Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
76. Kabur


__ADS_3

Nella terdiam sampai akhirnya dia mengangguk pasrah. Lagian, dia rasa sudah percuma. Semalam sudah terlanjur dan masalahnya di sini dia lupa belum minum pil KB.


"Ya sudah, kita pulang sekarang," jawabnya kemudian.


Rizky mengangguk. "Iya, sebentar ... gue mandi dulu. Lu makan dulu saja sambil nunggu." Setelah mengatakan hal itu Rizky berjalan membuka lemari untuk mengambil handuk, lalu dia masuk ke kamar mandi.


Mendengar suara gemericik air, Nella gegas membuka handuk kimononya dan memakai pakaian. Kemudian dia duduk di sofa dan meminum segelas susu putih yang masih hangat.


"Semuanya pasti baik-baik saja, aku nggak akan hamil hanya karena semalam, kan?" Nella mulai gelisah, dia memegangi perutnya yang terasa keroncong itu. Tapi tiba-tiba dia mengingat ucapan Nissa yang sempat mengatakan kalau sehari lupa minum, dia bisa bunting dan seketika itu pun—bulu kuduknya langsung menegang. Wanita itu langsung menggeleng cepat. "Nggak, Mas Rizky belum tentu sesubur itu. Dia sering bercinta dengan wanita lain, tapi aku belum dengar ada yang hamil." Nella masih berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri.


Setelah dua puluh menit berlalu, Rizky keluar dengan lilitan handuk di atas pinggang. Dia langsung melepaskan handuk itu dan mengeringkan tubuhnya. Nella yang tengah mengunyah sandwich sampai tersendak melihat tubuh polos itu yang berada di depannya.


"Uhuk ... uhuk."


"Eh, lu kenapa? Makannya pelan-pelan." Rizky yang bertubuh polos langsung mendekatinya dan memberikan segelas es jeruk yang dia ambil di atas meja. Nella mengambilnya sambil memalingkan wajah yang sudah memerah.


'Dia yang bugil kok aku yang malu melihatnya,' batin Nella.


Setelah Rizky selesai memakai setelan jas berwarna nevy, dia langsung mendaratkan bokongnya di samping Nella.


"Ayok kita pulang sekarang, Mas."


Rizky baru saja mengangkat cangkir, hendak menyeruput kopi yang terlihat sudah dingin itu. Namun mendengar ucapan Nella membuat Rizky menaruh cangkir itu kembali.


"Oke." Rizky lantas bangkit dari duduknya dan menarik koper yang sudah dia bereskan tadi. Nella hanya ikut membuntut dibelakangnya


*


*


*


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis hotel ketika mereka berdua sudah berdiri di sana.


"Aku mau check out hotel, Bu," kata Rizky sembari memberikan black cardnya ke atas meja. "Kamar nomor 118."


"Sebentar ya, Pak." Wanita yang memakai sanggul itu melihat ke arah monitor komputernya, lalu berkata, "Kamarnya sudah dibayar atas nama Gita Gumelang."

__ADS_1


"Oh, ya sudah terima kasih." Rizky menaruh kembali black card miliknya di dalam dompet. Lantas berjalan keluar hotel dan langsung menyetopkan taksi yang baru saja lewat.


Sopir taksi itu keluar dan mengambil koper Rizky, lalu memasukkannya ke dalam bagasi.


Mereka langsung masuk bersama dan duduk di kursi belakang.


"Mau pulang ke mana?" tanya Rizky seraya menoleh pada Nella.


"Rumah Opa."


"Nggak mau ke kantor Papa Sofyan atau ke rumah Mama Gita?" tanya Rizky. "Lu nggak jadi nanya sama mereka?"


"Nanti aku tanya mereka lewat telepon saja."


"Oh, ya sudah."


"Jadi kita ke mana, Pak?" tanya sang sopir taksi.


"Ke jalan Xxx, ya!" titah Rizky yang mana dianggukan oleh pria berkemeja biru telor asin itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.


Rizky kembali menoleh pada Nella yang ikut menoleh ke arahnya. Pria tampan itu tersenyum dan senyumannya terlihat begitu hangat dan tenang.


"Yang semalam nggak usah dibahas, aku nggak mau mengingatnya," jawab Nella seraya memalingkan wajah. Wajahnya tiba-tiba merah padam, dia merasa malu jika kembali membahas hal semalam.


'Gue akan selalu mengingatnya Nell, karena itu momen yang buat gue bahagia,' batin Rizky.


*


*


*


Tiga puluh menit berlalu, mereka telah sampai dikediaman Angga. Keduanya masuk ke dalam rumah dan langkah keduanya terhenti di ruang keluarga sebab melihat Angga, Sindi dan Sofyan tengah duduk di sana.


"Siang Opa, Oma, Papa," sapa Rizky. Dia berusaha mengukir senyum walau terlihat terpaksa.


"Siang Riz, kok kalian sudah pulang? Papa kira ... kalian mau menginap lagi di hotel," ujar Sofyan seraya bangkit dan menghampiri Rizky, dia tersenyum saat melihat leher Nella memiliki dua tanda merah.

__ADS_1


'Sepertinya semalam berjalan sukses. Syukurlah ... aku ikut bahagia,' batin Sofyan.


"Papa, apa Papa dan Mama Gita merencanakan sesuatu padaku?" tanya Nella tiba-tiba yang mana membuat Angga terbelalak dan menoleh ke arah Sofyan.


"Rencana? Apa maksudnya?" tanya Angga penasaran.


"Iya, Papa dan Mama Gita mengunci kalian di kamar hotel."


"Kenapa kamu melakukan itu, Sofyan? Apa maksudmu?" Angga langsung berdiri, terlihat jelas raut kemarahannya tergambar pada wajahnya. Dia juga sama seperti Sofyan tadi, melihat tanda merah di leher Nella.


"Memang kenapa? Apa itu salah? Papa berhenti bersikap seperti itu!" tegas Sofyan. Tiba-tiba saja emosinya naik. "Jangan pernah melarang hal apa pun mengenai mereka berdua, mereka masih suami istri dan Rizky berhak menyentuh Nella!" tekannya dengan jelas.


Angga menghampiri Nella dan mengajaknya untuk duduk di sofa di antara dirinya dan Sindi. "Rizky pasti memaksamu, kan? Bicara sama Opa! Biar Opa kasih dia pelajaran!" tegasnya seraya menatap mata cucunya dengan intens.


Sofyan berdecak dan geleng-geleng kepala. "Papa ini aneh sekali, nggak mungkin Rizky memaksa Nella!" tukasnya. Sofyan merasa tak habis pikir dengan pertanyaan Angga yang menurutnya begitu konyol.


"Aku ... aku."


"Aku apa? Jawab?" Angga memegang kedua lengan Nella. Sikap Angga terlihat seperti tengah menghakimi seorang wanita yang habis melakukan hubungan terlarang. "Oh, apa jangan-jangan Rizky memberikanmu obat tidur? Atau obat perangsang?"


Nella terbelalak, kalau obat tidur rasanya tidak. Tapi kalau obat perangsang itu mungkin benar sebab Nella merasa aneh pada dirinya sendiri.


"Aku yang memberikannya obat perangsang!" seru Sofyan. Lebih baik dia mengaku dari pada Rizky yang terus disudutkan.


Angga langsung berdiri. Dia menghampiri Sofyan sembari mengepalkan kedua tangannya. Tatapan matanya begitu nyalang hingga membuat Sofyan merinding.


Sofyan yang melihat kemurkaan itu tiba-tiba saja menarik lengan Rizky, mengajak pria itu pergi alias kabur dari sana.


Rizky juga menurut saja, mereka mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari sampai keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil Sofyan.


Mereka berdua mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, Sofyan langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai sampai keluar gerbang. Rizky memutar kepalanya ke belakang, terlihat tak ada tanda-tanda Angga mengejar mereka.


"Papa kok kabur? Dan kenapa mengajak aku?" tanya Rizky binggung.


"Memangnya kamu nggak lihat tadi Opanya Nella bagaimana?" Sofyan menyeka keringat pada dahinya. "Dia hampir menonjok Papa dan kalau Papa kabur sendirian ... bisa-bisa kamu yang ditonjok."


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...

__ADS_1


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...


__ADS_2