Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
89. Mas Rizky pasti berbohong!


__ADS_3

"Nella sepertinya sedih saat tahu kehamilannya, kau pasti mengerti itu. Bagaimana cara membuat dia senang sekarang?"


"Papa kok tanya padaku?" Rizky mengerutkan kening. "Harusnya Papa yang kasih aku saran, cara membuatnya senang." Rizky malah membalikkan pertanyaannya.


***


Di rumah sakit.


"Aku sudah kenyang, Oma," ucap Nella seraya menggelengkan kepala. Padahal baru dua sendok bubur yang masuk ke lambungnya, tetapi perutnya sudah terasa begah.


Dia masih berbaring di tempat tidurnya di temani Sindi yang duduk di kursi kecil. Hanya dia yang menunggu Nella, Angga pamit untuk pulang dulu ke rumahnya.


"Satu sendok lagi, ya?" Sindi menyodorkan satu sendok bubur itu ke bibir wanita cantik itu, namun dengan cepat dia kembali menggeleng.


"Aku kenyang sumpah, aku nggak mau makan lagi," tolaknya.


"Ya sudah, minum susu saja. Ini susu ibu hamil dan bagus untuk bayi kamu." Sindi meraih segelas susu di atas meja troli, lalu membantu Nella untuk bangkit sedikit dan menghabiskan susu putih itu.


"Di mana Papa dan Opa?"


Saat mereka pergi, Nella masih tidur. Jadi dirinya tak mengetahui dua pria itu pergi.


"Opa pulang dulu ke rumah, kalau Papamu katanya mau menjemput Rizky."


Mendengar nama pria itu, seketika membuat hati Nella sedih. Semalaman hampir dia menunggunya, tetapi penantiannya berujung kecewa lantaran Rizky tak datang.


'Kenapa Mas Rizky harus dijemput? Apa karena dia nggak mau menemuiku?" keluh Nella dalam hati.


Ceklek~


Tak lama terdengar suara pintu kamar inapnya terbuka, entah mengapa tiba-tiba jantung Nella berdebar kencang.


Kedua matanya sudah menatap pintu yang baru dibuka, dia sangat berharap kalau itu adalah Rizky.


"Selamat pagi," sapa seseorang yang baru datang. Ternyata dia adalah Dokter, bukan Rizky yang sempat Nella harapkan. Perlahan Dokter itu berjalan mendekati Nella yang masih berbaring. "Saya periksa dulu ya, mohon maaf."


Nella mengangguk, lantas Dokter itu menempelkan stetoskop ke dadanya, untuk mengecek denyut jantung.

__ADS_1


"Apa Nona ada pusing dan mual?" tanya Dokter tersebut, setelah selesai memeriksa.


Nella menggeleng samar. "Nggak, Dok. Cuma perutku begah saja."


"Begah mungkin efek magh, Nona jangan telat makan." Dokter itu menoleh ke sekelilingnya, seperti mencari seseorang. "Apa suami Nona sudah datang?"


"Dia ...."


"Nella!" Tiba-tiba ada yang memanggil namanya, dua orang pria baru saja masuk ke dalam kamar, dan salah satunya adalah Rizky, pria yang sejak tadi ditunggu-tunggu.


Suara dan kedatangan pria itu sungguh membuat mata Nella yang sempat berair langsung berubah menjadi binar kebahagiaan. Namun sayangnya, lintasan kejadian kemarin membuatnya kembali terenyuh.


Padahal, dia sudah berhasil tersenyum saat mata mereka bertemu. Tapi senyum itu memudar dan membuat wajah cantiknya cemberut.


Rizky datang membawa beberapa buah tangan. Satu buket bunga mawar merah, parsel buah dan juga dua bungkus bubur ayam.


"Nella, lihat apa yang gue bawa. Ini semua untuk lu." Rizky segera menaruh apa yang dia bawa di atas nakas, lalu mendekati istrinya dan mengecup keningnya. "Alhamdulilah ... gue nggak nyangka, kalau kita sebentar lagi akan menjadi orang tua. Gue bahagia banget, Nella. Gue sangat perkasa, kan?" Rizky tersenyum dan perlahan menyentuh perut Nella.


'Kalau perkasa iya, tapi kalau bahagia sepertinya nggak. Mas Rizky pasti berpura-pura,' batin Nella.


"Bapak ini suaminya Nona Nella?" tanya Dokter itu seraya mengulurkan tangannya ke arah Rizky.


"Selamat ya, Pak."


"Terima kasih, Dok. Anak saya laki-laki atau perempuan?"


"Bodoh!" Sofyan tiba-tiba menoyor kepala Rizky, kembali dibuat geram dengan ucapan menantunya. "Baru juga tiga Minggu, sudah tanya jenis kelamin! Bukannya nanya kandungannya!"


"Maaf, Pa. Aku 'kan cuma tanya ... nggak usah ngegas kali." Rizky menyentuh kepalanya sendiri, sudah dua kali dia diperlakukan kasar akibat kemarahan Sofyan. "Papa sudah kdrt padaku." Rizky memasang wajah memelas pada Sofyan, namun sama sekali tak membuat mertuanya iba.


"Kdrt, kdrt. Memangnya kita suami istri? Ada gila-gilanya memang kau ini, Riz!" seru Sofyan, kedua bola matanya sudah melotot seperti hendak keluar.


"Hahahaha ...." Rizky bergelak tawa sambil menepuk-nepuk bahu mertuanya. Dia memang seperti orang gila saat ini, sebab hanya dirinya yang tertawa sendiri di kamar itu.


Nella yang melihatnya langsung bergidik ngeri, ada rasa menyesal sudah menunggu kedatangannya. 'Cih! Aku salah menunggu orang, ternyata dia sudah nggak waras,' batinnya.


Dokter itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sofyan dan Rizky.

__ADS_1


"Hentikan tertawamu! Papa mual mendengarnya!" Sofyan membungkam bibir Rizky dengan tangannya, lalu melihat ke arah Dokter sembari tersenyum canggung. "Maaf ya, Dok. Menantu saya memang kurang waras, nanti saya akan periksa kejiwaannya."


'Enak saja Papa kalau ngomong, nanti kalau Nella makin ilfil sama gue, gimana?' batin Rizky lalu menarik tangan Sofyan pada bibirnya.


"Nggak apa, Pak." Dokter itu mengangguk, lalu menatap ke arah Rizky. "Untuk sekarang belum terlihat, bayinya masih terlalu kecil. Mungkin kalau sudah empat bulan keatas ... Bapak bisa tahu anak Bapak laki-laki atau perempuan," terangnya.


"Iya, Dok. Terus istri saya dan bayi kita baik-baik saja, kan?"


"Bayi kita?" Dokter itu mengerutkan keningnya, merasa binggung. Rizky sepertinya salah lagi dalam bicara.


"Maksudnya bayi saya dan Nella." Rizky cepat-cepat meralat ucapannya, lantaran takut melihat mata Sofyan yang begitu lebar menatapnya.


Dokter itu terkekeh. "Bayinya baik, cuma tunggu kesehatan ibunya saja."


"Oh, memang selain hamil ... istri saya sakit juga? Sakit apa?"


"Hanya kurang darah dan maghnya kambuh, tapi sekarang sudah lebih baik dari kemarin. Nanti malam saya akan cek keadaannya lagi, kalau begitu saya permisi."


Rizky mengangguki ucapan Dokter tersebut, kemudian Dokter itu berjalan keluar dari kamar inap.


'Kasihan sekali Nella, kok bisa dia kurang darah dan maghnya kambuh? Kemarin bukannya gue lihat dia baik-baik saja?' batin Rizky seraya memandangi wajah Nella yang baru saja berpaling.


"Kamu kok baru ke sini, Riz?" tanya Sindi seraya bangkit dari duduk dan berpindah untuk duduk di sofa bersama Sofyan yang baru saja duduk.


"Aku baru tahu Oma, Papa Guntur enggak memberitahuku kalau Nella dibawa ke rumah sakit," jawab Rizky, lalu mendudukkan bokongnya di kursi kecil, bekas bokong Sindi tadi.


"Mas Rizky berbohong, bilang saja nggak mau menemuiku!" sergah Nella tiba-tiba. Sedari tadi dia sudah menunggu waktu yang tepat untuk mengoceh pada suaminya, dan mungkin inilah waktunya.


Mereka bertiga langsung menoleh pada Nella dengan kening yang berkerut.


"Kok lu bicara seperti itu? Kapan gue nggak mau menemui lu? Gue malah senang," sahut Rizky dengan wajah binggung.


"Kata Papa ... semalam dia sudah menelepon Mama Gita, menyuruh Mas Rizky dateng ke sini. Tapi kenapa Mas Rizky nggak datang dari semalam?" tanya Nella kesal.


Jangan lupa like dan komentar


Follow juga IG Author, untuk intip visual novel dan karya yang lainnya.

__ADS_1


1216


__ADS_2