
Diana langsung melolot saat mendengar apa yang Rizky sampaikan. Dia mencoba untuk mengambil ponselnya Rizky, tetapi tangannya dicekal oleh pria tampan itu.
"Bukan istri Bapak lagi? Maksudnya?" tanya Rizky binggung.
"Aku sudah menalaknya, dia perempuan tidak berguna."
"Tidak berguna? Maksudnya?"
Tut ... tut ... tut.
Panggilan itu langsung mati, kemudian Rizky segera melambaikan tangannya pada Ali yang tengah berdiri agak jauh di depannya.
Pria bertubuh besar itu lantas berlari menghampirinya. "Ada apa, Pak?" tanya Ali.
"Lu antarkan Diana pulang, dan belikan dia hape baru, nanti uangnya gue kirim!" titah Rizky.
Niat awal tak mau membelikan ponsel, karena meminta pada Aji. Sekarang Rizky terpaksa untuk membelikannya. Sepertinya hubungan Aji dan Diana juga sudah tidak baik. Apalagi dia tadi dengar kalau Aji mengatakan kalau dirinya sudah menalak Diana.
Bruk!
Secara tiba-tiba Diana menjatuhkan tubuhnya seraya bersimpuh di kaki Rizky, pria tampan itu langsung terhenyak dengan mata membulat. Cepat-cepat dia melepaskan kedua tangan Diana yang tengah memeluk lututnya.
"Rizky, tolong bantu aku untuk kembali bersama Papa mertuamu," ucapnya memohon dengan kedua tangan yang menangkup.
Rizky mendelik. "Lu ngomong apa, sih? Enak saja kembali. Papa gue sudah nikah sama Maya!"
"Kapan?" Diana mendongakkan wajahnya lalu berdiri.
"Seminggu yang lalu."
"Kok bisa sih, Riz?"
"Ya bisalah, Papa mertua gue 'kan ganteng."
"Tapi dia masih cinta sama aku, Riz. Aku juga masih mencintainya. Aku menyesal dulu mengkhianatinya. Tolong bantu aku, aku jadi istri kedua juga nggak apa-apa." Diana meraih tangan Rizky, tetapi pria itu justru mencubit kecil lengannya. "Aaww!"
Rizky meraup kasar wajahnya, lalu berkacak pinggang. "Lu ini sakit jiwa? Apa tadi? Jadi istri kedua? Hahaha ...." Rizky bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala. "Papa Sofyan pria yang setia, dia juga nggak akan berpoligami."
"Ali, bawa dia pergi!" titah Rizky pada Ali. Pria itu sejak tadi diam saja, bukannya langsung membawa Diana.
"Sebentar!" Diana menahan kakinya saat lengannya ditarik oleh Ali, lalu menatap Rizky dengan wajah sedih. "Aku nggak punya tempat tinggal sekarang, Riz. Aku dan Dirga diusir Om Aji."
"Bodo amat." Rizky menatapnya dengan sengit.
"Aku juga butuh uang, apa aku boleh pinjam uang padamu?"
Rizky tak meladeni ucapannya, dia berlalu pergi masuk ke dalam kantornya. Melihat sikap angkuh pria itu, membuat Diana berdecak kesal.
'Ck! Rizky sombong sekali. Dan kenapa Papi menikah secepat ini? Padahal aku ingin kita balikkan.'
__ADS_1
"Ayok, Bu." Ali menarik lengannya, Diana pasrah lalu ikut masuk ke dalam mobil. Dia duduk di samping Ali yang tengah mengemudi.
"Berapa Rizky memberikanmu uang?" tanya Diana seraya menoleh.
"Saya nggak tahu, Bu." Ali menggeleng.
"Kalau ada sisa saat membeli hape, tolong kirim ke rekeningku, ya?"
"Kenapa?"
"Kirim saja. Itu 'kan untukku."
"Tadi Pak Rizky nggak bilang kok."
"Ya nggak apa-apa nggak bilang juga, tinggal kirim saja."
"Nanti Pak Rizky nanyain, dan daripada untuk Ibu mending untukku saja. Lumayan buat beli rokok."
"Ah kamu ini, menyebalkan sekali. Aku butuh uang." Diana menatap kesal pada pria di depannya. Dia terdiam beberapa saat, lalu sebuah ide brilian terlintas di dalam otaknya.
Lantas lengannya terulur, perlahan dia pun mengelus paha Ali hingga membuat pria itu terhenyak dan langsung menoleh.
"Ibu mau ngapain?" Ali terbelalak, baru saja hendak menepis tangan Diana, tetapi wanita itu sudah menggenggam miliknya yang masih berada di dalam celana jeans.
"Bagaimana kalau kita main dulu? Aku hebat main di atas lho, kamu pasti puas." Diana perlahan menarik resleting celana Ali, lalu mengangkat bokongnya. Niat Diana ingin duduk di atas paha Ali, berupaya menggoda pria itu, tetapi lengan berototnya menghalanginya.
"Saya nggak mau main sama suami orang, Bu." Ali menggeleng.
*
*
*
Di sebuah cafe, Sofyan dan Maya memesan menu makan siang dan minuman. Semuanya sudah tersaji rapih di atas meja.
Sofyan sudah melahapnya lebih dulu, tetapi terlihat istrinya itu sejak tadi diam saja. Hanya memainkan garpu dan menggulung-gulung mie.
"Kok diam saja? Kenapa nggak makan, May?" tanya Sofyan sambil mengunyah makanan yang berada di mulutnya.
"Apa aku boleh tanya sesuatu sama Ayank?" tanya Maya hati-hati sembari mengangkat wajah untuk menatap dalam mata suaminya.
"Bicara saja, May." Sofyan tersenyum.
"Apa Ayank masih cinta sama Bu Diana?"
Sofyan langsung menggeleng. "Nggak."
"Tapi kok ... Bu Diana seperti masih mencintai Ayank?"
__ADS_1
"Dia nggak pernah mencintaiku, May."
"Tapi kemarin kok meluk Ayank?"
"Kapan?"
"Saat Ayank beli tespek. Aku nggak sengaja melihatnya."
"Oh itu. Dia memang wanita murahan, aku juga nggak ngerti maksudnya." Sofyan menggeleng samar. Perlahan dia pun mengulurkan tangannya yang berada di meja ke arah Maya, lantas menggenggam salah satu tangan istrinya. "Apa kamu cemburu? Tolong lupakan kejadian kemarin."
Maya menggeleng. "Nggak kok."
"Kok nggak, sih? Harusnya cemburu dong." Sofyan menarik sudut bibirnya, lalu mengedipkan salah satu matanya.
"Kenapa aku harus cemburu? Kan tadi katanya Ayank nggak cinta sama Bu Diana."
"Ya, nggak apa-apa. Cemburu 'kan berarti cinta, May." Sofyan bangun, kemudian menggeserkan kursinya di dekat Maya dan dia pun duduk di sana. Wanita itu hanya diam saja. "Ah, ayok makan dulu. Biar bisa kerja lagi." Sofyan mengambil garpu di tangan istrinya, lalu menggulung mie goreng dan menyodorkan ke bibir Maya. "Buka mulutmu."
"Aku bisa makan sendiri Ayank. Nggak perlu suapi." Maya menggeleng, tapi dia membuka mulut untuk menerima makanan itu.
"Kamu kalau makan lama, lebih cepat disuapi." Sofyan kembali menyuapinya, dan sejujurnya Maya malu karena dilihat orang-orang yang berada di sana. Tetapi suaminya itu seperti memaksanya untuk terus membuka mulut.
"Ngomong-ngomong Ayank nggak ke kantor? Ini 'kan sudah siang."
"Aku mau menemanimu kerja hari ini, May."
"Menemani? Tapi kenapa?"
"Siapa tahu kamu kangen sama aku. Terus kalau minta kelonan pas aku nggak ada bagaimana?" Sofyan kembali mengedipkan salah satu matanya dengan genit. Niatnya ingin menggoda Maya tetapi justru dialah yang tergoda. Terlihat jelas dari kedua pipinya yang bersemu merah, perlahan tangannya mengelus paha kiri istrinya yang tertutupi rok.
"Kan bisa malam, Ayank."
"Bukannya aku sudah bilang sehari tiga kali, ya? Sekarang sekali saja belum." Secara tiba-tiba Sofyan merasakan si Jombo berkedut di dalam celana. Dia seolah mengerti maksud majikannya itu.
"Tapi nanti malam Ayank pasti keluarnya lebih dari tiga kali. Kan sama saja."
Kemarin malam Maya beruntung karena tidak jadi bercinta, itu disebabkan Sofyan tak tega melihat milik istrinya yang lecet akibat gempurannya yang pertama namun beronde-ronde. Tetapi sekarang pria itu sepertinya akan memulainya lagi, dan Maya yakin—dia akan melakukannya lebih dari sekali.
"Tapi 'kan waktunya beda. Pasti sensasinya juga beda."
*
*
Setelah selesai makan siang, mereka berdua masuk ke dalam ruangan Maya. Tetapi pintunya langsung di kunci oleh Sofyan, kemudian pria itu pun segera menggendong tubuh istrinya.
Maya terperangah dengan mata yang membola, jika digendong seperti ini dia langsung curiga dengan niat apa yang akan Sofyan lakukan padanya. Apa lagi pria itu kini merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang.
"Ayank mau ngapain?" tanya Maya panik, dia meremmas kancing kemejanya saat suaminya itu hendak membuka gesper. "Aku masih punya banyak pekerjaan."
__ADS_1
"Sebelum kerja kamu harus aku cas dulu, May. Biar kuat." Sofyan segera melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian duduk di sebelah Maya dan menarik resleting rok span hitam itu yang berada di samping.