Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
156. Jangan pergi!


__ADS_3

"Karena Rizky temanku," jawab Anna.


"Sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah temui Rizky lagi!" perintah Gita dengan jari telunjuk yang menodong ke arah pintu.


"Tapi Rizky belum memberikanku uang, Tante."


Kesabaran Nella benar-benar habis, kedua tangannya yang mengepal begitu gatal ingin mengusir wanita itu dari hadapannya. Sungguh, dia sangat tak rela suaminya bersama atau pun bertemu wanita lain.


Nella menghentakkan kaki kirinya pada sepatu fantofel yang Rizky kenakan. High heels itu menghantam tepat pada jempol kaki Rizky bekas terkena kail pancing. Meskipun sudah sembuh, tetap saja masih terasa sakit.


"Aaw!!" Rizky meringis kesakitan dan dengan refleks lengannya terlepas dari pinggang istrinya.


Nella pun berjalan menghampiri Anna, lalu mengibaskan tangan kanannya dengan kuat pada pipi kiri wanita itu.


Plak!!


Tidak sampai di situ, kini tangannya dengan cepat merogoh tas untuk mengambil dompet. Setelah itu, Nella membuka isi dompetnya dan mengambil seluruh lembaran uang seratus ribuan dan juga kartu namanya.


Lantas dia lempar semua yang ada dalam genggamannya itu pada wajah Anna.


"Ambil ini dan kalau kurang dari sepuluh juta beritahu aku!" geram Nella berteriak. Wajahnya terlihat merah padam lantaran emosi.


Anna yang mendapatkan perlakuan kasar dan tidak sopan itu bukannya marah, melainkan melongo.


'Cih! Istrinya si Rizky lebay banget! Cemburuan lagi,' batin Anna.


Tetapi dia memang sangat membutuhkan uang, rasanya mubazir jika uang itu berserakan di lantai. Lantas dia pun memungutinya.


"Jangan pernah kau temui Mas Rizky lagi! Jangan pernah mengganggu rumah tanggaku!" imbuhnya dengan lantang.


Rasanya takut, Nella benar-benar takut dan tak rela jika rumah tangganya hancur karena orang lain. Apa lagi dia juga sekarang mudah sekali terbakar api cemburu.


Setelah itu, Nella pun berlari keluar dari ruangan suaminya. Rizky yang melihat Nella hendak masuk ke dalam lift gegas untuk mencegahnya.


"Nella, lu mau ke mana? Jangan pergi!" pinta Rizky seraya memegang lengannya.


Nella segera menepis kasar tangan Rizky. Saat melihat pintu lift itu baru saja terbuka, dia pun segera masuk.


"Nella tunggu ...." Rizky berlari menghampiri, sedikit lagi dia hampir bisa masuk, tetapi sayangnya kalah cepat oleh pintu lift yang sudah tertutup rapat.


Tak mau kehilangan jejak istrinya dan tak mau membuatnya salah paham, Rizky pun mengejarnya dengan turun menggunakan lift yang berada di sebelahnya. Itu adalah lift khusus untuk OB dan cleaning servise.


Setelah keluar dari lift, Rizky mengedarkan pandangannya pada lobby kantor dan mencari-cari keberadaan Nella.

__ADS_1


Tidak berhasil ketemu, kini dia keluar dari pintu utama dan menghampiri seorang satpam berseragam hitam yang berjaga di depan.


"Pak, apa Bapak melihat Nella istriku?" tanya Rizky.


"Istri Bapak saja saya nggak tahu, Pak."


Rizky yang masih menggenggam ponselnya segera mengetik untuk membuka galeri, kemudian dia memperlihatkan foto Nella di layar itu padanya.


"Ini orangnya."


"Saya nggak tahu, Pak. Maaf."


"Ah menyebalkan sekali!" umpatnya kesal. Kemudian dia pun segera menelepon Nella, tetapi sayangnya tak ada jawaban.


Seperti biasa, wanita itu pasti tidak akan bisa dihubungi ketika tengah dilanda emosi.


"Mana Nella, Riz?" tanya Gita yang baru saja datang menghampiri Rizky yang tengah meraup kasar wajahnya. Merasa prustasi.


"Aku nggak tahu, Ma. Kita langsung pulang saja kalau begitu." Rizky lantas berlari menuju mobilnya, disusul oleh Gita. Mereka pun masuk ke dalam dan duduk.


"Kamu benar-benar selingkuh dengan Anna, nggak?" tanya Gita menoleh pada Rizky yang tengah menyetir dengan wajah cemas. Sekali lagi dia ingin memastikan jika anaknya itu benar-benar sudah berubah.


"Nggaklah, Ma," bantahnya seraya menarik gas. "Aku ini pria setia."


"Aku nggak ada niat ketemu Anna, dianya saja yang tiba-tiba datang."


"Masa? Bukannya setiap orang yang mau bertemu denganmu harus izin dulu? Kok tiba-tiba dia masuk? Berarti kamu mengizinkannya." Gita menatap Rizky dengan curiga.


"Sumpah nggak, kok." Rizky menggeleng cepat. "Aku juga nggak tahu kenapa dia langsung masuk begitu saja. Resepsionis depan juga nggak meneleponku lebih dulu," terang Rizky.


"Terus kenapa kamu nggak langsung pulang? Bukannya ini sudah jam makan siang, ya? Nella sampai merengek ke sini dan salah paham padamu."


"Pulang mau apa?"


"Dih, Mama bukannya sudah memberitahu Hersa kalau Nella memintamu pulang? Memangnya dia nggak memberitahumu?" tanya Gita sembari mengerenyitkan kening.


Rizky menggeleng cepat. "Hersa nggak bilang apa-apa."


"Kamu sudah bertemu dengannya belum memangnya?"


Ah, sepertinya Hersa lupa memberitahunya lebih dulu, sebelum membelikan Rizky obat.


"Bertemu, tapi aku setengah jam di kamar mandi. Terus aku meminta Hersa membelikan obat diarea. Aku mencret, Ma." Rizky menyentuh perutnya yang tiba-tiba saja melilit.

__ADS_1


Namun bukan hanya melilit saja, kini menjadi mules seperti hendak mengeluarkan sesuatu.


"Duh, aku mules lagi, Ma. Kita cari toilet dulu, ya?" Rizky menoleh sebentar pada Gita, meminta persetujuan.


"Tahan saja sampai rumah, sebentar lagi sampai, kan?"


Memang benar sebentar lagi sampai, tetapi rasanya Rizky tak tahan untuk kembali buang hajat. Kalau ditahan—takutnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Cukup kencing di celana saja, menjadi pengalaman buruk untuknya. Kalau sampai dia berak di celana, lalu apa kata dunia nanti?


Rizky memberhentikan mobilnya tepat di masjid besar depan jalan. "Tunggu sebentar ya, Ma. Mama juga tolong hubungi Bi Yeyen. Tanya Nella sudah sampai ke rumahku atau belum."


"Iya, jangan lama-lama." Gita mengangguk, lalu mengambil ponselnya di dalam tas jinjing yang tengah dipangku oleh kedua pahanya. "Jangan lupa cebok, Rizky."


"Iyalah, Ma." Rizky mendengus kesal. Setelah itu, dia pun membuka pintu mobil dan segera turun.


Namun sebelum masuk, Rizky membuka sepatunya lalu mengambil dompet kulitnya, dia mengambil tiga lembar uang berwarna merah dan memasukkannya ke dalam kotak amal.


***


Tok ... tok ... tok.


Tepat di depan ruangan Sofyan, Nella tengah berdiri sembari mengetuk pintu. Entah mengapa dia memilih untuk menemui sang papa terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumah Rizky.


Tentu niatnya juga ingin mengadu, supaya Sofyan bisa memarahi menantu kesayangannya itu.


"Masuk!" pekik Sofyan dari dalam.


Nella pun segera membuka pintu ruangan itu, dan terlihat Sofyan tengah makan siang di sofa sendirian.


"Nella sayang, kamu ke sini? Tumben?" tanya Sofyan sembari cepat-cepat menelan kunyahan, kepalanya sedikit miring melihat ke arah Nella. Dia seperti tengah mencari seseorang di belakang tubuh anaknya. "Kamu ke sini sama siapa? Di mana Rizky?"


Siapa lagi kalau bukan menantu satu-satunya yang dia cari tadi.


"Papa makan apa itu? Sepertinya enak."


Bukannya menjawab pertanyaan dan sekalian mengadu, pikiran Nella malah teralihkan pada isi di atas piring yang berada di atas meja. Tentu itu adalah menu makan siang Sofyan.


Nasi yang sudah dicampur dengan kuah soto, warna kuningnya terlihat begitu medok dan tentunya membuat perutnya yang kosong tiba-tiba berbunyi.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...

__ADS_1


...1070...


__ADS_2