baik saja, kan?" tanya Nella dengan wajah cemas.
"Saya tidak tahu, Nona. Tapi saya hanya diperintahkan seperti itu," jelasnya.
"Ya sudah, sebentar ... aku ambil tas dulu." Nella berlari masuk lagi ke rumah Rizky, dan selang beberapa menit—dia kembali sambil membawa sebungkus roti dan menenteng tas jinjing. "Ayok, Pak."
Satpam itu mengangguk, lalu membuka gerbang untuk dia dan Nella keluar.
Setelah mengunci pintu gerbang rumah bosnya, dia menyetopkan taksi yang baru saja lewat kemudian naik ke dalam bersama Nella. Hanya saja dia duduk di depan, di samping sopir. Sedangkan Nella duduk di belakang sendiri.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1049...
Hai👋 Author bawa kabar gembira nih diakhir bulan, mulai hari ini dan besok ... Author up 5 kali dijam berbeda tentunya. Tuh, aku tambahin sebab jadi 5, ya! Seneng ga?
Yuk yang masih stay! jangan lupa beri dukungan like, komen, vote dan giftnya. Dan usahakan, jangan ditabung bacanya ya ... kalau sudah ada notif, cus langsung baca. Soalnya supaya masuk hitungan dan tentu nggak buat aku sedih.
Jumlah pembaca diakhir bulan menentukan nasib novel ini. Sudah levelnya kecil dan kalau sampai menurun ... Author terpaksa berhenti ditengah jalan.
__ADS_1
Jadi kita harus saling membantu, ok! 😉