Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
202. Berondong tua


__ADS_3

"Katanya Kak Rizky mau antar Mbak dulu, baru habis itu mengantarku membeli mobil." Mungkin menurut Risma, Rizky mengajak dia juga. Jadi mereka pergi bertiga.


Nella menoleh pada Rizky, menatapnya dengan wajah cemberut.


Rizky seketika menelan salivanya dengan kelat, saat pandangan mereka bertemu. "Itu memang benar, tapi kamu nggak usah ikut dulu."


"Kok begitu?" Risma memutar kepalanya ke belakang, tepat ke arah Rizky yang terlihat kebingungan. "Kita pergi bertiga saja, sekalian, Kak."


Rizky juga inginnya begitu, tetapi Nella yang tidak mau.


"Jangan, kamu tunggu Kakak pulang saja. Kamu hari ini masuk kuliah jam berapa?"


"Jam 10, Kak."


"Yasudah, tunggu Kakak pulang antar periksa Mbak Nella dulu, ya?"


"Lama nggak?"


Rizky menggelengkan kepala. "Nggak, sekarang saja masih jam 7." Matanya melirik sebentar ke arah arlojinya. "Periksa kandungan nggak akan lama kok."


Niat hati ingin merayu Risma supaya menuruti ucapannya, tetapi sikap Rizky lagi-lagi salah di mata Nella. Dia justru merasa tersinggung.


'Apa Mas Rizky nggak suka pergi lama-lama denganku? Kok aku merasa Mas berubah karena Risma. Jahat sekali.' Nella memalingkan wajahnya yang masih cemberut, lalu menatap kaca mobil.


Dadanya terasa bergemuruh dan perutnya mendadak kram. Nella segera menyandarkan punggungnya ke kursi dan perlahan menghela nafasnya dengan berat.


'Apa Mas nggak sayang lagi padaku?' batin Nella.


"Bener, ya?" Risma sepertinya belum percaya. Dia enggan untuk turun dari mobil. "Kalau Kakak lama, aku akan telepon Kakak."


"Bener, sudah sana turun. Nanti Kakak dan Mbakmu nggak berangkat-berangkat ini." Rizky mengibaskan tangannya, mengusir adiknya untuk cepat turun.


"Iya, iya." Risma mengerucutkan bibirnya, lalu turun dari mobil Rizky.


Lantas Ali pun mengendari mobil itu dengan kecepatan sedang.


Rizky mengambil ponselnya di dalam saku jas, lalu mengirim pesan pada Maya untuk mengundur meetingnya esok pagi.


"Nell ...." Rizky meraih tubuh istrinya supaya berada dalam dekapannya, terlihat wajah cantik itu kini basah. Rupanya Nella sempat menangis tadi. "Kok nangis, kenapa?" Segera Rizky menyeka air mata itu, lalu mengecup singkat bibirnya.


Hanya gelengan kepala yang Nella beri sebagai jawaban.


*


*

__ADS_1


Setelah sampai di rumah sakit, Rizky langsung mendaftarkan Nella ke dokter kandungan. Kebetulan hari ini banyak sekali pasien ibu hamil yang ingin periksa. Jadi mereka ikut mengantre, meskipun sangat disayangkan nomor antriannya berada diurutan belakang. Ada 8 ibu hamil jika digabungkan dengan Nella.


Mereka duduk berdekatan di kursi tunggu dan sedari tadi Nella diam, bahkan sejak di mobil tadi.


"Ada masalah apa, Nell? Cerita sama aku." Rizky merangkul bahu istrinya, lalu membelai lembut pipinya. Wajahnya tampak sendu.


Nella menggelengkan kepala. Hanya itu, tidak membuka mulut sama sekali.


Beberapa menit berlalu, akhirnya tinggal tiga orang tersisa lagi yang belum dipanggil. Mereka berdua masih sabar menunggu meskipun tidak ada hal yang diobrolkan.


Biasanya Nella yang paling cerewet, tetapi mendadak wanita cantik itu menjadi alim. Hampir semua pertanyaan Rizky dia jawab dengan gerakan tubuh. Mulutnya seakan berat untuk menjawab.


'Nella kenapa lagi ini? Apa gue punya salah padanya?' Rizky binggung dengan sikap istrinya itu, tetapi dia berusaha untuk mencairkan suasana supaya tak terasa hambar.


"Mau pipis nggak?" tawar Rizky.


Nella menggelengkan kepalanya.


"Kalau haus?" tanya Rizky lagi. "Nanti aku belikan di kantin."


Nella menggeleng lagi.


Rizky berdecak kesal sembari menghela nafasnya dengan gusar. Perlahan dia menyugar rambut gondrongnya yang sudah basah karena keringat. Dia juga merasakan hawa panas, padahal AC di ruangan itu cukup dingin.


Memang semenjak rambutnya gondrong, Rizky mudah sekali kepanasan dan berkeringat. Sejujurnya dia sendiri tak betah, ingin mencukur rambut. Tetapi tak ada waktu.


Nella terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia berkata, "Nggak boleh."


"Memang kenapa?"


"Aku ...." Nella baru saja ingin memberikan jawaban, tetapi tak jadi lantaran ponsel Rizky berdering. Tak lama pria tampan itu juga mengangkat panggilan masuk yang entah dari siapa.


"Halo. Iya, Ris," ucap Rizky.


Degh!


Jantung Nella terasa berdenyut dan sakit. Nama itu lagi-lagi membuatnya emosi.


'Risma lagi, dimana-mana ada Risma. Kenapa dia terus menganggu Mas Rizky?' batin Nella kesal yang bercampur sedih.


"...." Entah apa yang Risma katakan, Nella tak mampu mendengarkannya.


"Sabar, ini Kakak lagi ngantre. Belum juga periksa."


"...."

__ADS_1


"Iya, iya, bawel amat!" Rizky mendengus kesal, lalu segera mematikan teleponnya.


Tak lama ada seorang perawat membukakan pintu ruangan dokter kandungan, lalu dia pun berkata, "Nella Pujianti."


Akhirnya tiba juga saat Nella dipanggil. Rizky yang mendengarnya pun segera berdiri lalu merangkul bahu istrinya masuk ke dalam ruangan itu. Dia juga membantunya untuk berbaring di tempat tidur.


"Bagaimana, Dok? Apa semuanya sehat?" tanya Rizky seraya menatap monitor USG. Ada mahluk kecil yang tengah bergerak-gerak dan itu membuat hatinya bahagia.


"Semoga baik dan sehat, Pak." Dokter itu mengangguk sambil tersenyum padanya.


"Jenis kelaminnya apa, Dok?" tanya Nella. "Dia laki-laki, kan?" Nella ikut menatap layar monitor itu. Dia berharap jika anaknya laki-laki.


"Anak kalian malu-malu, belum terlihat jenis kelaminnya."


"Berapa usianya sekarang?" tanya Rizky.


"Sudah mau empat bulan, Pak."


"Nggak berasa ya, Sayang ...." Rizky membungkuk untuk mengecup pipi Nella. Lalu turun perut, untuk mengecup anaknya. "Lima bulan lagi dia keluar. Daddy dan Mommy sudah nggak sabar menunggumu."


Nella menyunggingkan senyum, dada yang sempat sesak itu kini hilang seketika saat mendapatkan sentuhan lembut dari bibir Rizky. Perlahan tangannya mengusap rambut kepala Rizky.


"Ini fotonya, semoga Nona Nella tetap sehat dan juga bayinya, ya." Dokter itu memberikan foto hasil USG pada mereka.


"Iya, terima kasih, Dok," jawab Nella dan yang mengambil foto itu adalah Rizky.


"Sama-sama." Dokter itu tersenyum.


Rizky membantu Nella bangkit dan turun dari tempat tidur, kemudian merangkul bahunya seraya berjalan keluar dari ruangan itu.


Ceklek~


Tepat di koridor, Sofyan yang tengah berjalan mendadak menghentikan langkahnya saat mengetahui keberadaan mereka.


"Nella, Rizky," panggil Sofyan sumringah.


"Papa!" Melihat Sofyan ada di rumah sakit, timbul rasa cemas di dalam hati Nella. Dia mengingat jika papanya itu habis terkena serangan jantung, mungkin saja ada yang bermasalah dengan kondisinya lagi. Gegas dia pun menghamburkan pelukan pada Sofyan, hingga lengan Rizky yang sejak tadi berada di bahunya kini terjatuh begitu saja. "Papa sakit apa? Apa jantung Papa sakit?" tanya Nella seraya menyentuh dada Sofyan.


Berbeda dengan Nella yang terlihat khawatir, Rizky justru biasa saja dan malah terpesona dengan penampilan Sofyan yang menurutnya seperti baru.


Papa mertuanya itu seperti habis cukur rambut. Wajahnya jauh lebih fresh, tak suram seperti kemarin. Jangan lupakan aroma minyak wanginya juga, mungkin dia memakai setengah botol sebab sangat wangi. Mungkin wanginya itu tercium sampai parkiran rumah sakit.


Setelan jas yang menempel pada tubuhnya itu Rizky baru melihat dan begitu modis. Penampilannya jauh dibandingkan dulu yang menurut Rizky biasa saja. Benar kata Rizky kemarin, sekarang dia dan Sofyan tampak seperti kakak adik.


'Ada berondong tua, nih!' Rizky membatin sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


"Wah, Papa tampan sekali. Jangan bilang Papa kesini mau godain Suster," tebak Rizky seraya berjalan menghampiri disertai kedipan salah satu matanya, menggoda Sofyan.


__ADS_2