
Sofyan menghela nafasnya dengan gusar, dia mencoba untuk tidak berkata kasar sebab merasa kasihan pada putrinya. "Lebih baik kamu perginya sama Rizky saja, biar ada momen berdua. Kalian baru saja baikan, kan?"
"Tapi aku mau mengajak Papa juga," lirih Nella pelan, bola matanya langsung berair dan perlahan berlinang membasahi pipinya. "Kita jarang menghabiskan waktu berdua dan aku ingin Papa ikut memancing dengan Mas Rizky juga."
Sofyan terdiam sambil menatap Nella. Sebetulnya alasan terbesar dia tak ikut adalah satu, karena sedang bergulat peluh dengan Diana. Dua, dia sama saja seperti Angga, tak sabaran dan memang tidak pernah memancing ikan.
"Padahal hanya memancing, apa sih susahnya? Apa beratnya? Kan tinggal duduk doang," keluh Nella sembari mengusap perutnya sendiri. "Papa nggak pernah menuruti apa yang aku minta, padahal ini juga bukan kemauanku. Tapi cucu Papa."
"Ya sudah, tunggu Papa dan Mami ganti pakaian dulu, ya?" Pada akhirnya Sofyanlah yang mengalah.
Nella mengangguk semangat dengan mata berbinar, dia langsung menyeka air matanya yang sempat meleleh di pipinya.
"Oya ngomong-ngomong ... kamu dan Rizky sudah baikan?"
"Iya, Mas Rizky bilang ... dia akan mencoba mempercayaiku."
Sofyan menghela nafas dengan lega. "Syukurlah, Papa ikut senang mendengarnya." Sofyan mendekat lalu memeluk tubuh Nella. Tetapi anaknya itu langsung melepaskan pelukannya, sebab merasa bau dengan keringat Sofyan.
"Papa bau!" Nella menutup hidungnya.
"Enak saja, Papa 'kan nggak bau badan." Kedua lengan Sofyan dia tempel ke hidungnya, memastikan kalau memang dia tidak bau badan. Dan memang tidak, dia bahkan habis mandi.
"Apanya yang nggak, Papa bau. Sudah sana pakai baju."
Sofyan mengangguk. "Iya. Eh, nanti kamu ambil celana dallam dan jeans di kamar Kakakmu, berikan pada Rizky untuk memakainya."
"Iya, Pa." Setelah itu Nella masuk ke dalam kamar Kakaknya yang kebetulan tadi Rizky berlari di sana.
Saat masuk, dia melihat kepala Rizky yang muncul dari pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, wajahnya masih tampak memerah.
"Nella, bagaimana ini? Celana gue basah," ucap Rizky dengan memelas.
"Sebentar, Mas. Aku ambilkan celana ganti." Nella membuka lemari besar milik Kakaknya, lalu mengambil celana jeans dan celana dallam yang terlihat masih baru tapi sudah dicuci. "Kok Mas bisa kencing di celana, sih? Seperti anak kecil saja."
"Gue kebelet kencing, bahkan semenjak di rumah Opa, Nell."
__ADS_1
"Terus kenapa nggak kencing? Kan nggak bayar. Udah nih, pakai celananya Kakakku, Mas. Tapi nggak tahu muat atau nggaknya." Nella berjalan menghampiri Rizky sembari memberikan apa yang dia ambil di dalam lemari.
"Gue coba dulu, ya. Semoga muat." Rizky mengambil dua celana itu dari tangan istrinya. "Terus celana gue bagaimana? Bau pesing, Nell. Tapi tadi sudah gue siram pakai air.
"Nanti aku minta Bibi untuk cucikan. Aku tunggu Mas di mobil, ya! Jangan lama-lama," ucap Nella sembari keluar dari kamar itu dan menutup pintu.
Setelahnya, Rizky kembali membersihkan tubuh bagian bawahnya kemudian memakai celana dari Nella tadi.
Sebenarnya tidak seukuran dengan celana yang biasa dia pakai, itu lebih besar tetapi hanya sedikit. Tetapi lebih baik kebesaran, daripada kekecilan dan pada akhirnya tidak bisa dipakai.
"Nggak apa-apa deh, daripada nggak pakai celana. Nanti dikira orang gila," ucap Rizky.
***
Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya dua mobil berwarna hitam berplat B terparkir rapih disebuah parkiran khusus pemancingan yang buka 24 jam.
Di area parkiran tersebut hanya ada 7 mobil terhitung dengan mobil milik Hersa dan Sofyan. Malam ini juga bukan malam Minggu, jadi wajar jika tidak terlalu ramai.
Mereka yang berada di mobil lantas keluar secara bersamaan.
"Memang Bapak nggak ikut memancing juga?" tanya Nella.
"Lu ikut, Sa. Tapi nggak usah memancing. Ikut nungguin gue saja, takut gue butuh sesuatu," ucap Rizky.
"Oh, oke deh."
Sebelum mereka masuk ke dalam, Hersa lebih dulu memesan tiket untuk masuk. Mau memancing atau tidak, tiket itu harus dibeli dengan menghitung jumlah orang. Satu orangnya seharga 300 ribu. Hersa pun membeli 5 tiket lalu mereka berlima masuk ke dalam.
Area pemancingan itu terlihat begitu luas dan bersih, ada dua kolam di sana. Yaitu satu kolam ikan gurame dan satu kolam ikan emas.
Nella pun tentunya memilih untuk pergi ke kolam ikan gurame, sebab itu ikan yang sejak tadi dia inginkan.
Di tempat pemancingan itu ada sebuah restoran yang cukup besar, mereka juga mengizinkan untuk membakarkan ikan hasil tangkapan para pengunjung.
"Nanti setelah dapat, Bapak bisa makan juga sekalian di sini, jadi nggak perlu repot-repot bawa pulang," ucap Hersa. Dia telah kembali saat pergi menyewa dua alat pancing dan dua ember yang berisi umpan. Lalu memberikan masing-masing pada Sofyan dan Rizky.
__ADS_1
"Bapak ikut mancing saja, biar rame," ucap Nella.
"Hersa nggak usah ikut, Nell. Dia sering mancing, nanti ikannya keambil semua untuknya," tolak Rizky seraya merangkul bahu istrinya.
Entah, rasanya Rizky tak mau mengajak asisten untuk ikut memancing, dia merasa takut jika Hersa lebih dulu mendapatkan ikan, sebab pria itu memang sering memancing. Tapi kalau mengenai Sofyan—dia tak masalah, sebab dia tahu jika mertuanya itu tak sabaran.
"Nggak apa-apa, biar rame aja. Kan ikannya banyak ini, nggak mungkin makan umpannya Pak Hersa semua."
"Nanti saya sewa untuk saya dulu, Nona. Nona, Pak Rizky, Pak Sofyan dan Bu Diana duluan saja."
"Dih, siapa juga yang nungguin elu." Rizky memutar bola matanya dengan malas lalu mengajak Nella duduk kursi plastik yang sudah disediakan untuk tempat duduk memancing.
Sofyan dan Diana pun ikut duduk di sana, di samping mereka.
"Ayo pasang umpannya, Mas," titah Nella sambil tersenyum, dia terlihat begitu bahagia dan tak sabar ingin mendapatkan ikan dari kolam itu.
Rizky mengangguk, lalu dia mengambil udang dan menusukkannya pada kail pancing.
Baru saja dia hendak melempar pancingan itu ke dalam kolam, tetapi secara tiba-tiba ada seseorang yang baru saja datang menghampirinya. Dia memekik sembari memutar telinga kirinya dengan kasar hingga membuat pria tampan itu melonjak kesakitan.
"Rizky bod*h! Sedang apa, kamu!"
"Mama," ucap Nella dengan kedua mata yang membulat sempurna.
Ya, dia adalah Gita. Gita datang bersama Guntur yang telah berhasil menemukan keberadaan mereka.
Gita memelintir telinga Rizky hingga tangan pria tampan itu menjatuhkan pancingan, tubuhnya ikut tertarik hingga berdiri.
"Mama sakit, jangan jewer telingaku!" teriak Rizky sambil meringis kesakitan.
"Ini pelajaran buatmu! Sekarang ayok pulang!" berang Gita.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1026...