
'Semoga saja Maya tadi nggak lihat aku dan Diana,' batin Sofyan.
"Ini tespeknya, May." Sofyan memberikan apa yang dia pegang, lalu menaruhnya di atas kedua paha Maya. Wanita itu lantas mengambil isi di dalamnya, lalu membaca kotak persegi empat yang di dalamnya adalah tespek.
Namun, bukannya fokus membaca aturan pemakaian, Maya justru memikirkan Sofyan dan kejadian tadi.
'Kira-kira ... Pak Sofyan masih cinta sama Bu Diana nggak, ya?' batin Maya.
"Mau dipakai sekarang, May?" tanya Sofyan yang mana membuat wanita itu terkesiap, kemudian menoleh padanya.
Maya menggeleng. "Nggak, nanti saja kalau sudah sampai."
"Kalau mau pakai pagi-pagi, saat bangun tidur. Itu lebih akurat." Sofyan mengelus puncak rambut istrinya, lalu mendekatkan bibirnya untuk mengecup kening. Wajah Maya terlihat merah, jantungnya juga langsung berdebar.
"Kok Ayank tahu? Sudah baca aturan pemakaiannya?"
"Nggak. Tapi memang aku sudah tahu, aku juga sering membeli tespek untuk istriku dulu." Sofyan tersenyum.
"Bu Diana?"
"Bukan, Mamanya Nella." Sofyan menggeleng.
"Istri Ayank yang pertama, ya?"
"Iya."
"Maaf ... memangnya Ayank sudah menikah berapa kali?"
"Tiga. Yang pertama dengan Mamanya Nella. Tapi dia meninggal karena kecelakaan. Yang kedua dengan Diana, dan yang terakhir sama kamu."
"Eemm ... dulu pas sama Bu Diana ... apa Ayank punya anak?"
"Nggak." Sofyan menggeleng.
"Kenapa? Memangnya Ayank sama dia nggak kelonan? Ah ... tapi masa. Pasti kelonan, kan?"
"Namanya suami istri pasti kelonan, May. Tapi memang saat itu dia belum hamil."
"Kalau misalkan Bu Diana hamil bagaimana? Apa Ayank sama dia akan balikkan?"
"Lha, ngapain?" Sofyan terkekeh seraya geleng-geleng kepala. "Dia punya suami, masa iya aku balikan sama dia. Lagian aku dan dia sudah bercerai."
"Tapi memangnya Ayank nggak bakal bertanggung jawab kalau dia hamil?"
__ADS_1
"Kamu ini bicara apa, sih?" Sofyan kembali terkekeh, tetapi keningnya mengerut heran. Ucapan Maya makin ngelantur kemana-mana dan membuatnya binggung. "Kalau Diana hamil kenapa aku yang musti bertanggung jawab? Kan ada suaminya."
"Tapi kalau misalkan anaknya anak Ayank bagaimana?"
"Ah Maya, kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin dia hamil anakku. Saat cerai saja dia nggak bilang sedang hamil dan lagian dia juga selingkuh. Sudahlah, nggak usah bahas dia. Aku malas." Wajah Sofyan seketika masam, dia juga langsung ingat pertemuannya tadi.
"Maaf Ayank, maafkan aku kalau pertanyaanku buat Ayank kesal." Maya menatap Sofyan dengan rasa bersalah.
Sofyan tersenyum tipis, lalu meraih tubuh istrinya supaya berada dalam dekapannya. Terdengar suara debaran jantungnya, Maya pun dapat mendengarnya. "Nggak apa. Tapi sudah cukup membicarakannya. Dia nggak penting. Lebih baik kita memikirkan gaya baru untuk nanti malam. Kamu mau coba berapa ronde?"
"Milikku perih, Ayank. Sepertinya aku nggak bisa kelonan."
"Nanti malam juga sembuh." Sofyan mengusap perut istrinya, kemudian tangannya turun seraya menyusup ke dalam dress Maya. Dia meraba inti tubuh wanita itu yang masih berbungkus rapih pada celana pendek. "Kamu mau aku obatin biar cepat sembuh, nggak?" tawarnya.
"Maksudnya Ayank mau olesi aku salep? Aku sudah mengolesinya tadi pagi."
"Bukan, tapi aku punya salep alami. Mau coba?"
"Boleh, tapi nanti saja kalau sudah sampai."
"Kalau tunggu sampai pasti lama, mending sekarang saja." Sofyan mengangkat bokongnya sedikit lalu menarik hordeng, sekarang kursi belakang dan kursi depan memiliki penghalang. Aldi tak dapat melihat apa-apa.
Sofyan dengan segera menarik celana pendek Maya dan juga CDnya hingga terlepas, setelah itu dia pun memposisikan tubuh Maya supaya duduk menyandar di kursi dengan kedua paha yang dia buka dengan lebar.
"Iya, biar perihnya hilang. Kamu diam saja dulu, dan nikmati ." Sofyan membungkukan badannya. Perlahan ibu jarinya membelai goa yang terlihat indah itu, lidahnya menjulur lantas meraup satu kacang tanah yang bergelayut manja di sana.
"Aahh!" Maya seketika melotot.
Kedua tangan Maya refleks mencengkeram rambut kepala Sofyan. Dia merasakan lidah suaminya itu sudah bermain-main pada miliknya, Maya tak kuasa menahan gejolak di dadanya.
"Ayank ...."
"Iya, Maya Sayang ...."
Disisi lain, ada Aldi yang tengah kepanasan di dalam mobil Sofyan. Suara erengan dari bibir Maya dan Sofyan begitu nyaring terdengar di telinganya. Mereka berdua bercinta di dalam mobil.
Berkali-kali Aldi menelan salivanya, miliknya di dalam celana juga tiba-tiba saja tegang. Rupanya dia jadi ikut-ikutan bernafs*.
'Ah Pak Sofyan ini nggak tahu aturan, aku jadi ikut kepengen. Sayangnya nggak ada lawan,' keluh Aldi dalam hati.
Lantas dia pun membuka sebotol air mineral, lalu menenggaknya sampai tandas. Selanjutnya menarik beberapa lembar tissue untuk mengusap keringat pada seluruh wajah, leher dan juga tengkuk.
'Perasaan tadi Nona Maya bilang sakit dan perih, kan? Kok mereka main lagi, sih?' Aldi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
"Bagaimana hasilnya?" Sofyan yang tengah duduk ditepi kasur melihat istrinya yang keluar dari kamar mandi. Lantas wanita itu berjalan menghampirinya dengan wajah kecewa.
"Garisnya satu, Ayank. Berarti negatif dan aku nggak hamil, ya?" Maya duduk di samping Sofyan sembari memberikan benda persegi yang lumayan panjang itu ke tangan suaminya. Itu adalah tespek.
Sofyan tersenyum, dia terlihat biasa saja, tak kecewa seperti Maya. Sebab memang rasanya Maya tak mungkin hamil secepat itu, awal bercinta saja baru empat hari terhitung dengan hari ini.
"Bukan nggak hamil, tapi belum, Sayang." Sofyan mendekat lalu mengecup pipi kiri istrinya.
"Kok belum? Maksudnya bagaimana?"
Sofyan terkekeh, sepertinya istrinya itu tak mengerti. "Kita 'kan baru kelonan kemarin-kemarin, belum ada seminggu apa lagi sebulan. Nggak mungkin langsung jadi anak."
"Oh, kirain sekali kelonan jadi langsung jadi. Soalnya kadang perutku bunyi kalau pagi-pagi." Baru juga dia katakan, sekarang perutnya tiba-tiba berbunyi tetapi itu adalah suara cacing. Lantas dia pun menyentuh perutnya sendiri.
"Nggak bisa, semuanya butuh proses. Nanti juga kecebongku jadi bayi yang lucu ...." Sofyan mengusap perut datar istrinya. "Asal kita rajin kelonan saja, minimal sehari tiga kali."
"Kok kayak minum obat? Capek dong."
"Nanti aku beli vitamin biar kamu nggak capek. Oh ya, kamu mau berangkat kerja? Milikmu masih perih, nggak? Bisa jalan?" Sofyan memerhatikan pakaian yang dikenakan istrinya, rok span selutut berwarna hitam dengan kemeja putih kotak-kotak.
"Aku bisa jalan, Ayank. Sudah mendingan kok." Maya berdiri dan tak lama Sofyan juga, lantas keduanya keluar dari dalam kamar. Namun, langkah kaki Maya masih terlihat ngangkang.
Sofyan menarik kursi untuk Maya duduk di ruang makan, wanita itu tersenyum dan duduk di sana.
"Terima kasih, Ayank."
"Sama-sama."
"Apa lebih baik kamu berhenti kerja saja, May? Kamu pasti capek. Mending di rumah saja dan ...." Sofyan menggantung ucapannya seraya merogoh kantong celana untuk mengambil dompet, lantas memberikan selembar black card ke tangan Maya yang baru saja dia pegang. "Pegang ini dan pakai untuk kebutuhanmu, May. Passwordnya tanggal pernikahan kita."
Maya menatap kartu itu, rasanya tak enak jika dia langsung menerima. "Tapi aku masih punya tabungan, Ayank. Aku juga punya kartu ATM."
"Nggak apa, punyamu simpan saja. Yang ini pakai sesukamu." Sofyan tersenyum, dia mendekati wajah istrinya lalu mengecup bibirnya singkat.
"Terima kasih. Tapi tentang berhenti kerja ... rasanya aku ...." Maya tak enak jika tak menuruti ucapan Sofyan, karena dia memang tahu kalau seorang istri harus patuh pada suami. Tetapi untuk berhenti kerja rasanya sangat berat, apa lagi untuk sekarang-sekarang. Maya sangat menyukai pekerjaannya.
"Kalau kamu nggak mau nggak masalah kok," sela Sofyan. Dia melihat wajah Maya seperti binggung, dan dia sendiri tak mau memaksakan kehendak. "Tapi jangan dekat-dekat dengan Hersa, ya?"
"Pak Hersa? Memangnya kenapa, Ayank?"
__ADS_1